Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Mulai Curiga


__ADS_3

Dengan tubuh yang basah karena keringat, Wisnu akhirnya berguling di samping tubuh istrinya. Napas Naura pun masih belum stabil.


"Kita berdua sudah gila.....!" Kata Naura sambil tertawa.


"Ya. Gila akan gairah. Kau selalu berhasil membuat aku melupakan segalanya dan hanya fokus pada dirimu." Ujar Wisnu sambil menatap langit-langit kamar yang ada di villa ini.


2 jam yang lalu, keduanya baru saja selesai sarapan. Naura bermaksud akan kembali ke villa untuk membaca beberapa buku dan Wisnu akan ke ladang seperti biasa. Namun, saat Naura akan keluar dari ruang makan, entah bagaimana kakinya tersandung pada guci besar yang ada di dekat pintu dan Wisnu yang berjalan di belakangnya langsung memeluk tubuh Naura agar tidak terjatuh.


"Masih saja ceroboh!" kata Wisnu sambil menarik hidung Naura dengan gemas. Wajah mereka jadi begitu dekat dan pegangan tangan Wisnu yang ada di pinggang Naura terasa hangat karena langsung menyentuh kulitnya. Naura memang menggunakan celana pendek dan kaos rumahan yang panjangnya hanya sebatas pinggang karena itu saat Wisnu memeluknya, tangan pria itu langsung menyentuh kulitnya.


"Terima kasih, juragan." Naura mengedipkan sebelah matanya, lalu mencium pipi suaminya dengan cepat. Kemudian segera melepaskan diri dari pelukan Wisnu saat ia merasa napas suaminya menjadi berat.


"Aku ke villa dulu." Ujar Naura lalu segera pergi meninggalkan Wisnu.


Rahang Wisnu mengeras, menahan sesuatu yang mulai membakar dirinya. Ini gila! Wisnu dan Naura baru saja menghabiskan malam yang panas tadi malam. Walaupun hanya satu ronde karena Naura beralasan lelah karena selesai latihan menari, ia masih bermain bola dengan anak-anak, namun percintaan mereka semalam tetap saja sangat memuaskan bagi Wisnu.


Dan kini, hanya sentuhan kecil di kulit pinggang Naura, Wisnu merasa hasratnya untuk menyatu dengan istrinya begitu kuat.


Ia segera melangkah ke luar rumah, menuju ke halaman di mana Gading sudah menunggunya untuk berangkat ke ladang.


Saat Wisnu masuk, Gading pun langsung menjalankan mobilnya, menuruni bukit. Tapi di persimpangan jalan menuju ke jalan utama dan ke arah villa, Wisnu tiba-tiba meminta Gading berbelok ke arah villa.


"Ada sesuatu yang aku lupa di villa." ujar Wisnu.


Gading pun memutar arah mobil, menuju ke villa.


Saat mobil berhenti di depan villa, Wisnu bergegas turun dan masuk ke dalam villa sambil menutup pintunya kembali. Wisnu dapat melihat dua bodyguard itu sedang berdiri tak jauh dari villa.


Naura yang sedang membaca di kamarnya, terkejut melihat Gading yang masuk ke kamar.


"Ada yang lupa, juragan?" tanya Naura. Ia sedang duduk di sofa sambil membaca.


Wisnu menutup jendela yang terbuka, lalu mengatur gorden agar bisa menutup jendela kaca itu dengan sempurna.


Naura menutup buku yang dibacanya karena ruangan menjadi agak gelap. Ia berdiri dan mendekati Wisnu yang sedang membuka sepatunya.


"Ada apa?" Naura menjadi bingung.


Wisnu yang sudah selesai membuka sepatunya menatap Naura sambil tersenyum. Tangannya membuka kemeja biru yang dikenakannya sambil memangkas jarak diantara mereka.


"Aku menginginkanmu, sayang." Ujar Wisnu sebelum menarik tubuh Naura untuk ada dalam pelukannya dan langsung mencium bibir Naura dengan sangat rakus.


Mendapat serangan secara tiba-tiba, Naura memang terkejut namun tak menolak. Ciuman Wisnu sangat memabukkan dan membuat Naura bisa terbakar gairah secara cepat.


Dan itulah yang terjadi. Keduanya kembali menyatu dalam balutan gairah. Melupakan Gading yang bingung menunggu di dalam mobil. Gading dan para bodyguard itu saling bertatapan dari jarak jauh. Mereka pasti sama-sama bingung melihat sang juragan yang masuk dan belum juga keluar ketika waktu hampir 2 jam berlalu.


Sementara itu, di dalam kamar, Naura yang baru keluar dari kamar mandi bersama Wisnu, untuk mandi kembali sudah mengenakan bajunya. Ia bahkan membantu Wisnu untuk memasang kancing kemejanya.


"Aku pergi dulu, ya? Mungkin makan siang di luar karena akan meninjau proyek jalan lingkar."


"Aku boleh ke rumah bibi Kumala kan?"

__ADS_1


Wisnu mencium dahi Naura. "Pergilah. Namun jauhkan matamu dari tatapan dokter itu jika dia ada di sana untuk memeriksa ibu Kumala."


"Siap pak bos."


Wisnu tersenyum. Ia pun memakai sepatunya dan langsung keluar kamar, menemui Gading yang sudah tertidur di dalam mobil.


*********


"Sepertinya juragan menempatkan dua orang penjaga untuk istri ketiganya itu. Mereka adalah bodyguard terbaik dari kota. Jadi kita harus bagaimana, tuan?" tanya Bondan, salah satu anak buah Hartono yang ditugaskan untuk mengawasi Naura.


Hartono diam sejenak. "Tunggulah sampai lomba itu dilaksanakan. Masih 4 hari lagi."


"Kalau begitu, kita harus tambah orang lagi, bos. Bos ingatkan bahwa nyonya ketiga sangat menguasai bela diri."


"Baiklah. Namun saat kalian menangkapnya, jangan berani menyentuh atau melukai dia. Karena aku tak akan mengampuni kalian jika ia sampai terluka. Dia akan menjadi milikku." Kata Hartono tegas.


Bondan pun meninggalkan ruangan tamu dan pergi dengan mobil jeepnya.


Jupri yang duduk di depannya pun bertanya. "Bos, bagaimana semalam?"


Hartono tersenyum puas. "Nyonya kedua itu sangat panas. Mungkin karena juragan sudah lama tak menyentuhnya. Goyangannya mantap. Aku bahkan sampai kelelahan karena menghabiskan 3 jam bersamanya. Dan dia berjanji, akan memberikan servis di ranjang lagi, jika kita berhasil menyingkirkan si nyonya ketiga."


"Wah, bos beruntung sekali bisa meniduri perempuan secantik Indira."


"Indira memang mantap namun Naura lebih menggoda. Aku sungguh tak sabar ingin menyentuh kulit nya dan mencium bibir manis itu."


Nur, istri pertama Hartono mendengar percakapan itu sambil menahan rasa sesak di hatinya. Ia sudah muak dengan semua kelakuan suaminya itu. Nur secara diam-diam sudah menabung banyak uang. Ia akan membawa kedua anaknya untuk pergi menjauh.


*********


Pagi ini, Naura kembali membuat Wisnu ada dalam kendalinya. Saat mandi bersama, Wisnu dan Naura kembali bercinta dan berlanjut sampai ke tempat tidur lagi.


"Ra, kapan lombanya?" tanya Wisnu yang sudah berpakaian lengkap dan sementara menyisir rambutnya.


"Lusa." Naura masih ada di tempat tidur. Menutupi tubuh polosnya dengan selimut dan berbaring miring sambil menatap Wisnu.


"Aku akan datang untuk melihat kau menari."


"Juragan, kau akan langsung ke rumah mba Regina?"


"Iya. ini kan hari minggu. Lisa nggak sekolah."


Naura harus bisa berakting pagi ini. Ia bangun dan turun dari tempat tidur, mengambil handuk yang ada di lantai untuk membelit tubuhnya. Ia mendekat Wisnu yang masih ada di depan meja rias.


"Juragan, bolehkah aku meminta satu hal?" tanya Naura sambil berdiri di depan Wisnu dan memegang kancing baju suaminya.


"Apa?"


"Jangan tidur dengan mba Regina."


Wisnu terkejut mendengar permintaan Naura.

__ADS_1


"Tapi Ra, bagaimana jika Regina marah?"


"Dia nggak akan marah." Karena dia sudah punya tempat pelampiasan, juragan. Lanjut Naura dalam hatinya.


"Kenapa yakin Regina nggak akan marah?"


Naura menatap Wisnu. "Apakah setelah siang malam kita berdua bercinta seperti orang yang tak pernah puas, juragan masih punya hasrat untuk wanita yang lain?" Naura menjadi cemberut. Sebenarnya ia hanya pura-pura.


"Sayang, kau tahu bahwa hanya dirimu yang bisa membuat aku seperti ini."


"Kalau begitu berjanjilah kalau juragan hanya akan bercinta denganku. Aku tahu ini egois namun untuk saat ini, aku tak rela jika juragan harus bercinta dengan perempuan lain."


"Baiklah!"


Naura tersenyum. Ia mencium bibir Wisnu dengan lembut. "Aku akan ke kota untuk menemuimu."


Wisnu hanya mengangguk. Ia tahu kalau ini salah. Regina juga adalah istrinya namun dia memang tak bergairah lagi pada kedua istrinya itu semenjak dia menyentuh Naura untuk pertama kalinya.


Dalam perjalanan ke kota, Wisnu mendapatkan laporan penggunaan kartu kredit ketiga istrinya. Selama ini Wisnu tak pernah membacanya secara serius karena memang ia tak mau pusing mencari tahu bagaimana mereka menggunakan kartu kredit pemberiannya. Namun khusus untuk Naura, entah mengapa Wisnu ingin tahu bagaimana istrinya itu berbelanja.


Mata Wisnu akhirnya membaca laporan yang dikirimkan oleh bendahara perusahaan melalui tabletnya yang selalu dipegang oleh Gading.


Wisnu membaca secara cepat penggunaan kartu kredit Indira, dan kini giliran Regina. Ia terkejut melihat selama bulan ini, ada empat kali Regina masuk ke hotel berbintang lima.


Apakah Regina liburan dengan Lisa ke hotel?


Ketika mereka sampai ke rumah, Regina sedang memasak untuk makan siang. Wisnu memilih bermain dengan Lisa karena setelah makan siang, ia akan berangkat ke pabrik.


"Lisa dan ibu sering menginap di hotel ya?" tanya Wisnu saat keduanya ada di kamar Lisa dan Wisnu ikut bermain boneka.


"Nggak."


"Selama ini nggak pernah ke hotel?"


"Iya. Terakhir ke hotel kan bersama ayah waktu liburan ke Lombok. Tapi itu sudah lama."


"Apakah ibu sering keluar malam?"


Lisa yang masih bermain mengangguk. Ia menatap Wisnu. "Ayah, jangan bilang-bilang ke ibu ya kalau Lisa yang mengatakan ini pada ayah, kemarin malam Lisa sama ibu pergi ke toko. Kami bertemu dengan om dokter, sahabat ibu. Saat ibu meminta Lisa masuk ke mobil, Lisa mengintip ibu sedang pegangan tangan dengan om dokter. Lalu setelah itu ibu dan dokter berpelukan."


"Lisa nggak salah lihat?"


"Nggak. Pertama Lisa sudah ngantuk, tapi karena ibu lama masuk kembali ke mobil, Lisa akhirnya bangun dan melihat mereka."


Wisnu tak merasa cemburu mendengar cerita Lisa. Namun ia merasakan kesal karena Wisnu tak mau dibohongi. Ia akan menanyakan itu pada Regina setelah kembali dari pabrik.


*************


Bagaimana reaksi Regina saat Wisnu bertanya?


Bagaimana pula rencana Hartono yang akan menjebak Naura di acara lomba menari?

__ADS_1


dukung enak terus ya guys


__ADS_2