
Saat memasuki gerbang rumah Gading, Jeslin sudah dibuat kagum dengan desain pagarnya yang unik, lalu taman kecil yang ada di depan rumah dengan air mancur terlihat sangat indah.
Saat turun dari mobil, Jeslin melihat rumah satu lantai bergaya Eropa. Apalagi saat masuk ke dalam, Jeslin melihat setiap ruangan diatur dengan sangat indah.
"Mas Gading, siapa yang mengatur setiap ruangan ini?" tanya Jeslin.
"Aku."
"Ini sangat indah. Yang dibutuhkan hanyalah sentuhan tangan wanita agar ruangannya menjadi semakin cantik dengan beberapa bunga."
"Entahlah. Apakah ada wanita yang menyukaiku atau tidak."
"Pasti ada. Mas Gading kan tampan, punya pekerjaan yang bagus."
"Andai saja gadis itu adalah kamu."
Jeslin tersenyum dengan wajah sedih. "Jangan aku, mas Gading. Aku gadis yang nggak benar. Aku telah menyerahkan diriku pada Yuda lalu menggoda mas Gading untuk bisa melupakan Yuda."
"Kamu telah mengajari aku banyak hal, Jes. Dan sepanjang hari ini aku memikirkan mu. Tadi pagi kita sudah sepakat untuk saling menjauh. Namun takdir kembali mempertemukan kita." Gading meraih kedua tangan Jeslin. "Aku nggak peduli kamu pernah bersama dengan siapa di masa lalumu. Namun aku ingin masa depanmu ada aku di sana."
Jeslin memandang Gading. Tangannya menyentuh pipi pria itu. "Mas Gading orang baik. Allah pasti akan memberikan perempuan yang baik pula."
Gading menahan tangan Jeslin yang ada di pipinya. "Kamu juga perempuan yang baik."
Pandangan mata keduanya saling bertemu. Mereka tak bicara hanya mata yang saling berpandangan. Jeslin merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Begitu juga Gading. Wajah mereka semakin dekat, hidung mereka saling bersentuhan dan akhirnya bibir mereka bertemu. Ciuman yang sangat panjang dan mendebarkan. Sampai akhirnya keduanya sadar bahwa raga mereka begitu saling membutuhkan.
"Sebaiknya aku pulang." Kata Jeslin sambil melepaskan pertautan bibir mereka.
"Ya. Kau bisa membawa mobil sendiri kan?"
Jeslin mengangguk. Ia segera melangkah menuju ke pintu. Namun sebelum tangannya meraih gagang pintu, gadis itu berbalik. Ia segera berjalan secara cepat ke arah Gading yang memang sedang menunggunya. Dengan cepat bibir mereka kembali menyatu dalam ciuman panjang.
"Kita ke kamar saja?" tanya Gading dengan napas yang terengah-engah.
"Ok."
Gading langsung mengangkat tubuh Jeslin ala koala membuat Jeslin langsung melingkarkan kakinya di pinggang Gading.
1 jam kemudian.....
"Jes, aku besok ke rumah kamu ya?" ujar Gading sambil menyeka keringat di dahi Jeslin.
"Buat apa?"
"Aku akan melamar kamu. Pokoknya kamu harus setuju. Jika tidak....!" Gading sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Jika tidak, kenapa?" Jeslin menatap Gading sambil tersenyum.
"Aku akan bilang pada orang tuamu jika kamu telah merusak kesucian diriku. Kamu telah merenggut keperjakaanku dan kita sudah bercinta berkali-kali."
__ADS_1
Jeslin memukul lengan Gading dengan gemas. "Mas Gading berani bilang seperti itu?"
"Kenapa tidak?"
Jeslin menatap Gading. Kali ini pandangannya berubah serius. "Bagaimana jika kita tidak bisa saling mencintai, mas? Aku tak ingin kita saling menyakiti."
"Jika kita mau membuka hati, kita pasti akan saling mencintai. Aku hanya ingin menikah satu kali, Jes. Aku sudah kepingin punya keluarga. Aku sudah lama yatim piatu. Aku nggak punya saudara karena aku anak tunggal. Aku bersumpah, jika kita menikah, maka aku akan setia padamu. Aku tak akan poligami. Kau akan menjadi satu-satunya Ratu dalam hidupku."
Air mata Jeslin mengalir tanpa bisa ditahannya. Ia langsung memeluk Gading. "Aku tunggu besok di rumahku. Berjuanglah untuk mendapatkan restu dari papa dan mamaku. Karena mereka bukan orang yang gampang percaya dengan dengan orang lain."
Gading mencium kepala Jeslin dengan penuh kasih.
"Aku pasti akan mencintaimu" bisik Gading dan membuat Jeslin merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu di perutnya.
**********
Sejak mereka tiba di rumah Wisnu, pria itu langsung mandi dan berdiam di ruang kerjanya. Ia bahkan melewatkan makan malamnya.
Mereka hari ini pulang ke rumah Wisnu karena Lisa ingin ada di rumah ini. Katanya ia malas ke apartemen. Tak bisa bermain di halaman.
Lisa sudah tertidur di kamarnya. Beberapa hari lagi ia akan ulang tahun. Makanya Wisnu sedikit memanjakan Lisa dengan selalu mengikuti keinginan anaknya itu.
Naura setuju datang ke rumah ini karena besok ia masuk kerja siang.
Saat Naura keluar dari kamar Lisa, ada bunyi pesan masuk. Ternyata itu dari Satria.
Naura mendekap ponselnya ke dada. Ia tahu karena mencintainya, Satria harus rela terluka. Satria lelaki baik yang berkali-kali telah menolongnya. Bahkan darah Satria ada di alam tubuh Naura.
Namun ada sesuatu yang mulai tumbuh di hati Naura. Suatu getaran yang ia rasakan setiap kali Wisnu bersikap romantis padanya. Naura merasakan kalau jantungnya berdebar, perutnya bagaikan ada ribuan kupu-kupu berterbangan. Wajahnya terasa panas.
Kalau dulu Naura tak mau pakai perasaan saat bersama Wisnu, kali ini perasaanya sungguh sudah terlibat.
Wisnu yang sejak tadi sudah keluar dari ruang kerjanya, melihat bahwa Naura sedang memikirkan sesuatu. Siapa yang mengirim pesan pada Naura? Apakah Satria sehingga Naura terlihat gelisah?
Tak dapat dipungkiri kalau Wisnu selalu cemburu pada Satria. Wisnu merasakan kalau perasaan Naura sangat susah dijangkau olehnya hanya karena Satria yang tak pernah menjauh. Pria itu bahkan dengan terang-terangan mengatakan kalau ia siap merebut Naura dari Wisnu.
Perlahan Wisnu mendekati Naura yang aedang duduk di sofa ruang keluarga sambil melipat kedua tangannya di dada dan ponselnya ada dipangkuannya.
"Lisa sudah tidur?" tanya Wisnu sambil duduk di samping Naura. Sangat dekat. Bahkan lengan mereka saling bersentuhan.
"Ya."
Wisnu melingkarkan tangannya di bahu Naura dan memegang kepala Naura agar bersandar di bahunya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Wisnu sambil membelai rambut Naura.
"Tidak!"
"Kau terlihat gelisah. Apakah karena pesan yang kau terima?"
__ADS_1
"Kau tahu?" tanya Naura tanpa mengangkat kepalanya dari bahu Wisnu.
"Dari Satria kan?"
"Ya."
Wisnu merasakan dadanya sakit. "Kalau boleh aku tahu, apa yang ditulis oleh Satria?"
Naura diam sejenak. Ia kemudian membuka ponsel nya dan memberikannya pada Wisnu. "Bacalah!"
Wisnu mengambil ponsel Naura dan membaca pesan itu. Rahangnya langsung mengeras saat membaca isi pesan dari Satria. Namun Wisnu berusaha tenang. "Apa yang kau balas?"
"Tidak ada."
"Kenapa?"
"Karena itu bukanlah sesuatu yang harus ditanggapi."
"Mengapa?"
"Karena aku adalah istrimu. Masih istrimu."
Wisnu melepaskan tangannya yang memeluk punggung Naura. Ia menangkup wajah Naura agar memandangnya. "Ingat baik-baik, Ra. Aku tak akan pernah melepaskan mu."
Naura tersenyum mendengar perkataan Wisnu. "Kau hanya cemburu pada Satria."
"Aku sangat cemburu."
"Kau tak perlu cemburu."
"Kenapa?"
"Karena saat ini aku masih bersamamu, juragan."
Wisnu kini yang tersenyum. Bibirnya langsung mencium Naura dengan sangat lembut. "Tetaplah di sisiku. Kau akan melihat betapa besar cinta yang kumiliki untukmu." Wisnu mengangkat tubuh Naura dan memindahkannya di pangkuannya. Ciuman mereka bertambah panas. Apalagi tangan Wisnu sudah menyusup masuk dibalik kaos yang dipakainya.
"Ayah, bunda, ngapain?"
Naura melompat turun dari pangkuan Wisnu.."Lisa sayang, kenapa bangun."
"Bunda sama ayah mau main perang-perangan ya? Lisa ikut."
Wisnu langsung mengacak rambutnya frustasi.
*********
Orang tua Jeslin menerima nggak ya lamaran Gading?
dukung emak terus ya
__ADS_1