
Beberapa jam sebelum Naura meninggalkan Villa.......
Setelah keluar dari kamar mandi, Naura memakai kaos dan celana jeans. Ia merasa dadanya sangat sesak. Ia benci dengan orang yang tak percaya padanya pada hal selama ini Naura sangat percaya pada Wisnu.
Beberapa kali Naura menarik napas panjang. Aku memang tak cocok menjadi istri juragan. Aku harus pergi! Biar saja juragan bersama dengan dua istri bebalnya itu. Itu hukuman untuknya. Aku membencinya.
Naura mengambil ponselnya. Ia menelepon Jeslin. "Jes, tolong dong jemput gue di desa. Gue sesak banget nih. Pokoknya kalau loe sudah di depan, tolong hubungi gue ya?"
Setelah menelepon Jeslin, Naura pun membereskan buku-buku kuliahnya dan juga laptopnya. Ia mengambil beberapa potong pakaian yang memang dibelinya sendiri lalu dimasukannya ke dalam tas ranselnya.
Tekad Naura sudah bulat. Apapun nanti yang akan Wisnu katakan, ia tak akan pernah mau membatalkan keinginannya untuk tinggal bersama Wisnu lagi.
**********
Di sebuah apartemen mewah di ibu kota, Jeslin baru saja meletakan ponselnya. Ia menatap Satria yang duduk di depannya dengan wajah yang lebam di beberapa tempat. Di samping Satria, ada Yuda pacarnya Jeslin.
"Gue mau menjemput Naura. Ia terdengar sedih dan mau pergi dari rumahnya Wisnu."
"Apakah Wisnu berbuat kasar padanya? Wisnu melakukan sesuatu yang menyakitinya?" tanya Satria dengan wajah khawatir.
"Gue nggak tahu. Gue tinggal dulu ya?" pamit Jeslin. Namun ia ingat sesuatu. "Ya ampun, ban mobil gue tadinya kempes."
"Pakai mobil gue saja." kata Yuda.
"Nggak mau, mobil loe gede." Kata Jeslin saat mengingat kalau mobil Yuda jenisnya mobil sport yang besar.
"Mobil gue aja. Nih....!" Satria langsung mengambil kunci mobilnya dari dalam saku celananya dan melemparkannya ke arah Jeslin. Gadis itu langsung menangkapnya dan langsung pergi karena ia ingin segera menjemput sahabatnya itu.
**********
Satu jam lebih menunggu, Jeslin menghubungi Naura.
"Loe sudah sampai?" Tanya Naura kaget.
"Iya."
"Kencang amat. Loe memang masih gila-gilaan ya membawa mobil. Sekarang di mana?"
"Gue sudah ada di depan pagar. Nggak berani naik ke atas. Oh ya, gue membawa mobil Satria. Mobil gue bannya kempes."
"Mengapa loe bisa membawa mobil Satria?"
"Nanti aja gue ceritain ke loe. Sekarang loe keluar aja dari tu rumah."
"Gue ada di villa. Loe tunggu aja di sana. Jangan keluar dari mobil apapun yang terjadi. Jangan menelepon gue lagi karena ponselnya akan gue tinggalkan. Gue nggak akan membawa apapun yang diberikan oleh Wisnu." Lalu Naura mengahiri panggilan itu. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan dua kartu yang diberikan Wisnu padanya. Setelah itu ia langsung keluar dari villa.
"Nyonya, mau kemana?" Jodi mengejar Naura yang sudah berjalan ke luar rumah. Ia kaget melihat Naura yang keluar sambil menenteng tas laptop dan mendukung sebuah ransel di punggungnya.
"Aku mau pergi!"
"Biar kami yang mengantar, nyonya!" ujar Johan yang juga ikut berjalan di belakang Jodi.
Naura menghentikan langkahnya. "Kalian tak perlu susah-susah mengantar aku. Karena aku bukan nyonya kalian lagi." Katanya pelan lalu melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Tapi nyonya....!"
"Biarkan dia pergi......!" teriak Regina yang berdiri di atas bukit. Di belakangnya ada Indira yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi juragan memerintahkan kami untuk menjaga nyonya ketiga." kata Jodi diikuti anggukan kepala Johan.
"Juragan tak menginginkan lagi nyonya ketiga. Juragan nggak akan perduli padanya karena ia sudah terbukti selingkuh." Ujar Regina membuat Johan dan Jodi saling bertatapan dengan bingung. Mereka tak percaya dengan apa yang Regina katakan.
"Kau dengarkan?" Naura menatap kedua bodyguard itu. "Aku ini tukang selingkuh dan juragan tak menginginkan aku." Naura melangkah lagi namun baru beberapa langkah, ia sudah berbalik lagi dan menatap kedua istri Wisnu. "Kalian memang pintar! Membuat aku nampak seperti perempuan murahan! Namun aku pastikan bahwa kebusukan kalian juga akan segera terungkap. Karena aku yakin, Allah tak akan menutup mata dari semua yang telah kalian lakukan untukku. Mulai dari keguguran kau, lalu penculikan pertama dan penculikan kedua." Kata Naura lalu segera melangkah ke arah mobil Ferrari merah metalik yang terparkir tak jauh dari sana.
"Kita pergi?" tanya Jeslin.
"Kita mampir sebentar di rumah ibuku."
"Ibu Kumala?"
"Ya."
Mereka pun mampir ke rumah Kumala. Perempuan itu langsung memeluk Naura. "Nak, kamu dari mana saja?"
"Aku hanya sedang siap saja hari ini, bu. Sekarang aku ke sini karena mau pamit dengan ibu. Aku ingin ke kota. Aku nggak mau lagi tinggal dengan juragan."
"Ada apa? Kenapa?"
Naura tersenyum. Ia mencium kedua tangan Kumala secara bergantian. "Aku akan baik-baik saja. Ibu tak akan khawatir. Para penculik itu tak akan menganggu aku lagi jika aku sudah berpisah dengan Wisnu."
Kumala membelai wajah anaknya. "Kamu mau tinggal di mana?"
"Aku akan bersama Jeslin. Ibu jangan khawatir, sekalipun aku nampaknya liar dan bebas namun aku adalah perempuan yang tahu menjaga diriku. Aku tak pernah melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah.Ibu doakan aku, ya? 3 hari lagi aku akan ujian. Aku akan lulus dan mencari pekerjaan dan aku akan kembali untuk menjemput ibu agar tinggal bersamaku." Naura kemudian menatap Gayatri. "Titip ibu ya?"
Kumala menatap kepergian Naura dengan hati yang sedih. Ia tak tahu apa yang terjadi namun ia yakin ini sesuatu yang buruk.
***********
"Tuan, nyonya nggak ada di rumahnya Jeslin. Rumah nona Jeslin nampak kosong dan menurut satpamnya kalau orang tuan nona Jeslin sedang ada di luar negeri. Nona Jeslin juga ikut." Kata Gading saat ia dan Wisnu mendatangi rumah Jeslin.
"Berarti benar yang menjemput Naura adalah Satria?" Tangan Wisnu terkepal. Ia merasakan cemburu yang sangat dalam. Bagaikan ada belati yang menusuk dadanya.
"Naura sudah menghapus semua nomor teman-temannya di ponsel ini. Dia memang sudah menutup akses untuk aku menemuinya. Namun aku akan tetap mendapatkannya. Kalau perlu aku akan membongkar seluruh Jakarta ini untuk menemukan dia." Kata Wisnu dengan tegas.
"Tuan, kita istirahat makan dulu. Tuan dari siang belum makan dan ini sudah jam 1 dini hari."
"Aku tidak lapar, Gading."
"Bagaimana jika tuan sakit? Kalau sakit bagaimana mungkin bisa menemukan nyonya Naura?"
Wisnu diam sejenak. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Kita cari makan. Kamu pasti sudah lapar ya?"
"Sangat lapar juragan."
Mereka pun mampir di sebuah rumah makan yang buka 1x24 jam. Setelah memesan makanan, Wisnu mengambil ponsel Naura dan membukanya. Ia tahu password untuk membukanya karena ia sendiri yang membuat password itu, yakni tanggal pernikahan mereka.
"Tuan, apakah menurut tuan, nyonya sungguh selingkuh dengan dokter Satria? Bagaimana kalau nyonya dan dokter dijebak?"
__ADS_1
"Bagaimana mungkin mereka dijebak? Mereka saling mencintai, Gading. Naura juga berulang kali mengatakan padaku kalau dia masih mencintai Satria. Aku juga menerima beberapa foto yang menunjukan kedekatan mereka selama ini. Aku cemburu dan sangat marah Gading. Kamu tahu kan aku paling benci di bohongi."
Gading menatap Wisnu. Ia tahu kalau tuannya ini sudah jatuh cinta dengan nyonya ketiga. "Apakah tuan memberikan kesempatan kepada nyonya untuk menjelaskannya? Tuan, aku percaya bahwa nyonya bukan orang seperti itu."
Wisnu mengusap wajahnya kasar. Kecemburuannya telah membuat ia melupakan hal itu. Mendengarkan penjelasan dari Naura.
Mereka pun akhirnya makan. Wisnu hanya makan beberapa sendok saja karena pikirannya sedang kacau.
Selesai makan, mereka kembali ke rumah Wisnu yang ada di kota.
"Perintahkan seluruh orang kita untuk mencari keberadaan Naura. Besok pagi kita akan mencarinya di kampus." Kata Wisnu sebelum masuk ke kamarnya. Namun Wisnu belum tidur. Ia mengambil foto Dina dari dalam laci nakas. Menatap wajah cantik Dina yang memang mirip Naura.
"Sayang, maafkan aku karena tak memikirkan kamu lagi. Kamu nggak marah kan jika aku mengatakan bahwa adikmu, Naura, kini membuat aku jatuh cinta? Aku bingung dengan semua yang terjadi. Aku sangat lelah. Andai kan kamu ada di sini....." Wisnu membaringkan tubuhnya ia mendekap foto Dina dan berusaha memejamkan matanya.
*********
Naura duduk sambil menatap Jakarta di pagi hari dari kaca jendela apartemen lantai 20 ini. Keduanya ada di apartemen kakak nya Jeslin yang kebetulan sedang kosong karena sang kakak sedang ke negara istrinya yakni Korea dan nanti akan pulang bulan depan.
Tidur malam Naura cukup nyenyak. Itu karena Jeslin memberikan obat tidur padanya sesuai dengan resep yang dikirimkan Satria semalam.
"Loe kok sudah bangun jam segini?" tanya Jeslin yang baru keluar kamar dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di ruang tamu sambil memandang ke luar jendela.
"Ini sudah jam setengah delapan pagi, nona."
"Tapi kan loe tidurnya sudah jam 3 subuh."
Naura tersenyum. "Mungkin karena gue sudah terbiasa bangun pagi di desa."
Jeslin duduk di samping sahabatnya itu. "Bagaimana kalau juragan mencari loe? Memangnya loe nggak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Gue kesal sama Wisnu. Lagi pula gue ingin berpisah darinya."
"Memangnya loe nggak cinta sama juragan? Kalian kan sudah hidup bersama selama hampir empat bulan. Loe selalu bilang kalau loe nggak bisa menolak setiap kali juragan sentuh loe. Kalian berdua selalu saling memuaskan di atas ranjang."
"Itu hanya napsu bukan cinta."
Jeslin tersenyum. "Gue buat sarapan dulu ya? Loe harus makan supaya besok kuat untuk ujian."
"Iya." Naura mengangguk. Semalam ia juga makan banyak walaupun semua makanan terasa hambar di mulutnya. Naura tak ingin sakit. Ia ingin menjadi kuat dan bisa melawan semua rasa sakit di hatinya.
**********
"Nyonya tidak ke kampus hari ini. Namun besok pasti nyonya akan datang karena. esok adalah jadwal ujian skripsinya." Kata Gading membuat Wisnu tertegun.
"Ya. Dia memang bilang akan ujian di minggu ini. Baiklah, besok kita akan menemuinya."
Gading masuk kembali ke dalam mobil. "Tuan, bagaimana dengan kedua detektif itu? Kapan mereka bisa menemui tuan?"
"Besok saja. Aku merasa agak pusing hari ini." Wisnu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Lalu ia kembali memegang ponsel Naura. Ada keinginan dalam hatinya untuk membuka galeri foto. Wisnu mungkin merindukan Naura namun terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Matanya menatap beberapa foto Naura, hatinya bergetar, sampai akhirnya Wisnu melihat sebuah video yang membuat jantungnya terasa mau lepas.
**********
__ADS_1
Video apa yang dilihat Wisnu?
tunggu episode berikutnya ya??