Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Terbakar Cemburu


__ADS_3

"Bi, sebaiknya kita ke puskesmas saja. Kata dokter Satria jika panas bibi belum juga sembuh maka harus dilakukan pemeriksaan laboratorium." Kata Naura cemas saat ia datang menemui Kumala pagi ini dan melihat kalau perempuan paru baya itu masih panas dan wajahnya pucat.


"Bibi baik-baik saja, nyonya. Hanya perlu istirahat saja."


"Nggak. Bibi harus diperiksa saat ini juga." Naura mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi salah satu sopir yang ada di ladang dan memintanya untuk membawa mobil Wisnu dan berjenis sedan agar ia tak repot untuk membawanya.


Akhirnya, dengan sedikit dipaksa, Kumala pun mau ikut ke puskesmas bersama Naura.


Dokter Satria sendiri yang menjemput mereka. Ia langsung memerintahkan seorang petugas medis untuk mengambil sampel darah Kumala dan membawanya ke kota untuk diperiksa.


"Bibi nggak mau dirawat, nyonya. Di sini saja. Nggak enak menyusahkan nyonya." Ujar Kumala.


"Tapi kata dokter, sebaiknya bibi diinfus saja." Ujar Naura sambil memegang tangan Kumala.


"Bibi nggak mau ngerepotin, nyonya."


Satria menatap Naura. "Di infus di rumah juga boleh. Saya bisa tinggal di rumah ibu bidan untuk mengawasi ibu Kumala."


Naura mengangguk. "Kalau begitu, ibu diinfus di rumah saja, ya? Nanti saya minta anak-anak yang ikut tarian agar bisa bergantian menjaga bibi."


Kumala mengangguk. Ia tahu tak ada gunanya berdebat dengan Naura. Ia sama keras kepalanya dengan papanya. Tiba-tiba saja, Kumala merindukan sosok pria itu. Ya Allah, berikanlah tempat yang damai baginya dan juga istrinya di sisi Mu.


*********


Yang Naura sukai pada ibu Kumala, sekalipun rumahnya kecil dan sederhana, namun dia sangat bersih dan rapih. Bahkan di saat ia sakit pun kamarnya masih tertata bersih.


Gayatri, Tiwi dan ibu sekdes datang saat Naura menghubungi mereka. Gayatri dan Tiwi segera mengambil baju kotor ibu Kumala dan mencucinya sedangkan ibu sekdes langsung membuat bubur dan memberikan Kumala makan.


"Mereka sangat baik ya mau membantu ibu Kumala." Ujar Satria setelah selesai memasang infus di tangan Kumala.


Naura tersenyum. "Bibi adalah pelatih tari yang cukup terkenal di daerah sekitar sini. Penduduk desa sini juga sangat menyayangi bibi..Ia melatih anak-anak gadis menari sehingga desa ini selalu menang jika mengikuti lomba tari."


Ibu Sekdes datang membawakan secangkir kopi untuk Satria.


"Silahkan diminum kopinya pak dokter."


"Makasi, bu."


ibu sekdes meninggalkan Naura dan Satria yang duduk di bagian samping rumah, tepatnya di bawa pohon mangga, di atas tempat duduk dari bambu yang dibuat sebagai tempat santai. Naura bahkan beberapa kali ketiduran di tempat ini.


"Naura, kemana suamimu?" tanya Satria.


"Mas Wisnu lagi ada urusan di kota. Tapi mungkin hari ini kembali."

__ADS_1


Tepat di saat itu, Naura melihat mobil Wisnu memasuki pekarangan rumah ibu Kumala dan berhenti tak jauh dari mereka.


Gading yang lebih dulu turun dan membukakan pintu bagi Wisnu. Naura dapat melihat wajah Wisnu yang nampak kurang suka melihatnya duduk bersama Satria.


"Selamat sore!" Sapa Wisnu datar, berusaha menekan bara api yang ada di hatinya. Wisnu tak mau sampai kehilangan kendali diri walaupun ia benci melihat Naura yang duduk terlalu dekat dengan Satria. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang sedang berkencan sambil duduk di sore hari.


"Selamat sore." Balas Satria sambil berdiri. Ia akui, walaupun usia Wisnu sudah kepala 3 namun dia kelihatan masih muda, gagah dan penuh karisma.


"Hallo mas. Aku pikir mas masih di kota." Ujar Naura tanpa rasa bersalah. Wisnu menahan jengkel di dalam dada karena istrinya tersebut tak mengerti dengan sorot mata tajamnya.


"Aku baru saja tiba. Bagaimana keadaan ibu Kumala?"


"Bibi sedang tidur. Dokter Satria sudah memberikan obat dan memasang selang infus ditangannya. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan labolatorium bibi." Jawab Naura.


"Kalau bibi sedang tidur, berarti aku kembali saja ke rumah. Kita pulang sekarang?" Tanya Wisnu masih terlihat tenang.


"Tapi aku bawa mobil." Kata Naura sambil menunjuk mobil sedan milik Wisnu.


"Biar Gading saja yang membawanya." .


Naura menatap Satria. "Kak, sekali lagi terima kasih ya karena sudah menolong bibi Kumala. Tolong kabari aku jika hasil pemeriksaan darahnya sudah keluar."


Satria mengangguk. "Iya. Aku juga akan tetap ada di sini untuk memantau perkembangan ibu Kumala. Hari ini kan jadwal praktekku di desa ini."


Ada rasa lega dalam hati Naura saat tahu kalau Satria masih akan ada di sini. "Ya sudah aku pulang dulu ya." Naura juga pamit pada bu sekdes, Gayatri dan Tiwi. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil Wisnu.


Tangan Wisnu begitu kuat mencengkeram stir mobil sehingga urat-uratnya terlihat jelas.


Namun perempuan itu memilih diam. Pun ketika mobil itu ternyata menuju ke rumah yang ada di perkampungan dan bukan di rumah bukit, Naura diam saja. Ia tak memprotes. Naura enggan bertengkar di tengah jalan.


Mobil berhenti tepat di depan teras rumah Naura turun sendiri dan melangkah lebih dulu masuk ke dalam.


Rumah sudah sepi, para pelayan yang ada di sini sudah pulang. Mungkin inilah alasannya Wisnu membawa Naura ke sini, yaitu untuk berbicara tanpa ada gangguan. Buktinya, Gading tak ada di belakang mereka Ia mungkin pergi ke rumah bukit.


Setelah Wisnu masuk, ia menutup pintu yang ada di belakang mereka. Tatapannya kini tertuju pada istri ketiganya itu yang dengan santainya duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


"Naura, apa yang kau lakukan di rumah ibu Kumala bersama dokter itu?" tanya Wisnu sambil mendekat dan duduk di samping istrinya.


"Kak Satria menemani kami ke rumah bibi Kumala karena bibi nggak mau istirahat di rumah sakit."


"Memangnya tak ada dokter lain di puskesmas itu?"


"Ada. Tapi hanya kak Satria yang aku kenal. Lagi pula ia dokter di desa ini. Jadi lebih gampang kan untuk mengkomunikasikan masalah sakitnya bibi."

__ADS_1


"Lalu kenapa selesai itu tak langsung pulang? Sengaja ya mau lama-lama berduaan dengan Satria?"


Naura menatap tajam ke arah Wisnu. "Masa sih setelah dokter selesai memeriksa bibi, aku langsung pulang begitu saja? Duduk sebentar apa salahnya? Lagi pula aku dan kak Satria berteman saat kami di kampus."


"Namun dia adalah pria yang menyatakan cinta padamu dan kau pernah menyukainya di masa lalu."


"Sampai sekarang kan aku masih menyukainya."


"Naura......!" sentak Wisnu dengan luapan emosi yang semakin dalam. Ia tak menyangka kalau Naura akan mengatakan itu.


"Aku tak mau bohong padamu, juragan. Tak mudah membuang cinta pertama dalam hidup kita. Seperti juga juragan yang belum bisa move on dari mendiang mba Dina."


"Jangan bawa-bawa nama Dina." Seru Wisnu marah. Ia tak ingin Dina dilibatkan dalam percakapan mereka karena memang ini tak ada hubungannya dengan Dina, menurut Wisnu.


"Aku hanya mengingatkan padamu, sebagaimana kamu sulit melupakan mendiang istri pertamamu, begitu juga aku belum bisa secepat itu melupakan kak Satria. Tapi aku sadar diri dengan statusku sebagai istri ketiga mu. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam kepalaku kalau aku akan menghiananti mu. Karena aku masih punya harga diri dan rasa hormat terhadap pernikahan ini. Aku bukan perempuan murahan sekalipun di masa lalu aku begitu suka berhura-hura dengan teman-teman ku. Ingat juragan, pertama kali kau menyentuhku, aku masih perawan dan bukan perempuan bekas dari lelaki yang lain." Kata Naura dengan rasa sakit hati yang dalam. Ia benci kalau ada orang yang menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Ia kemudian berdiri dan melangkah menuju ke luar rumah.


"Naura, kau mau kemana?" tanya Wisnu. Kali ini suaranya sudah lebih tenang. Perkataan Naura barusan bagaikan sesuatu yang menusuk hatinya. Walaupun sejujurnya rasa cemburu itu masih ada. Saat Wisnu diberitahu oleh Wina kalau Naura sedang mengantar bibi Kumala ke puskesmas yang ada di kecamatan, pikiran Wisnu langsung tertuju pada dokter Satria yang dia tahu bekerja di sana. Apalagi saat Wina mengatakan bahwa kemarin sore, Naura pulang diantar oleh Satria, semakin membuat emosi Wisnu bertambah. Dan rasa cemburunya semakin besar saat melihat bagaimana Wisnu dan Naura yang duduk di atas bangku bambu di bawa pohon dan terlihat akrab dan saling tersenyum. Wajarlah kalau Wisnu cemburu? Satria adalah pria yang Naura sukai. Dan yang membuat Wisnu tambah meradang, ponsel Naura tak bisa dihubungi. Pada hal tadi Wisnu jelas melihat bagaimana Naura memegang ponselnya dan memainkan nya.


"Aku mau mencari udara segar sebentar. Aku benci udara di dalam rumah ini yang mengandung kecurigaan dan tuduhan yang tak jelas." Ujar Naura tanpa menoleh langsung membuka pintu utama dan meninggalkan Wisnu yang tertegun hanya bisa duduk kembali.


Setelah beberapa menit berlalu, pandangannya tertuju pada ponsel Naura yang ada di atas sofa. Ia mengambil ponsel itu dan membukanya. Namun ternyata ponsel itu dalam mode off. Wisnu berusaha menghidupkannya kembali, namun tak bisa. Sepertinya ponsel itu kehabisan daya. Apakah saat tadi ia melihat Naura memainkan ponselnya, karena Naura hendak memeriksa ponselnya? Mungkinkah Naura baru tahu kalau ponselnya kehabisan daya?


Wisnu menarik napas panjang. Rasa cemburu dan kekhawatirannya terhadap kedekatan Naura dan Satria telah membuat ia kehilangan akal sehatnya. Wisnu tak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan dengan Dina sekalipun ia tak pernah mengalami perasaan seperti ini. Suatu ketakutan yang tak ingin milik kepunyaannya di sentuh oleh orang lain. Naura adalah miliknya, dan Wisnu tak ingin orang lain menyentuhnya. Bahkan mungkin jika ada pria lain yang menatap Naura dengan rasa ingin memiliki, Wisnu akan menghancurkan pria itu.


Akhirnya, pria itu ke dapur untuk mengambil air putih dan meminumnya untuk meredakan rasa panas yang masih memenuhi hati dan tubuhnya. Setelah itu ia memilih duduk sebentar di ruang tamu untuk membiarkan Naura tenang.


Tapi 1 jam telah berlalu dan Naura tak kembali. Wisnu keluar dari rumahnya dan mencari Naura.


"Naura......!" Panggilnya. Hari sudah menjelang sore bahkan hari mulai gelap.


Tak ada sahutan sama sekali. Wisnu pun mencari Naura di sekitar rumah sampai akhirnya ia mendengar suara ribut tak jauh dari lapangan desa. Ia mendekat dan langsung menggelengkan kepalanya melihat Naura ada di sana, sedang bermain bola dengan beberapa anak lelaki. Ia bahkan baru saja memasukan bola ke gawang dan membuat dirinya dan beberapa anak lelaki bersorak gembira. Naura ikut bergoyang dengan mengikuti gaya anak-anak itu. Seolah tak ada beban, tak ada rasa bersalah, tak ada wajah kesal karena pertengkaran mereka. Naura terlihat begitu bahagia. Dan tawa istrinya itu membuat Wisnu tersenyum.


Tak jauh dari sana, ada beberapa lelaki berbadan tegar yang melihat permainan bola itu juga.


"Jadi itu sasaran kita?"


"Ya. Sesuai dengan perintah nyonya kalau kita harus menangkapnya dan melenyapkannya."


"Wah, sayang sekali. Dia terlihat cantik, begitu menggoda dan seksi."


"Kau dapat mencicipinya sebelum kita melenyapkannya."


**********

__ADS_1


Siapa ya para lelaki berbadan tegar itu???


Dukung emak terus dong.....


__ADS_2