
Saat Naura keluar dari toilet, Regina dan Lisa masih menunggunya di depan pintu.
"Naura, apakah kau baik-baik saja?" tanya Regina.
"Iya mba. Perutku beberapa hari ini memang nggak enak. Mulas dan kadang mual. Mungkin sejak kakek meninggal, aku sering lupa makan. Kata mas Wisnu, aku mendapatkan sakit maag."
"Ya sudah. Kamu istirahat saja."
Naura mengangguk. Ia kembali ke villa dan beristirahat di sana. Entah mengapa ia ingin tidur dan melepaskan segala rasa lebat dalam tubuhnya.
Naura bangun saat hari sudah menjelang malam. Ia bergegas mandi. Saat mandi itulah Naura merasakan kalau perutnya kembali mual. Ia bahkan muntah sampai beberapa kali. Naura pun menghubungi bi Aisa lewat telepon. Mengabarkan kalau dia tak mau makan malam dan meminta bi Aisa untuk memanggil tukang pijat karena ia ingin dipijat.
Setengah jam kemudian, bi Aisa datang bersama Kumala.
"Bibi Kumala?" Naura terkejut.
"Iya, non. Bibi Kumala pintar memijat." Kata Aisa.
Naura pun tersenyum senang. Ia membuka bajunya dan membiarkan Kumala memijat tubuhnya. Sedangkan Aisa kembali ke rumah utama karena harus menyajikan makan malam bagi keluarga.
"Nyonya, memang masuk angin. Namun aku merasa nyonya harus pergi ke dokter kandungan. Sepertinya nyonya hamil." Kata Kumala selesai memijat Naura.
"Ha...hamil?" tanya Naura ingin memastikan. Bukannya ia terkejut. Memang sudah beberapa hari ini Naura merasa ada yang berbeda yang berubah dengan dirinya. Apalagi dengan dadanya yang agak membesar dan sakit jika disentuh.
"Ini hanya dugaan ku saja. Atau kalau nyonya mau, biar aku panggil bidan yang ada di desa ini."
"Nggak perlu, bi. Aku akan memeriksakan diri ke dokter dulu. Untuk sementara, bibi jangan dulu bilang ke siapa pun juga ya? Takut nantinya kecewa jika ternyata tidak."
Kumala mengangguk. Ia pun langsung pamit pulang bersamaan dengan Wisnu dan Aisa yang datang ke villa.
"Ibu....!" Wisnu langsung mengambil tangan Kumala dan menciumnya penuh hormat. Kumala hanya tersenyum dan langsung diantar oleh Aisa keluar villa dan selanjutnya naik ke mobil yang sudah menunggu di luar villa.
Wisnu menatap Naura. Sehari ini, ia terus memikirkan Naura saat berada di ladang, mengawasi para pekerja yang sedang memanen jagung.
"Katanya kamu sakit?" tanya Wisnu sambil menyentuh tangan Naura dan menggenggamnya erat.
"Hanya masuk angin saja." Naura menarik tangannya dan duduk di depan meja makan. Ia melihat makanan yang tadi di bawa oleh Aisa.
Wisnu ikut duduk di samping Naura. "Makanlah. Walaupun tadi kamu bilang ke bi Aisa bahwa kamu tak mau makan, namun perutmu harus diisi. Aku takut kamu kena sakit maag."
"Jangan khawatir yang berlebihan juragan!" ujar Naura lalu mulai membuka penutup makanan. Ada beberapa jenis makanan yang ada di sana. Namun yang menarik perhatian Naura hanyalah tumisan kentang yang menggunakan ikan tuna. Naura pun mulai memakannya.
"Nasi nya hanya sedikit?" tanya Wisnu sambil melihat nasi yang ada di piring Naura.
"Nanti aku gemuk." ujar Naura bercanda.
"Aku lebih suka jika kamu menjadi gemuk. Di peluknya pasti lebih hangat. Dan segemuk apapun kamu nanti, kamu tetap menjadi istri kesayanganku."
"Cih, jangan merayu. Inikan masih gilirannya mba Regina. Giliran ku masih lama."
Wisnu ingin bicara lagi, namun ia mengurungkan niatnya. Ia berdiri lalu mencium puncak kepala Naura. "Makanlah! Aku tak akan mengganggumu." Lalu ia melangkah ke ruang keluarga dan duduk sambil menonton TV yang sedang menayangkan sebuah film action.
Selesai makan, Naura langsung masuk kembali ke kamar dan membiarkan bi Aisa yang membereskan meja. Ia merasa mengantuk. Mungkin karena badannya baru saja dipijat.
Naura mengganti baju rumahnya dengan piyama berwarna merah maroon yang dia beli waktu belanja bersama Jeslin.
Saat Naura sudah selesai menggosok gigi dan mencuci wajahnya, Wisnu masuk ke kamar.
"Ngapain juragan masuk ke sini?" tanya Naura sambil naik ke atas ranjang.
"Memangnya aku nggak boleh datang ke sini? Ini kan rumahku juga." Ujar Wisnu lalu ikut berbaring di samping Naura.
"Aku tahu ini memang rumahmu, juragan. Tapi berada di kamar berdua denganku, nggak boleh. Mba Regina pasti akan marah."
Wisnu berbaring miring dan menatap Naura yang sedang tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar.
"Aku tahu kamu masih sedih, Ra. Aku sebenarnya nggak mau meninggalkan kamu sendirian." Wisnu menyentuh wajah Naura.
__ADS_1
"Aku akan baik-baik saja."
"Lusa, kita akan mengadakan pengajian untuk memperingati tujuh hari meninggalnya kakek Zumi. Aku sudah menghubungi pak ustadz tadi."
"Terima kasih, juragan."
Wisnu mengecup dahi Naura. "Tidur yang nyenyak ya? Jika kamu rindu pada kakek Zumi, doakan saja. Kakek sekarang sudah tenang dalam keabadian."
Naura sebenarnya ingin menangis mendengar kata-kata Wisnu namun ia menguatkan hatinya. Kepalanya hanya mengangguk.
"Juragan sudah mau pergi?" tanya Naura. Jujur, sebenarnya ia ingin ditemani malam ini.
"Aku akan pergi jika kamu sudah benar-benar tertidur."
Naura pun memejamkan matanya. Ia tidur sambil membelakangi Wisnu. Tak sampai setengah jam, Wisnu melihat kalau istrinya itu sudah terlelap. Ia pun meninggalkan villa walau sebenarnya hatinya begitu ingin berada di sana.
**********
"Ada apa, mas?" tanya Regina dengan kabut gairah yang sudah memenuhi dirinya namun Wisnu terlihat tak menikmati awal percintaan mereka.
Wisnu bangun dan duduk di pinggir ranjang. "Maaf Regina. Aku merasa capek malam ini. Kita lanjutkan saja besok."
"Mas....!" Regina memeluk Wisnu yang akan berdiri. "Aku sudah merindukan malam ini. Kok kamu tega seperti ini."
Wisnu membalikan badannya dan menatap Regina. "Aku tak bisa malam ini. Maafkan aku. Kita akan menebusnya besok." Lalu Wisnu segera berdiri. "Kau tidurlah! Aku mau ke ruang kerjaku." katanya lagi lalu segera keluar dari kamar.
Regina ingin rasanya berteriak mengeluarkan rasa kesalnya. Kebenciannya pada Naura semakin bertambah. Ia tahu Wisnu menolak bersamanya saat ini karena Wisnu sedang memikirkan Naura. Dan Regina semakin bertambah kesal karena ia tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir masa suburnya. Keinginannya untuk segera hamil pastilah belum bisa terwujud saat ini.
Sementara Wisnu di ruang kerjanya berusaha tenggelam dengan pekerjaannya. Karena ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk menuju ke villa dan memeluk Naura dalam tidurnya. Wisnu yakin Regina pasti akan bertambah marah jika tahu. Makanya ia memilih menyendiri sambil membaca berkas laporan kegiatan pembuatan jalan lingkar.
*********
Keesokan paginya, Naura bangun dan segera mengambil tespack yang disimpannya dalam lemari.
Tangannya bergetar saat mencelupkan alat itu ke dalam wadah yang berisi urinenya.
Naura memang tak merencanakan hamil. Namun saat tahu ada sesuatu yang tumbuh dalam perutnya, perasaan sayang itu langsung muncul. Tangannya secara refleks langsung membelai perutnya. Aku akan menjadi seorang ibu. Ya Allah, aku sungguh hamil.
Naura pun segera mandi dan berpakaian. Ia mengambil tespack itu dan memasukan ke dalam kantong gaun yang dipakainya saat ini. Ia ingin memberitahukan pada Wisnu. Bagaimana pun Wisnu berhak tahu.
Langkahnya pelan saat menaiki tangga. Ia ingat waktu pura-pura hamil saat awal menikah, Wisnu selalu memprotesnya saat berjalan terlalu cepat bahkan sedikit berlari ketika ia menuruni atau menaiki tangga.
Semua sudah berada di meja makan saat Naura tiba.
"Bibi baru saja akan mengantar sarapan nyonya ke bawa." kata Saima.
"Aku sudah merasa sehat, bi." Ujar Naura lalu segera bergabung di meja makan. Ia dapat melihat senyum kebahagiaan Wisnu saat melihatnya.
Saat Wisnu sudah selesai makan dan bermaksud akan pergi meninggalkan ruang makan, Naura memanggilnya.
"Mas, kita boleh bicara sebentar?"
Wisnu mengangguk. "Ayo ke ruang kerjaku."
Namun baru saja mereka akan masuk ke ruang kerjanya Wisnu, seorang pekerja tiba-tiba muncul dari pintu samping.
"Juragan, salah satu pekerja pingsan di kebun teh."
Wisnu menatap Naura. "Aku lihat dulu ya? Nanti aku balik lagi." Kata Wisnu lalu segera mengikuti langkah pekerja itu menuju ke kebun teh.
"Bunda Naura....!" Panggil Lisa.
"Ya, sayang..."
"Kita lihat kelinciku, yuk!" ajak Lisa sambil menarik tangan Naura menuju ke bagian belakang rumah.
"Wah, kelincinya tambah gemuk sekarang." ujar Naura saat mereka sudah berdiri di dekat kandang kelinci.
__ADS_1
"Iya. Kata ayah salah satu kelinci sedang hamil. Pasti tak lama lagi akan melahirkan." ujar Lisa sambil menunjuk salah satu kelinci yang perutnya sudah membesar. Naura pun memegang perutnya. Ia merasa sudah tak sabar untuk mengatakan berita kehamilannya pada Wisnu. Entah dorongan apa yang ada dalam hatinya yang ingin Wisnu tahu tentang kehamilannya ini.
Lisa yang membuka pintu kandang, mengalihkan pandangannya saat mendengar panggilan Regina. Pada saat itu seekor kelinci melompat keluar dari kandang.
"Ah....., kelinciku ....!" Lisa berlari mengejar kelincinya.
"Lisa jangan berlari nanti jatuh!" teriak Regina dari arah berlawanan.
"Kelinciku, ibu...!" Lisa terus mengejarnya dan membuat Naura pun ikut berlari.
Kelinci itu terus berlari dan akhirnya jatuh ke salah satu ujung bukit.
"Tidak...., kelinciku....! Kelinciku.....!" teriak Lisa sambil menangis histeris.
Regina langsung memeluk Lisa. Ia mencoba melihat ke bawa dan melihat bahwa kelinci itu tersangkut di salah satu pohon yang tumbuh miring di pinggiran bukit itu. Regina tak bisa menggapainya karena jaraknya sangat jauh.
"Ibu, tolong kelinciku....!" Lisa merengek sambil terus menangis. Indira yang sudah tiba di tempat itu ikut juga menengok ke bawa.
"Nanti bunda beli kelinci yang lain saja, sayang." bujuk Indira.
"Nggak mau....!" tangis Lisa semakin dalam.
Naura mencoba mencari akal. Ia tahu tak ada orang yang bisa membantu mereka karena semuanya sedang ke kebun teh.
"Mba, saya akan turun sedikit, mba pegang tangan saya agar saya bisa meraih kelinci itu. Soalnya jika turun sendiri, takutnya akan jatuh karena rumputnya basah dan licin." Kata Naura.
"Bunda mau mengambil kelinciku?" tanya Lisa senang.
"Iya, sayang."
Naura pun perlahan mulai turun sambil tangan kanannya dipegang Regina dan tangan kirinya berusaha mengambil kelinci itu.
"Mba, lebih ke bawa lagi. Dikit lagi aku bisa meraih kelincinya." Kata Naura.
Regina pun bergerak semakin perlahan ke bawa agar Naura dapat meraih kelinci itu.
"Indira, pegang tanganku!" Kata Regina karena ia mulai merasa kesulitan dan hampir jatuh.
Indira memegang tangan Regina.
Saat Naura hampir mendapatkan kelinci itu, tangannya yang memegang tangan Naura tiba-tiba saja terlepas.
"Ah......!" teriak Naura saat tubuhnya terguling jatuh sampai ke kaki bukit.
"Bunda Naura.....!" teriak Lisa histeris.
Wisnu yang baru datang langsung menuju ke arah mereka. Ia terkejut melihat di bawa sana Naura sudah tergeletak.
Dengan cepat Wisnu memutar ke arah tangga dan sambil berlari ia mendekati Naura.
"Ra....., sayang....! " Wisnu memegang pipi Naura dan langsung memeluk tubuh istrinya itu.
"Gading ambil mobil! Cepat.....!" teriak Wisnu putus asa.
Tak sampai dua menit, mobil langsung terparkir di dekat mereka. Wisnu membopong tubuh Naura sambil menaiki mobil. Gading pun langsung menancap gas dan mobil melesat dengan cepat.
Wisnu sangat ketakutan. Di saat itulah sebuah benda pipih jatuh tepat di kaki Wisnu. Ia memungutnya.
"Tespack?" Guman Wisnu dengan jantung yang semakin cepat berdetak. Ia jadi terbayang wajah Naura yang tadi terlihat begitu semangat ingin bicara berdua dengannya.
Pada saat yang sama, Wisnu melihat ada darah segar yang mengalir di paha Naura.
"Gading, semakin cepat....!" teriak Wisnu putus asa. "Naura......, sayang...., kamu harus kuat!" Kata Wisnu sambil terus meminta Gading untuk mempercepat laju mobil mereka.
*********
Duh, emak kok gitu sih....
__ADS_1
Tenang saja, ini akan menjadi titik awal kebangkitan Naura untuk berperang dengan Regina dan Indira.