Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Ingin Mengalahkan


__ADS_3

Setelah Lisa tertidur, Naura memutuskan untuk tidur bersama Lisa karena dia pun sudah sangat mengantuk. Main perang-perangan membuat Naura lelah.


Namun, belum terlalu lama ia terlelap, ia kaget saat merasakan kalau seseorang sudah mengangkat tubuhnya.


"Juragan?" Naura hampir saja melompat turun namun Juragan menggeleng dan meminta Naura untuk tetap ada dalam gendongannya.


"Aku mau tidur bersama Lisa." Kata Naura saat keduanya sudah berada di atas ranjang di kamar Wisnu.


"Sayang, ranjang Lisa kan hanya khusus anak kecil."


"Tapi tetap masih cukup untuk aku dan Lisa."


"Terus aku tidur sendiri. Kamu tega?"


Naura menatap Wisnu yang terlihat cemberut. "Juragan, jangan kayak anak kecil. Ayo segera tidur."


Wisnu menahan tangan Naura. "Sayang, aku sudah terbiasa dua malam ini ada kamu di sampingku. Kok kamu tega sih membiarkan aku sendiri. Lagi pula, kita kan belum pernah 4 ronde kayak Gading dan Jeslin."


Mata Naura membulat sempurna. Ia tak mengira kalau Wisnu akan begitu terpengaruh dengan kehebatan Gading dan Jeslin. Muncul ide jahil di kepalanya.


"Juragan, dalam hal perempuan, mas Gading memang kalah jauh dengan dirimu. Kamu sudah pernah menyentuh 4 wanita sedangkan Gading baru pertama kali dengan Jeslin. Mungkinkah semua ini membuktikan bahwa mas Gading lebih hebat darimu masalah ranjang?"


Wajah Wisnu berubah cemberut. Ia menatap tajam ke arah Naura. "Memangnya kamu selama ini nggak puas dengan aku?"


Naura menahan tawa. Ia tahu Wisnu mulai merasa tersaingi.


"Itu kan menurut Jeslin. Jadi aku pikir kalau Gading hebat dong. Dia sama sekali nggak pernah punya pengalaman, sekali main eh..langsung empat ronde."


"Kalau begitu, kamu sudah lupa dengan yang kita lalui di air terjun? Yang kita lalui saat kamu baru sembuh dari sakit?" Wisnu menarik Naura agar semakin masuk dalam dekapannya. "Ayo kita buktikan malam ini kalau aku bisa empat, lima bahkan enam sekalipun."


Tak ada jarak diantara mereka karena Wisnu sudah menempelkan dahinya dengan dahi Naura.


"Juragan, aku capek. Masa sih setiap malam harus melakukan itu."


Wisnu mengecup bibir Naura. "Melakukan apa?"


"Juragan....!"


Wisnu suka sekali dengan sifat Naura yang setengah merajuk seperti ini.


"Satu ronde saja." bisik Wisnu lalu mulai mencium leher Naura.


"Mana mungkin juragan hanya satu."


"Aku janji. Asalkan malam ini kau yang aktif."


"Tapi...."


"Aku rindu kamu yang dulu, sayang. Yang sedikit nakal dan suka membuat tanda merah di leherku. Apakah malam ini aku akan mendapat kan tanda itu lagi?"


"Ih juragan....!" Naura mendorong Wisnu. "Itu gaya pacaran ABG suka buat tanda merah."


"Kamu kan memang masih ABG."


"Aku sudah 20 tahun." Naura gantian yang jengkel. "Bukan ABG lagi."


"Buktikan!"


"Apa?"


"Kalau kau bukan ABG!"

__ADS_1


"Caranya?"


Wisnu membuka kemeja yang dipakainya, lalu celananya. Kini ia tampil polos di depan Naura.


Naura merasakan kalau jantungnya seperti mau copot. Dulu, ia bersikap agresif pada Wisnu karena ingin membuat Wisnu hanya memandangnya dan tak lagi melirik Regina dan Indira. Namun kini, tak ada lagi obsesi itu. Naura bahkan merasa sangat konyol jika mengingat bagaimana ia dulu terlalu agresif saat bercinta dengan Wisnu.


"A...aku...." Naura kehilangan kata-kata saat Wisnu sudah berbaring di atas ranjang.


"Buktikan!"


Naura menatap Wisnu dengan kesal. Namun ia tahu kalau kata-katanya sendiri telah menjebaknya. Mau mundur juga percuma. Naura pun melepaskan satu persatu kain yang menutupi badannya.


"Juragan sudah menutup pintunya?" tanya Naura.


"Sudah."


"Pastikan saja kalau Lisa tak akan terbangun dan minta bergabung dalam permainan ini." Ujar Naura lalu mematikan lampu kamar dan perlahan naik ke ranjang.


*********


Gading dan Jeslin duduk saling berhadapan pagi ini di atas tempat tidur. Jeslin masih memakai selimut untuk menutupi tubuh polosnya sedangkan Gading sudah mengenakan celananya namun bagian atas tubuhnya masih terbuka. Pagi ini mereka baru saja selesai bercinta.


"Jeslin, kau harus beratnaggungjawab." Kata Gading.


"Bertanggungjawab untuk apa?" Jeslin mengerutkan dahinya.


"Untuk rasa yang membuat aku jadi gila bila tak menyentuhmu."


Jeslin tertawa. "Mas Gading, dimana-mana biasanya yang minta tanggungjawab adalah perempuan kepada laki-laki. Bukan sebaliknya."


"Karena aku tak mau dengan perempuan lain. Kau yang mengajari aku untuk merasakan ini semua."


"Ayo kita menikah!"


Jeslin menatap Gading. "Mas Gading mencintaiku?"


"Aku tak tahu. Tapi aku ingin kita bercinta secara halal. Aku tahu kalau aku tak sekaya Yuda. Namun aku bisa memberikan kehidupan yang layak dan mewah untukmu. Aku punya rumah yang besar, mobil dan juga uang tabungan yang lumayan. Aku juga sudah memiliki saham di perusahaan tuan Wisnu."


"Tapi kita tak saling cinta. Suatu saat nanti kita bisa saja jatuh cinta dengan orang lain. Dan akhirnya kita akan memilih berpisah dan saling menyakiti satu dengan yang lain." Jeslin melemparkan selimut yang dipakainya, lalu ia mengambil bajunya, bekas semalam, mengenakannya dengan cepat. "Aku akan siapkan sarapan untuk kita." Dengan cepat Jeslin keluar dari kamar.


Gading diam sejenak. Apa yang dikatakan Jeslin betul. Bagaimana jika nanti mereka ketemu dengan orang lain dan akhirnya berpisah? Bukankah kadang perpisahan membuat orang saling menyakiti?


Perlahan Gading melangkah ke kamar mandi. Ia ingin mandi dan menyegarkan tubuhnya.


Saat ia sudah mengenakan lagi pakaiannya yang semalam, Gading pun keluar dari kamar. Jeslin terlihat sudah selesai menyiapkan sarapan. Hanya sederhana saja. Roti bakar dan segelas susu.


"Maaf ya mas Gading, aku nggak pintar masak."


Gading tersenyum mendengar perkataan Jeslin. "Ini sudah lebih dari cukup."


Keduanya pun sarapan dalam diam.


"Aku malu jika nyonya Naura melihat aku ada di sini." Kata Gading saat ia menyelesaikan sarapannya dengan cepat.


"Naura akan mengerti."


Gading mengambil tissue dan membersihkan sudut bibirnya. "Aku akan ganti baju dulu di bawa dan setelah itu menelepon tuan Wisnu."


Jeslin mengangguk.


Gading berjalan ke arah pintu, Jeslin mengikutinya. Di depan pintu, Gading membalikan lagi badannya.

__ADS_1


"Jeslin, aku pikir, kita harus sudahi saja semua ini. Mungkin sebaiknya kita saling menjauh. Usahakan kalau kita tak saling ketemu dan saling memandang. Karena jika kita terus seperti ini, aku bisa selalu menyentuhmu..Dan aku tak mau menjadikanmu pelampiasan atas gairahku yang seolah tak bisa terbendung ini. Aku takut selamanya akan terjebak dalam kenikmatan yang penuh dosa ini." kata Gading dengan nada berat. Karena sesungguhnya ia tak rela harus pergi.


"Maafkan aku, mas Gading. Mungkin sebaiknya kita saling menjauh saja. Terima kasih karena mas Gading sudah menemani aku saat dalam masalah. Aku merasa tak sakit hati lagi setiap kali mengingat pernikahan Yuda."Jeslin memeluk Gading. Agak lama. Lalu memberikan kecupan di pipi pria itu sebelum akhirnya menjauh. "Selamat bekerja ya Mas Gading."


Gading mengangguk. Ia segera membalikan tubuhnya dan melangkah pergi. Seperti ada lubang yang kosong di dalam hatinya.


********


Senyum di wajah Gading langsung terlihat agak malu, ketika Wisnu melepaskan jasnya, melepaskan dasinya dan membuka dua kancing teratasnya. Mereka baru saja menandatangani proyek kerja sama dengan sebuah perusahaan pemerintah sehingga Wisnu harus mengenakan baju resmi.


Ada beberapa tanda merah di leher Wisnu.


"Tuan sepertinya melewati malam panjang yang indah." ujar Gading.


Wisnu tahu ke mana arah bicara Gading. Ia memegang lehernya. "Apakah Jeslin tak pernah menandai mu seperti ini?"


Deg!


Gading sangat terkejut.


"Sudahlah Gading. Aku sudah tahu, kok. Kamu dan Jeslin sudah tidur bersama kan?"


Gading tertunduk malu. "Maaf, tuan. Aku bukannya bermaksud kurang ajar pada sahabat nyonya. Namun aku tak bisa menolaknya. Semalam saja kami mengulanginya kembali."


"Oh ya? Berapa ronde?"


"Semalam 2 dan tadi pagi 1. Jadi 3." Gading menjawab dengan sangat polos.


"Ah, kau masih kalah sama aku. Semalam aku dan Naura 5 ronde." kata Wisnu dengan sedikit membusungkan dadanya.


"Wah.... wah...., tuan hebat! Untung saja punya nyonya nggak lecet."


"Sembarangan kamu, Gading! Memangnya aku tak membuat pemanasan?"


Gading terkekeh.


"Lamar Jeslin." kata Wisnu tak terduga


"Sudah. Namun ia menolaknya."


"Aku ada ide..." Lalu Wisnu berbisik ke arah Gading


**********


Jeslin merasa bosan seharian ini. Dia memutuskan mengajak Naura jalan-jalan.


Makanya ia menunggu di depan tempat kerja Naura.


"Kita ke mall lalu menonton ya? Ada film baru." ujar Jeslin.


"Boleh. Aku sudah ganti baju juga " Naura merasa senang. Karena ia akan pergi bersama Jeslin.


Saat keduanya akan masuk ke dalam mobil, mereka melihat mobil Yuda memasuki pelataran parkir mini market.


Setelah mobil berhenti, turunlah Yuda dan Satria.


Sementara itu, mobil Wisnu juga berhenti di seberang jalan. Wisnu dan Gading turun, menyaksikan Naura, Jeslin, Yuda dan Satria ada di sana.


Bagaimana pertemuan ini akan berlanjut?


dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2