
"Aku tahu kalau ini belumlah waktuku untuk bersamamu. Namun aku tak bisa menahan diriku untuk bersamamu. Aku ingin mencari kehangatan di tengah hujan ini." Kata Wisnu sambil tangannya mematikan kran air yang ada.
"Kehangatan itu bisa kau dapatkan dalam pelukan mba Indira. Karena dialah yang berhak memberikan itu padamu saat ini." Kata Naura lalu ia kembali membalikan badannya, menyalahkan shower kembali untuk membersihkan sisa sabun yang masih menempel di kulit tubuhnya. Namun Wisnu tak menyerah. Ia sudah tahu bagian tubuh Naura yang sangat sensitif dengan sentuhannya dan tangannya bergerak di sana.
"Aku hanya merasa puas jika kehangatan itu ku dapatkan darimu." Wisnu kembali merayu, dengan kata-kata tapi juga dengan sentuhannya.
"Jangan, juragan! Ini nggak adil."
"Bersamamu, aku memang tak bisa adil, sayang."
"Jadi, juragan akan melanggar janji juragan sendiri?" tanya Naura lalu kembali berbalik dan menatap Wisnu. Tangannya kembali mematikan kran air.
"Kalau iya memangnya kenapa?" Tanya Wisnu sambil tangannya membelai wajah Naura dengan sangat lembut.
Naura menahan tangan Wisnu yang ada di wajahnya. "Hanya hari ini saja ku ijinkan juragan berlaku tak adil. Karena untuk selanjutnya, aku tak mau berlaku curang dengan mba Regina dan mba Indira."
"Mudah-mudahan aku bisa!" Kata Wisnu dan langsung menunduk dan mencium istrinya dengan keras.
***********
Hujan turun semakin deras ketika waktu beranjak senja. Di dalam Villa, Naura masih tertidur nyenyak dalam pelukan Wisnu.
Di balik selimut tebal yang menutupi tubuh mereka, sentuhan kulit mereka saling memberi kehangatan. Keduanya pastilah merasa lelah namun penuh kepuasaan ketika gairah telah dituntaskan satu sama lain. Bukan hanya di dalam kamar mandi percikan api saling mendamba dan saling memuaskan itu tercipta. Wisnu tak melepaskan Naura, saat istrinya itu hendak mengenakan pakaian di kamar. Ia kembali mendorong Naura ke ranjang, dan Wisnu membutuhkan 2 kali pelepasan barulah ia membiarkan Naura tertidur sambil mulutnya tak berhenti mengomel karena Wisnu sudah membuatnya sangat lelah.
Di rumah utama. Indira baru saja bangun tidur. Ia segera keluar kamar dan menyapa Lisa yang sedang menonton TV sambil menikmati pisang goreng buatan bi Saima.
Indira pun ingin menikmati kopi untuk menghilangkan rasa dingin yang ada. Makanya ia ke dapur untuk menghangatkan air.
"Bi Aisa, mas Wisnu kemana ?" tanya Indira.
"Nggak tahu, nyonya. Mungkin pergi ke perkampungan." kata Aisa sambil terus memotong sayuran.
"Hujan-hujan gini? Gading di mana?"
"Mas Gading juga nggak ada."
Indira terlihat jengkel. Ia ingin minum kopi berdua sambil menggoda suaminya itu. Apalagi sekarang sedang hujan.
"Nyonya, menu makan malamnya apakah ada tambahan lagi?" tanya Aisa.
"Terserah bibi, saja. Hari ini aku nggak bisa bantu masak. Masih capek. Tolong buatkan aku kopi dan antar ke teras samping ya?" kata Indira lalu segera meninggalkan dapur.
Saima yang sejak tadi diam, segera mendekati Aisa.
"Juragan sedang berada di villa." kata Saima pelan.
"Ke villa?" Aisa terkejut.
"Iya. Mungkin kangen dengan nyonya muda."
Aisa tersenyum. "Apa mungkin hatinya juragan lebih condong ke non Naura?"
"Sepertinya. Soalnya selama ini, aku lihat hubungan juragan dengan nyonya Regina dan nyonya Indira sangat dingin. Juragan jarang sekali mengajak mereka ke rumah utama di Jakarta."
"Sebenarnya aku sedih karena non Naura dijadikan istri ketiga. Namun aku mengerti alasan tuan Zumi ingin agar mereka menikah. Ini adalah sebuah janji 2 sahabat lama. Aku sungguh terkejut saat tahu kalau akhirnya non Naura menikah dengan tuan Wisnu. Aku tak tahu apakah tuan Wisnu dan non Naura tahu, bahwa ikatan diantara mereka sudah terjalin sejak non Naura dalam perut ibunya. Sayangnya janji antara dua sahabat itu terhalangi karena juragan jatuh cinta pada non Dina. Eh, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Walaupun non Naura harus rela menjadi yang ketiga."
"Kau menyimpan semuanya selama bertahun-tahun. Sampai kapan Aisa? nyonya Naura perlu tahu kebenarannya."
Aisa menarik napas panjang. "Aku sudah bersumpah. Dan aku tak mungkin mengingkarinya."
Saima hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menghargai keputusan Aisa untuk menyimpan itu semua.
"Nyonya, ini kopi nya." Kata Saima sambil meletakkan kopi dan sepiring kue di atas meja.
Indira hanya mengangguk dan terus asyik dengan ponselnya.
__ADS_1
Setelah Saima kembali ke dapur, Wina yang sedang membersihkan ruang tamu, segera mendekati Indira.
"Nyonya, juragan sepertinya sedang berada di villa."
Alis Indira terangkat. Ia meletakan ponselnya dan menatap Wina dengan intens. "Apa kamu yakin, Wina?"
"Iya. Tadi, saat nyonya sudah masuk ke kamar, juragan keluar dari ruang kerjanya. Lalu saat saya sedang membersihkan taman belakang, saya melihat juragan berjalan menuruni tangga menuju ke villa menggunakan payung. Itu sekitar 3 jam yang lalu."
Hati Indira menjadi panas. Ia sudah bisa membayangkan apa yang terjadi di sana. Apalagi cuaca yang dingin dan suasana villa yang sepi.
"Dasar perempuan ular! Licik! Pasti dia yang menelepon mas dan meminta mas untuk datang menemuinya." Indira mengepal tangannya. Tepat di saat itu ia melihat mobil Regina yang memasuki teras depan dan parkir di sana. Regina turun dan segera masuk ke dalam rumah. Indira pun langsung tersenyum. Sekutunya kini sudah ada dan mereka akan bersiap menyusun rencana untuk menyingkirkan Naura.
**********
Wisnu mencium pipi Naura dengan sangat lembut. "Ra, bangun! Ini sudah setengah tujuh sebentar lagi mau makan malam."
Naura membuka matanya dan langsung menemukan wajah Wisnu yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Aku masih mengantuk!" Naura menutup lagi matanya.
"Makan dulu, baru tidur lagi. Ayo!" Wisnu menepuk pipi Naura dengan lembut membuat Naura memegang erat tangan Wisnu dan membuat suaminya itu meringis kesakitan. Naura langsung ingat dengan tangan Wisnu yang terluka. Ia bangun dan langsung duduk dan menyebabkan selimut yang menutupi tubuhnya melorot sehingga mata Wisnu terbelalak melihat gundukan di dada Naura yang dipenuhi dengan bekas-bekas merah akibat percintaan mereka tadi.
Naura yang menyadari arah pandang Wisnu segera menarik selimut itu dan menutupi tubuhnya lagi.
"Dasar mesum!" ketus Naura sambil membuang muka.
Wisnu tertawa kecil. Ia sangat suka melihat wajah cemberut Naura. Sekalipun dengan rambut yang acak-acakan karena baru bangun, namun Naura terlihat cantik di mata Wisnu.
"Pakailah bajumu dan kita akan ke rumah atas bersama. Di luar masih gerimis." Kata Wisnu lalu turun dari atas ranjang. Pria itu sudah berpakaian lengkap.
"Bagaimana tanganmu?" tanya Naura penasaran.
Wisnu mengangkat tangannya yang terluka. "Sudah tak bengkak lagi. Lukanya sudah mengering."
Naura hanya mengangguk. "Keluarlah, aku mau memakai bajuku."
"Juragan!" Naura menatap Wisnu dengan tajam. Wisnu kembali tertawa. Namun ia keluar juga.
Naura pun turun dari ranjang, lalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Udara yang dingin membuat Naura mengenakan kaos lengan panjang berwarna coklat dan celana panjang rumahan berwarna hitam. Ia pun keluar kamar dan melihat Wisnu sudah menunggunya di depan pintu masuk villa dengan sebuah payung di tangannya.
Wisnu tersenyum melihat Naura. "Aku suka kalau baju kita couple."
Naura terkejut saat melihat Wisnu juga memakai kaos coklat dan celana kain hitam.
"Aku ganti baju saja." Naura membalikan tubuhnya namun Wisnu dengan cepat menahan lengan Naura.
"Jangan diganti. Aku suka. Ayo kita pergi. Aku sudah lapar." Kata Wisnu.
Naura hanya mendengus kesal namun ia menurut juga. Keduanya melangkah bersama meninggalkan villa dengan payung yang sama. Saat mereka akan menaiki tangga, Wisnu melingkarkan tangan di bahu Naura dan menarik istrinya itu agar lebih dekat padanya.
"Juragan!" protes Naura.
"Nanti kamu basah jika kita berjauhan." Kata Wisnu tanpa melepaskan tangannya dari bahu Naura.
Wisnu menuntun Naura untuk mengikuti pintu samping, dan langsung berhadapan dengan Indira dan Regina yang sedang duduk di sana.
Wajah Indira langsung merah menahan cemburu di hatinya. Naura dapat melihat itu dan dia segera menepis tangan Wisnu yang masih melingkar di bahunya.
"Selamat malam, semua." Sapa Naura berusaha tersenyum namun hanya ditanggapi oleh senyum tipis yang kelihatannya agak terpaksa mereka berikan.
"Mas...!" Regina langsung berdiri. Ia meraih tangan kanan Wisnu dan menciumnya dengan penuh kerinduan.
"Kapan kau datang?" tanya Wisnu.
"Sekitar satu jam yang lalu, mas."
__ADS_1
Wisnu hanya mengangguk lalu berjalan lebih dulu memasuki ruang tamu. Naura sebenarnya akan ikut masuk namun Indira menahan tangannya.
"Naura, kamu itu benar-benar nggak ada hati ya? Kamu tahu ini masih giliran ku untuk bersama mas. Lalu kenapa sampai mas pergi ke villa menemui mu? Kamu kan yang merayu mas agar datang ke villa?" tanya Indira penuh emosi.
Naura menarik tangannya yang dipegang Indira cukup keras. Ia menatap Indira dan berusaha tersenyum walaupun hatinya jengkel.
"Mba, silahkan tanya pada mas Wisnu kenapa ia datang ke villa. Karena aku sendiri tidur sepanjang sore. Aku capek bersepeda keliling desa." Kata Naura datar lalu segera melangkah ke dalam rumah. Ia mendekati Lisa yang sedang menonton TV. Saat Lisa melihat Naura, ia segera berlari dan memeluk Naura.
"Bunda, kita belajar membaca dan menulis lagi ya?"
"Boleh. Nanti selesai makan malam ya."
"Lisa sudah makan. Jadi Lisa tunggu bunda selesai makan saja."
"Kalau begitu, sambil menunggu bunda selesai makan, Lisa ikuti saja tulisan yang akan bunda tulis di buku." Naura mendekati meja dan duduk di atas karpet. Ia menulis beberapa huruf agar Lisa bisa mengikutinya.
"Makasi bunda." Kata Lisa lalu mencium pipi Naura.
Wisnu yang baru keluar dari ruang kerjanya tersenyum melihat bagaimana akrabnya Naura dan Lisa.
"Ayo kita makan!" Ajak Wisnu diikuti anggukan kepala Naura.
"Mona, tolong panggil Regina dan Indira ke meja makan." Kata Wisnu
"Baik, juragan!"
Makan malam pun berjalan seperti biasa. Naura yang sama sekali tak terlibat dalam pembicaraan Wisnu dan kedua istrinya. Malam ini Regina yang lebih banyak menceritakan tentang rencana pembangunan klinik kecantikannya yang baru.
Selesai makan, Naura menemani Lisa belajar di ruang keluarga. TV sengaja dimatikan oleh Naura agar tak menganggu mereka.
Wisnu duduk di ruang tamu dan tak lama kemudian Indira mendekatinya sambil membawa secangkir teh. Wisnu sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Setelah Wisnu selesai menelepon, Indira langsung memangkas jarak diantara mereka. Ia melingkarkan tangannya di lengan Wisnu dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Mas, tadi bersama Naura ya?" tanya Indira manja.
"Ya." jawab Wisnu datar.
"Ngapain sih mas ke villa. Aku jadi cemburu. Ini kan masih giliran aku. Kok kesannya mas lebih banyak menghabiskan waktu bersama Naura."
Wisnu menahan kesal dalam hati. Ia melirik sebentar ke arah Naura yang nampak masih asyik mengajari Lisa menulis.
"Indira, kamu tahu kalau aku tak suka di interogasi seperti layaknya penjahat."
Indira menjauh dan menatap suaminya. "Aku bukan menginterogasi mu, mas. Aku tuh hanya merasa kalau mas kurang adil dengan aku dan mba Regina. Ingat mas, kita sudah sepakat dengan pembagian waktunya." Lalu ia menyandarkan kembali kepalanya di bahu Wisnu.
"Aku hanya menanyakan kabar kuliahnya dan juga berbicara masalah kakeknya. Lalu hujan turun sangat deras. Aku akhirnya tertidur di sana." Wisnu sama sekali tak bohong. Tadi di saat mereka selesai bercinta untuk yang kesekian kalinya, Wisnu memang bertanya tentang tugas akhir Naura dan kesehatan kakek Zumi yang belum juga mengalami perubahan. Lalu akhirnya mereka bercinta sekali lagi dan mereka langsung tertidur bersama.
"Aku kok merasa kalau mas dan Naura melakukan yang lebih dari itu."
"Indira!" sentak Wisnu membuat Indira langsung menutup mulutnya. Suara Wisnu yang agak keras itu sebenarnya di dengar oleh Naura namun perempuan itu memilih pura-pura tak mendengar dan terus mengajari Lisa menulis. Saat Regina mengajak Lisa untuk segera tidur, Naura segera kembali ke Villa. Ia masih melihat bagaimana Indira dan Wisnu duduk dengan posisi yang sama. Naura sama sekali tak peduli. Ia tahu, pemandangan seperti ini akan selalu ia lihat karena suaminya bukan miliknya sendiri. Langkah Naura semakin cepat menuruni tangga menuju ke villa. Saat ia tiba di kamarnya, ia mengambil ponselnya yang tadi lupa ia bawa. Naura terkejut melihat ada pesan dari Satria.
Naura, jika kau tak mencintai suami mu
dan jika kau tak bahagia dengan pernikahanmu
aku masih di sini menunggumu. Aku tak peduli
dengan statusmu sebagai janda dari si juragan
beristri tiga itu. Aku akan menerima dirimu apa adanya.
********
Pesan babang Satria bikin baper....
Kira-kira si nyonya Naura terpengaruh nggak sih?
__ADS_1
Maaf ya, emak lambat up
Bungsu ku sedang demam...