
Saat mobil yang dibawa oleh Wisnu berhenti di tempat parkir rumah sakit, Naura langsung membuka pintu secara cepat dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Wajah Naura sudah basah dengan air mata. Perasaannya menjadi kacau sejak Wisnu membangunkannya dan mengajaknya untuk segera ke rumah sakit malam ini juga.
Langkah Naura terhenti di depan ruang ICCU. Perlahan ia masuk, melapor pada dokter jaga.
"Saya Naura. Cucu Zumi Bragmantio yang sementara di rawat di dalam."
"Tuan Zumi selalu menanyakan apakah anda sudah datang atau belum. Pakailah dulu baju hijau ini, cuci tanganmu baru bisa masuk ke dalam" kata dokter perempuan itu sambil tersenyum.
Sekuat tenaga Naura berusaha menahan tangisnya namun ia tak bisa saat melihat badan kurus dan wajah pucat kakek Zumi yang terbaring lemah menggunakan berbagai alat penopang kehidupan yang menempel di tangan, hidung, dan dadanya.
"Kakek....!" Panggil Naura sambil memegang tangan kakeknya.
Zumi membuka matanya perlahan. "Naura sayang...."
"Kakek, kenapa sampai kurus seperti ini? Apa yang terjadi?"
Tangan Zumi perlahan terangkat dan menghapus air mata cucunya. "Jangan menangis. Kau harus sadar bahwa manusia tak ada yang abadi."
"Tidak! Jangan katakan itu kakek. Aku tak bisa tanpa ada kakek."
Zumi tersenyum. "Kakek akan pergi dengan perasaan damai karena tahu bahwa nak Wisnu akan menjagamu. Kakek senang karena apa yang pernah Wisnu ucapkan saat kau masih di dalam perut, kini sudah terwujud. Dia pasti akan menjagamu selamanya."
"Apa maksud kakek?"
"Panggilkan Wisnu ke sini! Kakek ingin bicara berdua dengannya."
Naura menunggu di luar dengan perasaan gelisah. Wisnu sudah hampir satu jam ada di dalam ruangan kakek Zumi dan ia belum keluar. Sampai akhirnya, Naura dipanggil kembali untuk masuk ke dalam.
"Naura, berjanjilah pada kakek bahwa kau tak akan pernah minta cerai pada Wisnu apapun yang terjadi dalam perjalanan rumah tangga kalian. Kakek percaya kalau Wisnu akan berlaku sangat adil kepadamu." kata Zumi dengan suara yang semakin lemah.
Naura menatap Wisnu sekilas. Apakah suaminya ini mengadu pada kakek kalau Naura pernah minta cerai darinya?
"Tapi kek...!"
"Berjanjilah cucuku. Kakek meminta ini bukan karena Wisnu yang memintanya. Namu kakek tahu persis karaktermu. Kau pasti akan minta cerai pada Wisnu kalau kakek meninggalkan?"
"Kakek, jangan sebut kata itu. Aku belum siap kehilangan kakek." Tangis Naura kembali pecah. Sumpah demi apapun, Naura belum siap ditinggalkan oleh kakeknya.
"Berjanjilah, nak!"
Naura menelan rasa jengkelnya dalam hati. "Aku janji, kek." Katanya walaupun dengan nada yang sedikit terpaksa.
Zumi tersenyum bahagia. "Kakek mau tidur dulu. Kakek sangat capek."
"Tidurlah, kek."
Malam semakin cepat berjalan sampai akhirnya waktu menjelang subuh. Naura tertidur di sofa yang ada di ruang perawatan Zumi sedangkan Wisnu duduk di bawa kaki Naura. Lelaki itu sama sekali tak bisa memejamkan matanya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh kakek Zumi padanya. Pantas saja lelaki itu begitu kuat ingin menikahkan Wisnu dengan Naura sekalipun tahu kalau Wisnu telah memiliki dua istri.
Wisnu mencoba menyusuri ingatan masa kecilnya, saat usianya 9 tahun. Ia pernah datang ke rumah bukit itu bersama kakeknya. Selim Furkan. Lelaki asal Turki yang meninggal saat Wisnu berusia 12 tahun.
Waktu itu 21 tahun lalu.......
"Kakek, kenapa kita ke sini?"
Selim tersenyum pada cucunya. "Kita akan menemui sahabat kakek."
Wisnu kecil masuk ke dalam rumah itu. Ia melihat ada seorang wanita cantik yang sedang hamil tersenyum kepadanya.
"Bibi, apakah ini bayi perempuan?" tanya Wisnu sambil memegang perut wanita cantik itu.
__ADS_1
"Iya. Dokter mengatakan kalau dia seorang perempuan."
"Apakah dia akan secantik bibi saat lahir?"
"Mungkin dia akan lebih cantik dari bibi. Memangnya kenapa?"
"Apakah jika aku dewasa nanti bibi akan mengijinkan aku untuk menikah dengannya?"
Perempuan itu tersenyum. "Jika kau mau mencintainya dengan tulus, akan bibi ijinkan."
Zumi dan Selim saling berpandangan.
"Ayo kita jodohkan cucu kita berdua. Bagaimana menurutmu, Zumi?" tanya Selim.
"Aku mau saja. Cucumu kelihatannya baik."
Wisnu kecil kembali menyentuh perut wanita cantik yang ada di depannya. "Adik cantik, kakak akan menunggumu sampai dewasa nanti." Lalu ia menunduk dan mencium perut wanita yang ada di depannya. Bu Aisa yang melihat itu jadi tersenyum.
Ingatan 21 tahun itu perlahan membuka kembali cerita masa kecil itu yang memang sudah Wisnu lupakan. Dia jadi ingat bahwa saat gadis kecil itu lahir, ia dan kakeknya kembali ke rumah bukit itu. Mereka membawakan hadiah. Sebuah kalung dengan liontin bunga matahari yang dibagikan belakang liontin itu bertuliskan Amorasia, yang artinya Paling dicintai.
Wisnu terkejut. Kalung itu, dimana ia pernah melihatnya?
Bunyi monitor hemodinamik yang berbunyi panjang mengalihkan lamunan Wisnu. Ia segera memanggil dokter jaga karena ia tahu apa arti bunyi panjang itu. Naura pun terbangun dari tidurnya. Ia langsung berteriak histeris melihat tubuh sang kakek yang tersentak-sentak saat mereka menggunakan alat kejut jantung.
"Kakek....!"
Wisnu langsung memeluk Naura dan membawanya ke luar ruangan saat para medis meminta mereka untuk keluar.
Gelapnya malam mulai menghilang saat cahaya pagi mereka. Namun Naura yang ada dalam pelukan Wisnu tiba-tiba merasa dunianya sangat gelap saat salah satu dokter keluar sambil menyebutkan waktu kematian kakek Zumi. Ia pun pingsan dalam pelukan suaminya.
*********
Sudah tiga hari Wisnu menemani Naura di rumah kontrakan kakek Zumi. Sebuah rumah sederhana yang letaknya agak di pinggir kota.
Walaupun hati Wisnu dilanda cemburu yang dalam saat melihat Satria, namun Wisnu berusaha meredamnya karena Naura memang terlihat biasa saja.
"Ra, kenapa makanannya tak kau habiskan?" tanya Wisnu saat ia melihat makanan yang ada di depan Naura hanya berkurang sedikit.
"Aku nggak lapar, juragan. Lagi pula perutku rasanya tak enak. Mual."
"Itu karena kamu tak makan secara baik dan teratur. Kamu bisa mendapat sakit maag."
Naura hanya meminum teh manis yang Wisnu siapkan padanya sampai habis. Ia lalu berdiri dan meninggalkan ruang makan. Naura menuju ke kamar kakeknya. Ia memeluk foto kakek Zumi sambil terus menangis.
Wisnu yang sudah selesai mencuci alat makan yang Naura gunakan, menyusul ke kamar. Ia duduk di samping Naura lalu melingkarkan tangannya di bahu Naura.
"Ikhlaskan kepergian kakek Zumi. Hanya dengan cara seperti ini maka kamu bisa menerima kenyataan ini, Ra. Kakek sudah terlepas dari seluruh penderitaan sakitnya."
"Aku tak punya siapa-siapa lagi, juragan."
"Kau masih punya aku, Ra. Aku yang akan menemani hari-harimu." Kata Wisnu lembut sambil mengusap lengan Naura.
Naura sebenarnya ingin mengatakan kalau Wisnu memang akan bersamanya. Namun Wisnu tak bisa menjadi miliknya karena ia harus berbagi dengan Regina dan Indira. Sesungguhnya Wisnu tak akan pernah dimiliki oleh Naura oleh karena itu Naura sudah membuang semua perasaan melancolis yang muncul setiap kali Wisnu memberikan perhatian padanya.
Ponsel Wisnu berdering. Pria itu mengambilnya dari dalam saku celananya dan Naura masih sempat membaca, kalau panggilan itu berasal dari Regina.
"Aku terima telepon dulu ya?" Ujar Wisnu lalu melangkah keluar kamar.
"Ada apa, Regina?" tanya Wisnu dingin.
"Mas, sampai kapan mas akan berada di sana? Kakeknya Naura kan sudah dikuburkan tiga hari yang lalu."
__ADS_1
"Regina, Naura masih sedih." .
"Mas, istri mas kan bukan hanya dia saja. Aku juga butuh mas di sini. Jangan berat sebelah. Ini nggak adil. Apalagi Lisa menanyakan mas terus. Dan dia ingin ke desa. Pokoknya besok aku tunggu mas di rumahku."
"Regina, kamu nggak boleh kayak gini. Aku bukannya nggak adil. Naura sedang berduka dan....."
"Mas, bukan hanya kali ini saja mas nggak adil. Namun di malam-malam sebelumnya mas juga sudah nggak adil. Pokonya setelah mas menikahi Naura, sikap mas berubah ke aku dan Indira." Terdengar tangis Regina dari seberang.
"Regina, berhentilah menangis."
"Pokoknya aku tunggu mas jemput kami besok. Kalau nggak, mas sendiri yang jelaskan pada Lisa. Selamat malam."
Wisnu mengacak rambutnya kasar. Ia kesal dengan Regina namun ia juga menyadari bahwa apa yang dikatakan Regina benar. Tapi bukankah meninggalkan Naura untuk bisa bersama Regina disaat seperti ini lebih tak adil lagi?
Naura yang menguping pembicaraan itu mengerti dengan apa yang yang membuat Wisnu kesal.
"Dari mba Regina ya?" tanya Naura pura-pura tak tahu percakapan Wisnu.
"Iya."
"Ini kan jadwalnya mba Regina. Kenapa juragan nggak ke rumah mba Regina?"
"Aku mau menemanimu, Naura. Kau kan sedang sedih."
Naura tersenyum. "Kehadiran juragan di sini tak akan bisa membunuh rasa sepi ku karena kehilangan kakek. Jadi juragan pergi saja."
Wisnu duduk di samping Naura. "Aku akan pergi jika kau juga ikut pulang ke desa. Aku tak akan tenang bekerja jika tahu kau sendiri di sini."
"Aku bisa menelepon Jeslin dan memintanya untuk datang." .
"Dan Jeslin akan mengajak Satria?"
Naura ingin tertawa mendengar suara Wisnu yang terdengar seperti orang yang sedang cemburu.
"Baiklah.Besok aku akan ikut ke desa. Namun aku pulang dengan mas Gading. Aku tak mau satu mobil dengan mba Regina."
Wisnu hanya bisa mengangguk. Ia sudah cukup senang saat Naura setuju untuk kembali ke desa.
***********
"Bunda Naura nggak boleh menangis lagi ya? Kakek bunda nggak akan tenang kalau bunda menangis terus." Kata Lisa sambil memegang tangan Naura.
"Bunda nggak sedih lagi, kok. Hanya belum bisa saja melupakan kakek karena kakek bunda sangat baik orangnya."
Lisa turun dari pangkuan Naura. Keduanya memang sedang duduk di teras samping.
"Lisa mau kemana?"
"Lisa membawa kue coklat. Katanya makan coklat akan membuat kita bahagia. Bunda tunggu sebentar ya?" kata Lisa lalu setengah berlari masuk ke dalam rumah dan kembali dengan cake coklat yang ada di tempat berbetuk segi empat.
"Kue ini dibuatkan oleh neneknya Lisa. Rasanya enak. "
Naura mengambil sepotong dan memasukan ke dalam mulutnya. Namun saat Indra perasa nya menyatu dengan manis kue itu, Naura merasa kalau ia ingin muntah. Dengan cepat Naura berlari masuk ke dalam rumah dan mengeluarkan isi perutnya di toilet yang ada di sudut ruang tamu. Regina yang kebetulan baru keluar dari kamarnya mencari tahu siapa yang ada di toilet itu.
"Lisa, siapa di dalam?"
"Bunda Naura. Bunda langsung muntah saat makan kue coklat yang nenek berikan."
Dahi Regina berkerut. Apakah benar yang ia pikir selama ini?
**********
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komentarnya ya?