Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Perhatian


__ADS_3

Sebenarnya malam ini Naura ingin menghindar dulu. Ia tak mau datang ke apartemen Wisnu. Namun Lisa sudah dua kali meneleponnya. Ia ingin meminta Naura membantunya untuk mengerjakan PR nya karena Wisnu belum juga kembali. Sedangkan bibi Saima yang menemaninya akan pergi.


"Pergilah, Na. Kasihan Lisa kan?"' Ujar Jeslin yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Naura menatap sahabatnya itu. "Mata loe kenapa?"


"Kemasukan shampoo."


"Bohong."


"Nggak lihat kalau gue keramas?" tanya Jeslin sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah.


"Loe nangis kan? Ada apa?" tanya Naura sambil mendekati Jeslin.


Jeslin yang sementara menyisir rambutnya berhenti sejenak. Ia menatap Naura. "Yuda menikah hari ini."


Naura langsung memeluk sahabatnya itu. "Sabar ya, Jes. Allah akan memberikan seseorang yang terbaik buat loe."


"Gue masih cinta banget sama Yuda. Rasanya nggak sanggup menerima kenyataan kalau hari ini gue nggak bisa lagi memikirkan dia."


Pelukan diantara mereka terurai. "Loe mau gue pukul dia lagi?"


Jeslin tertawa. "Loe memang sahabat terbaik."


"Gimana gue bisa ninggalin loe kalau gini."


Jeslin tersenyum. "Pergilah! Gue mau pulang ke rumah dulu."


Walaupun agak berat hati, Naura meninggalkan sahabatnya itu dan menuju ke apartemen Wisnu.


Lisa langsung senang melihat Naura yang datang.


"Nyonya, saya mau pulang ke rumah utama tuan. Soalnya ada sesuatu yang akan saya kerjakan di sana." Kata Saima saat melihat Naura yang sudah datang.


"Baiklah, bi."


Sebelum pergi, Saima kembali menghadap Naura. "Nyonya, anak-anak di desa dan di perkebunan teh selalu bertanya kapan nyonya akan datang lagi. Taman bermainnya sudah sekitar 70 persen tahapan penyelesaian nya."


"Aku sudah bekerja, bi. Mungkin jika aku off baru bisa ke sana."


Saima hanya mengangguk dan segera pergi. Naura pun mengajak Lisa untuk duduk di depan meja makan dan membantunya mengerjakan PR matematikanya.


**********


Gading mengantarkan Wisnu sampai di lobby apartemen. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam ketika mereka tiba. Kedatangan kolega perusahaan yang secara mendadak sore ini membuat Wisnu dan Gading terpaksa harus lembur.


"Tuan, apakah masih memerlukan sesuatu?" tanya Gading.


"Tidak. Kau pulanglah. Nanti kalau aku ingin keluar, aku akan menggunakan mobil yang lain." Kata Wisnu lalu membuka pintu mobil


Sesungguhnya ia sudah tak tahan ingin bertemu dengan Naura. Tadi Lisa mengirim pesan padanya untuk membawakan kue coklat kesukaan Naura yang sekarang juga sudah menjadi kue kesukaan Lisa.


Saat melihat tuannya sudah memasuki pintu masuk utama apartemen, Gading pun segera menjalankan lagi mobilnya. Namun, sebelum mobil keluar dari pintu gerbang utama, di taman bagian depan apartemen, Gading melihat Jeslin yang sedang duduk sendiri di bangku taman. Gading pun menghentikan mobilnya dan langsung menyapa Jeslin.


"Nona Jeslin?"


Jeslin menoleh mendengar seseorang memanggilnya. Ia langsung menghapus air matanya.


"Mas Gading?"


Gading menunjukan tempat kosong di samping Jeslin. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Gading.


Jeslin mengangguk.


Gading pun duduk di samping gadis itu. Ia tahu kalau Jeslin sedang bersedih. Karena pacarnya menikah hari ini. Wisnu sebenarnya mendapatkan undangan. Namun karena ada tamu penting dari Singapura sehingga Wisnu meminta sekretarisnya menggantikan dia sekaligus mengantarkan hadiah.


Untuk beberapa saat keduanya saling diam. Sampai akhirnya Gading memberanikan diri mengambil sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada Jeslin.

__ADS_1


"Ini bersih. Belum ku pakai sejak memasukannya di kantong."


Perkataan Gading membuat Jeslin tersenyum. "Maaf jika sapu tangan ini harus menjadi kotor dengan air mata bodohku ini."


"Menangis bukanlah suatu tindakan yang bodoh. Katanya air mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimal yang berada di kelopak mata bagian atas. Selain untuk meluapkan emosi, ternyata air mata juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mata, seperti untuk melembapkan mata agar tercegah dari mata kering dan iritasi, serta memberi nutrisi pada mata. Jadi menangis dan mengeluarkan air mata justru ada nilai positifnya juga dari segi kesehatan."


Perkataan Gading membuat Jeslin menatapnya. "Tapi kalau kebanyakan menangis bagaimana?"


"Kalau itu bisa membuat perasaanmu menjadi lega, kenapa tidak?"


Jeslin menghapus air matanya dengan sapi tangan Gading. "Kenapa mas Gading di sini?" Ia mengubah topik pembicaraan.


"Aku baru saja mengantarkan tuan Wisnu. Lalu aku melihat nona ada di sini. Sebenarnya ingin menyapa saja, ternyata nona sedang bersedih."


Jeslin mengangguk. "Terima kasih karena mas Gading mau menyapaku. Aku memang sangat membutuhkan teman bicara saat ini. Namun aku nggak mau menganggu Naura. Karena aku ingin dia dan juragan Wisnu cepat baikan. Makanya tadi aku bohong kepadanya bilang ingin ke rumah orang tuaku pada hal aku tak berani pulang ke sana. Karena sejak dulu, mamaku memang nggak menyukai hubunganku dengan Yuda. Jika tahu Yuda menikah hari ini, pasti aku kena marah habis-habisan."


Gading terkekeh. "Setidaknya dengan peristiwa ini mengajarkan nona kalau kita perlu mendengarkan perkataan orang tua."


"Benar juga." Jeslin menatap Gading. Ia tahu kalau orang kepercayaan Wisnu ini tampan. Bahkan Naura pernah bilang kalau Gading lebih tampan dari Wisnu. Namun menurut Jeslin kalau antara Wisnu dan Gading memiliki kelebihan masing-masing.


"Mas Gading capek?"


"Tidak juga. Kenapa?"


"Mau menemani aku jalan-jalan malam ini? Sebenarnya aku ingin jalan-jalan sendiri dengan mobilku namun aku malas menyetir."


"Memang nggak baik menyetir jika perasaan kita sedang galau. Aku juga malas untuk pulang. Ayo kita jalan-jalan."


"Asyik!" Jeslin jadi senang. Keduanya pun melangkah bersama menuju ke mobil Gading yang terparkir.


*********


Wisnu membuka pintu apartemen sambil membawa kantong plastik berisi kue coklat.


Ruangan tamu sudah sepi. Wisnu meletakkan kue itu di atas meja dan menuju ke kamar Lisa. Saat ia membuka pintu nampak Naura baru saja menyelimuti Lisa.


"Tanganmu kenapa?" tanya Wisnu melihat jari tengah dan jari telunjuk Naura terluka.


"Tadi pensil Lisa patah. Rautan pensilnya nggak ada. Jadi aku pakai pisau. Malah tanganku yang terluka."


"Terus di beri obat apa?"


"Hanya di cuci saja. Nggak ada kotak obat di sini."


Wisnu menatap Naura. "Kau memang selalu ceroboh. Aku ke apotik yang ada di bawa sebentar." Wisnu segera keluar apartemen.


Naura mencium sesuatu yang sangat disukainya. Matanya langsung menatap kantong plastik berwarna putih yang ada di atas meja. Matanya langsung terbelalak menatap kardus pembungkus kue yang sudah sangat dikenalnya.


"Kue coklat. Jadi lapar." Naura membukanya dan langsung mengambil satu potong. Ia memang sangat menyukai kue ini. Kue yang juga disukai oleh kakek Zumi.


Saat Wisnu kembali, Naura sudah menghabiskan 3 potong. Ada senyum bahagia di wajah pria itu saat melihat Naura sudah menikmati kuenya.


"Aku membeli perban, obat merah dan pembersih luka. Aku juga menelepon dokter dan menanyakan obat apa yang harus kamu minum. Apakah kamu sudah makan?" tanya Wisnu sambil duduk di sebelah Naura.


"Sudah. Aku tadi makan bersama Lisa."


Wisnu langsung membersihkan luka Naura dengan cairan pembersih luka. Ia kemudian memberikan obat merah lalu menutup luka itu dengan kain kasa dan diberi perban.


"Lukanya cukup dalam. Apa nggak sakit?" tanya Wisnu lalu mengambil segelas air putih dan memberikan dua butir obat yang belinya sesuai petunjuk dokter keluarga.


"Ini cuma luka kecil saja. Nggak harus membuatku menangis." Jawab Naura lalu memasukan obat itu ke dalam mulutnya.


"Aku mandi dulu ya?" ujar Wisnu setelah menyimpan obat itu ke dalam laci lemari yang ada di ruang tamu.


"Aku mau kembali ke apartemen kakaknya Jeslin."


Wisnu menahan tangan Naura yang akan pergi. "Kenapa harus kembali ke apartemen itu?"

__ADS_1


"Besok aku masuk pagi, aku nggak mau terlambat."


Wisnu tetap menahan tangan Naura dan semakin memangkas jarak diantara mereka. "Jangan pergi, Ra. Aku ingin kau di sini. Lagi pula tanganmu terluka. Kamu bisa minta ijin."


"Aku karyawan baru. Nanti dipecat."


"Siapa yang berani memecat kamu?"


Naura mengerutkan dahinya. "Maksudnya."


Wisnu hampir saja kecolongan bicara. "Nanti aku minta dokter keluarga memberikan surat ijin sakit."


"Aku.....!"


"Please...., apakah begitu menyiksa bagimu untuk tinggal bersamaku malam ini?" tanya Wisnu sambil membelai wajah Naura.


"Baiklah." kata Naura sambil mundur beberapa langkah. Ia cukup bahagia dengan perhatian Wisnu malam ini. Makanya ia memutuskan untuk tinggal.


Wisnu tersenyum senang. "Aku mau mandi. Bolehkah kau menyiapkan pakaian untukku?"


"Dasar juragan pemaksa!" Naura melangkah lebih dulu ke kamar Wisnu. Ia segera membuka lemari pakaian sedangkan Wisnu masuk ke dalam kamar mandi.


Sebuah kaos polos berwarna putih dan celana pendek selutut dipilih Naura. Ia bingung apakah harus menyiapkan baju dalam untuk Wisnu. Setelah dia berpikir sejenak, ia pun memutuskan untuk menyiapkan itu juga.


Setelah meletakkan semuanya di atas tempat tidur, Naura mengambil ponselnya. Ia ingin menanyakan kabar Jeslin. Namun temannya itu bahkan tak mengaktifkan nomornya.


Mungkin Jeslin hanya ingin sendiri. Pikir Naura lalu meletakan ponselnya di atas meja.


Wisnu selesai mandi. Hanya menggunakan kain putih ia melilit tubuh bagian bawahnya. Naura segera memalingkan wajahnya. Suaminya itu dengan tidak tahu malu membuka handuk itu dan memperlihatkan badannya yang polos membuat jantung Naura hampir melompat keluar dari tempatnya. Sungguh, juragan Wisnu memiliki bentuk tubuh yang sangat ideal sebagai seorang laki-laki. Naura jadi ingat bagaimana semalam tubuh itu begitu kuat memeluknya. Seolah Wisnu takut Naura akan lari dari atas ranjang. Ia ingat bagaimana tangannya melingkar di leher Wisnu dan bibir mereka menyatu dalam ciuman yang sangat panas dan liar.


Sialan! Kenapa hal mesum itu yang gue ingat? Apakah gue sudah nggak waras?


"Ada apa, Ra?" tanya Wisnu yang sudah selesai ganti pakaian dan duduk di samping Naura.


Wajah Naura menjadi panas. Ia berharap Wisnu tak akan punya indera keenam yang dapat membaca otaknya yang sedang tak waras ini.


"Nggak. Aku hanya mengantuk saja. Mungkin sebaiknya aku tidur di kamar Lisa." Naura akan berdiri namun Wisnu kembali memegang pergelangan tangannya.


"Kenapa kamu selalu ingin lari dari padaku, Ra?"


"Siapa yang ingin lari? Memangnya kamu mahluk yang menakutkan?" Naura mencibir pada hal kulitnya mulai terasa panas.


Wisnu memegang dagu Naura dan mengarahkan wajah istrinya itu agar mereka bisa saling bertatapan. "Kau membuat aku tergila-gila, Sayang. Aku seharian ini hanya memikirkan kamu terus. Kalau tak mengingat tanggungjawab yang besar di perusahaan keluargaku ini, rasanya aku ingin segera pulang dan berada di sampingmu terus."


"Kayak ABG saja." ejek Naura.


"Katakanlah begitu. Aku nggak malu untuk mengakui nya." Kata Wisnu. Ia menangkup pipi Naura dengan kedua tangannya. "Buka hatimu untukku, Ra. Aku janji untuk ke depan hanya akan ada kebahagiaan diantara kita. Aku akan selalu percaya padamu. Aku tak akan meragukan kamu lagi."


Pandangan mata keduanya bertemu. Naura masih bingung dengan semua yang ia rasakan.


"Juragan, mungkin sebaiknya kita berjauhan dulu. Karena aku masih bingung dengan perasaanku padamu. Karena sejak aku mengenal apa itu cinta, yang ku sukai hanyalah kak Satria."


Walaupun sakit mendengarnya namun Wisnu berusaha menahannya. "Aku tahu. Tapi jangan saling berjauhan lagi. Tetaplah di sisiku, agar kau bisa mengerti semua yang kurasakan padamu." Kata Wisnu dan tanpa menunggu Naura membalas ucapannya, Wisnu langsung mencium bibir Naura yang selalu menjadi candu baginya. Ia menyesapnya perlahan dan saat Naura membalas ciumannya, Wisnu langsung mengangkat tubuh istrinya itu menuju ke ranjang mereka tanpa melepaskan ciuman itu.


Perlahan, ia meletakan tubuh Naura di atas ranjang. Biarlah malam ini Wisnu baru memiliki tubuh Naura. Namun ia yakin, ia pasti akan memiliki hati Naura. Secepatnya.


Ini malam Sunnah. Wisnu berharap malam ini benihnya akan diberkati dan tumbuh dalam rahim Naura.


***********


Nah....lho....kelanjutan malam manisnya mana?


Emak suka PHP nih.....


Mau tahu apa yang terjadi antara Jeslin dan Gading malam ini? Kayaknya si tuan Wisnu bahkan ketinggalan kereta nih ....🤭🤭🤭😂😂


Seharusnya ini di up semalam namun karena emak capek baru deh up malam ini....

__ADS_1


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2