Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Kecewa


__ADS_3

"Melamar Jeslin? Sejak kapan nak Gading mengenal anak saya?" tanya Elsa.


"Sejak Wisnu menikah dengan Naura." Jawab Gading walaupun agak sedikit kaku menyebut Wisnu tanpa ada embel-embel tuan atau juragan.


"Oh...., jadi nak Wisnu adalah suaminya Naura? Bukankah nak Wisnu sudah memiliki 2 istri? Nambah lagi to? Ah, saya maklumi. Nak Wisnu tampan, kaya dan sangat berwibawa. Wanita mana yang sanggup menolak ya?" Ucapan Elsa yang terdengar biasa-biasa saja namun sangat menusuk telinga dan hati Wisnu termasuk juga hati dan telinga Naura yang ikut mengintip bersama Jeslin.


"Nyokab loe mengira gue cewek matre ya?" kata Naura sambil melirik Jeslin.


"Nyokab gue memang bermulut pedas walaupun sebenarnya ia baik hati."


"Gue tahu. Hanya saja perkataannya tetap menyakitkan untuk didengar."


Wajah Wisnu pun terlihat memerah. Ia sebenarnya ingin membalas kata-kata pedas nyonya Elsa namun demi Gading, ia menahannya.


'"Naura bukan lagi menjadi istri ketiga ku namun istri saru-satunya. Aku sudah bercerai dengan istri pertama dan keduaku." kata Wisnu.


"Wah, hebat juga Naura bisa menyingkirkan dua istri Wisnu yang lain."


Surya menyenggol tangan istrinya. "Ma, kita kembali ke pokok pembicaraan." bisik Surya.


"Oh, jadi sudah berapa lama kau mengenal Jeslin?" Elsa menatap Gading.


"Sekitar 6 bulan."


"Apa yang membuatmu yakin untuk menikahi anakku? Kuliahnya saja belum selesai."


"Aku merasa bahagia saat bersama Jeslin. Soal kuliahnya, Jeslin sudah cerita kalau ia terhalang di tugas akhirnya. Saya janji akan membantu Jeslin sampai kuliahnya selesai." Kata Gading dengan wajah penuh permohonan.


"Kalau begitu, tunggu saja sampai kuliahnya Jeslin selesai." ujar Elsa tegas.


Jeslin tanpa di duga keluar dari tempat persembunyiannya.


"Pa, ma, aku ingin menikah dengan mas Gading. Usiaku kan sudah cukup untuk menikah. Aku janji akan terus kuliah." Mohon Jeslin.


"Jeslin, kamu terlalu patah hati ya ditinggalkan Yuda menikah sampai ingin terburu-buru menikah juga. Memangnya kamu mau menunjukkan kepada Yuda kalau kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih hebat dari Yuda? Apa kamu lupa siapa keluarga Yuda? Nggak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan Gading."


"Ma!" Surya menegur istrinya. Ia tak suka istrinya mulai membanding-bandingkan. Karena sejujurnya, Surya suka dengan Gading. Ia dapat melihat kalau Gading adalah lelaki yang bertanggungjawab.


"Maaf nak Wisnu, maaf nak Gading. Saya ingin Jeslin selesai kuliah dulu." Elsa berdiri. Ia menatap suaminya. "Aku ke dalam dulu ya?"


Surya menggelengkan kepalanya. Ia sudah tahu kalau istrinya menolak Gading bukan karena masalah kuliah Jeslin. Namun ia tak menyukai latar belakang keluarga Gading.


Jeslin duduk di samping papanya. "Mama sungguh keterlaluan!"


"Sabar, sayang. Papa akan bicara dengan mama nanti." Surya menatap Gading. "Nak Gading, maafkan istri saya. Sebenarnya saya menyukai nak Gading. Saya percaya kalau nak Gading akan menjadi imam yang baik bagi Jeslin. Berikan kami waktu ya?"


Gading mengangguk. "Saya siap menunggu."


Surya tersenyum. "Terima kasih."


Akhirnya Wisnu, Naura dan Gading pamit untuk pulang. Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, Jeslin tiba-tiba memeluk Gading. "Mas Gading, jangan berhenti berharap ya?"


Gading melepaskan pelukannya. Ia mencium dahi Jeslin dengan sangat lembut. "Harapanku sangat besar untuk memilikimu."


"Terima kasih."


Gading pun masuk ke dalam mobil. Kali ini, Wisnu yang menyetir. Ia tahu kalau Gading sedang galau. Wajah Gading terlihat sangat kecewa.


********


Naura berdiri di balkon kamar sambil memandang malam yang terlihat mendung. Ia baru saja menidurkan Lisa. Gading dan Wisnu masih ada di ruang kerja. Entah apa yang mereka bicarakan, Naura tak berani mengganggu.

__ADS_1


Beberapa menit yang lalu Jeslin baru saja meneleponnya. Mamanya melarang Jeslin tidur di apartemen. Naura pun mengatakan kalau ia juga tak bisa ke apartemen karena Wisnu sudah mengajaknya ke rumah Wisnu.


Hujan perlahan turun. Naura merasakan kalau angin mulai bertiup dingin. Namun dia masih enggan beranjak. Jujur saja, ia ingin menemani Jeslin saat ini. Namun keadaan yang membuat mereka tak bisa bersama.


Naura begitu asyik berdiri di balkon sambil memegang pagar pembatasnya, tanpa menyadari kalau Wisnu sudah berdiri di belakangnya.


"Udaranya sudah dingin. Dan ini sudah hampir jam 11 malam. Kenapa masih berdiri di sini?" tanya Wisnu sambil memeluk Naura dari belakang.


"Aku memikirkan Jeslin."


Wisnu mencium rambut Naura. "Gading juga terlihat sedih. Aku memintanya untuk tidak pulang malam ini. Ia tidur di kamar tamu."


"Dasar tante Elsa matre! Selalu memandang orang dari nilai kekayaan nya."


Wisnu membalikan tubuh Naura. "Jangan menggerutu. Bagaimana pun sebagai mamanya Jeslin, dia pasti punya kriteria sendiri untuk calon suami anaknya."


"Yuda saja yang berasal dari keluarga kaya, tetap tak masuk hitungan bagi nyonya itu, apalagi mas Gading yang yatim piatu?"


Tangan Wisnu terangkat dan memegang dagu istrinya. "Apa kau lupa kalau cinta sejati dapat mengalahkan segalanya?"


"Seperti juragan dan Dina dulu?"


Wajah Wisnu terlihat kaget. Selama ini Naura tak pernah membicarakan masalah Dina.


Ia menatap Naura tanpa berkedip.


"Kenapa tak menjawab?"


"Apa yang harus di jawab? Dina sudah menjadi masa laluku."


Gantian Naura yang menatap Wisnu. Ia mencari kebenaran di manik coklat suaminya. Selama ini, mereka tak pernah saling menatap sedekat ini.


"Apakah kau masih ragu padaku?" tanya Wisnu sambil menyatukan dahi mereka.


"Jangan ragu padaku, sayang. Perasaanku sudah seutuhnya menjadi milikmu. Dina memang pernah menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku juga tak bisa menghapus masa lalu ku bersamanya. Namun kau adalah masa depanku. Kau....." Kalimat Wisnu terhenti karena Naura sudah mencium bibirnya. Tangan Naura sudah melingkar di leher Wisnu. Tinggi mereka yang tak sama membuat Naura harus berjinjit agar mendapatkan posisi yang pas saat mencium Wisnu.


Walaupun agak kaget, Wisnu menerima ciuman itu dengan senang hati. Ia bahagia karena Naura mau menciumnya semesta dan sepanas ini.


Saat ciuman itu akhirnya terlepas karena keduanya membutuhkan oksigen, Naura tiba-tiba mundur beberapa langkah. Ia tersenyum menatap Wisnu. "Selamat malam, juragan." katanya lalu segera membalikan badannya dan masuk ke dalam kamar.


Wisnu terpaku di tempatnya berdiri. Apakah Naura sengaja ingin mempermainkan nya? Wisnu sebenarnya tak ingin bercinta malam ini karena ia tahu Naura pasti terbeban dengan apa yang terjadi diantara Jeslin dan Gading. Tadi saat masuk kamar, Wisnu hanya ingin memeluknya. Namun setelah mendapatkan ciuman yang memabukkan sepertinya, salahkah Wisnu jika memang ia begitu berhasrat pada istrinya saat ini?


Dengan langkah cepat Wisnu masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu pembatas balkon dan kamar, setelah itu ia mendekati Naura yang sudah naik ke atas ranjang. Ia ingin mengajak Naura bercinta malam ini. Ia tak ingin ada penolakan. Namun saat ia membuka selimut yang menutupi tubuh Naura, ia terkejut melihat Naura tak sendirian di atas ranjang. Ada Lisa, yang sepertinya membuka matanya.


"Ayah? Lisa bobo di sini ya? Lisa sebenarnya tak mau tapi kata bunda Naura nggak apa-apa. Ayah juga suka kalau kita tidur bertiga." ujar Lisa dengan wajah mengantuk nya.


Wisnu mengangguk. "Tentu saja Ayah senang. Ayo, tidur lagi."


Lisa mengangguk. Ia pun memejamkan matanya. Setelah Lisa tertidur. Wisnu pergi ke sisi tempat tidur yang lain, yakni di tempat Naura berbaring. Ia menatap wajah istrinya itu.


"Sayang, kau sengaja mempermainkan aku kan?"


Tak ada sahutan dari Naura. Yang terlihat ia begitu tenang dan ada sedikit dengkuran. "Dia memang sudah tidur."


Dengan wajah kecewa, Wisnu kembali ke sisi sebelah tempat tidur. Ia naik ke ranjang dan mencoba memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, senyum di wajah Naura nampak terlihat. Ia bahagia berhasil mempermainkan Wisnu malam ini. Ia harus mengajari si juragan agar belajar menahan nafsunya. Juragan sungguh tertipu dengan akting pura-pura Naura. Sekali lagi suaminya itu lupa kalau Naura adalah bintang teater.


************


8 hari Jeslin tak bisa bertemu Gading. Mamanya mengajak Jeslin ke Yogjakarta untuk menemui kakeknya yang sedang sakit.

__ADS_1


Jeslin tahu ini adalah salah satu cara sang nyonya untuk menjauhkannya dari Gading. Dan Jeslin benar-benar merindukan Gading. Jeslin bahkan merasakan sudah ada benih-benih cinta yang hadir dalam hatinya.


"Jes, gue mau mengambil barang-barang gue si apartemen kakak loe. Temani gue ya? Nggak enak kalau gue sendiri. Mas Wisnu meminta aku untuk segera pindah ke rumahnya. Aku kan sudah nggak membawa kartu masuknya. " Naura menghubungi Jeslin melalui telepon rumahnya karena ponsel Jeslin di sita oleh sang nyonya.


"Ok. Jam berapa low selesai kerja?"


"Jam 5 sore."


"Kita ketemu di sana, ya?" Jeslin menutup gagang telepon. Ia menatap mamanya. "Ma, Naura mau mengambil barang-barangnya di apartemen kakak. Ia meminta aku menemaninya."


"Bohong! Kamu pasti mau ketemu Gading kan?"


"Mama. Cek aja sendiri kalau nggak percaya."


"Baik. Mama akan mengantar kamu."


Jeslin menahan geram dalam hatinya. Mamanya memperlakukan dia seperti seorang ABG saja. Namun ia menurut juga. Diantar oleh sopir, ia dan mamanya menuju ke apartemen.


Naura sudah menunggu mereka di depan lobby.


"Kalian masuklah. Mama ada urusan sebentar di salon dekat sini. 1 jam lagi mama kembali." Kata Elsa.


"Baik, ma." Ujar Jeslin lalu segera turun. Naura menyapa Elsa dengan senyum manisnya dan nyonya itu mengerutkan dahinya saat melihat Naura menggunakan seragam salah satu mini market yang ada di seluruh Indonesia ini.


"Mama loe pasti kaget melihat seragam gue." Tebak Naura sambil melangkah masuk bersama Jeslin.


"Pastilah nyokab berpikir kalau loe benar adalah istrinya Wisnu Furkan? Kenapa loe harus kerja?"


Kedua sahabat itu akhirnya tertawa bersama.


Setelah membereskan beberapa barang Naura yang memang tak banyak, keduanya pergi ke apartemen Wisnu yang ada di depan.


"Ngapain kita ke sini? Loe mau pindah ke sini atau ke rumahnya juragan sih?"


Naura hanya tersenyum. Saat ia pintu apartemen terbuka, Jeslin langsung berteriak kesenangan melihat Wisnu dan Gading ada di sana. Tanpa rasa ragu, ia berlari dan langsung memeluk Gading.


Wisnu dan Naura saling berpandangan. "Aku ijinkan kalian saling melepaskan rindu. 30 menit dan aku bersama istri tercintaku akan menunggu di balkon."


Gading menatap protes. "Tuan, hanya 30 menit?"


"45 menit." Wisnu menahan tawanya.


"Tapi..."


"Gading, apakah kau mau nyonya Elsa Nabila Suratinojo datang dan memergoki kalian?" Wisnu melingkarkan tangannya di pinggang Naura. "Ayo, sayang."


Naura melirik ke arah Jeslin yang nampak masih memeluk Gading. Ia bahagia melihat Jeslin tersenyum.


"Jurahan, kok kasih waktunya hanya 45 menit?" tanya Naura saat keduanya sudah duduk di balkon.


"Supaya cukup satu ronde."


"Ih kok gitu sih?"


"Enak saja si Gading mau beberapa ronde sementara aku selama 8 hari ini nggak dapat jatah sama sekali."


Naura tertawa. Ia sebenarnya hanya ingin mempermainkan Gading 2 malam saja. Namun ternyata besok harinya, saat Lisa ulang tahun, ia masih ingin tidur dengan mereka. Dan di saat Regina menjemput Lisa untuk tidur dengannya selama 2 hari karena weekend, Naura kedatangan tamu bulannya. Siapa yang nggak kecewa sih?


**********


Duh....pasti ada yang kecewa karena teh Naura kedatangan tamu bulannya kan?

__ADS_1


Terus gimana nasib Gading dan Jeslin. Ada yang mau kasih ide gimana menaklukan NYONYA ELSA NABILA SURATINOJO?


kasih di kolom komentar ya? Siapa tahu idemu yang aku pakai.


__ADS_2