Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Menghilang


__ADS_3

Selesai memeriksa hasil panen buah-buahan yang akan dibawa ke pabrik pengalengan buah, Wisnu pulang ke rumah bukit untuk makan siang yang sudah cukup terlambat karena waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga sore. Ia terkejut melihat di garasi ada mobil Indira dan Regina.


"Lisa nggak ikut?" tanya Wisnu saat Regina dan Indira menyambutnya di depan pintu.


"Lisa kan sekolah, mas. Mungkin besok ia akan menyusul ke sini bersama pengasuhnya." Jawab Regina lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Mas.....!" Indira langsung memeluk Wisnu dan mengecup bibir suaminya. Ia tak perduli dengan tatapan protes Regina.


"Aku mau makan dulu. Kalian sudah makan?" tanya Wisnu sambil melangkah ke ruang makan. Nampak Aisa dan Saima baru selesai mengatur makanan di meja makan. Wisnu menelepon mereka setengah jam yang lalu untuk memberitahukan bahwa ia akan makan di rumah.


"Tadi dalam perjalanan ke sini, aku dan mba Regina makan di restoran yang biasa kita singgah jika mau ke kota." Kata Indira. Kedua perempuan itu menemani Wisnu makan namun tak ikut makan. Mereka hanya menikmati kopi yang dibuat oleh Saima.


"Naura ke mana, mas?" tanya Regina.


"Ia sedang menjaga ibu Kumala. Beliau sedang sakit."


"Ibu Kumala yang adalah ibunya Dina kan?" Tanya Regina lagi.


"Hmm..." jawab Wisnu singkat membuat Regina tak bertanya lagi.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Wisnu sebenarnya ingin ke rumah ibu Kumala sekalian melihat Naura. Namun kepalanya sedikit sakit karena panasnya sengatan matahari di hari ini dan ia yang terlambat menikmati makan siangnya.


"Mas kelihatannya nggak terlalu sehat."Ujar Indira.


"Kepalaku agak pening."


"Aku pijat saja, mas."


Wisnu mengangguk setuju. Bukan karena ia ingin menghabiskan waktu untuk bermesraan dengan istri keduanya itu. Ia tahu, gilirannya Indira adalah besok. Ia mau dipijat karena Indira memang sangat pintar memijat. Mereka pun masuk ke kamar Indira dan Wisnu berbaring sambil Indira mulai memijat kepalanya.


Sampai akhirnya Wisnu pun tertidur. Indira tersenyum melihat Wisnu yang sudah tertidur. Ia menatap wajah tampan Wisnu. Gairahnya sungguh membuatnya hampir tak tahan dan ingin bercinta dengan suaminya ini. Namun Indira harus menahan diri. Ia pun ikut berbaring di samping Wisnu dan memeluk suaminya itu. Indira lupa kalau Regina menunggunya di luar.


*********


Pukul setengah enam sore, Wisnu baru terbangun dari tidurnya. Ia segera keluar kamar.


"Selamat sore, juragan." Sapa Wina yang ada di ruang tamu. Ia sementara menyapu lantai.


Wisnu hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai dua, menuju ke kamarnya untuk segera mandi. 20 menit kemudian, Wisnu kembali turun ke lantai bawa.


"Bi, Naura sudah pulang?" tanya Wisnu.


"Belum juragan. Apakah mungkin nyonya menunggu dijemput? Ban sepedanya kan lagi kempes."


"Benar juga ya? Aku telepon dia dulu." Wisnu menelepon Naura namun ponsel istrinya itu tidak aktif. Inilah yang Wisnu tak sukai dari Naura. Ia selalu lupa mengisi daya ponselnya. Ia segera menelepon Gading.


"Gading, tolong jemput Naura di rumahnya ibu Kumala."


"Nyonya tadi sedang main bola dengan anak-anak di lapangan, tuan. Aku pikir tuan sudah menjemputnya. Aku sekarang ada di rumah ibu Kumala. Dokter Satria juga ada di sini. Ia hendak menjelaskan hasil pemeriksaan lab ibu Kumala."


"Mungkin dia di rumahku. Ayolah cek ke sana."


"Baik, tuan." Wisnu memasukan ponselnya kembali ke kantong celananya.

__ADS_1


Tak sampai 15 menit, ponsel Wisnu kembali berbunyi. Ternyata itu dari Gading yang mengabarkan bahwa Naura tidak berada di sana.


Naura kemana, ya? Apakah dia sudah ada di Villa?


Langkah Wisnu diarahkannya ke villa. Namun tak ada tanda-tanda kalau Naura ada di sana. Villa bahkan terlihat gelap karena lampu-lampunya belum dinyalahkan.


Hati Wisnu mulai gelisah. Ia kembali menghubungi Gading. Ternyata Gading sudah berada di rumah utama.


"Tuan, saya sudah bertanya kepada anak-anak yang bermain bola dengan nyonya, namun mereka juga tak mengetahui kemana nyonya. Menurut mereka, selesai main bola nyonya langsung ke rumah karena merasa haus. Setelah itu mereka langsung pulang. Biasanya kalau menjelang Maghrib kan memang jalanan sepi. Saya tadi selesai dari pabrik, langsung ke rumah ibu Kumala untuk mengantarkan beberapa buah seperti yang tuan tuan pesankan."


Wajah Wisnu terlihat cemas. Ia terus memikirkan keberadaan istrinya.


"Mas, ayo makan malam!" Ajak Regina yang baru keluar dari dalam rumah. Wisnu dan Gading sedang duduk di teras depan.


"Kalian makanlah dulu, aku mau mencari Naura. Ayo Gading." Wisnu langsung melangkah.


"Naura kemana sih mas?" tanya Regina. Namun Gading tak menanggapinya. Ia terus masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Gading lalu keduanya pergi.


***********


Mendengar sang nyonya ketiga hilang, banyak penduduk yang ikut mencari malam itu. Bahkan Satria yang masih ada di desa itu pun ikut mencari.


Hati Wisnu semakin gelisah saat waktu sudah menunjukan jam 10 malam dan Naura belum juga kembali.


Banyak spekulasi yang muncul di kalangan warga. Mungkin Naura diculik oleh genderuwo, diculik oleh penunggu danau yang konon katanya, suka keliling kampung menjelang Maghrib dan jika melihat seorang perempuan cantik maka ia akan menculiknya.


"Tuan, makan dulu!" Ujar Gading saat mereka istirahat sebentar di rumah yang ada di perkampungan. Penjaga rumah yang tinggal di sebelah rumah Wisnu tak melihat kedatangan Naura di rumah itu karena dia sedang mandi.


"Mana bisa makan? Aku takut terjadi sesuatu dengan istriku, Gading. Aku takut sesuatu yang buruk menimpanya. Aku memang bukan suami yang baik karena tak memperhatikannya sejak siang." Kata Wisnu dengan wajah penuh penyesalan.


Tiba-tiba terdengar teriakan orang-orang. Gading dan Wisnu keluar rumah. Nampak dokter Satria, sedang memeluk tubuh Naura dengan baju Naura yang nampak kotor.


Jantung Wisnu bagaikan diremas keluar dari tempatnya. Ia terkejut melihat kondisi Naura. Dengan cepat Wisnu mengambil alih tubuh Naura yang ada dalam gendongan Satria lalu memasukannya ke dalam rumah dan meletakkannya di atas tempat tidur, di salah satu kamar tamu yang ada di lantai satu.


Wajah Naura terlihat kotor begitu juga dengan bajunya.


Bidan kampung datang dan membawakan peralatan dokter milik Satria.


"Aku akan memeriksanya." Kata Satria membuat Wisnu mau tak mau harus menjauh dari Naura.


"Kita harus membuka bajunya agar aku bisa melihat apakah ada bagian tubuhnya yang terluka atau mengalami benturan." Kata Satria membuat Wisnu melotot.


"Ambilkan baju ganti Naura di kamarku. Dan panggil bi Saima ke sini!" Perintah Wisnu.


Saima masuk sambil membawa baju ganti. Gading langsung keluar kamar dan menutup pintu kembali. Di luar masih banyak penduduk yang menunggu. Setelah Gading mengatakan bahwa Naura baik-baik saja, mereka pun segera membubarkan dirinya.


di dalam kamar, Saima membantu Wisnu mengeluarkan kaos dan celana jeans yang Naura kenakan. Sebenarnya ada rasa tak rela dalam diri Wisnu saat membayangkan Satria akan melihat Naura dalam keadaan hampir polos. Namun Wisnu memahami juga itu memang sudah tugasnya Satria.


Ada beberapa memar di tubuh Naura. Salah satu yang membuat Wisnu meradang adalah lebam di atas perutnya. Tangan dan kaki Naura juga terdapat beberapa luka.


"Seperti Naura mengalami beberapa pukulan. Namun ia berhasil melawan mereka. Luka goresan di tangannya karena ia melewati semak belukar yang tajam. Naura memang jago beladiri." Kata Satria membuat Wisnu semakin marah. Setelah memeriksa luka-luka Naura, Satria mempersilahkan Saima untuk memakaikan lagi pakaian namun pakaian yang agak longgar. Untunglah ada daster rumahan Naura yang disimpan di rumah ini.


"Tolong ambil obat ini ke apotik yang ada di kecamatan. Naura harus segera meminumnya saat ia sadar." Kata Satria lalu memberikan secarik resep itu pada Wisnu. " Bibi, tolong buatkan bubur untuknya. Sudut bibir Naura sedikit terluka, pasti ia akan kesulitan mengunyah makanan yang keras."

__ADS_1


Saima pun langsung keluar kamar dan memanggil Gading untuk masuk.


Wisnu memberikan resep itu pada Gading dan memerintahkan Gading untuk segera menghubungi polisi untuk menyelidiki kasus ini.


"Bagaimana kau menemukan istriku?" Tanya Wisnu saat mereka tinggal berdua di kamar itu.


Satria yang baru keluar dari kamar mandi untuk mencuci tangannya, menatap Wisnu sambil menarik napas panjang. "Aku baru selesai makan malam di rumah ibu bidan. Tiba-tiba anak ibu bidan berteriak karena ada seseorang yang muncul dari arah belakang pusat kesehatan desa itu. Ternyata itu Naura. Ia nampak sangat lemah. Saat aku mendekatinya, Naura langsung pingsan. Aku pikir dia kelelahan dan kesakitan sehingga pingsan."


Wisnu semakin emosi mendengarnya. Siapa yang berani berbuat seperti itu? Bukankah desa ini terkenal sebagai desa yang aman dan tentram? Tak mungkin penduduk desa ini melakukan apa yang jahat pada Naura sementara istrinya ini selalu melakukan kebaikan pada penduduk desa.


"Ha...us....!"'Naura yang mulai sadar terdengar berbicara.


Satria langsung mengambil air yang sudah ia minta sediakan karena ia tahu Naura akan merasa haus begitu sadar.


"Sayang.....!" Wisnu langsung duduk di tepi ranjang. Sementara Satria berada di sisi yang lain. Ia langsung naik ke atas ranjang dan menyanggah kepala Naura dengan dua bantal sekaligus lalu memberikan Naura minum melalui sedotan.


Hati Wisnu kembali merasa tak rela melihat Satria dengan cepat langsung memeluk punggung Naura dan memberinya minum. Mengapa Satria dan memintanya untuk melakukan itu?


Naura menatap dua lelaki yang ada di samping kiri dan kanannya. Satu adalah suaminya dan satu adalah pria yang sudah lama disukainya.


"Sayang, apa yang kau rasakan?" tanya Wisnu sambil menyentuh wajah Naura dengan punggung tangannya. Wajah Satria terlihat cemburu namun ia berusaha menepisnya.


"Aku lapar." Kata Naura masih dengan suara yang lemah.


"Aku akan menyuapi mu." Kata Wisnu lalu mengambil bubur yang memang sudah tersedia di kamar.


Regina dah Indira ikutan masuk saat mendengar Naura sudah sadar.


"Naura, bagaimana keadaanmu?" tanya Indira dengan wajah yang dibuat penuh perhatian.


"Aku baik-baik saja, mba."


"Apa yang terjadi padamu?' kali ini Regina yang bertanya.


"Ada 3 orang preman menculik ku saat aku akan masuk ke rumah ini. Mereka membekap ku dari belakang dengan obat bius. Saat aku sadar, aku sudah berada di sebuah gubuk yang ada di hutan. Untungnya aku bisa membuka tali yang mengikat tanganku. Lalu aku melawan mereka dan dapat melarikan diri."


"Kau bisa mengalahkan mereka?" tanya Indira tak percaya.


Naura tersenyum.


"Naura memang jago beladiri." Kata Satria sambil mengangkat jempolnya. Ia dan Naura pernah satu tim saat mengikuti latihan taekwondo di kampus.


"Terima kasih, kak." Naura agak tersipu mendapat pujian itu.


"Memangnya kau bisa beladiri?" tanya Regina.


"Bisa. Aku pernah ikut karate, taekwondo, muangthai dan pencak silat. Makanya, jangan coba-coba mengirim penjahat amatiran hanya untuk menangkap ku." Kata Naura sambil tersenyum penuh misteri.


Regina dan Indira saling berpandangan. Sedangkan Naura tersenyum penuh kemenangan. "Mas, tolong suapi aku lagi." Kata Naura dengan gaya manjanya.


*********


Apa yang terjadi pada Naura?

__ADS_1


Nantikan episode berikut ya???


jangan lupa dukung emak


__ADS_2