Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Extra Part II


__ADS_3

"Erdana.....! Erdana....!" teriak histeris anak-anak berseragam putih abu-abu saat bintang basket sekolah mereka memasukan lagi bola ke dalam ring.


Di deretan bangku penonton yang lain, ada Naura yang juga datang untuk mendukung anaknya. Ini adalah pertandingan bola basket antar SMA se-Indonesia. Sekolah Erdana masuk final.


"Mas, aku butuh air!" ujar Naura membuat Wisnu dengan cepat memberikan botol air mineral itu. Naura meminumnya hampir habis. Ia kembali berdiri. Meneriaki nama anaknya. Sampai akhirnya peluit panjang berbunyi sebagai tanda pertandingan sudah usai.


"Mas, sekolah Erdana menang. Lihat Erdana di peluk oleh semua teman-temannya." kata Naura dengan sangat bangga. Wisnu pun tak dapat menahan rasa harunya.


Hampir satu jam Naura dan Wisnu menunggu di luar stadion sampai akhirnya anak kembar mereka keluar. Erdana dan Elmira melangkah bersama. Di belakang mereka ada teman-teman mereka.


"Ibu....!" Erdana langsung memeluk Naura dengan perasaan yang bahagia.


"Ibu bangga dengan Abang. Sangat hebat di lapangan!" Naura mengusap bahu anaknya. Ia tak bisa lagi mengusap kepala Erdana karena putranya itu sudah lebih tinggi darinya.


Erdana kemudian memeluk ayahnya. Ia merasa bangga karena sesibuk apapun ayahnya, selalu punya waktu untuk datang mendukungnya bermain basket.


"Hallo Mentari!" Naura menyapa Mentari.


"Tante...!" Mentari menjabat tangan Naura lalu mencium punggung tangan Naura.


"Er, ini nyokap loe?" tanya Dandi, salah satu teman Erdana.


"Iya. Kenapa?" tanya Erdana.


"Astaga, gue pikir ini adalah kakak loe. Nyokap loe cantik banget. Masih muda juga."


Yang lain pada tertawa namun tidak dengan Wisnu. Ia memandang Dandi dengan sedikit tajam.


"Hati-hati. Bokap gue sangat posesif sama nyokap." bisik Erdana membuat Dandi langsung menelan salivanya saat melihat tatapan tajam Wisnu.


"Anak-anak, tante sudah memesan tempat di McDonald's. Kita akan pergi makan di sana sambil merayakan kemenangan kalian."


"Hore....!" teriak mereka dengan wajah gembira.


1 jam kemudian...


"Sayang, kau selalu tahu apa yang menjadi selera anak-anak. Lihatlah mereka begitu bergembira." ujar Wisnu.


"Aku hanya mencoba menjadi teman bagi mereka, mas. Mereka sudah kelas 3. Sebentar lagi mereka akan lulus. Kita pasti akan jarang ketemu dengan mereka."


"Abang sepertinya banyak disukai oleh para gadis." kata Wisnu sambil melihat bagaimana anaknya tak henti diajak berfoto oleh para gadis.


"Dan Mentari terlihat sedikit cemburu."


"Abang dan Mentari statusnya gimana?"


Naura tersenyum. "Mereka temenan, mas."


"Mentari sepetinya suka dengan dengan Abang."


"Aku sudah pernah bertanya pada Erdana. Katanya Mentari memang cantik, pintar, menarik. Namun anak kita tak mau melukai Prayuda. Soalnya sejak SMP, Prayuda sudah suka dengan Mentari."


Wisnu hanya menggelengkan kepalanya. "Masa mereka sekarang untuk bercinta."


Naura melingkarkan tangannya di lengan Wisnu. "Kita juga masih terus merasakan cinta, mas."


"Tentu saja, sayang. Kalau nggak ada anak-anak di sini, aku pasti sudah mencium mu."

__ADS_1


"Ih...mas Wisnu!"


"Dan kau masih terus tersipu setiap kali aku menggoda mu."


Dari jauh Erdana melihat kedua orang tuanya. Ada rasa bangga dalam hatinya karena kedua orang tuanya begitu saling menyayangi. Erdana bahkan tak pernah melihat mereka bertengkar.


Perlahan mata Erdana melihat ke arah Mentari. Erdana tahu kalau gadis itu menyukainya. Erdana juga sebenarnya menyukai Mentari. Hanya saja ia tak mau menyakiti Prayuda. Erdana merasa bingung untuk menentukan sikapnya


*********


Wisnu tak lagi menjadi kepala desa Hijau Permai. Ia sudah 3 periode menjabat sebagai kepala desa sehingga harus diganti. Kepala desa yang menggantikan Wisnu adalah orang yang baik pula. Penduduk desa pun menyukainya.


Naura memang saat ini memilih tinggal di kota karena anak-anak mereka bersekolah di sana. Namun setiap Weekend atau jika ada liburan sekolah, mereka selalu menghabiskan waktu di desa.


Usaha Wisnu pun semakin berkembang baik di desa maupun di kota. Gading tetap menjadi tangan kanannya yang dengan setia selalu mendampingi Wisnu.


Malam ini, Naura menuju ke kamar Erdana. Elmira masih syuting ditemani Oma Kumala sedangkan putra bungsunya, Daffa, sudah tertidur setelah Naura menemaninya membuat PR.


"Abang, boleh ibu masuk?" tanya Naura sambil mengetuk pintu kamar anaknya.


Pintu kamar dibuka dari dalam. Erdana langsung tersenyum melihat ibunya.


"Masuk, Bu."


Naura melangkah masuk dan memperhatikan seisi kamar anaknya. Kamar itu sangat rapih dan bersih. Erdana memang suka dengan kebersihan. Sangat berbeda dengan Elmira yang kamarnya selalu berantakan.


"Lagi buat apa?" tanya Naura melihat Erdana yang sudah duduk di depan meja belajarnya.


"Melihat-lihat universitas yang ada di luar negeri, bu."


"Abang serius mau kuliah di luar negeri? Nggak tertarik sekolah di Jakarta saja?"


Naura duduk di hadapan anaknya. "Kamu belum pergi, ibu sudah merasa kesepian."


Erdana tersenyum. Ia melangkah mendekati ibunya dan berdiri di belakang Naura. Tangannya langsung memegang pundak ibunya dan mulai memijat perlahan.


"Jangan gitu dong, bu. Nanti aku jadi nggak semangat belajarnya. Lagi pula masih 4 bulan lagi kok sebelum aku lulus."


Naura berusaha menahan air matanya yang hampir keluar. Erdana memang paling dekat dengannya. "Kamu akan meninggalkan Mentari, dong."


Tangan Erdana yang sedang memijat bahu ibunya terhenti. "Mentari memang nggak diijinkan tante Jeslin untuk kuliah di luar negeri."


"Sayang lho kalau gadis secantik dia menjadi milik cowok lain."


"Bu, kan aku sudah bilang alasannya apa."


Naura membalikan badannya dan menatap putranya. "Selama ini Abang selalu dekat dengan gadis lain tanpa abang sadari bahwa sebenarnya Mentari merasa tersakiti. Kalau memang abang menyukainya, kenapa nggak pacaran saja?"


"Ibu mengijinkan aku pacaran?"


"Elmira saja sudah punya pacar. Yang penting gaya pacarannya harus sehat. Nggak boleh kelewat batas."


"Ayah dan ibu dulu pacarannya berapa lama sampai akhirnya menikah?"


Naura tertawa. "Kami nggak pacaran. Langsung menikah saja. Kakek Zumi yang menjodohkan kami."


"Tapi ayah dan ibu terlihat saling mencintai."

__ADS_1


Naura memegang tangan putranya."Itu terjadi setelah kami melalui banyak persoalan. Saat ini, ibu hanya ingin agar abang tak mempermainkan perasaan Mentari. Jika suka dia, tunjukan. Jika tidak, jangan mengantungkan perasaanya."


"Baik, bu."


"Jangan tidur larut ya?"


Naura pun meninggalkan kamar putranya. Ia segera menuju ke kamar utama yang ada di lantai satu. Saat ia masuk, nampak Wisnu sudah selesai dengan pekerjaannya. Tadi saat Naura meninggalkan kamar, Wisnu masih membaca beberapa dokumen. Sekaran ini sang suami sudah duduk santai di atas ranjang sambil menonton TV.


Naura pun segera ke kamar mandi, menyelesaikan ritual mencuci muka dan gosok gigi. Setelah itu ia mengganti bajunya dengan gaun tidur berwarna hitam.


"Kau mau menggodaku dengan gaun itu?" tanya Wisnu sambil mematikan TV.


"Ih, mas..., semua gaun tidurku kan memang seperti ini. Atau mas mau aku tidur pakai daster dengan lengan panjang?"


Wisnu menarik tangan istrinya sehingga Naura kini duduk di pangkuannya. "Aku lebih suka melihat mu tanpa menggunakan apapun."


"Mas....!" Naura memukul dada suaminya.


"Kenapa harus malu, sih? Bukankah sudah 19 tahun aku selalu melihatmu tanpa ....."


Naura langsung menutup mulut suaminya dengan tangannya. Ia akan turun dari pangkuan suaminya namun Wisnu dengan cepat membalikan posisi mereka sehingga Naura kini berada di bawahnya.


"Kangen...." ujar Wisnu yang memang tadi pagi baru pulang dari Bandung setelah 4 hari mengurus proyek mereka di sana.


"Aku juga kangen, mas."


Wisnu menunduk dan menyentuh hidung Naura dengan hidungnya. "Mau menggunakan gaya apa?"


"Mas.....!"


Wisnu terkekeh. Ia mengecup bibir Naura sekilas. "Kau selalu membuatku tak bisa jauh darimu, sayang. Kita buat baby lagi, yuk!"


"Mas, usiaku sudah 39."


"Kenapa memangnya ? Kau masih terlihat cantik, seksi dan Muda."


Naura tertawa. "Tapi mas sudah 49."


"Kau meragukan kemampuanku?"


Naura tertawa saat Wisnu mengigit telinganya. "Ayo kita buktikan!" bisik Wisnu lalu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.


Duh..... mulai lagi, deh.


***********


Erdana menghentikan mobilnya saat melihat sekumpulan anak-anak berseragam putih biru sedang terlibat pertengkaran.


"Lho itukan Chakira?" guman Erdana laku segera turun dari mobil. Sepertinya Chakira sedang dikeroyok oleh 6 orang gadis.


"Hei, ada apa ini?" teriak Erdana sambil menarik Chakira dari kerumunan 6 gadis itu.


"Hei, kamu siapa?" tanya salah satu diantara mereka.


"Ini pacarku." ujar Chakira lalu melingkarkan tangannya di pinggang Erdana.


**********

__ADS_1


Nah teman-teman, kisah anak para juragan akan aku publish bulan Desember. Dukung emak terus ya guys.....


__ADS_2