
"SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA JESLIN ANISA SURATINOJO BINTI SURYA SURATINOJO DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT DIBAYAR TUNAI."
"Sah?"
"Sah!"
Semua langsung bertepuk tangan dan memanjatkan doa syukur. Ijab Kabul berjalan dengan lancar. Gading terlihat sangat siap menikahi Jeslin.
Semua yang hadir pun saling berbisik-bisik tentang mas kawin yang sangat fantastis itu. Nyonya Elsa terlihat puas. Tentu saja ia tak mau kalah dengan pernikahan anak-anak dari teman sosialitanya yang lain.
Cincin pernikahan kini melingkar di jari manis mereka masing-masing. Ada senyum kebahagiaan di wajah Gading dan Jeslin.
"Mas, kita sudah sah." bisik Jeslin.
"Iya. Ingin rasanya mencium kamu sekarang. Selama satu bulan ini kita nggak bisa kencan karena larangan nyonya Elsa." Gading balas berbisik.
"Bukan nyonya Elsa. Tapi mama."
"Masih kaku aja, yang."
Naura mendekati pasangan pengantin itu. "Duh yang sedang jatuh cinta. Sudah sah kan?"
Jeslin memeluk sahabat baiknya itu. "Terima kasih ya, Na. Kalau loe nggak nikah sama juragan, gue nggak akan ketemu dengan mas Gading."
"Semua sudah di atur oleh Allah. Makanya kita harus perbanyak amal dan kebaikan untuk mensyukuri segala yang Allah berikan bagi kita."
"Waw! kata-kata loe sudah kayak ustadzah saja."
"Hei....loe lupa ya? Biar orang bilang kalau gue bar-bar kayak gini tapi gue kan rajin sholat dan mendengarkan tausiah."
"Benar juga ya." Jeslin tertawa. Inilah yang membuatnya suka berteman dengan Naura. Di balik sifatnya yang tomboy dan sedikit urakan itu namun ia masih sering sholat. Sangat berbeda dengan Jeslin yang memang jarang sekali sholat.
"Karena gue sudah resmi menjadi istri mas Gading yang bekerja pada tuan juragan, maka sekarang loe jadi nyonya gue dong. Nyonya Naura."
Naura terkejut mendengar perkataan Jeslin. "Nggak ada yang berubah dengan persahabatan kita, beb. Gue tetap Naura dan loe tetap Jeslin. Mas Gading aja yang masih memanggil juragan dengan sebutan tuan padahal mas Wisnu sudah meminta mas Gading untuk memanggil namanya saja."
Jeslin mengangguk. "Aku mau ganti baju dulu ya? Sebentar lagi acara resepsinya mau di mulai."
"Ok."
Jeslin langsung mengikuti langkah si perias pengantin ke dalam hotel. Acara resepsinya memang di gelar di alam terbuka, di sebuah panggung yang sudah disiapkan. Halaman hotel ini memang sudah disulap sedemikian rupa sehingga mirip dengan konsep yang nyonya Elsa inginkan. Untuk akad nikahnya Gading dan Jeslin kompak menggunakan baju adat Jawa. Sedangkan untuk resepsi lebih ke gaun pengantin ala barat karena memang Jeslin sejak kecil sangat suka dengan cerita princess Sofia.
Para tamu sudah banyak yang berdatangan. Pernikahan Gading dan Jeslin sengaja dilaksanakan hari minggu sore agar semua tamu undangan boleh datang karena bukan hari kerja.
Setelah pengantin siap, resepsi pun di mulai. Gading dan Jeslin terlihat bagaikan raja dan ratu dengan balutan gaun berwarna putih dan jas berwarna Cream.
"Pernikahan yang sangat mewah dan megah." kata Naura sambil melihat temannya yang duduk di pelaminan.
"Kau suka?" tanya Wisnu yang duduk di samping Naura.
"Ya."
"Maafkan aku yang dulu menikahimu dengan pesta yang sederhana saja."
__ADS_1
Naura melirik ke arah Wisnu. "Aku nggak mempermasalahkan itu. Toh saat itu aku istri ketiga. Pasti kamu malu kan gelar acara yang besar."
"Saat itu memang pemahamanku seperti itu. Namun jika aku tahu kalau kamu adalah gadis yang dijodohkan dengan aku sejak dari kandungan, jika aku tahu kamu adalah perempuan yang akan membuatku jatuh cinta lagi, aku mungkin akan membuat pesta pernikahan yang megah dan mewah. Bahkan lebih mewah dari pernikahan Gading dan Jeslin."
Naura tersenyum. "Aku memang suka pernikahan yang sederhana. Aku nggak suka dengan kemewahan."
Wisnu meraih tangan Naura. "Aku memang sangat beruntung memilikimu." Lalu ia mencium punggung tangan Naura dengan sangat lembut.
"Ih...mas Wisnu, malu ah dilihat orang." Naura menarik tangannya. Tepat di saat itu ia melihat Satria. Pria itu duduk tak jauh dari meja mereka dan sedang menatap Naura dan Wisnu dengan tatapan yang terluka.
Naura menggunakan kesempatan ini untuk menunjukan kepada Satria bahwa ia tak mungkin bersama dengan dokter muda itu. Naura menyentuh tangan Wisnu yang ada di atas meja dan menarik kursinya agar lebih dekat dengan Wisnu.
Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Wisnu membuat suaminya itu sedikit tersenyum namun tak menolak karena ia merasa bahagia setiap kali Naura bersikap manja padanya.
Akhirnya acara resepsi itu selesai. Para tamu pun mulai pamit untuk pulang. Jeslin dan Gading terlihat mulai gelisah dan ingin segera menuju ke kamar mereka.
Naura dan Wisnu mengantarkan Jeslin dan Gading ke kamar mereka. Sebuah kamar
Executive Suite dengan latar belakang pemandangan laut yang sangat indah.
"Selamat menikmati malam pertama ya?" goda Naura sebelum akhirnya kembali memeluk temannya itu.
Jeslin dan Gading tersenyum penuh arti. Mereka sudah tahu apa yang disiapkan Wisnu untuk Naura.
Setelah berpamitan, Naura dan Wisnu pun keluar dari kamar itu.
"Kita langsung pulang? Ini baru jam 7 malam." tanya Naura sambil menatap arlojinya.
Naura terkejut. Apalagi saat pintu terbuka ia menemukan sebuah kamar yang sangat romantis. Ada lilin aroma terapi yang di pasang di sepanjang lorong masuk. Lalu ada bunga mawar yang sudah di atur di setiap sudut kamar. Dan di atas tempat tidur ada kelopak bunga mawar yang di atur membentuk buah hati.
"Mas Wisnu, ini indah sekali." Naura tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.
"Aku senang kau menyukainya."
Naura langsung memeluk Wisnu dan mencium pipi pria itu berulang-ulang.
Wisnu melingkarkan tangannya di pinggang Naura. "Malam pertama kita dulu sangat indah namun kamarnya kurang romantis. Jadi malam ini aku ingin membuat suasana yang romantis. Kamu nggak menolak kan?"
"Mas Wisnu semalam kita kan baru saja ber..."
Wisnu langsung mencium bibir Naura dan menghentikan kalimatnya. "Aku ingin malam ini menjadi awal hubungan kita yang baru. Karena hanya kamu satu-satunya wanita dalam hidupku sekarang ini." kata Wisnu saat ciuman mereka berakhir. Ia kemudian menurunkan resleting gaunnya Naura. Saat gaun itu jatuh di lantai, Naura tersenyum. Ia pun membuka jas yang Wisnu pakai lalu membuka kancing kemeja yang di pakai suaminya itu.
"Kamar ini kedap suara?" tanya Naura saat kemeja Wisnu sudah terlepas.
"Memangnya kenapa?"
"Aku takut kalau suara kita dan suara tetangga kita akan saling terdengar."
Wisnu tertawa. Ia mencium hidung Naura dengan gemas. "Mungkin malam ini kita jangan terlalu ribut, sayang."
Naura ikut tertawa. "Kalau begitu kita main pelan saja."
"Mana bisa hanya pelan-pelan? Nanti cuma bisa satu ronde."
__ADS_1
"Ih mas Wisnu genit!" Naura mendorong Wisnu dan langsung berlari sebelum suaminya itu memeluknya lagi.
*********
Di kamar sebelah, Gading dan Jeslin baru saja selesai mandi. Keduanya hanya menggunakan jubah handuk.
"Mas, aku ingin segera hamil dan memberikan anak yang banyak untukmu." Kata Jeslin sambil duduk dipangkuan Gading.
"Kalau begitu aku harus kerja keras."
"Kerja keras untuk apa?"
Gading menarik tali jubah mandi Jeslin. "Kerja keras untuk segera membuatmu hamil."
Jeslin tertawa dalam pelukan suaminya. Ia bahagia. Tak ada lagi bayangan Yuda yang melintas dalam pikirannya. Ia sangat yakin kalau hatinya hanya ada Gading. Pria baik hati yang telah menyelamatkan hidupnya dan menerima dia apa adanya.
"Berapa ronde?" tanya Jeslin saat Gading sudah mengangkat tubuhnya yang sudah polos ke tempat tidur.
"Pokoknya sampai pagi."
Jeslin tertawa bahagia. Pria polos yang dulu diajarinya bercinta, kini sudah menjadi Sedikit mesum.
*********
Di tempat lain, nampak Yuda sedang duduk termenung di ruangan kerjanya. Seminggu yang lalu, ia baru saja keluar dari rumah sakit dan menjalani terapi bersama seorang psikiater.
Yuda sedang memegang ponselnya. Menatap foto-foto Jeslin yang masih tersimpan di galeri ponselnya.
Hati Yuda sangat sakit. Ia masih sangat mencintai Jeslin. Namun sekarang semuanya sudah menjadi tak mungkin. Ia sudah menikah, Jeslin pun sudah menikah. Yang membuat Yuda tak percaya adalah Jeslin dengan cepat melupakannya pada hal mereka pacaran hampir 3 tahun.
Pintu diketuk lalu di buka dari belakang. Bella, istri Yuda masuk sambil membawakan obat yang harus Yuda minum.
"Mas, minum ya?"
Yuda menatap Bella. Wanita cantik itu terlihat pucat. Ada lingkar hitam di bawa matanya.
"Bella, jika kau menderita hidup bersama ku, aku mengijinkan kau pergi."
"Aku tak bisa, mas. Aku kan sedang hamil."
Yuda tersenyum sumbang. "Anak itu nggak akan mengubah perasaanku kepadamu."
"Aku jatuh cinta denganmu, mas. Aku ingin bersamamu. Aku yakin suatu saat nanti kau akan mencintaiku."
Yuda mengambil obat itu dan langsung meminumnya. "Berhentilah bermimpi. Aku tak mungkin mencintai wanita lain lagi."
Bella hanya tersenyum. Ia yakin bahwa ketulusan akan mampu mengubah hati seseorang. Dan Bella percaya bahwa suatu saat nanti Yuda akan luluh.
********
Bagaimana malam pertama Gading dan Jeslin setelah halal? Ada di grup chat.....
Bagaimana akhirnya Naura bilang cinta ke Wisnu? Tunggu episode berikutnya.
__ADS_1