
Karena episode 93 loncat ke episode 2, terpaksa episode 2 aku tulis lagi.Yang mau baca lagi silahkan. Karena ada perubahan cerita walau hanya sedikit.
**********
Ini sudah hari yang kelima mereka berada di Turki. Sudah dua kota yang mereka kunjungi. Ada yang berbeda dengan Naura pagi ini. Ia sama sekali tak bisa bangun karena merasakan mual dan pusing.
"Sayang, kita panggil layanan dokter saja?" tanya Wisnu sambil memijat kepala Naura dengan lembut.
"Nggak perlu, mas. Aku pasti hanya kecapean." ujar Naura tanpa membuka matanya.
"Setidaknya kalau dokter periksa kan bisa minta vitamin atau obat yang akan membuat kamu kuat."
"Baiklah." Naura mengalah.
"Aku telepon dulu ya?" Wisnu meraih gagang telepon yang ada di atas nakas. Ia bertanya apakah ada layanan tenaga medis di hotel ini. Dan ternyata ada.
Tak sampai 20 menit, layanan kamar itu pun datang. Ternyata seorang dokter perempuan. Namanya dokter Elif.
Dokter yang usianya sekitar 40 itu segera melakukan pemeriksaan. Ia menanyakan beberapa pertanyaan pada Naura. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
"Nyonya, kapan anda terakhir haid?" tanya dokter Elif.
Naura mencoba mengingat. Itu terjadi sebelum Jeslin diculik oleh Yuda.
"Hampir 2 bulan yang lalu."
Dokter Elif tersenyum. "Sepertinya nyonya hamil."
Naura membuka matanya. "Hamil?"
"Beli tespack saja di apotik terdekat untuk memastikan. Aku hanya merasakan bahwa denyut nadi nyonya Naura agak lebih cepat. Biasanya itu terjadi karena hamil. Juga nyonya sudah terlambat haid selama 2 Minggu."
Wajah Wisnu langsung berseri. Jantungnya berdetak cepat karena kebahagiaan yang kini ia rasakan.
Dokter Elif langsung pamit. Wisnu membayar jasa pemeriksaannya dan langsung membeli tespack di apotik yang letaknya sangat dekat dengan hotel.
Mereka kini ada di kota Ankara, ibu kota Turki.
"Sayang, ini tespack nya." Kata Wisnu.
Naura terkejut melihat Wisnu membeli sampai sepuluh tespack dengan merk yang berbeda.
"Mas, kok banyak sekali."
"Aku bingung mana yang bagus. Jadi beli aja semua merk yang ada di apotik itu. Lagi pula penjaga apotiknya kurang fasih bahasa Inggris."
Naura tertawa. Ia memegang tangan Wisnu. "Mas, bantu aku ke kamar mandi ya?.Masih agak pusing." ujar Naura.
Wisnu membantu Naura turun dari tempat tidur. Lalu, sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, ia membantu Naura berjalan.
"Sampai di sini saja, mas." kata Naura saat sudah di depan pintu.
"Kenapa?"
"Aku malu mau buang air dilihat olehmu."
"Mengapa harus malu? Aku sudah melihat semuanya. Bahkan yang bagian dalam pun aku sudah lihat."
"Mas Wisnu....!" Naura jadi malu.
Wisnu tertawa. "Baiklah. Aku akan membelakangi pintu namun pintunya jangan ditutup. Aku takut kamu pusing, sayang."
"Ok."
Wisnu menyerahkan sebuah mangkuk kecil untuk menampung urine Naura. Setelah itu ia membelakangi pintu.
"Sudah sayang?" tanya Wisnu.
"Mas, ini juga baru mau dibuka celananya."
Wisnu terkekeh. Sebenarnya ia hanya ingin menghilangkan rasa gugupnya menunggu hasil yang akan didapat.
"Sayang, apakah sudah?"
"Belum mas....!"
"Kok lama ya? Memangnya perempuan butuh berapa menit untuk buang air kecil?"
"Sabar ya mas...!"
__ADS_1
"Nggak sabar menunggu hasilnya."
Wisnu menarik napas panjang beberapa kali.
"Ra, kok diam sih? Sudah belum? Aku membalikan badanku ya?"
"Mas....!" Panggil Naura.
Wisnu membalikan badannya. Di hadapannya Naura sudah berdiri sambil memegang 2 tespack dengan hasil yang sama. Dua garis.
"Aku positif hamil, mas." kata Naura dengan mata berkaca-kaca.
Jantung Wisnu berdetak sangat cepat. Ia mengambil tespack itu, melihatnya sekilas lalu dengan cepat memeluk Naura dengan tangis kebahagiaannya.
"Naura....sayang, akhirnya kita akan punya anak. Ya Allah, aku bahagia sekali."
Untuk sesaat keduanya larut dalam keharuan. Sampai akhirnya perut Naura berbunyi.
"Kau lapar?" tanya Wisnu sambil melepaskan pelukannya.
"Iya, mas. Tapi aku inginnya makan bakso."
"Ayo kita duduk dulu." ajak Wisnu sambil melingkarkan tangannya kembali di pinggang Naura dan keduanya keluar kamar mandi bersama. Setelah Naura duduk, Wisnu segera mengambil teleponnya. Ia.menghubungi Gading dan meminta Gading untuk datang ke kamar mereka.
Gading datang bersama Jeslin. Keduanya terlihat baru selesai mandi.
"Ayo kita cari, apakah di kota Ankara ini ada bakso istriku sedang ngidam dan ingin makan bakso."
Gading dan Jeslin terkejut.
"Naura...?" Jeslin menatap sahabatnya itu.
"Ya." Naura menunjukan tespack yang ada di atas meja. Jeslin langsung memeluknya.
"Selamat ya, beb. Bentar lagi loe jadi emak."
"Gue harap loe juga akan menyusul."
"Mengenai bakso, kayaknya di sini nggak ada." ujar Gading setelah mencari lewat internet.
"Mas, aku kepingin bakso!" rengek Naura.
"Iya."
"Kok pulang? Bulan madu kita kan masih satu Minggu lagi." protes Jeslin.
"Kalian saja yang terus ada di sini. Nikmati masa bulan madu kalian. Gading, coba cari penerbangan ke Jakarta kalau ada hari ini." Kata Wisnu. Gading mengangguk.
Walaupun dengan berat hati, Jeslin akhirnya merelakan Wisnu dan Naura pulang lebih dulu.
*********
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 jam, diwarnai dengan aksi mual dan muntah, akhirnya mereka bisa mendarat di Jakarta dengan selamat.
Pak Arif, sopir Wisnu yang lain dan bi Saima datang menjemput mereka.
Wisnu menyerahkan urusan bagasi pada Arif dan Saima dan ia langsung menemani istrinya ke restoran bakso Solo yang ada di bandara.
Naura langsung memesan dua porsi dan memakannya sampai habis. Ia sungguh-sungguh menikmati makanan ini seolah sudah bertahun-tahun tak makan bakso. Wisnu sampai terkejut melihat bagaimana lahapnya Naura menikmati bakso.
"Sayang pelan-pelan, nanti kamu tersedak."
Saima yang mengetahui kalau Naura sedang hamil pun menjadi ikut gembira.
"Selamat ya nyonya. Akhirnya nyonya bisa hamil juga." Ujar Saima setelah Wisnu mengatakan kehamilan Naura saat mereka tiba di rumah.
**********
Kumala menatap kedatangan Naura dengan perasaan haru. Apalagi saat tahu kalau Naura sedang hamil.
"Ibu senang sekali, nak. Apalagi saat tahu kalau kau hamil." kata Kumala sambil memegang perut Naura.
"Terima kasih, ibu. Aku ingin melewati masa-masa kehamilanku di desa ini. Nanti sesekali ke kota untuk memeriksakan kehamilan. Ibu, ayo tinggal dengan aku di rumah bukit. Senin sampai kamis kita di rumah bukit, Jumat sampai minggu kita akan tinggal di perkampungan. Aku butuh ibu untuk bersama-sama dengan aku. Apalagi jika aku sudah melahirkan."
Kumala tak sampai hati menolak keinginan a anaknya. "Baiklah. Tapi, jika sesekali ibu ingin tidur di rumah ini boleh kan?"
"Tentu saja boleh. Oh ya, dimana Gayatri?"
"Gayatri sekarang bekerja dengan ibu bidan. Sesekali juga membantu dokter Satria jika ia datang praktek di sini setiap Selasa dan Kamis."
__ADS_1
"Oh begitu ya."
Kumala menatap anaknya. "Nak, kau sudah tak menyimpan cinta untuk dokter itu kan?"
Naura menggeleng. "Aku memang pernah mencintai dokter itu. Namun sekarang hatiku sudah milik mas Wisnu. Aku sudah mencintai suamiku sebelum aku tahu tentang kehamilanku. Aku tak mungkin akan meninggalkan mas Wisnu untuk dokter Satria. Aku berdoa agar dokter Satria akan mendapatkan wanita yang pantas untuknya."
"Senangnya hati ibu mendengar ini semua, nak. Oh ya, kamu sudah memeriksakan kandungan mu ke dokter?"
"Belum, Bu. Mungkin nanti minggu depan soalnya selama semenjak tiba dari Turki, aku inginnya datang ke desa. Makanya mas Wisnu belum buat janji dengan dokter."
Kumala mengangguk. Ia memegang tangan putrinya dengan senyum kebahagiaan. Selama bertahun-tahun ia memendam rindu untuk memeluk, melimpahkan kasih sayang dan mengasuh Naura. Kini, ia akan menikmati hari-harinya bersama Naura dan menanti untuk menjadi nenek.
**********
Agak tergesa-gesa, Wisnu memasuki tempat praktek dokter Miranda. Ia bernapas lega melihat Naura dan Kumala masih ada di ruang tunggu.
'Maaf aku terlambat. Ada sedikit masalah di pabrik." Kata Wisnu dengan wajah penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa, mas. Aku tahu mas sibuk karena mas Gading nggak ada. Lagi pula ada ibu yang menemaniku." Naura langsung memegang tangan Wisnu yang duduk di sampingnya.
"Ini adalah pemeriksaan pertamamu, sayang. Oh ya, besok Gading dan Jeslin akan pulang."
"Aku sudah kangen dengan mereka." ujar Naura.
"Nyonya Naura Furkan, silahkan masuk!" panggil si asisten dokter. Naura, Wisnu dan Kumala langsung masuk.
Dokter Miranda langsung mengajak Naura ke tempat tidur untuk di USG setelah melakukan percakapan awal.
"Usia kandungannya memasuki Minggu ke-7. Titiknya ada dua." dokter Miranda tersenyum. "Apakah kalian punya gen keturunan kembar?"
Wisnu menggeleng. Naura juga menggeleng.
"Nenek Naura dari sebelah mamanya memiliki saudara kembar. Namun mereka berdua meninggal saat Naura masih sangat kecil. Jadi Naura nggak mengenal mereka." ujar Kumala.
"Apakah istri saya hamil anak kembar?" tanya Wisnu dengan wajah gembira.
"Ya. Nyonya Naura hamil anak kembar."
Wisnu tak bisa menahan rasa harunya. Ia pernah kehilangan anak pertamanya bersama Naura. Dan Tuhan memberikan gantinya dua sekaligus. Wisnu sangat bahagia.
Setelah dokter selesai memeriksa dan memberikan vitamin serta obat penguat kandungan, Mereka langsung pulang ke rumah Wisnu yang ada di kota. Naura harus banyak istirahat karena mengingat kalau ia pernah mengalami keguguran saat hamil pertama.
Lisa sangat senang ketika diberitahu bahwa ia akan memiliki dua adik sekaligus. Wisnu mengijinkan Regina untuk kembali tinggal dengan Lisa namun setiap Jumat, Wisnu akan menjemput Lisa untuk datang ke desa dan akan diantar kembali pada hari Minggu sore.
Di kamar, Naura memegang foto kakek Zumi sambil tersenyum. "Terima kasih, kek. Suami pilihan kakek untuk aku adalah pria yang baik, pria yang akan selalu mencintai aku."
Wisnu yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum mendengar perkataan Naura. Ia pun berterima kasih pada kakek Zumi yang memintanya untuk menikahi Naura. Siapa yang mengira kalau Naura memang adalah perempuan yang sudah ditakdirkan untuknya.
Wisnu berjanji tak akan pernah ada wanita yang lain.
*********
Yuda dan Satria duduk di tepi pantai sambil menikmati bir kaleng di tangan masing-masing.
"Yud, gimana istri loe?" tanya Satria.
"Ada. Dia juga cuek dengan gue. Katanya setelah anak kami lahir, dia akan kembali kuliah di Singapura."
"Loe nggak belajar mencintai Bella?"
"Nggak. Gue masih sayang Jeslin."
"Jeslin sudah menjadi milik orang lain. Demikian juga Naura. Gue dengar Naura sekarang hamil anak kembar. Gayatri menceritakan bagaimana juragan sangat memanjakan Naura."
Yuda menarik napas panjang. "Apakah kita berdua terlahir dengan nasib yang buruk? Kehilangan cinta sejati."
"Gue nggak tahu. dan Gue malas untuk mencari cewek lagi."
Kedua pria tampan itu saling tos lalu menikmati minuman mereka. Pria-pria tampan yang malang.
Ada yang mau membalut luka hati mereka?
Duh, emak sudah mau menamatkan cerita ini.
Tapi masih banyak yang belum rela.
Tgl 1 Oktober emak up cerita baru
__ADS_1
Dukung ya guys....