Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Sangat Sulit


__ADS_3

"Jadi semuanya hanya untuk Lisa?" tanya Naura dengan suara ketus membuat Wisnu yang sementara mencium leher Naura mengangkat wajahnya.


"Lisa bukanlah alasan yang utamanya, sayang. Ini tentang rasa rinduku padamu. Tentang kita." Kata Wisnu lalu kembali mencium leher Naura sambil tangannya masuk ke balik kaos Naura dan membelai perut istrinya itu.


"Ternyata benarkan? Aku ini hanya teman di atas ranjang. Teman yang membuatmu puas secara raga."


Wisnu mengangkat wajahnya lagi. Di tatapnya mata Naura yang dipayungi oleh bulu mata lentiknya. "Sayang, maafkan aku jika dulu pernah mengatakan itu padamu." Wisnu membelai wajah Naura lalu menyentuh hidung Naura dengan hidungnya. "Aku begitu bodoh tak menyadari bahwa perasaanku padamu sungguh nyata. Sejak pertama kita menyatu di atas ranjang, sebenarnya saat itu juga aku sudah melupakan Dina. Karena saat bersamamu, hatiku, hasrat ku, dan semua rasa yang ingin kumiliki hanya tertuju padamu."


Naura memberanikan diri menatap wajah Wisnu. "Kau sudah pandai merayu sekarang ini, ya? Bukankah kau adalah pria dingin yang tak pernah punya hati pada wanita kecuali pada istri pertamamu?"


Wisnu menjauhkan wajahnya dari wajah Naura sehingga bisa menatap istrinya itu secara dalam. "Bahkan pada Dina pun aku tak pernah merengek meminta untuk dicintai. Hanya padamu, Ra. Hanya kamu wanita yang membuatku bisa seperti ini."


Naura membuang mukanya. "Percuma kalau kau tak percaya padaku."


Perlahan Wisnu menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Naura. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Terdengar helaan napasnya yang berat.


"Sampai kapan kau akan memaafkan semua kebodohan ku? Aku tak mau berpisah denganmu, Ra. Sekalipun kau meminta berulang kali padaku, aku tak akan bisa. Ini bukan tentang kau yang bisa memuaskan ku di atas ranjang. Bukan juga tentang janjiku pada kakak Zumi. Atau sumpah ku saat aku kecil untuk menikahi mu. Ini semua tentang rasa cintaku padamu."


Naura perlahan bangun. Ia duduk sambil membelakangi Wisnu. Ia bingung dengan perasaanya sendiri. Dia begitu menginginkan Wisnu saat ini sebesar hasrat yang Wisnu memiliki untuknya. Namun jika ia mengingat semua kata-kata Wisnu yang menyakiti hatinya, semuanya membuat ia ingin menjauh dari pria ini. Jujur saja, Naura sayang sama Lisa dan ingin mewujudkan harapan Lisa untuk memiliki adik.


"Ra......!" Wisnu memeluk Naura dari belakang belakang dan mencium punggung istrinya itu.


"Maaf juragan. Aku sudah kehilangan gairah padamu." Naura akan turun namun Wisnu justru menahan lengannya membuat Naura menoleh ke belakang.


"Apakah benar kau kehilangan gairah mu padaku?" tanya Wisnu nampak tak percaya.


"Ya."


"Namun bahasa tubuhmu mengatakan lain."


Naura menatap Wisnu. "Kau ingin membuktikannya?"


"Ya."


"Jika memang aku tak mau lagi denganmu, apakah kau akan melepaskan aku?"


"Ya." Kata Wisnu mantap.


Naura membaringkan tubuhnya lagi. "Lakukanlah."


"Melakukan apa?"


"Pembuktian bahwa aku tak berhasrat lagi pada dirimu."


Wisnu merasa tertantang. Dia ingat bagaimana ia menaklukan Naura di malam pertama mereka. Sangat sulit. Membuatnya hampir menyerah.


"Baiklah." Wisnu langsung menarik kaos yang dipakainya keluar dari tubuhnya. Ia juga membuka celana training yang dipakainya dan menyisahkan boxernya.


Naura berusaha menatap Wisnu dengan tatapan biasa walaupun jantungnya mulai berdetak cepat menatap tubuh atletis suaminya itu. Naura ingin membuktikan bahwa ia sama sekali tak punya rasa untuk Wisnu.


"Sekarang giliran mu." kata Wisnu.


"Giliran apa?"


"Membuka bajumu."

__ADS_1


"Untuk apa dibuka?"


"Sebagai bukti bahwa kau memang tak menginginkan ku lagi walaupun aku menyentuhmu."


Naura diam.


"Kau takut?" Wisnu tersenyum mengejek. "Kau akan mengakui bahwa aku bisa menguasai tubuhmu?"


"Siapa yang takut?" Ujar Naura sambil membuka kaos dan celana yang dipakainya sehingga menyisahkan baju dalamnya saja.


Mata Wisnu tak berkedip. Sungguh ia merindukan semua yang ada di diri Naura. Walaupun kata-kata Naura sangat menyinggung perasaannya bahwa Naura tak menginginkannya lagi, namun Wisnu berusaha membuang harga dirinya. Karena ia tahu bahwa ia bisa mendapatkan istrinya lagi.


Perlahan Wisnu mencium bibir Naura. Namun perempuan itu tak membalasnya walaupun ia mati-matian harus memegang seprei untuk menahan gejolak dalam hatinya. Saat ciuman Wisnu sudah turun ke lehernya, Naura pun berusaha menahan dirinya.


"Jangan membuat tanda merah. Besok aku mau kerja." Naura mengingatkan dan Wisnu mengangguk setuju.


Ciuman Wisnu semakin turun ke bawa dan berhenti di tempat yang paling ia sukai. Tangan Wisnu menyusup masuk ke balik punggung Naura.


"Jangan dibuka!" seru Naura menahan tangan Wisnu.


"Kenapa?"


"Aku tak mau!"


"Kau mau mengaku kalah?"


Naura akhirnya membiarkan Wisnu membukanya dan membuang penutup dadanya itu jauh dari ranjang.


Naura berusaha bersikap biasa saat Wisnu mencium dadanya. Tangannya semakin kuat mencengkeram seprei yang ada. Ia berusaha menahan api yang mulai membakar tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Wisnu sambil mencium perut Naura.


"Aku.....!" Naura memejamkan matanya. Ia tak bisa menahan lagi dirinya. Tangan Wisnu begitu pandai memainkan inti tubuhnya.


Namun saat Naura hampir saja mencapai puncaknya, Wisnu berhenti. Ia turun dari ranjang dan mengambil kembali celananya.


"Apa maksudmu?" tanya Naura sambil bangun dan menahan tangan Wisnu.


Wisnu tersenyum. Ia tahu istrinya ini sudah menyerah namun ia gengsi untuk mengakuinya.


Perlahan Wisnu membalikan badannya. Naura bahkan dapat melihat dengan jelas bukti gairah suami nya.


"Mau mu apa, Ra?" tanya Wisnu pura-pura bingung.


Naura mengambil bantal yang ada di sampingnya lalu melemparkannya pada Wisnu. "Dasar kamu brengsek, juragan!" Naura segera bangun. Ia mengambil pakaiannya di lantai. Namun sebelum ia melangkah Wisnu sudah mengangkat tubuhnya dan melemparkannya di atas ranjang.


"Juragan...!" Naura protes dengan mata melotot. Namun sebelum ia berhasil bangkit, Wisnu kembali mendorongnya dan langsung mencium istrinya itu dengan sangat keras. Naura memberontak dan berusaha melepaskan diri dari kungkungan suaminya namun Wisnu tak menyerah.


Perlahan perlawanan Naura melemah dan kini ia membalas ciuman Wisnu dengan gairah yang sama.


**********


Tangan Wisnu mengusap punggung polos Naura yang tidur membelakanginya. Ada senyum kepuasaan terpancar di wajahnya walaupun ia sedikit meringis saat memegang bibir bawahnya yang terluka karena sempat digigit oleh Naura tadi. Ia juga merasakan kalau punggungnya agak perih karena ada bekas cakaran kuku Naura di sana.


Malam ini aku seolah baru pertama menaklukan mu. Aku hampir saja menyerah. Kau memang keras kepala dan sedikit angkuh untuk mengakui bahwa kau juga menginginkanku. Aku akan berjuang untuk mendapatkan bukan hanya tubuhmu tapi juga cintamu.

__ADS_1


Wisnu menarik selimut yang hampir jatuh ke lantai itu. Ia tahu Naura pasti sangat lelah sehingga mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya pun Naura tak sanggup. 3 ronde mereka melewatinya. Walaupun Naura tak berkata apa-apa selama mereka bercinta, namun Wisnu tahu kalau Naura berkali-kali mendapatkan pelepasannya.


Tangan Wisnu melingkar di pinggang Naura. Ia pun memejamkan matanya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Tangan Wisnu membelai perut Naura. Ia berharap ada benih nya yang akan tumbuh di rahim istrinya itu.


*********


Indira menatap tespack yang ada di tangannya dengan wajah terkejut. Ada dua garis di sana. Itu artinya ia positif hamil.


"Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Dengan mas Yari (suami pertamanya), setahun lebih menikah, aku tak juga hamil. Dengan mas Wisnu, aku juga tak pernah hamil. Aku pikir, mungkin aku yang mandul. Dan kini aku ternyata hamil. Bagaimana ini? Aku memang ingin punya anak. Namun bukan dengan Hartono. Aku ingin anak dari mas Wisnu. Seandainya ku katakan kalau ini anaknya mas Wisnu, dia pasti tak akan percaya karena dia sudah lama tak menyentuhku."


Indira keluar dari kamar mandi dengan rasa cemas yang mendalam. Hartono akan dihukum dengan waktu yang cukup lama karena kasus penculikan dan kasus pemerkosaan beberapa gadis desa. Indira tahu, ada Wisnu dibalik semua ini. Ia menyewa pengacara hebat untuk menangani kasus para gadis yang telah di lecehkan oleh Hartono. Sedangkan dirinya, sudah memasuki sidang kedua perceraian dengan Wisnu.


Bagaimana tanggapan keluarganya saat tahu kalau ia hamil setelah bercerai? Bagaimana nanti jika anaknya bertanya siapa bapaknya. Haruskah Indira mengatakan kalau bapaknya di penjara karena kasus penculikan dan asusila?


Indira duduk di depan meja riasnya. Ya Allah, aku harus bagaimana? Apakah ini karma karena perbuatan jahat ku pada Naura? Aku terlalu mengikuti hawa nafsuku sendiri dan tak memakai pengaman selama berhubungan dengan Hartono. Siapa yang bisa menolongku?


Indira memegang perutnya. Sebagai wanita, ia memang rindu memiliki anak. Namun anak ini datang di waktu yang tidak tepat.


Perlahan Indira menghapus air matanya. Kini ia tahu siapa yang bisa menolongnya.


*********


Naura berhenti di depan kantor Wisnu. Ia baru saja pulang kerja dan Wisnu memintanya untuk datang. Katanya ada sesuatu yang ia ingin bicarakan namun tak enak jika di apartemen karena ada Lisa. Dan Naura kesal pada dirinya yang tak bisa menolak. Wisnu mengatakan kalau ia ingin merancang pesta HUT bagi Lisa yang meriah.


Tadi pagi memang Naura bangun cepat dan langsung menghilang karena ia enggan bertemu dengan Wisnu. Ada rasa malu membayangkan semalam ia akhirnya menyerah kalah dan takluk dalam pelukan suaminya.


"Selamat datang nyonya." sapa resepsionis.


"Aku mau ketemu dengan mas Wisnu."


"Tuan ada di atas. Dia..."


"Jangan mengatakan padanya kalau aku ada di sini ya? Aku mau buat kejutan."


"Oh...gitu ya?" Resepsionis itu menatap kepergian Naura dengan rasa bersalah. Sebenarnya ia mau bilang kalau Wisnu sedang bersama dengan seorang wanita namun Naura keburu pergi.


Naura tiba di lantai 3. Ia sudah tiga kali diajak Wisnu ke kantornya dan ia hafal dimana ruangan Wisnu berada.


Saat ia keluar dari lift, ia tak melihat kalau sekretaris Wisnu ada di mejanya. Pintu ruangan Wisnu sedikit terbuka.Mungkin sang sekretaris ada di ruangan Wisnu.


Naura segera menuju ke sana namun sebelum ia mendorong pintu, ia terkejut mendengar suara Indira ada di sana.


"Aku hamil, mas. Karena itu aku mohon, jangan dulu bercerai denganku." terdengar suara Indira yang menangis.


Naura mundur beberapa langkah. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Indira hamil?


langkah Naura perlahan menuju ke lift. Ia masuk kembali dengan hati yang hancur. Lisa sudah punya kado yang ia inginkan.


**********


Duh, ada yang mau komen protes nih???


tenang ya emak-emak, cinta Naura dan Wisnu harus diuji apakah akan saling percaya atau tidak.


dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2