
"Bukan ini, mas." Ujar Jeslin sambil meletakan kue yang di bawa oleh Gading.
"Sayang, katanya kue coklat yang ada di dekat perumahan tempat tinggal mu. Aku sudah capek bolak balik desa ke kota."
"Oh...jadi mas keberatan saat aku meminta dibawakan sesuatu? Ini juga bukan keinginan aku. Ini keinginan anak, mas."
"Anak kita, sayang." Kata Gading berusaha sabar. "Memangnya kamu mau kue coklat yang bagaimana sih?"
"Kue coklat pakai keju, mas. Aku nggak mau hanya coklatnya saja. Aku mau yang pakai keju."
"Aku tambahin keju ya? Capek nih balik lagi kota. Butuh waktu hampir 2 jam, sayang."
"Mas Gading, aku maunya sekarang. Kan mas bisa minta sopir mengantar mas ke kota."
"Sayang, besok saja ya?"
"Mas memang nggak sayang sama aku." Jeslin langsung melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar di sandaran sofa dengan wajah cemberut.
"Baiklah, sayang. Aku panggil sopir dan pergi sekarang. Kamu jangan cemberut ya? Mudah-mudahan toko kuenya masih buka."
Jeslin menatap kepergian Gading dengan hati senang. Sebenarnya ia tahu kalau Gading sangat lelah. Namun ia juga tak bisa menahan rasa ingin makan kue coklat keju.
Di rumah bukit, Naura sedang duduk di pangkuan Wisnu. Keduanya baru saja bangun tidur sore. Selesai makan siang tadi, Naura dengan manisnya menggoda Wisnu untuk bobo siang plus-plus. Kebetulan mereka sudah hampir seminggu tak bersama dalam keintiman hubungan suami istri karena kondisi mood Naura yang kadang berubah-ubah.
Makanya saat Naura tadi siang menggodanya, Wisnu dengan cepat menerimanya. Walaupun ia tahu ada pengawasan yang harus di lakukan di proyek jalan lingkar yang sebentar lagi selesai.
Keduanya tidur siang dalam keadaan setelah dua ronde Wisnu meminta jatahnya. Dan kini, saat Wisnu sudah selesai mandi dan bersiap akan ke lokasi pembangunan jalan, Naura justru bangun dan bergelut manja dalam pelukan Wisnu.
"Sayang, aku pergi melihat proyek jalan lingkar sebentar ya? Aku janji nggak sampai 1 jam pasti akan kembali."
"Mas, aku ikut." rengek Naura sambil meletakan kepalanya di bahu Wisnu.
"Agak berdebu sayang. Ini memang sudah jam setengah lima namun matahari kelihatan masih terik. Nanti kamu kepanasan."
"Pokoknya aku mau ikut. Pasti mas nggak mau aku ikut karena di sana ada kepala proyeknya yang bernama nona Zahra itu kan?"
Wisnu terkejut. "Sayang? Kamu cemburu dengan nona Zahra? Dia itu usianya sudah 35 tahun lho."
"Mengapa dengan usia 35 tahun? Mas juga pernah menikah dengan mba Regina yang usianya empat tahun lebih tua dari mas."
Wisnu membelai wajah Naura. "Jangan mengusik masa lalu, sayang."
"Pokonya aku mau ikut!" ujar Naura.
"Baiklah. Kamu mandi dulu ya? Agak cepat. Karena sebentar lagi para pekerja pulang."
"Aku akan siap dalam 5 menit. Terima kasih, sayang." Kata Naura sambil mencium pipi Wisnu dan berlari ke kamar mandi.
"Ra, jangan lari-lari. Ingat kalau kamu sedang hamil."
15 menit kemudian, keduanya tiba di lokasi pembangunan jalan lingkar. Naura nampak cantik dengan baju hamil berwarna coklat muda. Rambutnya panjangnya dibiarkan tergerai dan ia menggunakan jepit rambut berwarna merah.
Para pekerja saling tersenyum melihat sang nyonya utama nampak mendampingi juragan. Tak ada lagi saingan istri pertama dan kedua. Semua tahu kalau Naura kini menjadi satu-satunya kesayangan sang juragan tampan yang kaya raya itu.
Nona Zahra langsung mendekati Wisnu dan melaporkan hasil pekerjaan hari ini.
"1 Minggu lagi kita akan selesai, Juragan." Kata Zahra sambil memberikan senyum manisnya. Naura melingkarkan tangannya pada Wisnu. Ia tersenyum ke arah Zahra seolah ingin menunjukan bahwa juragan adalah miliknya.
Wisnu sendiri agak heran dengan sikap Naura yang tak pernah mau lepas dari padanya. Bahkan saat Wisnu ingin melihat peta jalan lingkar yang sudah diselesaikan, Naura sama sekali tak melepaskan tangannya dari genggaman Wisnu.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Wisnu heran.
"Keberatan aku memegang tangan kamu terusan?" tanya Naura sedikit melotot.
"Nggak, sayang. Aku justru senang." ujar Wisnu lalu mencium tangan Naura yang ada dalam genggamannya.
"Supaya para perempuan di sini tahu kalau mereka tak bisa macam-macam denganmu apalagi mengharapkan untuk dijadikan istri kedua atau istri ketiga. Karena aku si istri paling utama tak akan pernah mengijinkan juragan Wisnu Furkan menikah lagi."
Wisnu jadi gemas mendengar perkataan istrinya. Untung saja mereka tinggal berdua dan sedang menikmati senja di pinggir danau.
"Kalau si kembar sudah lahir, aku ingin kamu hamil lagi dan lagi." kata Wisnu membuat Naura menoleh dengan kaget.
"Kok gitu sih?"
__ADS_1
"Aku takut jika sudah selesai melahirkan kamu nggak akan posesif lagi kepadaku."
Naura tersenyum. Ia mendekat lalu mencium pipi Wisnu. "Juragan tampan. Aku akan tetap menjadi istri yang posesif kayaknya. Karena aku sudah jatuh cinta padamu. Dan aku tak akan mau berbagi cinta dengan yang lain. Aku akan mempertahankan apa yang kumiliki sampai titik darah penghabisan. Akan ku pukul dengan tendangan taekwondo ku pada wanita mana saja yang coba-coba merebut mu dari sisiku."
Wisnu terbelalak. Ia menatap Naura dengan tatapan tak percaya. Namun beberapa detik kemudian, ia langsung menarik Naura dalam pelukannya. Mencium puncak kepala istrinya dengan sangat lembut sambil tangannya membelai perut Naura.
"Aku akan menyayangimu sampai aku menutup mata. Aku akan mencintaimu sampai selama-lamanya. Karena bagiku kau dan anak-anak kita adalah segalanya."
Naura tersenyum dalam pelukan Wisnu. Ia bahagia. Ternyata dicintai dan mencintai itu sangat indah.
10 menit kemudian....
"Mas, aku tiba-tiba saja ingin makan bakso yang ada di dekat sekolahku. Bakso buatan mang Asep."
"Sayang, ini sudah hampir malam. Tukang baksonya pasti sudah tutup."
"Mas, aku maunya makan sekarang!"
"Sebentar, aku telepon Gading Setahuku tadi dia pamit mau ke kota.
"Hallo Gading, coba kamu ke dekat sekolah Naura waktu SMA dan cari tukang bakso yang jualan di dekat sekolah itu. Namanya mang Asep. Beli dua porsi."
"Tapi tuan, aku juga ke kota mau cari kue untuk Jeslin. Tadi aku salah membelinya."
"Sekalian saja kamu cek ya? Bye...."
Di seberang sana, Gading menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Pak Sunarya, yang menjadi sopir menatap Gading dengan heran. "Ada apa tuan?"
"Pusing aku! Memenuhi keinginan Jeslin yang sedang ngidam. Kini harus ditambah dengan keinginan nyonya Naura juga."
Sunarya tertawa. "Begitulah kalau menghadapi istri yang hamil tuan. Kita harus sabar." ujar Sunarya.
"Istri mang Sunarya juga seperti itu?"
"Istri saya dua. Masing-masing punya 2 anak. Pas hamilnya juga bersamaan. Ngidamnya juga yang aneh-aneh..Yang satu ingin naik becak keliling Jakarta, yang satu ingin kepala saya dibotakin. Pokoknya repot deh."
"Wah, istrinya dua?"
Gading tertawa. Ia mengingat wajah cantik Jeslin yang akhir-akhir ini sering cemberut. Ia janji tak akan pernah menikah lagi apapun alasannya. Gading mencintai Jeslin. Sekali untuk selamanya.
**********
Naura membuka pintu ruang kerja Wisnu. Suaminya itu setelah makan malam langsung mengurung diri di dalam ruangan ini.
"Mas......!" panggilnya mesra.
Wisnu mengangkat wajahnya. "Sayang, kenapa belum tidur?"
"Nggak ngantuk kalau mas nggak ada. Ingin tidur pelukan mas Wisnu."
Wajah Wisnu langsung tersenyum senang. Ia menutup laptopnya, lalu segera mendekati istrinya.
'Ayo kita ke kamar!" ajak Wisnu lalu melingkarkan tangannya di bahu sang istri.
Keduanya pun melangkah bersama menuju ke kamar mereka yang ada di lantai 2.
Setelah ganti pakaian dan menggosok gigi, keduanya naik ke atas tempat. Naura langsung membaringkan kepalanya di dada bidang sang suami. Ia suka menghirup aroma tubuh Wisnu. Makanya setiap kali tidur, Naura tak mengijinkan Wisnu mengenakan pakaian atasnya. Ia suka jika tubuh atas Wisnu polos.
Tangan Wisnu yang ada di atas kepala sang istri, membelai rambut tebal Naura.
"sayang, susu hamilnya sudah diminum malam ini?" tanya Wisnu.
"Sudah."
"Baguslah. Minggu depan jadwal kontrol lagi kan? Semoga jenis kelaminnya bisa diketahui ya?"
"Iya. Mas maunya apa?"
"Perempuan atau laki-laki sama saja, sayang. Maka adalah titipan Allah bagi kita yang harus kita syukuri kehadirannya. Aku akan menyayangi mereka dengan seluruh rasa cinta yang aku miliki."
"Mas maunya anak berapa?"
"Empat atau lima mungkin"
__ADS_1
"Ih....., kebanyakan mas."
"Uangku kan banyak. Jadi banyak anak nggak masalah. Aku ingin rumah ini, rumah di perkampungan dan rumah di kota akan ramai dengan suara tawa atau suara tangis anak-anak." kata Wisnu sambil tersenyum.
Naura membelai dada suaminya. "Aku mau tiga saja, mas. Kita kan sudah punya Lisa. Berarti dengan Lisa anaknya jadi 4."
"Aku bahagia karena kau menyayangi, Lisa." Wisnu mencium puncak kepala Naura.
"Aku tak akan pernah membedakan-bedakan antara Lisa dan anak-anak kita."
"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu!" kata Wisnu sambil mengeratkan pelukannya.
Naura memejamkan matanya. Ia menikmati kehangatan pelukan Wisnu. Ia yakin tidurnya malam ini pasti akan sangat nyenyak.
**********
Gading merentangkan tangannya, mengusir penat yang kini melandanya karena harus bolak balik dua kali antara desa dan kota. Gading sebenarnya sudah mengajak Jeslin tinggal di kota namun istrinya itu sudah terlanjur jatuh cinta dengan suasana desa yang sejuk dan damai ini. Katanya nanti saja jika sudah mendekati melahirkan barulah mereka akan tinggal di kota.
Saat ia baru saja selesai membaca laporan pabrik yang akan diteruskannya pada Wisnu. Matanya menatap ranjang. Di sana Jeslin sudah tertidur dibungkus selimut tebal yang menutup sampai ke lehernya.
Ia pun melangkah menuju ranjang. Duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah Jeslin yang nampak damai dalam tidurnya.
Gading menunduk dan mencium dahi istrinya. Setelah itu ia berputar ke sisi ranjang yang lain dan segera naik ke atas tempat tidur, membuka selimut untuk bergabung dengan istrinya. Namun, saat Gading memeluk istrinya, ia terkejut mendapati istrinya tanpa busana. Mata Gading membulat sempurna. Hampir 2 Minggu Jeslin tak mau berhubungan intim karena moodnya yang terkadang tak bagus karena sering mual dan muntah. Kalau kebanyakan wanita hamil mengalami mual dan muntah di pagi hari, Jeslin justru mengalami mual dan muntah di malam hari.
"Sayang, kenapa nggak pakai baju?" tanya Gading sambil menepuk punggung Jeslin yang membelakangi nya.
Jeslin membalikan badannya. "Lama sekali membaca laporannya. Aku sampai bosan menunggu."
"Maaf. Aku pikir tadi kamu sudah tertidur. Makanya aku baca terus laporannya. Kenapa nggak pakai baju? Kepanasan ya?"
"Nggak. Udaranya dingin. Di luar kan sedang hujan."
"Lalu kenapa bajunya di buka?" tanya Gading sambil menahan hasratnya.
Jeslin tersenyum. Perlahan ia merangkak naik ke atas tubuh suaminya. "Aku akan memberikan mas Gading ku hadiah. Hadiah karena sudah mau berlelah-lelah untuk bolak balik desa-kota hanya untuk memenuhi keinginan anaknya kita."
"Maksudnya?"
"Ih...mas Gading, jangan pura-pura polos gitu dong. Aku kan sudah mengajari mas Gading banyak hal. Masa sih nggak mengerti?" Jeslin jadi kesal. Ia turun dari atas tubuh suaminya dan langsung bangun.
"Sayang, mau kemana?"
"Pakai baju." jawan Jeslin ketus.
Gading tersenyum. Ia langsung memeluk Jeslin dari belakang. "Eh....istriku yang cantik ini. Maafkan suamimu ya? Aku hanya bercanda."
Jeslin tersenyumlah. Ia membalikan badannya. Di cubit nya pipi Gading yang nampak lebih gembul dari sebelumnya.
"Mas, kamu kayaknya naik badan ya?"
"Aku naik 3 kg."
"2 bulan menikah dan naik 3 kg? Bagaimana jika setahun menikah? Aku nggak mau mas jadi gemuk dengan perut buncit kayak wanita hamil. Aku suka perut mas yang kotak-kotak ini." kata Jeslin sambil membelai perut suaminya.
Gading tertawa. "Memangnya kamu nggak akan mencintai aku lagi?"
Jeslin mulai membuka kancing piyama Gading. "Mungkin masih mencintai. Namun aku nggak mau mengajak mas ke acara apapun."
"Kenapa?" tanya Gading sambil membuka celana piyamanya dengan cepat saat kemejanya sudah berhasil dikeluarkan oleh Jeslin.
"Aku bercanda." Jeslin tertawa dan langsung melepaskan diri dari Gading. "Aku akan tetap mencintaimu, mas Gading ku. Apapun bentuk tubuhmu. Aku tahu hatimu akan selalu sama. Mencintai aku kan?"
Gading langsung mendorong tubuh Jeslin yang memang sudah duduk di atas ranjang. "Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu."
Tawa Jeslin terdengar. Keduanya lupa menyalahkan TV. Bi Aisa yang bangun dan melewati kamar itu langsung mengerutkan dahinya. Mereka lagi ngapain ya?
************
Mendekati episode akhir guys.....
Maaf kalau emak terlambat up cerita. Jaringannya nggak bagus. Tapi episodenya panjang kan?
Mudah2an besok bisa up lagi
__ADS_1