
Hai..., yang mau tahu visual Gading? Di depan kan ada. Aku sudah taruh bersama visualnya Naura, Wisnu dan Satria. kecuali bacanya lompat-lompat pasti nggak ketemu
Ni visualmya Jeslin
**********
Wajah Wisnu sedikit kurang bersemangat saat bangun pagi ini. Setelah Lisa memergoki dirinya dan Naura yang sedang asyik bercumbu di ruang tengah, secara tiba-tiba dia ingin tidur bersama Naura dan Wisnu karena tak mau kalau dirinya tak diajak main perang-perangan. Dan Naura dengan senang hati menerima keinginan Lisa yang ingin tidur bareng mereka tanpa tahu betapa sakit kepalanya Wisnu menahan semua rasa di inti tubuhnya.
"Tuan mau saya buatkan kopi atau tuan ingin minum yang lain?" tanya Saima
"Saya ingin minum kopi. Yang agak keras ya, bi? Kepalaku sakit. Oh ya, Naura di mana?"
"Sedang mengantar nona Lisa ke sekolah. Sekalian katanya ingin ke kampus. Ada sesuatu yang nyonya akan urus. Setelah itu akan pergi kerja."
Wisnu memang bangun agak terlambat pagi ini karena ia tak bisa tidur semalaman. Nanti setelah jam 4 pagi barulah ia tertidur.
Istriku itu, masih saja keras kepala pergi kerja. Pada hal uang bulanan yang kuberikan padanya 20 kali lebih banyak dari gajinya di sana.
Wisnu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia mencoba menghubungi ponsel Naura namun istrinya itu tak mengangkatnya.
Tak lama kemudian, ia melihat Gading datang.
"Selamat pagi tuan."
Wisnu menatap Gading. Ada sesuatu yang aneh dengan leher cowok itu. Dua tanda merah. Sialan benar nih Gading. Semakin hot saja dia dan Jeslin.
"Tuan, bolehkah hari ini tuan menolongku?" tanya Gading dengan wajah penuh permohonan.
"Apa yang dapat aku lakukan, Gading?"
"Jadilah waliku untuk melamar nona Jeslin."
Wisnu terkejut. "Melamar Jeslin? Memangnya kamu sudah yakin dengan perasaanmu oada Jeslin? Sudah yakin dengan perasaan Jeslin padamu? Pernikahan itu bukan sebuah permainan. Kamu kan menjadi dekat dengan Jeslin baru beberapa hari saja."
"Tuan juga waktu menikah dengan nyonya Naura sama sekali belum pernah mengenal bahkan bertemu dengan nyonya. Namun tuan menikahinya dan akhirnya jatuh cinta dengannya. Aku dan Jeslin memang baru beberapa hari ini dekat. Kedekatan kami juga awalnya kupikir hanyalah sebuah kesalahan karena hubunhan intim yang langsung saja terjadi diantara kami. Aku akui kalau aku tergila-gila dengan tubuhnya, dengan pesonanya, dengan kenakalannya. Namun jauh di lubuk hatiku, aku ingin hubungan kami berada dalam ikatan yang benar. Aku pikir kalau aku jatuh cinta padanya."
Wisnu menatap wajah Gading dengan intens. Keluarga Gading sudah sangat dekat dengan keluarga mereka karena ayah Gading dulunya adalah kepala pabrik milik keluarga Wisnu. Sayangnya ayah Gading meninggal saat Gading belum selesai kuliah dan ibunya meninggal ketika Gading baru saja setahun. Bekerja di perusahaan keluarga Wisnu. Saat pertama melihat Gading, Wisnu langsung suka dan mengangkat Gading sebagai asistennya. Wisnu memberikan gaji yang sangat besar untuk Gading dan bahkan membelikan tanah yang kini telah berdiri sebuah rumah mewah yang menjadi rumah Gading.
"Kau tahu siapa kekuarga Jeslin?" tanya Wisnu.
"Ya. Keluarganya adalah salah satu pemilik maskapai penerbangan yang terkenal di negara kita ini."
__ADS_1
"Mereka juga adalah kolega perusahaan ku. Kedua kakak Jeslin adalah pengusaha muda yang sukses. Jeslin anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan yang sangat dimanja oleh keluarganya. Setahuku, ibu Jeslin sedikit sombong dan sangat memegang teguh tentang bibit, bobot, bebet. Ini adalah lamaran yang tidak mudah."
Gading menarik napas panjang. "Aku tahu. Namun aku ingin menjadi lelaki yang bertangungjawab untuk Jeslin. Dia sudah bersamaku. Jika aku tak menikah dengannya, bagaimana nanti ia bisa bersama lelaki lain? Mungkin mereka akan menghina dan meremehkannya karena sudah tak perawan lagi. Walaupun aku tahu jaman sekarang ini, perawan atau bukan, seringkali tidaklah menjadi ukuran."
Wisnu tersenyum. "Kau lelaki baik. Namun aku berharap, kau tidak akan pernah meninggalkan aku, Gading."
"Tidak akan tuan. Dulu, aku pernah berjanji pada almarhuma ibuku, aku akan menjaga tuan dengan sepenuh hati. Mendukung perusahaan ini seperti perusahaan ku sendiri. Aku bahkan berjanji pada diriku sendiri akan membuat tuan bahagia sebelum akhirnya mencari kebahagiaanku sendiri. Kini, tuan telah menemukan cinta sejati bersama nyonya Naura. Walaupun masih membutuhkan sedikit perjuangan untuk mendapatkan hati nyonya namun aku yakin, nyonya akan bersama tuan selamanya."
"Menurutmu seperti itu? Dia akan jatuh cinta padaku?"
"Aku sangat yakin, tuan."
Wisnu mengangguk sambil tersenyum. "Oh ya, tunggu sebentar." Wisnu masuk ke dalam ruang kerjanya, kemudian kembali sambil membawa sebuah map file.
"Gading, mulai hari ini, kau bukan hanya menjadi asistenku, namun kau adalah salah satu pemegang saham perusahaan Furkan. Aku sudah membuat dokumen pengalihan saham ku atas namamu. Kau mendapatkan 10% saham perusahaan Furkan."
"Apa? Tuan...., tapi sejak kapan tuan membuat dokumen tanpa memberitahukannya kepadaku? Aku...." Gading sangat terharu. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. 10% saham bukanlah angka yang kecil.
"Aku sudah membuat dokumen ini sekitar setahun yang lalu. Aku bahkan sudah hampir melupakannya. Kau adalah rekan kerjaku, sahabatku dan juga kakakku."
Bolehkan kalau Gading jadi cengeng saat ini. Tangannya bahkan sampai bergetar menerima map file itu. Wisnu sungguh mengejutkannya.
"Ayo kita taklukan Elsa Nabila Suratinojo." ujar Wisnu.
"Siapa itu Elsa Nabila Suratinojo?"
Gading terkekeh. "Terima kasih tuan."
"Wisnu!"
"Maksudnya?"
"Panggil aku, Wisnu. Karena Elsa Nabila Suratinojo tak siap menerima calon mantunya adalah bawahan orang lain. Ingat itu."
Gading terkekeh. Ia memeluk Wisnu dengan perasaan haru dan bahagia.
********
Jeslin bolak balik berjalan di dalam kamarnya. Naura yang melihatnya pun menjadi pusing melihat wajah sahabatnya yang terlihat tegang.
"Loe kenapa sih?" tanya Naura
"Sebentar lagi Mas Gading dan juragan tiba. Gue tegang, Na. Gue takut nyokab akan menolak mas Gading."
__ADS_1
"Biar saja nyokab loe nolak mas Gading. Loe kan nggak cinta sama dia. Loe cuma butuh mas Gading sebagai pelampiasan hasrat loe."
"Brengsek loe!" Jeslin melempar Naura dengan boneka beruang yang dipegangnya. Untung saja Naura cepat menghindar. Naura jadi tertawa.
"Memangnya perkataan gue salah? Loe kan yang bilang kalau Gading hebat di ranjang, lembut, bisa membuat loe mendapatkan pelampiasan sampai berkali-kali."
"Tapi beda saat semalam dia melamar gue. Loe tahu, perut gue bahkan dipenuhi dengan seribu kupu-kupu. Gue merasa seperti pertama kali Yuda mengungkapkan perasaannya ke gue."
Naura mengerutkan dahinya. "Secepat itu loe move on dari Yuda?"
"Entahlah. Yang pasti gue saat ini sangat tegang."
'Kita berdoa saja semoga Mas Gading dan juragan mampu menaklukkan nyokab loe."
Tak lama kemudian, Gading mengirim pesan menyampaikan kalau mereka sudah ada di depan pintu pagar.
"Ayo kita turun, Na."
"Jangan. Nanti lamarannya batal. Katanya calon mempelai perempuan harus menunggu."
"Kita intip saja. Gue ingin tahu jalannya percakapan antara mereka. Ayo!" Jeslin menarik tangan Naura dan segera turun ke bawa.
Surya Suratinojo dan Elsa Nabila Suratinojo menyambut kedatangan Wisnu dan Gading dengan senyum ramah. Jeslin memang sudah mengatakan maksud kedatangan mereka.
"Apa kabar nak Wisnu? Saya sangat kagum mendengar perkembangan pabrik dan perusahaan anda. Pastilah almarhum ayah anda sangat bahagia melihat keberhasilan anda." Ujar Surya dengan bangganya.
Wisnu tersenyum. "Aku bisa berhasil sampai saat ini semuanya karena aku memiliki mitra kerja yang pintar dan sangat berbakat seperti Gading."
"Gading?" Elsa menatap Gading.
"Ya. Gading adalah salah satu komisaris di perusahaan ku. Salah satu pemegang saham juga."
Elsa mengangkat alisnya. Ia terkejut mendengar kalau Gading adalah salah satu pemegang saham di perusahaan yang besar seperti perusahaan milik keluarga Furkan.
"Gading bukan hanya mitra kerja bagiku namun sudah seperti seorang kakak. Makanya aku mewakili Gading ke sini untuk melamar Jeslin." Ujar Wisnu.
Alis Elsa semakin tinggi terangkat. Ia memandang Gading dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Jeslin yang mengintip dari balik pintu samping menjadi sangat tegang. Ia tahu mengapa alis Elsa terangkat. Elsa pasti akan membicarakan masalah bibit, bobot dan bebet.
Ya Tuhan, tolonglah mas Gading
**********
__ADS_1
Duh, apakah Elsa menerima Gading sebagai menantunya??
tunggu episode berikut ya guys