
Kita Athena, di sinilah Naura berada. Ia dulu pernah berencana untuk datang ke salah satu kota tertua di dunia ini.
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat di kota ini saat hari masih subuh. Jam 3 waktu Athena.
Sekarang lagi musim semi di Yunani. Jadi udara sejuk. Mereka pun langsung menuju ke salah satu hotel yang ada di kota itu. Perjalanan panjang membuat Naura kelelahan dan kembali tertidur saat mereka tiba di hotel.
Saat ia terbangun, Naura merasakan bahwa ia sangat lapar. Segera bangun dan melihat Wisnu sedang berdiri di balkon sambil menelepon. Naura mendekat secara diam-diam dan langsung memeluk suaminya itu dari belakang. Wisnu terkejut. Ia membalikan tubuhnya dan mengahiri percakapan teleponnya.
"Selamat pagi, sayang." Kata Wisnu lalu memberikan satu kecupan manis di dahi istrinya.
"Apakah aku menganggu mu yang sedang menelepon?" tanya Naura sambil menatap suaminya.
"Tidak. Perbincangan kami hampir selesai. Panggilan itu dari arsitek yang sedang mengerjakan taman bermain untuk anak-anak. Katanya pekerjaannya tinggal 5%. Jadi saat kita pulang bulan madu, itu sudah selesai."
"Benarkah?" Naura jadi senang mendengarnya. "Aku jadi kangen dengan suasana desa. Sudah 3 bulan aku tak pulang."
Wisnu membelai wajah istrinya. "Kita akan ke desa jika urusan bulan madu ini selesai." kata Wisnu lalu menunduk dan mencium bibir istrinya yang selalu menjadi candu untuknya.
Saat menerima ciuman Wisnu, Naura merasakan kalau tubuhnya bereaksi dengan cepat. Ia melepaskan ciuman itu dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Wisnu.
"Aku mau mandi. Mas sudah mandi kan?"
"Sudah. Tapi kalau kamu mau kita mandi bersama, aku nggak keberatan." ujar Wisnu dengan tatapan menggoda.
"Genit!" Naura mendorong tubuh Wisnu dan segera ke kamar mandi. Ia merasa ada yang tak beres dengan dirinya. Selama di pesawat, saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Wisnu, ia merasakan kalau ada percikan gairah dalam dirinya.
Mengapa aku jadi seperti ini ya? Apakah karena aku sudah memiliki rasa untuknya? Guman Naura dalam hati sementara ia mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, keduanya segera turun ke restoran yang ada di lantai satu untuk menikmati sarapan. Jeslin dan Gading sudah lebih dulu menikmati sarapan mereka.
2 pasangan yang sedang berbahagia. Wisnu yang terlihat semakin posesif pada Naura sehingga tak pernah melepaskan pandangan matanya pada sang istri, dan Gading dan Jeslin yang tak pernah melepaskan genggaman tangan mereka. Wisnu bahkan merasa asistennya itu sengaja pamer di hadapannya.
"Setelah keliling kota Athena, kita akan kemana?" tanya Jeslin sambil bergelut manja di lengan Gading.
"Kita ke pusat perbelanjaan. Ada sesuatu yang ingin ku beli." ujar Naura. Ia melirik ke arah Wisnu. "Boleh kan mas?"
"Apapun untukmu, sayang." ujar Wisnu sambil mencium tangan Naura yang digenggamnya.
Mereka menikmati indahnya kota tua Athena. Wisnu bahagia melihat Naura yang nampak senang setiap kali ia mendapatkan sovenir lucu. Segala sesuatu yang ia beli pasti ada hubungannya dengan Lisa.
Untung saja mereka menyewa jasah guide yang dapat membawa mereka ke mana saja yang mereka mau.
"Lisa suka Sofia. Nih ada boneka Sofia. Lisa suka coklat dengan rasa strawberry."
Wisnu merasa terharu karena Naura begitu menyayangi Lisa.
Akhirnya mereka mampir di sebuah pasar tua yang menjual barang-barang klasik. Pasar itu cukup padat dengan wisatawan. Naura yang sedang asyik melihat barang-barang yang di gantung di atas tanpa sengaja menyenggol seorang wanita tua.
"I am sorry." Naura memegang wanita tua itu yang hampir saja jatuh.
"Ómorfi gynaíka, tha káneis moró." kata Wanita itu sambil memegang perut Naura.
Naura mengerutkan dahinya. Ia menatap guide yang bernama Thomas itu. Thomas adalah seorang pemuda berusia sekitar 30 an. Awalnya Wisnu dan Gading kurang setuju dengan menyewa Thomas. Namun karena Jeslin dan Naura bersikeras, makanya mereka pun setuju.
Thomas tersenyum. Ia.mengerti apa arti tatapan Naura. "It means, beautiful woman, you will have a baby."
Naura terbelalak. "Really?"
Wanita tua itu mengusap perut Naura. Ia seperti menerawang. "Tha échete éna zevgári ómorfa kai ómorfa paidiá."
__ADS_1
Naura kembali menatap Thomas.
"You will have a pair of handsome and beautiful children." Thomas kembali menerjemahkan apa yang wanita itu katakan.
Naura merasakan dadanya sesak dengan rasa gembira. Namun ia tak mau melambung tinggi. Ia tahu, tak baik mempercayai sesuatu berdasarkan ramalan. Benarkah aku akan mendapatkan sepasang anak yang tampan dan cantik?
Wanita itu kini menatap Wisnu yang nampak juga bahagia. Ia mengangkat jempolnya dan langsung pergi.
Jeslin pun jadi penasaran. "Na, loe percaya dengan apa yang wanita tua itu katakan?"
"Nggak tahu juga. Lanjut yuk!" ajak Naura lalu menggandeng tangan Wisnu dan kembali melangkah.
**********
Puas jalan-jalan hari ini ini, mereka pun pulang ke hotel. Naura pun menyimpan semua yang sudah dibelinya ke dalam koper.
"Sayang, mau makan malam di luar?" tanya Wisnu saat Naura baru saja selesai mandi.
"Nggak, mas. Aku rasanya capek banget. Di kamar saja dan pesan makanan dari restoran." Naura duduk di depan meja rias. Ia mengoleskan sedikit cream di wajahnya kemudian menyisir rambutnya yang nampak basah.
Wisnu mengambil daftar menu dari atas nakas. "Kau mau makan apa, sayang?"
"Apa saja."
"Mau stik sapi?"
"Boleh juga. Ada nasi nggak?"
"Ada sayang." Setelah Wisnu menelepon layanan kamar, ia pun berdiri di belakang Naura yang masih duduk di depan meja rias. Tangannya memegang kedua sisi bahu istrinya.
"Ada apa?" tanya Naura sambil menatap pantulan wajah suaminya dari cermin.
"Mengenai aku akan memiliki sepasang anak?"
Wisnu mengangguk. "Ra, kamu tidak sedang menggunakan kontrasepsi kan?"
Naura menggeleng.
Wisnu tersenyum lega. Ia sedikit menunduk dan meletakan dagunya di atas kepala Naura. Keduanya saling bertatapan lewat cermin yang ada di depan. "Aku sudah ingin memiliki anak."
"Kan sudah ada Lisa."
"Maksudku, anak yang lahir dari rahimmu. Aku akan tetap menyayangi Lisa. Namun saat Lisa dewasa, aku juga ingin dia tahu kalau papa kandungnya adalah kakakku. Lisa harus tahu kalau ayahnya juga seorang pria yang baik dan luar biasa."
Naura memegang tangan Wisnu yang masih ada di bahunya. "Mas Wisnu, apakah benar setelah ini, tidak akan ada lagi wanita lain dalam hidup kita?"
Wisnu mengangkat tubuh Naura. Perempuan itu berdiri dan keduanya kini saling berpandangan. "Tatap mata aku, sayang. Hanya ada kamu di hatiku. Aku tak punya keraguan apapun tentang perasaanku padamu. Tak akan ada pernah wanita lain. Hanya kamu sampai akhir hidupku."
"Aku percaya, mas." Naura memegang pipi Wisnu. "Soalnya mas Wisnu tampan. Aku takut ada wanita lain yang datang dan menggoda, mas."
"Aku suka kamu yang posesif."
Naura tertawa. Hatinya bahagia. "Te quiero" kata Naura sangat pelan. Itu adalah bahasa Spanyol yang berarti aku cinta kamu.
"Kamu bilang apa?" tanya Wisnu sambil mengerutkan dahinya.
"Aku lapar. Makanannya lama ya...." Naura melepaskan diri dari pelukan Wisnu. Ia melangkah namun Wisnu menahan tangannya.
"Ulangi lagi apa yang kamu bilang tadi, Ra."
"Aku lapar, mas."
__ADS_1
"Perkataan tadi bukan berarti lapar. Ayo dong sayang, kamu bilang apa?"
Naura melepaskan tangannya dari genggaman Wisnu. Ia mundur beberapa langkah namun ternyata ia sudah ada di pinggir tempat tidur. Wisnu dengan cepat mendorong Naura dan menempatkan posisinya di atas istrinya itu. Ia sebenarnya mendengar apa yang Naura sebutkan tadi walaupun agak samar. Ia ingin Naura mengucapkannya lebih keras lagi.
"Katakan! Kalau tidak aku akan menghukum mu." Kata Wisnu sedikit mengancam.
"Aku memilih di hukum."
"Benarkah?"
Naura tertawa saat Wisnu mulai mencium lehernya.
*********
Gading dan Jeslin baru saja selesai menikmati makan malam di sebuah restoran yang ada di dekat hotel. Restoran dengan tatanan ruangan yang sangat romantis. Apalagi dengan dentingan suara piano.
"Naura dan juragan kenapa nggak ikut makan malam ya?" tanya Jeslin.
"Naura katanya kelelahan."
"Aku pikir apa yang dikatakan oleh wanita tua tadi benar. Naura sedang hamil."
"Nggak tahu juga sayang. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua dan juga untuk kita." Gading membelai pipi Jeslin membuat istrinya itu tersenyum. "I love you."
"Hari ini sudah 14 kali kau mengucapkan kata itu, mas." ujar Jeslin dengan pipi yang sedikit memerah.
"Kau menghitungnya? Aku akan mengucapkannya lagi dan lagi. Nggak akan pernah bosan."
"Aku juga mencintaimu, mas."
"Mau dansa?"
"Memangnya mas Gading bisa dansa?"
"Sedikit."
"Ok." Jeslin menyambut uluran tangan suaminya. Keduanya segera menuju ke lantai dansa. Ada beberapa pasangan juga yang sedang berdansa di sana.
Gading, walaupun awalnya agak kaku namun ia akhirnya bisa mengimbangi gerakan Jeslin yang memang sudah sangat mahir berdansa.
Saat mereka sudah selesai berdansa seorang pria menggunakan jas berdiri di dekat sang pemain piano. Dengan menggunakan bahasa Inggris, pria itu pun berbicara.
"Malam ini, saya akan menyanyikan lagu lawas my endless love. Lagu ini khusus di pesan oleh tuan Gading Lagu ini khusus di pesan oleh tuan Gading dari Indonesia untuk istrinya tercinta nyonya Jeslin. Mereka baru saja menikah dan sedang berbulan madu di sini. Tepuk tangan untuk Tuan Gading dan nyonya Jeslin."
Jeslin terkejut. Ia menatap Gading. Tak menyangka akan ada kejutan semanis ini. Apalagi semua pasang mata yang ada di restoran itu memberikan tepuk tangan dan meminta mereka untuk berdansa kembali. Tanpa sadar air mata Jeslin mengalir.
"Kenapa menangis sayang?" tanya Gading sambil menghapus air mata istrinya dengan punggung tangannya.
"Aku merasa sangat tersanjung, mas. I love you more...more....and more..."
Keduanya berciuman. Sangat mesra. Membuat yang ada di dalam restoran itu ikut merasakan kebahagiaan pengantin baru itu.
***********
Duh, romantis nya Gading....
Episode selanjutnya adalah pernyataan cinta Naura untuk Wisnu. Di mana itu?
Turki in Love
dukung emak terus ya guys
__ADS_1