Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Rahasia Kecil yang diketahui


__ADS_3

Tangan Wisnu yang membelai wajah Naura membuat perempuan itu terbangun.


"Juragan....!"'


"Maaf jika aku membangunkan mu. Aku sangat menyesal kau harus mengalami pukulan seperti ini. Untung saja wajahmu hanya memar dan tak ada lukanya."


Kalau aku mau, aku sama sekali tak akan terluka. Indira yang akang mengalami luka bahkan aku bisa membuat tangan dan kakinya terluka.


Namun kata-kata itu tak jadi diucapkan oleh Naura. Ia memilih tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Paling beberapa hari juga sembuh." Naura berusaha bangun dan Wisnu membantunya. Ia memberikan bantal di belakang punggung Naura agar istrinya itu bisa bersandar dengan nyaman.


"Terima kasih." Ujar Naura. "Ini baru jam 5 pagi. Apakah juragan tidak tidur?" tanya Naura saat matanya melihat jam kecil yang ada di atas nakas dekat tempat tidur.


"Aku tidur jam setengah dua belas. Tadi jam setengah empat bangun karena mendengar kau meringis kesakitan. Apa ada yang sakit?" tanya Wisnu penuh perhatian. Ia memeriksa luka bekas cakaran di leher dan di tangan Naura.


"Agak perih. Tapi aku masih bisa menahannya. Biasa juga kalau ikut pertandingan Taekwondo atau karate, lukanya lebih sakit dari ini."


"Kau punya kemampuan bela diri, kenapa nggak melawan pukulan Indira?"


"Memangnya juragan lebih suka Indira yang terluka dari pada aku?"


"Nggak juga, sih. Aku hanya tak ingin kalian saling melukai."


"Jika aku membalas pukulan mba Indira maka istrimu akan tinggal dua saja."


"Kenapa begitu?" Wisnu mengerutkan dahinya.


"Mba Indira bisa mati kena tendangan taekwondo ku."


"Jadi kau mengalah dan tak melawan pukulannya karena itu?"


"Ya." Ih...Naura, kau sekarang sudah pandai bersandiwara. Kau kan tak membalas pukulannya karena ingin Wisnu perhatian padamu.


"Aku bangga padamu, sayang." Wisnu membawa Naura dalam pelukannya, mencium puncak kepala Naura dengan sangat lembut.


"Juragan, jangan bangga denganku. Kau bahkan tak tahu isi hatiku."


Wisnu menjauhkan tubuhnya sedikit sehingga bisa menatap wajah istrinya. "Aku ingin mengenal dirimu semakin dalam, Ra. Ingin memahami isi hatimu, ingin membuat kau bahagia. Karena bahagia mu adalah bahagiaku juga."


"Kau dapat mengenal diriku semakin dalam, namun kau tak dapat memahami isi hatiku dan membuatku bahagia. Karena kita tak saling mencintai."


"Bagaimana kalau aku bilang saat ini bahwa kau sudah mencuri hatiku? Mencuri seluruh waktuku sehingga aku merasa tak bisa jauh darimu?"


Naura memberanikan diri menatap wajah Wisnu. Ia melihat ada kesungguhan di sana.


"Tetap saja kau tak bisa membuatku bahagia."


"Kenapa? Apakah selama ini kau sangat tersiksa bersamaku? Lalu apa arti kemesraan dan kehangatan yang sering kita bagikan disaat bercinta? Aku tahu kau menikmatinya, Ra. Bahkan aku merasa kau sangat menikmatinya."


"Aku adalah yang ketiga bagimu dan aku ingin menjadi yang pertama dengan pasanganku."


"Naura, status mu memang istri ketiga. Tapi bukankah sudah pernah ku katakan kalau kau adalah yang pertama di hatiku untuk saat ini?"

__ADS_1


Naura mengecup bibir Wisnu. "Kita tak usah membicarakan ini, ya? Sekarang aku ingin sarapan nasi kuning. Maukah kau meminta pelayan untuk membelikan nasi kuning yang terenak di kompleks perumahan ini?"


"Aku akan membelinya sendiri. Kau tunggulah. Aku tahu tempat menjual nasi kuning yang enak." Wisnu turun dari tempat tidur. Ia menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi, setelah itu ia segera keluar dengan mobil untuk mencari apa yang Naura inginkan. Wisnu ingin menunjukan perhatiannya pada Naura. Pernah kah Wisnu melakukan melakukan hal ini pada Regina dan Indira? Jawabannya tidak! Karena bersama mereka, Wisnu menjadi orang yang dingin. Beda saat bersama Naura. Gayanya yang tomboy dan sedikit sembrono, sifatnya yang terkadang lembut namun kadang judes, dan tentu saja, bibirnya yang sering berkata tidak untuk setiap sentuhan Wisnu namun tubuhnya yang selalu merespon dengan luar biasa panas dan sedikit liar. Seingat Wisnu, Naura tak pernah menolak mau diajak bercinta dengan gaya apa saja.


Apakah karena hal ini sampai Wisnu begitu tergila-gila untuk selalu menyentuh istri ketiganya ini? Bukankah juga kedua istrinya adalah perempuan yang tahu bagaimana menyenangkan suami di atas ranjang? Apa istimewanya Naura dibandingkan dengan kedua istrinya yang pertama? Mengapa perasaan Wisnu selalu bahagia saat bersama Naura? Apakah karena cinta?


Kaki Wisnu menginjak pedal rem secara mendadak saat memikirkan itu. Untung saja jalanan masih sepi jadi walau Wisnu berhenti mendadak namun tak membuat jalanan macet.


Apakah aku telah jatuh cinta pada Naura? Secepat inikah? Aku bahkan tak pernah memikirkan Diana saat bersama Naura. Apakah karena memang kami telah dijodohkan semenjak Naura dalam kandungan? Takdirlah yang telah membawa Naura kembali padaku?


***********


Dua hari kemudian, ketika luka di leher dan tangan Naura mulai mengering, Regina datang untuk merawat kulit Naura. Terlihat sangat jelas kalau dia enggan melakukan hal itu, namun karena Wisnu selalu mengawasinya saat memeriksa Naura, maka Regina harus berpura-pura bersikap sebagai dokter yang profesional.


"Obat ini harus dioleskan di kulit, setiap 4 jam sekali, kecuali saat tidur malam. Jangan dulu makan makanan yang terlalu manis dan terlalu pedas. Jangan dulu memakai handbody." Kata Regina setelah selesai memeriksa keadaan Naura di pagi ini.


"Terima kasih, mba. Untung saja mas Wisnu punya istri seorang dokter kulit. Jadi walaupun aku terluka, tinggal minta mba saja yang obati. Sebagai sesama istri, kita harus saling menyayangi kan? Beda dengan persaingan istri-istri yang ada di sinetron salah satu TV, mereka berebut ingin menjadi istri andalan sang suami, akhirnya mereka saling menjatuhkan, bahkan ada yang sewa penjahat untuk menghilangkan nyawa salah satu istri. Ngeri ya mba...."


Deg! Jantung Regina bagaikan copot dari tempatnya saat mendengar perkataan Naura. Namun Regina berusaha tersenyum. Sambil melirik Wisnu yang sedang membaca dokumen. Regina berharap semoga Wisnu tak mendengarnya. " Makanya, jangan terlalu banyak menonton sinetron."


"Sinetron itu terkadang diambil dari kisah nyata, lho." Naura menahan senyum ia dapat melihat wajah Regina yang mulai panik dan gelisah.


"Aku nggak suka nonton sinteron." Regina langsung membereskan peralatan dokternya dan memasukan kembali ke dalam tas kerjanya.


"Jangan terlalu tegang bekerja, mba. Makanya sesekali nonton sinetron, banyak lho kisah yang bisa kita petik di dalamnya. Contohnya, orang yang selalu melakukan kejahatan pasti akan kena azab pada akhirnya." Sindir Naura membuat Regina semakin tersudut.


"Sudah selesai?" tanya Wisnu yang sudah berdiri di belakang Regina.


"Akan ku transfer ke rekeningmu untuk biaya pengobatannya."


"Nggak perlu, mas. Naura kan sudah menjadi adikku."


Naura ingin muntah mendengar kata-kata Regina. "Mba Regina terlalu tegang saat bekerja. Makanya aku sarankan dia supaya banyak nonton sinteron tentang kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan. Pasti akan banyak mendapatkan pencerahan."


Wajah Regina menjadi merah. "Eh, mas..Aku pulang dulu ya? Sekalian mau jemput Lisa di sekolah."


"Baiklah. Jadi kapan kau akan memeriksa Naura lagi?"


"3 hari lagi dan aku akan mengganti lationnya agar bekas cakaran itu akan cepat hilang." Lalu Regina meraih tangan kanan Wisnu dan menciumnya. Setelah itu ia langsung pergi.


"Ra, sejak kapan kamu suka nonton sinteron dengan cerita seperti itu?" tanya Wisnu saat ia sudah duduk di samping tempat tidur.


"Sejak aku jadi istri ketiga mu, juragan."


"Masa sih?"


"Kan juragan nggak bersamaku selama 1x24 jam. Waktu luang aku siapkan untuk nonton sinteron. Buat jaga-jaga karena aku menjadi madu yang ketiga. Siapa tahu istri pertama dan kedua punya niat untuk menyingkirkan aku. Ha....ha.....ha....."


"Regina dan Indira nggak mungkin akan bersikap seekstrim itu."


"Juragan, apakah kamu tahu kalau di dunia ini ada malaikat berhati iblis?"

__ADS_1


Kening Wisnu berkerut tanda dia tak mengerti.


"Jangan tertipu dengan wajah manis dan lugu. Karena di balik kecantikan, terkadang tersimpan wajah iblis yang sebenarnya." ujar Naura lalu ia turun dari tempat tidur. "Aku lapar"


Wisnu merasa ada yang aneh dengan perkataan Naura. Namun ia belum akan mengejarnya untuk mencari tahu karena ia yakin Naura akan berkata bahwa semua baik-baik saja.


**********


Hari ini Naura dan Wisnu akan kembali ke desa. Namun Naura mampir sebentar di salah satu hotel, untuk menemui dosennya yang sedang mengikuti seminar di tempat itu.


"Juragan nggak ikut masuk?" tanya Naura.


"Aku tunggu di mobil saja sekalian memeriksa omset penjualan pabrik dari tabletku. Kamu nggak lama kan?"


"Paling juga setengah jam."


"Pergilah! Aku tunggu di sini saja."


Naura masuk ke dalam hotel dan meninggalkan Wisnu sendiri. Gading tak ada bersama mereka karena sudah pergi ke desa sejak kemarin.


Pesan sudah dikirim Naura pada dosennya. Akhirnya dosen pembimbing Naura keluar dari ruang pertemuan. Ia mengajak Naura duduk sebentar di lobby hotel sambil memberikan masukan akhir bagi tahapan ujian Naura nanti.


Setelah berbicara sekitar 15 menit, Percakapan mereka selesai. Naura bermaksud akan kembali ke mobil. Namun matanya yang tajam melihat Regina yang masuk dari lobby hotel dan langsung masuk ke lift. Naura melihat lift itu berhenti di lantai 6. Ia pun masuk ke lift yang lain dan berhenti di lantai 6. Ia bingung akan menuju ke ruangan mana saat ia mendengar ada pertengkaran seseorang yang suaranya sudah Naura kenal.


Ia pun maju dan mengintip pada pasangan yang berdiri di salah satu pintu kamar yang terbuka.


"Re, ayo masuk! Aku nggak mau kamu ngambek seperti ini hanya karena membaca wa dari gadis yang sama sekali tak aku sukai. Hanya kamu yang aku inginkan. Ayolah...!"


"Lepaskan aku!" Regina menarik tangannya dari genggaman Reno. Ia berharap siang ini akan menemukan kenikmatan bersama Reno saat lelaki itu mengirim pesan padanya. Namun baru saja mereka akan berciuman tadi, masuk pesan dari wanita yang selama ini tergila-gila pada Reno. Regina langsung kesal dan keluar kamar.


"Sayang, biar saja dia mengirim pesan padaku sebanyak yang ia mau namun aku tak peduli padanya. Ayolah, Regina. Jangan buang waktu kita di luar sini. Aku sudah tak tahan ingin menikmati tubuhmu."


Regina tersenyum. Keduanya langsung berciuman secara liar dan panas lalu masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan ciuman itu.


Bingo!!!


Naura menyimpan kembali ponselnya yang berisi rekaman perselingkuhan itu.


Mulai hari ini, aku tak akan ijinkan juragan menyentuh mu, Regina. Aku tak mau juragan selesai menyentuhmu yang sudah dimasuki oleh pria lain, lalu kemudian menyentuhku lagi.


"Sudah selesai?" tanya Wisnu saat melihat Naura.


"Sudah. Kita pulang sekarang?"


"Tapi kita jemput Lisa dulu di tempat lesnya. Tadi Regina meminta tolong padaku karena dia ada pertemuan dengan teman-teman dokternya."


Hampir saja Naura mengatakan kalau Regina ada di dalam. Namun ia menyimpan nya di dalam hati dan akan membukanya pada saat yang tepat.


*********


Naura punya senjata kan????

__ADS_1


dukung emak terus ya guys


__ADS_2