
Naura terbangun dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia tiba-tiba saja merasa panas pada hal udara di desa ini terbilang dingin kalau malam. Tanpa menghidupkan pendingin ruangan pun Naura bahkan harus memakai selimut jika tidur. Apalagi kamar di villa ini terbilang sangat dingin jika turun hujan.
Perlahan Naura melepaskan tangan Wisnu yang memeluknya. Ia turun dari tempat tidur lalu segera keluar kamar. Tenggorokannya terasa kering dan ia merasa sangat kehausan.
Ia membuka kulkas dan mengeluarkan botol berisi air dingin. Dituangnya ke dalam gelas dan langsung dihabiskannya. Ia melakukannya sekali lagi dan menghabiskannya.
"Ra, ada apa?" tanya Wisnu yang ternyata ikut terbangun dan segera mencari Naura keluar.
"Badanku rasanya panas, juragan. Jadi kepingin mandi. Nggak tahu kenapa."
Wisnu langsung mendekat dan memegang gaun tidur Naura. "Bajumu basah. Ayo di ganti nanti masuk angin." Kata Wisnu.
Naura mengangguk dan segera masuk kembali ke kamar. Ia membuka lemari pakaian dan mengambil gaun tidur yang lain. Ia kemudian ke kamar mandi. Maksudnya untuk membasahi wajahnya saja dengan air, namun akhirnya Naura tergoda untuk mandi saat ia merasa gerah dan kepanasan.
"Ra, kenapa mandi? Ini sudah jam 1 tengah malam." Wisnu mengetuk pintu saat mendengar bunyi shower.
"Hanya sebentar." Kata Naura lalu segera mematikan shower, mengeringkan badannya dan mengenakan gaun tidur yang tadi di bawahnya. Kali ini ia mengenakan gaun tidur yang pendek dan sedikit transparan.
"Aku buatkan air teh hangat ya? Nanti kamu sakit." Ujar Wisnu dengan wajah khawatir.
"Nggak perlu, juragan. Aku hanya ingin mandi saja. Ini badanku sudah terasa segar. Aku mau tidur lagi." Naura segera naik ke atas tempat tidur. Wisnu juga ikut naik ke atas tempat tidur setelah mematikan lampu. Saat ia memeluk Naura kembali, istrinya itu merasa kalau tubuh Wisnu sangat panas.
"Juragan, kamu sakit?"
"Nggak. Memangnya kenapa?"
"Mengapa aku merasa kalau badanmu sangat panas? Maaf, jika aku harus memintamu agar tak memelukku. Kamu nggak marah kan?"
Wisnu menggeleng. "Tidurlah!" Ia kemudian membalikan tubuhnya membelakangi Naura lalu memeluk guling nya sendiri.
Naura mencoba memejamkan matanya, namun ia sangat sulit untuk kembali tidur. Ia kembali merasakan kalau tubuhnya menjadi semakin panas. Wisnu terlihat sudah tidur dengan nyenyak nya.
Kembali Naura turun dari tempat tidur. Ia mencoba membaringkan tubuhnya di atas sofa dan ia merasa kalau rasa panas ditubuhnya perlahan menghilang. Ia pun segera memejamkan matanya dan akhirnya bisa terlelap.
***********
Keesokan harinya, Naura mulai merasakan ada yang tidak beres pada dirinya. Setiap kali ia berdekatan dengan Wisnu, ia merasa kalau tubuhnya menjadi panas. Naura pun menceritakan pada Kumala saat ibunya datang menengok dia siang ini.
"Nak, apakah mungkin kamu diguna-gunai? Jangan-jangan para musuh mu bermain dengan cara kotor." Kata Kumala.
"Apa ada ilmu seperti itu?" Tanya Naura tak percaya.
"Namanya juga menghalalkan secara cara. Orang dapat melakukan apa saja. Ayo ikut ibu, nak. Kita ke rumah ustadz." Ajak Kumala sambil memegang tangan putrinya.
"Ngapain ke rumah ustadz?"'
"Kita minta didoakan. Hanya kuasa Allah yang dapat mengalahkan semuanya. Jangan nanti bertambah parah baru kita berobat."
Naura menurut saja. Mereka pun pergi ke rumah pak ustad yang terkenal juga sangat pintar memberikan pengobatan herbal itu. Keluarga pak ustadz memang terkenal sebagai keluarga yang suka menolong orang melalui obat-obat herbal yang mereka buat.
Saat Kumala mengatakan maksud tujuan mereka, ustadz Mansur langsung membacakan doa-doa pengusir setan. Naura merasakan kalau aliran darahnya sangat panas. Ia menjadi gelisah.
"Ibu, aku nggak tahan." Naura ingin berdiri namun Kumala menahan tangan anaknya.
"Harus dilawan, nak." ujar Kumala.
__ADS_1
Naura pun mencoba berkosentrasi. Ia memejamkan matanya. Tangan pak ustadz ada di atas kepala Naura. Tak lama kemudian Naura merasa kalau suhu tubuhnya kembali normal dan ia merasa sehat.
"Mereka memberikan mantra agar nyonya Naura menjauhi juragan. Lama-lama jika dibiarkan maka juragan dan nyonya akan saling membenci. Jika rasa panas itu kembali datang, bacakan saja doa-doa pengusir jin. Belajar untuk memaafkan dan mengampuni. Hati yang tulus dan tak menyimpan dendam akan mematahkan mantra jahat itu. Jika nyonya berdekatan dengan juragan dan rasa panas itu kembali datang, jangan saling menjauhi. Usahakan tetap dekat bahkan tetap melayani semua kebutuhan suami. insya Allah semuanya akan menjadi baik seperti semula."
Naura mengangguk. Ia tahu kalau hatinya memang selama ini menyimpan dendam. Namun ia akan belajar untuk mengampuni. Walaupun itu tak akan membuat Naura mengijinkan Wisnu kembali lagi bersama kedua istrinya.
**********
"Katanya kamu dan ibu ke rumah pak ustadz ya?" tanya Wisnu saat keduanya sudah selesai makan malam dan sudah berada di dalam kamar.
"Iya. Aku hanya silaturahmi saja dengan pak ustadz. Sudah menjadi penduduk sini namun belum pernah menemui beliau." Naura memilih tak mengatakan yang sebenarnya. Ia juga meminta ibu Kumala untuk merahasiakannya semuanya.
"Baguslah. Beliau dan keluarganya adalah orang-orang yang sangat dihormati baik di kampung ini maupun di kampung-kampung yang ada di kecamatan ini."
Naura hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia pun naik ke atas tempat tidur. Wisnu menyusulnya.
Hari ini Wisnu sudah kembali bekerja karena ia merasa sehat dan kuat.
Saat Wisnu memeluk Naura dari belakang, Naura dapat merasakan kalau rasa panas itu kembali datang. Ia memejamkan matanya, melafalkan doa dalam hatinya.
Naura dapat merasakan kalau Wisnu menginginkan dirinya. Ciuman lembut Wisnu di punggungnya, dan sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana merupakan bukti.
Ada keinginan untuk lepas dari pelukan Wisnu, namun Naura ingat pesan pak Ustadz kalau ia tak boleh menjauh. Saat sudah selesai melafalkan doa-doa dalam hatinya, Naura pun membalikan tubuhnya. Ini adalah malam Sunnah dan Naura ingin melayani suaminya dengan hati yang ikhlas. Ia kini berhadapan dengan Wisnu. Sangat jelas terlihat mata Wisnu menggelap dengan kabut gairah yang sudah menguasai dirinya. Dan tanpa Wisnu duga, Naura tiba-tiba saja memegang pipi Wisnu dan mencium suaminya itu dengan penuh gairah. Sekalipun ada rasa panas yang mulai menguasai tubuhnya, Naura mencoba menghilangkannya dengan fokus pada ciuman panas mereka.
Wisnu senang karena Naura sangat aktif malam ini. Jari-jari lentik Naura bahkan membuka kaos Wisnu begitu juga dengan cepat menurunkan celana panjang berbahan kain yang Wisnu kenakan.
Akhirnya setelah 5 hari tanpa ada sentuhan fisik, sepasang suami istri itu malam ini kembali menyatu dalam balutan gairah yang sudah tak tertahankan lagi. Wisnu begitu dimanjakan dengan sentuhan-sentuhan Naura pada tubuhnya.
Keduanya mendesah bersama, ketika setiap gerakan yang ada menimbulkan rasa nikmat. Wisnu tak merasa Naura yang begitu agresif seperti malam ini. Ia mencapai puncaknya dengan rasa kepuasaan yang tak bisa terkatakan lagi.
Dalam hati, Naura merasakan bahwa hanya dengan Wisnu ia akan bisa seperti ini. Dia tak mungkin menikmati nya dengan lelaki lain. Bahkan mungkin dengan Satria yang ia cintai.
"Ada apa?" Tanya Wisnu sambil menjauhkan tubuhnya sedikit. Tapi ia tetap memeluk istrinya itu.
Naura tersenyum. Ia tak dapat memungkiri hatinya bahagia malam ini. Ia bahkan sudah melupakan rasa panas yang tadi membuatnya ingin menjauh dari Wisnu. Benar kata pak ustadz, ia tak boleh menjauh dari suaminya.
"Sayang......!" Wisnu menyentuh pipi Naura karena istrinya itu tak juga menjawab. "Apa yang kau pikirkan?"
Naura naik ke atas Wisnu membuat suaminya itu terperanjat namun tak menolak.
"Aku mau lagi, sayang." Bisik Naura lalu menunduk dan mencium Wisnu dengan penuh gairah. Tentu saja Wisnu menyambut ciuman itu dengan sangat antusias. Siapa yang mau menolak kesenangan ini?
*********
Wina dan Saima yang pagi ini mengatur meja makan saling menatap ketika jam sudah menunjukan pukul 9 pagi dan pasangan suami istri itu belum juga keluar kamar.
"Apa mungkin juragan masih sakit?" tanya Wina.
"Juragan kemarin sudah ke ladang dan dia terlihat sehat."
"Apa mungkin nyonya yang sakit?"
Saima menatap Wina dnegan dahi berkerut. "Semalam saat makan malam nyonya terlihat biasa-biasa, saja." Saima berpikir sebentar lalu ia tersenyum. "Mungkin tuan dan nyonya semalam sedang menikmati malam Sunnah. Semoga akan ada benih yang tumbuh malam tadi."
Wina nampak tak senang. Ia permisi sebentar ke kamar mandi pada hal ia akan mengabarkan situasi yang terjadi di rumah ini.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Wisnu dan Naura keluar kamar dengan rambut yang sama-sama basah. Ada senyum kebahagiaan di wajah mereka. Jati keduanya bahkan saling bertautan saat mereka berjalan bersisian.
Saat duduk di meja makan pun mereka sepertinya enggak berpisah. Biasanya Naura dan Wisnu akan duduk saling berhadapan. Namun kali ini mereka duduk saling bersebelahan.
Naura mengambilkan makanan untuk Wisnu dan juragan muda itu menikmati sarapannya dengan wajah yang gembira.
"Tuh kan, apa bibi bilang. Mereka terlihat bahagia. Pasti semalam mereka sedang bahagia." Kata Saima membuat Wina semakin kesal. Namun agar Saima tak curiga, Wina pura-pura tersenyum.
"Aku mau ke kota hari ini. Ada keperluan penting di pabrik. Kau mau ikut?" tanya Wisnu saat mereka selesai sarapan dan Naura mengantar Wisnu sampai di depan pintu masuk.
"Aku ada janji dengan ibu. Mau melihat tempat yang sementara di bangun untuk tempat bermain anak-anak. Nanti Senin saja aku ke kota sambil persiapan untuk ujian."
"Baiklah. Sore aku sudah kembali ke sini. Jangan jauh-jauh dari para bodyguard ya?" Ujar Wisnu.
"Beres juragan!"
"Berhentilah memanggil aku seperti itu." Wisnu jadi gemas.
Naura tertawa. Ia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Berjinjit sedikit lalu mengecup bibir Wisnu. "Jangan terlalu capek ya?"
"Aku nggak akan capek untuk kegiatan kita nanti malam."
"Ih.. .. juragan! Maksudku bukan itu. Juragan kan baru saja sembuh dari sakit. Jadi nggak boleh terlalu capek."
Wisnu terkekeh. Ia mencium dahi istrinya kemudian masuk ke dalam mobil dimana Gading sudah menunggu di belakang kemudi.
"Berangkat sekarang, tuan?"
"Ya. Supaya kita cepat pulang."
"Tuan sepertinya sedang berbahagia."
Wisnu hanya terkekeh. "Carilah pacar, Gading."
Gading hanya tertawa. Gadis mana yang akan suka padanya di saat seluruh waktunya sudah Ia persembahkan untuk sang tuan?
********
Regina menatap Indira dengan wajah kesal. "Dukun bodohmu itu justru membuat mereka jadi semakin dekat."
"Dukungnya menyerah. Katanya Naura ada pegangan ilmu yang lebih tinggi darinya."
"Kalau begitu, katakan pada Hartono untuk segera melaksanakan rencananya itu. Percuma kau membiarkan tubuhmu di jamah olehnya namun kau tak memanfaatkan kelicikannya."
Indira mengangguk. "Tenang saja, mba. Kali ini kita akan berhasil.
Duh....si dua emak lampir mau bereaksi apa lagi?
dukung emak ya ....
maaf baru up....
emak belum bisa mengetik lama jadi istirahat dikit-dikit.
have a bless weekend
__ADS_1