
Setelah makan malam, Wisnu menemani Lisa tidur di kamarnya. Kemudian ia keluar dari kamar Lisa dan menuju ke kamar Regina.
Ada senyum manis di wajah Regina melihat Wisnu yang sudah masuk ke kamarnya. Malam ini ia mengenakan lingre berwarna pink tanpa memakai apa-apa lagi di balik lingre tipisnya itu.
Dulu, saat Wisnu belum menikah dengan Naura, mereka akan langsung bercinta di malam pertama yang menjadi giliran Regina. Namun semenjak Wisnu menikah dengan Naura, Regina merasa bahwa suaminya ini semakin dingin dengannya.
Wisnu menatap Regina sambil tersenyum dingin. Ia jadi ingat dengan kata-kata Naura yang memintanya agar jangan bercinta dengan Regina. Wisnu pun menyadari, tak ada gairah lagi yang ia rasakan untuk Regina saat ini walaupun perempuan itu nyaris tanpa busana.
"Aku melihat tagihan kartu kredit mu. Apa yang kau lakukan di hotel? Ada 4 kali aku melihatmu cek in di berbagai hotel bintang 5 bulan lalu." tanya Wisnu sambil membuka kemeja yang dipakainya.
Wajah Regina langsung pucat, Wisnu menyadarinya.
"Kamar itu aku cek in untuk para dokter dari luar negeri yang bekerja sama dengan klinik aku, mas. Kami mengadakan seminar untuk kecantikan kulit. Mereka para pembicara."
Wisnu menatap Regina dengan tajam. "Apakah juga termasuk memeluk teman dokter mu di supermarket kemarin malam?"
Deg! Regina menjadi semakin salah tingkah. "Kata siapa, mas?"
"Ada yang melihatmu keluar kemarin malam dengan Lisa dan berpelukan degan seorang pria yang katanya seorang dokter juga."
"Itu fitnah, mas."
Wisnu membuka lemari dan mengambil piyama tidurnya. Ia menatap Regina dengan tajam. "Mba, aku tahu kalau aku bukan pria yang baik dalam hal berpoligami. Aku juga sudah bersikap dingin pada mba. Satu hal yang mba ingat, aku paling tidak suka dibohongi. Aku hanya ingin mba jujur. Dan aku mengatakan ini bukan karena aku cemburu mendengar mba memeluk laki-laki lain. Aku hanya nggak ingin Lisa mendapatkan dampak buruk akibat kelakukan, mba. Malam ini, aku akan tidur dengan Lisa." Wisnu langsung keluar kamar, meninggalkan Regina yang nampak terpaku tanpa banyak bicara.
Wisnu memanggil aku kembali dengan sebutan mba? Apakah ia sudah tak menginginkan aku lagi? Tidak! Aku tak mau! Aku mencintai Wisnu? Aku adalah istri pertamanya. Aku tak akan pernah melepaskan Wisnu apapun yang terjadi!
Di kamar Lisa, setelah Wisnu mengganti pakaiannya, ia langsung Videocall dengan Naura.
"Juragan....!" Terlihat Naura yang sedang duduk di atas tempat tidur.
Hati Wisnu yang sedang kesal pada Regina langsung berubah menjadi senang saat melihat wajah Naura dengan piyama hello Kitty nya itu.
"Kamu belum tidur, Ra?" tanya Wisnu dengan tatapan penuh kerinduan. Ingin rasanya ia kembali ke desa dan memeluk Naura sampai tertidur.
"Aku lagi menonton pertandingan taekwondo. Nih!" Naura mengarahkan kamera ponselnya pada laptop yang ada di hadapannya lalu kembali ke arahnya.
"Perempuan lain pada nonton sinetron, drama Korea, film romantis. Eh, kamu justru menonton pertandingan taekwondo." Wisnu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku sesekali nonton sinteron kalau lagi di dapur bersama bibi Saima dan bibi Aisa. Mereka berdua kadang mengumpat, menangis atau tertawa melihat adegan-adegan dalam sinteron. Eh, juragan menelepon aku bukan karena baru habis bercinta dengan mba Regina kan?"
"Nggak, sayang. Aku bobo dengan Lisa." Wisnu mengarahkan kamera ke arah tempat tidur, dimana Lisa sudah terlelap di sana."
"Teruskan peluk dan cium aku untuk dia ya, juragan. Aku kangen main dengan Lisa."
"Memangnya dengan aku nggak kangen?"
Naura tertawa melihat wajah permohonan Wisnu. "Jangan sok imut seperti itu. Ingat umur, juragan!
"Ingin rasanya aku ke desa dan memeluk kamu, Ra."
"Jangan...."
"Kenapa?"
"Maksudku, jangan ragu-ragu untuk datang ke sini."
Hati Wisnu semakin merindukan istri ketiganya ini. Ia bahagia karena Naura sudah jarang berkata ketus dan membantahnya. Sekarang Naura sudah menunjukan sikap yang taat pada semua yang Wisnu inginkan.
"Juragan, ayo tidur sana! Nanti kalau melihat aku terus jadi kangen dengan bukit kembar dan jalan menuju ke lembah."
"Ra.....!" Wisnu menjadi panas mendengar kalimat Naura itu.
Naura tertawa. "Selamat tidur ya? Aku mengantuk. Have a nice dream, sayang...!" Naura langsung mengahiri percakapan tanpa menunggu Wisnu membalas ucapannya. Pada hal Wisnu sangat bergetar saat Naura memanggilnya sayang. Tapi sudahlah. Wisnu pun naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya sambil memeluk Lisa.
__ADS_1
***********
"Mas, aku ingin bicara!" Kata Regina saat Lisa sudah pergi ke sekolah.
Wisnu yang sementara mengganti pakaiannya menatap Regina.
"Ada apa, mba?"
Air mata Regina jatuh. "Mengapa mas memanggil aku dengan sebutan mba? Aku ini istrimu, mas. Aku sedih karena kamu tak percaya denganku."
"Mau mba apa?"
'Mas, aku memang ketemu dengan temanku di supermarket itu. Kami berpelukan karena aku baru tahu kalau istrinya meninggal. Aku hanya memberikan kekuatan padanya, mas. Maaf jika sikapku itu dianggap kurang baik. Aku seharusnya tak memeluk lelaki lain karena aku sudah bersuami."
Wisnu yang sudah siap untuk ke pabrik menatap Regina. "Baguslah kalau memang ceritanya seperti itu. Aku mau pergi dulu."
"Mas....!" Regina menahan tangan Wisnu. "Mas nggak marah lagi padaku kan? Aku mohon jangan panggil aku dengan sebutan mba."
Wisnu tersenyum. "Baiklah. Sekarang aku berangkat dulu."
"Mas nggak cium aku?"
Wisnu hanya mencium dahi Regina secara singkat lalu segera pergi bersama Gading.
"Gading, tolong sewa satu detektif lagi untuk menyelidiki Regina." Kata Wisnu saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke pabrik.
"Baik, tuan."
*********
Hari lomba pun tiba. Para gadis, termasuk Naura juga sangat antusias saat mereka berangkat ke kecamatan untuk mengikuti lomba.
Wisnu menelepon kalau ia akan terlambat datang karena Regina tak enak badan dan meminta Wisnu untuk menemani Lisa dalam acara khusus yang diselenggarakan oleh pihak sekolah untuk orang tua dan anak.
"Tenang saja, Gayatri. Kita menari tanpa harus ada rasa beban akan menang atau kalah."
Gayatri hanya mengangguk.
Lomba pun dimulai. Naura dan teman-temannya mendapatkan nomor urut ke 10 untuk tampil.
Ibu Kumala sudah duduk di kursi penonton bersama Satria yang kebetulan datang ke sini atas undangan Naura.
Kepala desa, Sekdes dan juga beberapa aparat desa semuanya hadir.
Naura menenangkan semua penari sebelum mereka naik ke atas panggung. Penampilan grup tari mereka sangat bagus sehingga penonton bertepuk tangan dengan sangat keras.
Akhirnya, para juri beristirahat untuk makan siang. Masih ada 5 peserta lagi yang akan tampil sebelum akhirnya mereka akan mengumumkan siapa yang akan memenangkan lomba tari.
Naura makan siang bersama ibu Kumala dan dokter Satria. Dokter ternyata sudah menyiapkan nasi kotak yang dibelinya di salah satu rumah makan yang ada di kecamatan ini.
Keakraban dan tawa bahagia Naura dan Satria secara diam-diam direkam oleh seseorang.
Naura sendiri tak menyadari bahwa ponselnya yang bermode silent sejak tadi menyala karena ada panggilan dari Wisnu.
Wisnu belum bisa datang juga karena acara di sekolah Lisa belum juga selesai dengan berbagai lomba yang ada.
Hasil lomba akhirnya diumumkan. Dan seperti yang sudah diprediksi oleh banyak orang, tim tari dari desa Hijau Permai memenangkan lomba ini dengan uang pembinaan sebesar 20 juta. Anak-anak langsung bersorak gembira. Satu persatu mereka memeluk ibu Kumala yang walaupun belum pulih secara benar namun begitu semangat melatih mereka.
'Sebagai tanda syukur atas kemenangan ini, maka kita akan pergi ke tempat wisata water park yang tak jauh dari sini. Kita hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di sana." kata Hartono membuat anak-anak semakin gembira.
Naura sebenarnya enggan untuk pergi karena ia merasa lelah dan ingin pulang dengan ibu Kumala namun karena anak-anak memaksanya, Naura pun akhirnya ikut. Ia tahu para gadis ini jarang mendapatkan kesempatan untuk pergi ke tempat-tempat seperti ini sehingga mereka begitu antusias menyambut ajakan pak kepala desa.
"Naura, aku juga nggak ikut ya? Aku mau kembali ke kota." Kata Satria saat ia berpamitan di tempat parkir.
__ADS_1
"Makasi ya sudah menemani kami hari ini. Anak-anak sangat bersemangat karena ada dokter ganteng yang menemani mereka."
"Memangnya kamu nggak bersemangat?"
Naura tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Senang juga."
"Aku masih berharap suatu saat nanti kita akan bersama, Na."
"Lupakan aku, kak. Di luar sana ada banyak gadis cantik yang siap menjadi pendamping kak Satria. Aku tak akan mungkin meninggalkan juragan walaupun perasaanku padanya tak seperti perasaanku pada kakak."
Satria hanya mengangguk. Ini yang justru membuatnya semakin suka pada Naura. Gadis ini sangat jujur dalam berkata. Ia tak pernah menyembunyikan perasaannya. Namun ia begitu setia terhadap apa yang sudah menjadi komitmennya. Betapa beruntungnya juragan Wisnu mendapatkan Naura. Batin sang dokter sebelum pergi dengan mobilnya.
***********
Ada tawa bahagia dari mulut para gadis saat mereka mandi bersama di kolam renang Water park ini. Naura sendiri tak mandi. Ia hanya memperhatikan mereka dari pinggiran kolam. Ia pun mencari ponselnya dan terkejut saat melihat ada 201 panggilan tak terjawab dari Wisnu dan 20 pesan.
Maaf Juragan, ponselnya dalam mode silent.
Hanya itu pesan yang Naura kirimkan lalu ia mengambil gambar para gadis yang sedang mandi itu. Tak lama kemudian Wisnu menghubunginya.
"Ra, kenapa dari tadi panggilanku tak kamu jawab?" tanya Wisnu dengan nada suara yang terdengar sedikit geram.
"Kan aku sudah kirim pesan. Aku baru saja pegang hp jadi baru lihat juga."
"Kamu tuh buat aku khawatir."
"Juragan seharusnya nggak perlu khawatir. Kan sudah ada 2 bodyguard yang menjaga aku dari jauh. Tanyakan saja keadaan aku sama mereka saat ini."
"Kamu tahu?"
"Tahu dong Juragan. Aku ini selain anggota mapala kampus, anggota teater, juga pernah ikut kursus untuk melamar jadi polisi. Sayang waktu itu kakek melarang. Kalau nggak, aku sudah jadi polwan."
Dari seberang terdengar kekehan Wisnu. Ia ternyata belum mengenal dengan baik siapa istrinya ini.
"Juragan sudah dulu ya. Aku mau mengambil gambar anak-anak. Bye..."
Saat Naura berbalik, seorang pelayan restoran membawakan segelas jus untuknya.
"Aku nggak pesan jus."
"Ini semua ditraktir pak kepala desa. Tuh para gadis juga sedang menikmati jus dan makanan ringan." kata pelayan perempuan itu sambil menunjuk para gadis yang ternyata sudah duduk di tepi kolam sambil menikmati cemilan yang ada.
"Terima kasih!" Naura mengambil jus jeruk itu dan ia berjalan mendekati teman-temannya.
Ia duduk dan minum jus itu sambil menikmati pisang goreng yang ada.
Tiba-tiba Naura kangen dengan Jeslin. Ia rindu ingin bersama dengan Jeslin.
"Aku ke toilet dulu ya!" pamit Naura saat merasa kalau perutnya tidak enak.
"Kami mau mandi lagi ya?" ujar Tiwi.
Naura hanya mengangguk. Sebentar lagi Maghrib jadi ia memberikan kesempatan sebanyak mungkin bagi mereka untuk bersenang-senang sebelum akhirnya pulang.
Saat Naura memasuki toilet, ia merasa pandangannya sedikit kabur. Ia merasa heran dengan dirinya. Lalu kemudian Naura jatuh pingsan.
"Hati-hati, kita jangan sampai melukainya. Bos akan marah."
"Bagaimana dengan kedua bodyguard nya?"
"Mereka masih menunggu di luar. Kita akan ikut pintu belakang. Mobilnya sudah diparkir di sana."
************
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya???