
Sepanjang malam Naura tak bisa tidur nyenyak. Ia terus memikirkan pesan yang dikirimkan Satria padanya. Akibatnya, ia bangun pagi saat jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Naura tak mau membalas SMS itu karena ia sadar dirinya yang sudah menjadi istri orang lain. Walaupun jauh di lubuk hatinya, Naura berharap juragan menceraikannya dan ia bisa bersama lelaki yang dicintainya.
Selesai mandi dan ganti pakaian, Naura keluar kamar. Ia langsung tersenyum melihat bi Aisa ada di ruang makan.
"Selamat pagi, non."
"Selamat pagi, bi."
"Ayo sarapan! Juragan meminta saya untuk mengantar sarapan non ke sini karena tadi non nggak sarapan bersama."
"Aku nggak bisa tidur nyenyak semalam, bi."
"Bibi tahu, non nonton TV sampai larut malam kan?"
"Mungkin karena sorenya aku tidur agak lama ya, bi?"
"Mungkin juga." Ujar Naura lalu duduk di depan meja makan dan mulai menikmati sarapannya.
"Non, si kecil Lisa meminta saya untuk memberitahukan pada non Naura kalau ia ikut pergi ke kota bersama ibunya, nyonya Indira dan juragan."
"Mereka ke kota?"
"Iya. Omanya nyonya Regina meninggal tadi subuh."
Naura tertegun. Mengapa aku tak diajak ya? Apakah karena aku dianggap tak penting? Ya, sudah. Ngapain juga aku harus memikirkan itu?
Selesai sarapan, Naura langsung mengambil sepedanya dan jalan-jalan ke perkampungan. Ia mampir di warung ibu Kumala namun tetangganya mengatakan kalau ibu Kumala ada di rumah sekdes untuk mengajar anak-anak menari. Naura pun segera menuju ke rumah Pak Sekdes.
Kumala tersenyum melihat Naura yang datang dan ikut latihan dengan para pemudi.
"Nyonya, anak-anak bertanya, apakah nyonya mau tampil di acara penutupan kegiatan dalam rangka HUT desa? Mereka ingin nyonya ada bersama mereka."
Naura tersenyum senang. "Memangnya boleh? Kan yang menari para pemudi."
"Boleh. Nyonya kan masih sangat muda. Jika nyonya mau, latihannya akan dilaksanakan setiap hari karena lombanya sudah akan dimulai minggu depan. Kegiatannya dilaksanakan secara dua hari dan hari ketiga adalah jamuan makan dan tariannya."
"Baiklah!"
Selesai latihan, Naura kembali ke villa. Ponselnya berbunyi, ada panggilan dari Wisnu.
"Hallo.....!" Sapa Naura datar.
"Sudah puas jalan-jalannya?" tanya Wisnu dari seberang.
"Sudah, juragan. Kok bisa tahu ya kalau aku jalan-jalan."
"Tadi aku telepon dan kau tidak mengangkatnya jadi aku telepon bi Aisa dan dia mengatakan kalau kamu sedang jalan-jalan dengan sepeda."
"Hmm....."
"Ra, aku tadi pergi ke kota ke acara pemakaman omanya Regina. Acara nya baru saja selesai. Kami mungkin akan pulang besok. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri di sana?"
Naura tertawa. "Jangan khawatir juragan, aku justru senang jika kalian nggak ada. Tenang, nggak perlu makan tepat waktu, dan bebas dari gangguan juragan."
"Kamu nggak akan diam-diam menyelinap pergi dengan motor ke kota kan?"
"Wah, juragan kok bisa tahu rencana aku ya?"
"Naura!"
Tawa Naura langsung pecah. "Aku mau mandi dulu, ya. Mau berendam. Pasti enak tanpa ada gangguan siapapun. Bye...."
Di seberang sana, Wisnu terlihat kesal. Ia sebenarnya masih ingin berbincang-bincang dengan Naura namun istri ketiganya sudah mengahiri percakapan mereka. Membayangkan Naura yang akan mandi saja sudah membuat tubuh Wisnu menjadi panas. Dia rasanya ingin pergi ke desa agar dapat menikmati kesempatan untuk bersama Naura. Wisnu mengacak rambutnya kasar. Ia masuk kembali ke dalam rumah omanya Regina. Berusaha bermain dengan Lisa untuk mengusir kegundahan hatinya. Naura, kau benar-benar benar ya....
__ADS_1
*********
Rencana Wisnu untuk pulang keesokan harinya ke desa ternyata belum bisa karena orang tua Regina menahan mereka untuk lebih lama ada di kota. Indira pun memanfaatkan hal itu untuk mengurus butiknya.
Naura bangun pagi ini. 4 hari sudah Wisnu ada di kota. Satu malam giliran Naura sudah terlewati. Wisnu kemarin mengirimnya pesan, ada masalah di pabrik sehingga ia belum jadi pulang. Gading yang menjaga Naura selama beberapa hari ini, kemarin sore di minta untuk pergi ke kota. Naura merasa biasa saja. Ia lebih punya banyak waktu untuk menyelesaikan skripsinya dan berlatih tarian di rumah pak sekdes. Tanpa ada gangguan juragan, Naura bisa berlama-lama di rumahnya Kumala. Ia bahkan sudah akrab dengan banyak anak muda di desa ini.
Saat mandi, Naura merasakan ada yang berbeda dengan ujung dadanya. Ia merasa sedikit sakit dan saat Naura menyentuhnya, ia justru membayangkan Wisnu yang melakukan itu.
Ih....kok gue jadi mesum begini pikirannya.
Naura menepuk kepalanya sendiri dan segera menyelesaikan mandinya. Ia langsung berpakaian dan menuju ke rumah utama. Tadi malam ia membuat kue bersama Aisa dan Saima untuk dibagikan kepada anak-anak yang sedang bekerja bersama orang tua mereka di kebun teh.
"Nyonya, nggak sarapan dulu?" tanya Saima.
"Bibi masak apa?"
"Sup ikan dan ayam goreng. Ada sambalnya juga."
Naura diam sejenak. "Tolong buatkan aku roti bakar keju coklat saja ya? Rasanya nggak enak makan nasi pagi ini." Kata Naura lalu segera berlalu dengan keranjang yang berisi kue. Ia ingin ke kebun teh. Karena para pekerja biasanya memulai kerja mereka sejak jam 6 pagi.
Saat melihat sang nyonya datang sambil membawa kue, para pekerja tersenyum senang. Mereka bersyukur karena istri ketiga juragan ini cepat akrab bahkan kesannya tak ada batas antara mereka. Naura tak pernah menempatkan dirinya sebagai nyonya besar yang selalu memerintah. Lihatlah, sekarang ia sudah ikut memetik daun teh ketika para pekerja sedang istirahat menikmati kue yang dibawahnya.
Saat semuanya selesai, Naura pun kembali ke rumah. Ia memang merasa lapar.
Ketika ia memasuki ruang makan, ia sedikit terkejut melihat Wisnu dan kedua istrinya sudah ada di sana.
"Bunda Naura...!" Lisa langsung melompat turun dari kursi makan saat melihat Naura.
"Lisa.....!" Regina terkejut melihat reaksi putrinya yang begitu senang bertemu dengan Naura.
"Hallo cantik....!" Naura langsung memeluk Lisa.
"Bunda, Lisa kangen banget sama bunda." Kata Lisa lalu mencium pipi Naura dengan gemas.
Saat Lisa kembali ke meja makan, Naura menatap semua yang duduk di meja makan.
"Selamat datang."
Regina dan Indira seperti biasa, membalas Naura dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Dan saat tatapan Naura dan Wisnu ketemu, Naura dapat melihat bahwa mata Wisnu seakan berbinar. Dan itu membuat Naura merasakan kalau darahnya berdesir aneh. Ia jadi mengingat apa yang dirasakannya tadi pagi di dalam kamar mandi. Sial, rasa apa ini? Aku seperti perempuan mesum yang merindukan sentuhan laki-laki.
Saima membawa roti bakar pesanan Naura dengan segelas susu.
Wisnu memperhatikan apa yang Naura makan.
"Kau tidak makan nasi? Memangnya cukup hanya dengan sepotong roti?" tanya Wisnu heran karena ia tahu bahwa sekalipun tubuh Naura kecil namun porsi makannya cukup banyak.
"Sesekali ingin sarapan gaya orang barat walaupun kita tinggal di desa."Naura mencoba bercanda namun tidak dengan Wisnu. Lelaki itu tetap memandang tak suka dengan apa yang akan di makan oleh Naura.
Naura tetaplah Naura, walaupun Wisnu menatapnya tak suka, ia terus memasukan roti itu ke dalam mulutnya. Roti bakar ini entah kenapa sangat enak saat Naura mengunyahnya.
Selesai sarapan, Wisnu langsung pergi ke ladang dengan Gading sedangkan Naura langsung pergi dengan sepedanya ke rumah sekdes. Ia ingin latihan dengan para gadis.
Sementara latihan, Naura tiba-tiba merasa tubuhnya menjadi sangat lemah.
"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya Aning, salah satu gadis yang ikut menari.
Naura duduk di kursi kayu sambil memegang kepalanya yang mendadak pening.
"Aku mungkin kecapean. Semalam buat kue sama bi Salma sampai jam 11. Tidurnya juga sudah jam 2 malam karena membaca beberapa buku untuk menopang hasil tulisanku. Sebaiknya aku pulang saja."
"Nyonya, bisa sendiri?" tanya Kumala, sedikit cemas melihat wajah Naura yang agak pucat.
"Bisa, Bu. Aku hanya kecapean saja. Aku pergi dulu. Bye semua......!" Naura segera menaiki sepedanya dan pergi meninggalkan halaman rumah sekdes. Namun baru beberapa meter ia mengayuh sepedanya, Naura kembali merasa sangat lelah. Ia berhenti lalu turun dari sepeda. Ia baru menyadari kalau saat ini ia berhenti di depan rumah besar milik Wisnu yang ada di perkampungan.
__ADS_1
"Nyonya.....!" panggil salah satu pekerja yang ada di rumah Wisnu. Ia baru saja akan pulang karena di tuannya sekarang lebih suka berada di rumah bukit. "Nyonya sakit?" tanyanya lagi.
"Aku hanya merasa lemas."
"Masuk aja ke dalam, nyonya!"
"Tapi.....!"
"Nyonya nggak mungkin naik sepeda ke rumah bukit dalam keadaan begini. Ayo.....! Nama saya Bulan. Saya bekerja di rumah ini untuk bersih-bersih." Kata Bulan sambil memanggil salah satu pekerja laki-laki untuk membawa sepeda Naura sementara ia memapah nyonya termuda ini memasuki rumah. Ia langsung mengantar Naura ke kamar juragan yang ada di lantai dua.
Setelah membaringkan Naura, ia segera memanggil Wisnu yang masih ada di ladang, memeriksa ladang jagung yang beberapa waktu yang lalu terbakar.
"Juragan, maaf menganggu." Ujarnya sambil menyela percakapan Wisnu dengan salah satu mandor.
"Ada apa, Bulan?"
"Nyonya Naura ada di kamar juragan. Tadi, saat saya akan pulang, saya berpapasan dengan nyonya yang ada di depan rumah. Nyonya kelihatan pucat dan nampak berkeringat. Jadi saya tawarkan nyonya untuk istirahat dulu sebelum pulang ke rumah bukit."
"Naura sakit?" Wisnu terkejut. Ia langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah yang tergesa. Ia bahkan setengah berlari agar bisa sampai dengan cepat di rumah. Wisnu memang tadi melihat ada yang berbeda dengan wajah Naura.
Saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat Naura yang terbaring, tidur membelakangi pintu sambil memeluk bantal guling.
"Ra......!" panggil Wisnu sambil memegang bahu Naura.
Naura membalikan tubuhnya. "Juragan. Aku pinjam kamarmu sebentar ya? Kayaknya aku kelelahan karena semalam bergadang membuat skripsi ku." Kata Naura.
"Ini kamarmu, juga. Tidurlah!" Kata Wisnu sambil menyeka keringat yang ada di dahi Naura dengan punggung tangannya.
Saat kulit mereka saling bersentuhan, Naura kembali merasakan tubuhnya menjadi panas. Dia begitu ingin Wisnu terus menyentuhnya. Namun rasa lelah dan kantuk begitu kuat menyerangnya. "Tidurlah!" Kata Wisnu sekali lagi sambil membelai pipi Naura. Perlahan gadis itu menutup matanya.
**********
Naura bangun saat hari sudah malam. Lampu kamar sudah dinyalakan dan Wisnu baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan handuk putih yang membungkus tubuh bagian bawanya. Naura yang sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang, menelan ludahnya saat melihat kalau tubuh suaminya itu nyaris sempurna.
Wisnu mendekat dan duduk di tepi ranjang. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku sudah merasa segar kembali."
Wisnu menyentuh kembali wajah Naura dengan tangannya yang terasa dingin di kulit wajah Naura. Mungkin karena ia baru selesai mandi.
"Kita tidur di sini saja ya? Di bawa sudah ada bi Aisa. Sedang masak makan malam untuk kita. Mungkin sebentar lagi akan selesai." Kata Wisnu lalu mencium pipi Naura dengan sangat lembut.
Saat Wisnu akan berdiri untuk memakai pakaiannya, Naura tiba-tiba saja menahan tangan Wisnu.
"Ada apa?" tanya Wisnu sambil kembali duduk.
Naura merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Ia bahkan sudah berpikir kalau dirinya sudah gila. Entah kenapa ia sangat ingin merasakan sentuhan Wisnu saat ini juga.
"Jangan pergi....!" Kata Naura dengan wajah yang sudah merah menahan malu.
"Kenapa?" Wisnu menjadi heran.
Naura maju sedikit lalu mengecup bibir Wisnu membuat pria itu terkejut. Naura menciumnya lebih dulu?
"Bukankah juragan bilang kalau hanya denganku juragan akan merasa puas saat bercinta?"
"Ya." Wisnu tersenyum. Tangannya memegang dagu Naura. "Kenapa kau tanyakan itu?"
Naura menelan saliva nya. "Ayo kita saling memuaskan saat ini." bisik Naura lalu mencium bibir suaminya dengan penuh gairah.
***********
Duh, juragan kayaknya ketiban durian runtuh deh....
__ADS_1
Kok Naura jadi aneh ya????