Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Turki In Love


__ADS_3

Hai teman-teman, baca lagi ya episode sebelumnya. Ada bagian yang terputus. Karena saat up jaringan eror. Terima kasih.


**********


Negara kedua yang mereka kunjungi adalah Turki. Sebenarnya Wisnu punya paman di sini. Kakek Wisnu memiliki seorang adik perempuan. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang Wisnu kenal sejak ia kecil. Sayangnya, setelah kematian sang kakek, Wisnu jarang datang ke Turki.


Mendengar kedatangan Wisnu, mereka pun mengundang Wisnu untuk boleh bersama dalam jamuan makan siang yang mereka adakan. Mereka memang agak kecewa karena Wisnu memilih untuk tetap tinggal di hotel dengan alasan bahwa mereka sedang bulan madu.


Osman, paman Wisnu, memeluk Wisnu dengan perasaan haru. Menurutnya, wajah Wisnu sangat mirip dengan sang kakek. Istri Osman adalah Delia. Anak-anak mereka Ahmed dan Jacob. Kedua pria tampan itu berusia 27 dan 29 tahun. Mereka masih jomblo.


"Keduanya sangat tampan ya?" bisik Jeslin pada Naura saat mereka berkenalan.


"Iya. Yang Ahmed agak mirip Wisnu." Sambut Naura sambil melirik kedua cowok itu secara bergantian.


"Kebetulan beberapa hari ini di perusahaan tak banyak pekerjaan. Aku bisa menjemput kalian di hotel dan kita jalan-jalan keliling Istanbul." kata Ahmed menawarkan. Ternyata Ahmed sangat fasih berbahasa Inggris.


"Ya. Aku dan Ahmed bisa mengantar kalian."


"Kami sudah....." Wisnu hendak mengatakan kalau mereka sudah menyewa guide yang akan membawa mereka keliling Turki, namun Naura dan Jeslin secara kompak menyela perkataan Wisnu.


"Tentu saja boleh."


"Pasti lebih menyangkan diantar jalan-jalan oleh orang yang memang tinggal di kota ini dan masih saudara." Naura melanjutkan.


Jeslin mengangguk.


Wisnu menelan rasa dongkolnya. Ia cemburu karena melihat Naura begitu bersemangat.


"Nanti kalau kalian ke Jakarta, giliran kami yang akan mengantar kalian keliling Indonesia." imbuh Jeslin membuat wajah Gading langsung menegang. Mata Jeslin nampak bersinar memandang Jakob.


Mereka pun makan siang dengan lahap.


Setelah itu Jakob mengantar mereka kembali ke hotel dan berjanji akan menjemput mereka besok jam 10 pagi.


"Sayang, kamu kenapa bersemangat sekali akan diantar oleh para sepupu Wisnu?" tanya Gading saat keduanya sudah berada di kamar.


Jeslin yang sementara membersihkan wajahnya, menoleh ke arah suaminya yang sedang duduk ranjang.


"Memangnya kenapa? Kan lebih asyik kalau diantar mereka. Usia mereka juga tak jauh dari kita. Sama-sama anak muda dan yang pasti mengertilah dengan kemauan kita."


"Apakah karena mereka tampan?"


"Mereka memang tampan."


"Oh begitu ya?" Wajah Gading terlihat cemberut.


Jeslin tersenyum. Ia mendekati Gading yang masih duduk sambil menunduk.


Dengan gaya manjanya, Jeslin langsung duduk di samping suaminya dan melingkarkan tangannya di bahu sang suami.

__ADS_1


"Mereka memang tampan, sayang. Kita nggak boleh berbohong. Namun setampan-tampannya mereka, nggak akan mampu menggetarkan hatiku. Karena aku hatiku hanya bergetar jika memandang mu." kata Jeslin lalu dengan lembut mencium suaminya.


"Benarkah?"


"Apakah kau masih meragukannya tuan Gading? Anda cemburu?"


Gading menyentuh wajah Jeslin. "Istriku, wajarlah kalau aku cemburu. Kamu adalah perempuan cantik dan menarik. Pasti banyak lelaki yang menginginkanmu."


"Biar saja mereka menginginkannya. Bahkan saat ini, jika Yuda berdiri dan merengek di depanku pun aku tak akan peduli lagi." Jeslin berdiri dan langsung mengambil tangan Gading. "Karena hatiku, tubuh dan jiwaku akan tetap menjadi milikmu."


Gading langsung menarik Jeslin agar duduk di pangkuannya. Keduanya pun langsung saling berciuman. Jeslin memeluk tubuh kekar suaminya dengan perasaan bahagia. Ia tahu kalau hatinya memang seutuhnya sudah menjadi milik Gading.


**********


Sepulang dari acara makan siang di rumah keluarga Wisnu, Naura memilih untuk tidur. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya yang sering merasa lelah akhir-akhir ini.


Saat Naura tidur, Wisnu sendiri duduk di sampingnya sambil memeriksa beberapa email yang dikirim oleh sekretarisnya. Setelah itu, ia pun ikut berbaring di samping Naura sambil memeluk tubuh istrinya itu.


"Mas.....!" panggil Naura membangunkan Wisnu.


Wisnu membuka matanya. "Ah, rupanya aku tertidur juga." Wisnu mencium dahi Naura lalu ia bangun. Naura pun ikut bangun. Ia ingin ke kamar mandi namun tubuhnya merasa lemah.


"Mengapa aku merasa pusing ya?" Naura duduk lagi.


"Ada apa, Ra? Kamu sakit?"


"Aku merasa pusing, mas." Naura langsung berbaring lagi.


"Mas, ini hanya efek kelelahan saja. Kita kan mengalami perubahan jam tidur. Jika tidur malam pun sudah larut karena selalu diajak bercinta terus." ujar Naura membuat Wisnu sedikit merasa bersalah. Ia tahu kalau dirinyalah yang membuat Naura kelelahan.


"Maafkan aku, ya?" Ujar Wisnu sambil mencium kedua tangan Naura secara bergantian.


"Kayaknya malam ini aku nggak ikut makan malam bersama. Aku di kamar saja."


"Kita akan di kamar saja." Wisnu memutuskan. "Kau mau makan sesuatu?" Wisnu membelai wajah Naura.


"Aku merasa ingin makan bakso. Pasti enak sekali."


"Di sini kayaknya nggak ada bakso, sayang."


"Aku juga ingat dengan pisang goreng buatan bi Aisa. Sepertinya aku homesick."


Wisnu terkekeh. "Kangen desa?"


"Iya. Kangen main bola dengan anak-anak. Kangen memetik daun teh dan kangen duduk di tepi danau."


"Kangen ke air terjun nggak?" tanya Wisnu membuat Naura menatap wajah suaminya itu sambil menahan senyum.


"Ke air terjun karena alamnya atau kenangannya?" tanya Naura sambil membelai tangan Wisnu.

__ADS_1


"Kalau aku lebih ke kenangannya. Kenangan gila-gilaan kita bercinta di sana. Namun sepertinya sekarang sudah nggak bisa lagi. Aku sudah meminta bagian pekerja proyek untuk membuat jalan masuk dari desa ke air terjun itu supaya bisa dinikmati oleh masyarakat luas."


"Baguslah."


"Nanti aku buatkan air terjun khusus di villa. Khusus untuk kita berdua jika ingin nostalgia."


Naura langsung tertawa. "Mas, bisa nggak sih otak kamu itu sedikit saja nggak mesum?"


"Kalau bersamamu kayaknya nggak bisa sayang. Karena kamu terlalu menggoda dan menggiurkan."


"Memangnya aku makanan sampai menggiurkan?"


Wisnu jadi tertawa juga. Ia menunduk dan mencium bibir Naura. "Saat ini saja aku sudah ingin menikmati mu."


"Boleh. Tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya?"


"Carikan aku bakso. Kepingin makan bakso saat ini juga. Please.....!" Mohon Naura membuat Wisnu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


*********


Ada senyum di wajah Naura saat ia akhirnya menginjakkan kakinya di Masjid Raya Sulaimaniah. Ini yang selalu Naura rindukan. Kisah cinta yang romantis antara Sang Sultan dan Istrinya Hurem sangat menginspirasi Naura.


Saat mereka mengelilingi masjid itu bahkan sampai di depan makam mereka, Naura tak pernah melepaskan tangan Wisnu. Ia menggenggamnya erat sambil sesekali menyandarkan kepalanya di lengan Wisnu.


"Mas, aku ingin ngomong sesuatu." Kata Naura sambil menghentikan langkahnya.


"Ngomong apa?"


Naura tersenyum. Ia melepaskan tangannya dan berdiri di depan Wisnu. Setelah menarik napasnya, Naura pun mulai berbicara. "Dulu, aku pernah bermimpi ingin datang ke mesjid ini dengan orang yang aku sayangi. Aku suka kisah dibalik berdirinya masjid ini. Ada kisah cinta yang tulus di dalamnya. Sewaktu pertama kakek mengatakan kalau kita akan menikah, aku merasa bahwa duniaku runtuh. Aku merasa bahwa masa depanku buram. Makanya aku menunjukan sifat asliku yang pemberontak dan sedikit bar-bar kepadamu. Dan saat kita bercinta pertama kali, aku pikir itu hanyalah sekedar kepuasaan fisik sementara." Naura meraih kedua tangan Wisnu. "Kini, aku merasa bahwa duniaku hidup bersamamu, masa depanku memang sudah ditakdirkan Allah untuk bersamamu. Jadilah imamku. Aku akan mengabdi kepadamu sebagai istri yang setia. Mungkin sifat ku kadang agak bandel. Namun tak akan mengubah arti dirimu bagiku. Aku mencintaimu Wisnu Furkan. I love you, wo ai ni, ich liebe dich, te amo."


Wisnu merasakan kalau dadanya sesak dengan rasa bahagia yang tiba-tiba saja datang. Wisnu bahkan untuk beberapa detik hanya bisa melongo sambil menatap Naura dengan tatapan tak percaya.


"Mas Wisnu.....!" Naura menggoyangkan tangan Wisnu yang masih ada di genggamannya.


Wisnu tiba-tiba memeluk Naura dengan sangat erat. Ia bahkan tak bisa menahan air matanya.


"Aku cinta kamu juga, Ra. Te amo, wo ai ni." kata Wisnu sambil mencium semua bagian wajah Naura. Mulai dari dahi, pipi, hidung dan bibir.


Gading dan Jeslin yang melihat adegan itu jadi ikut bahagia. "Akhirnya si tomboy mengakui juga kalau dia menyayangi juragan." kata Jeslin.


"Tuan pasti sangat senang."


Jeslin menatap pasangan yang masih berciuman itu sampai ia sadar akan sesuatu.


"Woi....sadar tuan....nyonya, ini di mana?" teriak Jeslin membuat Naura dan Wisnu hanya menatap Jeslin sekilas lalu sambil bergandengan tangan mereka keluar dari masjid.


*********

__ADS_1


Mumpung masih ada signal, emak up ya?


Jangan lupa dukung emak teris


__ADS_2