Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Jupri Menghilang


__ADS_3

Naura mendengarkan penjelasan Wisnu dengan dahi yang berkerut. "Japri asistennya pak kades?"


"Iya. Polisi mungkin saat ini sudah menuju ke rumah Japri. Namun ada hubungan apa Japri dengan kasus penculikan mu? Apakah pak kades yang menyuruhnya?"


"Ada dendam apa pak kades padaku?" Naura jadi semakin heran. Namun sejak pertama ia ketemu dengan pria itu, Naura memang sudah tak suka padanya. Hati kecilnya mengatakan kalau pria itu orang jahat.


Wisnu yang duduk di samping Naura segera melingkarkan tangannya di bahu istrinya itu. "Kita harus lebih berhati-hati, sayang. Aku mungkin akan menambah jumlah pengawal untuk menemanimu."


"Kenapa hanya aku yang dijaga? Istri-istrimu yang lain bagaimana?"


"Aku akan meminta Gading untuk mengatur semuanya."Kata Wisnu walaupun terdengar kurang bersemangat saat membicarakan Regina dan Indira.


"Aku mau mandi dulu." Kata Naura sambil berdiri.


"Aku juga mau mandi."


Naura menatap Wisnu dengan penuh tanda tanya.


"Aku nggak akan macam-macam, sayang. Aku kan masih lemah."


Naura tersenyum. "Aku siapkan air hangatnya ya." Ujar Naura lalu segera menuju ke kamar mandi. Bukannya ia tak tahu kalau Wisnu masih lemah. Namun 4 hari tanpa saling bersentuhan bukankah itu hal yang wajar jika Wisnu menginginkan dirinya? Naura juga mengerti dengan dirinya yang selalu tak bisa menolak setiap kali Wisnu mengajaknya bercinta. Namun semenjak ia menginginkan perpisahan, Naura bukan hanya membatasi perasaannya, ia juga menekan keinginan dirinya sendiri untuk disentuh oleh Wisnu.


Setelah selesai menyiapkan air hangat di dalam bak mandi, Naura pun memanggil Wisnu.


Suaminya itu dengan santai membuka bajunya di hadapan Naura. Setelah itu ke kamar mandi.


"Kau tidak mandi?" tanya Wisnu melihat Naura masih berpakaian lengkap.


"Aku...." Naura bingung harus menjawab apa.


"Ayo kita mandi bersama. Percayalah aku tak akan berbuat macam-macam."


Naura pun membelakangi Wisnu. Ia membuka pakaian yang menempel di tubuhnya. Entah mengapa ia merasa kalau detak jantungnya seakan tak beraturan. Pada hal ini bukan kali pertama ia membuka pakaiannya di hadapan suaminya.


Perlahan Naura membalikan tubuhnya. Ia dapat melihat kalau mata Wisnu yang memancarkan gairah saat menatap tubuh polos istrinya. Wisnu bahkan harus menekan salivanya beberapa kali. Apalagi saat Naura sudah masuk ke dalam bak mandi dan mulai menggosok punggungnya, Wisnu memejamkan matanya merasakan kulit halus istrinya yang menyentuh punggungnya. Jujur ia rindu untuk namun ia juga tahu keadaan fisiknya saat ini tak memungkinkan untuk menyatu dengan istrinya.


Akhirnya mereka selesai mandi bersama. Setelah berpakaian, Naura segera keluar kamar untuk mengambil air hangat dan meminumnya.


Di dapur sudah ada Aisa dan Wina yang mengatur meja untuk makan malam. Naura kaget saat melihat keluar rumah bahwa hari sudah gelap.


"Bi Aisa, mengapa aku tak pernah melihat Mona lagi?"

__ADS_1


"Ibunya sakit, nyonya. Makanya ia ijin pulang sudah hampir 2 minggu. Saat kemarin bibi telepon ibunya baru saja keluar dari rumah sakit. Jadi belum bisa ditinggal." Ujar Aisa.


"Oh, gitu ya." Kata Naura sambil melirik ke arah Wina. Ia sudah tahu siapa wanita itu dan bagaimana hubungannya dengan kedua istri Wisnu. Naura tahu kalau Wina adalah mata-mata mereka.


Wisnu pun keluar kamar.


"Juragan, tadi ada polisi yang datang. Mereka mau mengabarkan bahwa mereka bekum bisa menangkap Jupri. Ia dan seluruh keluarganya menghilang entah kemana. Pak kepala desa juga merasa heran karena tak bisa menemukan mereka. Kepala desa terkejut saat tahu bahwa Jupri yang menyewa para penjahat itu." Kata Aisa.


"Apa benar pak kepala desa nggak tahu? Ada urusan apa Jupri menculik istriku? Dapat uang dari mana ia bisa menyewa para penjahat itu? Aku tahu Jupri banyak uang karena menjadi asistennya kades. Tapi bukankah ia akan buang uang percuma dengan menyewa para penjahat itu?" Wisnu berkata agak ketus. Ia memang sudah menyimpan rasa kesal dan ingin memukul Jupri saat ini juga.


"Polisi tadi berasumsi mungkin nyonya Naura diculik dan mereka akan meminta tebusan karena mereka tahu kalau nyonya adalah istri kesayangan juragan." Kata Aisa.


"Apa mungkin Jupri seperti itu? Jangan-jangan ada orang lain yang ada di belakang Jupri." Ujar Naura sambil melirik ke arah Wina. Perempuan itu kelihatan cukup gelisah walaupun ia berusaha untuk menutupinya.


"Itulah yang aku selidiki juga. Wina, tolong hubungi Gading dan dua bodyguard ku, aku akan berbicara dengan mereka selesai makan." Kata Wisnu lalu segera duduk di depan meja makan.


Sementara mereka makan, ibu Kumala datang bersama Gayatri.


"Ibu, ada apa datang ke sini makam-malam?" tanya Naura lalu segera menemui Kumala.


"Ibu khawatir denganmu, nak. Si Jupri sudah menghilang, ibu takut kalau dia akan mencelakai mu."


Hati Naura menjadi hangat mendengar perkataan ibunya. "Kalau di sini aku aman, Bu. Ada mas Wisnu, ada bodyguard. Rumah ini juga sudah di pasang pagar keliling. Orang nggak akan punya nyali masuk di sini. Ada CCTV yang mengawasinya, Bu. Mas Wisnu sudah memasangnya semenjak penculikan aku yang pertama."


Naura mengajak Kumala dan Gayatri ikut makan malam sedangkan Wisnu yang sudah menyelesaikan makannya langsung ke ruangan lain untuk berbincang dengan Gading dan bodyguard nya menyangkut penculikan Naura.


"Ibu, kalau mau pulang nanti Gading yang antar ya?" ujar Wisnu sebelum menemui Gading.


Kumala hanya mengangguk. Ia kemudian mengambil waktu untuk berbicara dengan Naura sementara Gayatri memilih ada di dapur untuk bersama Aisa dan Wina.


"Nak, bagaimana hubunganmu dengan Wisnu?" tanya Kumala.


"Aku mencoba untuk bertahan, Bu. Entahlah bagaimana di kemudian nanti. Aku hanya berharap agar semuanya baik-baik saja."


Kumala memegang tangan anaknya yang duduk di sampingnya. "Ibu yakin kalau Wisnu akan menjadikanmu satu-satunya dalam pernikahan kalian."


Naura tersenyum sumbang. "Aku tak yakin, Bu."


"Sabar, nak. Menurut ibu kalian sudah berjodoh sejak dalam kandungan. Waktu dulu Dina pacaran dengan Wisnu, ibu sangat marah dan melarang hubungan mereka namun saat itu mereka tak bisa dipisahkan lagi. Saat Dina meninggal, ibu mengerti bahwa memang mereka tak berjodoh. Kematian memisahkan mereka. Dan saat ibu mendengar bahwa Wisnu akhirnya bisa menikahi mu dengan status istri ketiga, ibu sebenarnya sangat sedih tapi hati kecil ibu berkata bahwa kau akan menjadi wanita pertama dalam hidup Wisnu. Yang kau butuhkan sekarang adalah belajar mencintai Wisnu. Lupakan dokter Satria. Dia memang baik namun kalian tak berjodoh."


Naura memeluk Kumala dengan wajah yang terlihat bingung. Sanggupkah ia mencintai Wisnu?

__ADS_1


Ketika Kumala akhirnya pulang bersama Gayatri dan diantar oleh Gading, Naura dan Wisnu kembali berdua di dalam kamar.


"Bodyguard ku mengatakan bahwa saat kau diculik, seorang wanita datang dan memberitahukan tentang keberadaan mu di pelabuhan pribadi itu. Wanita itu menggunakan kacamata hitam, namun salah satu bodyguard menyadari bahwa itu adalah Nur, istri pertama kepala desa. Jadi kemungkinan kalau kepala desa terlibat dengan penculikan ini sangat mungkin. Kita hanya perlu membujuk Nur supaya ia mau bersaksi." Kata Wisnu saat keduanya sedang duduk di atas tempat tidur.


"Tapi, bagaimana jika mba Nur nggak mau berterus terang? Dia kan sangat sayang sama pak kades. Buktinya sekalipun pak kades memiliki banyak perempuan yang dinikahinya secara siri, mba Nur tetap setia."


"Mungkin kali ini ia tak mau suaminya terlibat dalam kejahatan."


"Dasar kades mesum. Aku memang sudah nggak suka sejak pertama kali melihatnya. Tatapan matanya sangat genit. Andaikan diijinkan, akan ku berikan dua kali tendangan di perut buncitnya itu." Kata Naura sambil mengepalkan tangannya membuat Wisnu menatapnya tanpa berkedip.


Merasa dilihatin terus sama Wisnu, Naura menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Ada apa?"


"Aku merasa sebagai suami tak memiliki kemampuan apa-apa." Jawab Wisnu dengan wajah sedih.


"Kenapa memangnya?"


"Kamu begitu tangguh, Ra. Seolah tak membutuhkan seorang pria untuk melindungi mu."


Naura tersenyum. "Ibuku, Aura, dialah yang selalu mendorongku untuk ikut berbagai macam pelatihan bela diri. Ibu selalu bilang, wanita memiliki kekuatan yang bisa melebihi kekuatan pria. Wanita harus kuat. Karena akan ada saatnya, seorang pria tak akan bisa melindungi kita."


"Allah memberkati ibu Aura karena telah memberikan gen nya yang membuatmu jadi wanita tangguh."


"Amin. Aku bangga dengan ibu Aura. Tapi aku juga bangga dengan ibu Kumala. Dia wanita lemah lembut dan memiliki hati yang tulus serta cintanya abadi. Buktinya, ibu Kumala tak pernah menikah lagi. Aku percaya, sekalipun ia dan ayahku tak pernah berhubungan lagi semenjak ayah menikah, namun Cinta nya untuk ayah abadi."


Wisnu mengambil kedua tangan Naura dan menyatukan dengan kedua tangannya. "Ra, dapatkah cinta kita akan seperti itu? Abadi selamanya sekalipun maut sudah memisahkannya."


"Bukankah itu cinta juragan untuk kak Dina?"


"Awalnya Ku pikir begitu. Namun kehadiranmu mampu memberikan warna lain di dalam diriku. Tetaplah di sisiku, sayang. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu bukan karena wajahmu mirip dengan Dina. Bukan karena aku sudah tahu tentang perjodohan kita. Namun karena aku memang jatuh cinta padamu."


Naura menarik tangannya dari genggaman Wisnu. "Kita bobo, yuk! Aku sudah mengantuk." Lalu ia membaringkan tubuhnya. Tidur membelakangi Wisnu sambil memeluk guling. Wisnu kecewa karena Naura tak menanggapi perkataannya. Namun ia sudah cukup bahagia karena Naura tak jadi minta cerai.


Perlahan, Wisnu pun membaringkan tubuhnya. Ia memeluk Naura dari belakang sambil mencium kepala istrinya.


"Selamat bobo sayang...."


************


Maaf emak terlambat up hari ini


ada sedikit kecelakaan namun syukurlah semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


Jika besok emak nggak bisa up berarti ada yang parah dengan tangan emak.......


__ADS_2