
Wisnu meletakan bubur ayam yang diminta oleh Naura. Selesai sholat subuh tadi, Naura merengek ingin makan bubur ayam. Namun bubur ayamnya harus yang dibuat oleh Wisnu. Tak boleh minta bantuan sama Aisa atau Saima.
Akhirnya setelah tanya mba google, Wisnu pun membuat bubur ayam disaat para pembantu masih terlelap. Untung saja di kulkas selalu tersedia daging ayam sehingga Wisnu tak perlu repot mengambil memotong ayam disaat hari masih gelap.
"Juragan, biar bibi bantu." ujar Saima saat ia bangun dan menuju ke dapur, isi dapur berantakan semuanya.
"Jangan, bi. Naura mau makan bubur ayam buatan aku sendiri." kata Wisnu.
"Bibi bantu mengaduk saja."
"Bibi buatkan susu untuk Naura saja. Sebentar lagi buburnya siap."
Saima hanya mengangguk sambil tersenyum. Sang juragan yang biasa dilayani, kini dengan siaga menjaga istrinya yang sedang hamil. Kemarin saja Wisnu dibuat pusing karena Naura tiba-tiba ingin makan duku. Pada hal ini bukanlah musimnya. Dari pagi Wisnu sudan menggerakan semua anak buahnya untuk mencari buah tersebut di kota atau di desa-desa tetangga. Menjelang malam, duku pun ditemukan di warung buah jalanan. Dengan semangat Wisnu membawanya ke hadapan Naura yang seharian merengek ingin makan buah itu. Namun, saat Naura melihat buah itu, ia hanya mengambilnya sebuah dan memakannya.
"Makasih, mas." Ujar Naura lalu segera masuk ke kamar dan tidur.
"Sudah susah payah aku mencarinya dan dia hanya makan satu saja?" Wisnu terlihat hampir emosi namun Aisa dan Saima langsung menenangkannya.
"Begitulah kalau perempuan ngidam, juragan. Kadang aneh. Suami harus sabar."
Saima jadi tertawa melihat bagaimana Wisnu yang kelelahan mencari buah duku harus minum air es yang banyak untuk mendinginkan kepalanya yang panas sebelum akhirnya menyusul sang istri ke kamar.
"Buburnya sudah jadi. Aku nggak tahu apakah istriku akan memakan semua atau hanya satu sendok, aku sungguh harus banyak bersabar ya, bi."
"Tentu saja, juragan. Kan yang ada di perut nyonya ada dua. Jadi memang sedikit jutek nyonya Naura. Bawaan bayi jadi super menuntut namun ada yang berubah dengan Nyonya. Semua pekerja bilang kalau nyonya terlihat lebih kalem, nggak tomboy lagi dan sudah suka berdandan."
Wisnu tersenyum. "Mau tidur saja ia menggunakan lipstick. Aku jadi makin cinta padanya he....he....." Wisnu langsung mengambil baki berisi bubur, susu dan air mineral dan membawanya ke lantai dua.
Naura terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. Ia terlihat segar.
"Kamu sudah mandi sayang?" tanya Wisnu.
"Iya. Tapi nggak keramas. Capek mau mencuci rambut sendiri. Sebentar sore mas bantuin aku mandi ya?"
"Boleh." Wisnu meletakan baki berisi makanan dan minuman itu di atas meja.
"Makanlah."
Naura menatap Wisnu. "Beneran ini mas yang buat sendiri?"
"Kamu meragukan kemampuanku?"
"Soalnya, baunya saja sudah enak."
Wisnu tersenyum senang. "Makan yang banyak ya? Semalam kamu muntah sampai berkali-kali. Aku jadi kasihan melihatnya.
"Mas suapin ya?"
"Dengan senang hati, istriku."
Naura duduk di samping Wisnu. Saat suapan pertama itu masuk, ia langsung melotot.
"Kenapa?" tanya Wisnu khawatir.
"Agak asin."
"Ya....." Wisnu terlihat kecewa.
"Tapi aku suka. Suap lagi dong...."
"Benarkah?" Wisnu langsung memberikan suapan kedua bagi Naura. Istrinya itu dengan lahap menikmati bubur buatan Wisnu. Namun saat saat suapan terakhir hampir masuk ke dalam mulut Naura, tiba-tiba saja Naura merasa muntah. Ia akhirnya berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya lagi.
"Naura.....!" Wisnu merasa sedih melihat istrinya.
"Sudah kodratku sebagai wanita untuk mengalami semua ini, mas."
Wisnu memegang pipi Naura. "Kamu pasti jadi lapar lagi kan?"
__ADS_1
"Iya. Buburnya masih adakah?"
"Masih."
"Mas mau mengambilkannya untukku?"
Wisnu mengangguk. "Apapun untukmu dan anak-anakku."
Naura tersenyum. Ia memeluk Wisnu dengan manjanya. "Aku mencintaimu, mas Wisnu, juragan ku." bisik Naura membuat hati Wisnu berbunga-bunga. Betapa ia sangat senang dengan perkataan itu. Aku mencintaimu.....
*********
Untuk sementara, Jeslin dan Gading tinggal di rumah Wisnu yang ada di perkampungan. Gading sebenarnya ingin menyewa rumah sendiri namun Wisnu tak mengijinkannya. Bagi Wisnu, Gading adalah saudaranya sehingga rumah Wisnu akan menjadi rumah bagi Gading juga.
"Sayang, aku mau ke kampus hari ini. Persiapan untuk ujian skripsi." Kata Jeslin saat keluar dari kamar mandi.
Gading yang sudah lebih dulu bangun dan mandi, menatap istrinya. "Sayang, aku ada pekerjaan penting hari. Aku dan tuan Wisnu akan mengecek proyek pembangunan jalan lingkar. Jadi aku tak bisa mengantarmu."
"Aku kan bisa pergi sendiri, mas." Kata Jeslin lalu mulai memakai bajunya.
"Tapi aku takut kamu pergi sendiri."
Jeslin tertawa. "Kok takut, mas. Aku tuh sudah biasa pergi sendiri dengan mobil. Lagian, jalan ke kota kan rata-rata saja. Nggak ada yang terlalu menanjak atau menurun. Nggak ada tikungan tajam dengan jurang yang menakutkan.":
"Aku tahu kalau kamu pintar menyetir mobil
Namun yang aku takutkan jika di kampus dan Yuda menganggu kamu lagi."Gading mendekat, lalu menyentuh pipi Jeslin. "Aku takut dia menyakiti kamu lagi, sayang."
"Nggak mungkin, mas. Kan sudah buat surat perjanjian di kantor polisi bahwa setiap kali bertemu, Yuda harus memasang jarak 100 meter dariku. Dia nggak akan berani, mas."
Gading tersenyum. "Apakah aku minta salah satu pelayan pergi bersamamu?"
"Nggak perlu, mas. Aku kan......!" Jeslin yang sedang menunduk untuk memakai celana jeans nya tiba-tiba saja merasa pusing.
"Jes, ada apa?"
Jeslin merasakan kalau di sekitarnya menjadi gelap. Dan sebelum ia kehilangan kesadarannya, ia merasakan kalau tangan Gading yang kekar sudah memeluknya.
Dokter Satria yang kebetulan ada Edang praktek di desa, langsung datang saat salah satu pekerja ladang memanggilnya. Ia langsung memeriksa Jeslin setelah membuat perempuan itu sadar.
"Jes, gue periksa ya?" ujar Satria.
"Baik, dokter." ujar Jeslin sedikit tertawa karena melihat wajah Gading yang agak tegang saat Satria memegang tangannya dan mengangkat sedikit kaos yang dikenakannya untuk diperiksa.
Satria menepuk perut Jeslin dan menekannya sedikit. "Sakit?" tanya Satria.
"Nggak."
Satria kembali memegang nadi Jeslin. "Apakah kamu sudah datang bulan?"
"Belum kayaknya."
Bidan Adnin yang kebetulan datang bersama dokter segera mendekat.
"Nyonya, apakah akhir-akhir ini sering mengalami pusing?" tanya bidan Adnin.
"Iya. Kemarin pagi juga saat bangun rasanya agak pusing. Aku pikir karena aku jarang tidur cepat kalau malam." Kata Jeslin sambil melirik Gading. Suaminya itu menahan senyum. Ia tahu kalau dialah peyebab Jeslin sering tidur tengah malam.
"Boleh tes kehamilan dulu. Kebetulan aku bawa tespack."
Jeslin dibantu oleh Gading, turun dari tempat tidur. Ia langsung menuju ke kamar mandi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Gading tak sabar saat Jeslin dan bidan Adnin keluar dari kamar mandi.
"Alhamdulillah, tuan Gading. Nyonya Jeslin positif hamil." Kata bidan Adnin.
Gading merasakan jantungnya berdetak agak kencang. Ada luapan kebahagiaan yang memenuhi rongga dadanya. Ia hampir saja menangis.
__ADS_1
"Ya Allah, Alhamdulillah." Ia langsung sujud syukur di lantai kamar. Lalu setelah itu ia memeluk istinya. Tak peduli dengan bidan Adnin dan dokter Satria yang masih ada di kamar, Gading mencium istrinya itu dengan luapan kebahagiaan. Di dahi, di bibir dan di pipinya.
Satria merasa iri melihat kebahagiaan Jeslin dan Gading. Ia juga ingin seperti mereka. Berkeluarga dan mendapatkan kebahagiaan.
"Jeslin....aku dengar kalau kau sakit." Naura masuk ke dalam kamar. Langkahnya terhenti. Melihat ada Satria dan bidan di sana.
Hati Satria bergetar. Ternyata ia belum bisa move on dari Bauran Apalagi melihat penampilan Naura sekarang yang semakin cantik. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan masih basah. Ia menggunakan dress jeans dengan tangan Sabrina. Ada make up tipis yang menghiasi wajahnya yang biasa polos. Naura semakin dewasa.
"Aku hamil." ucap Jeslin memecahkan kebisuan yang terjadi karena Satria dan Naura yang saling bertatapan.
"Hamil? Ya ampun Jes, selamat ya?" Naura langsung mendekat dan memeluk sahabatnya itu.
"Kami pulang dulu ya." pamit Satria. Ia akan merasa gila bila harus menatap Naura terus.
"Terima kasih dokter, terima kasih bu bidan." Ujar Gading sambil mengantar mereka keluar kamar.
Wisnu yang sedang menunggu di ruang tamu, menatap Satria dan bidan Adnin yang baru keluar dari kamar Gading. Ada rasa cemburu yang Wisnu rasakan saat membayangkan dokter Satria dan Naura tadi berada di ruangan yang sama. Namun ia berusaha menekan semua rasa itu. Ia percaya dengan Naura yang tak mungkin lagi terpesona dengan Satria.
***********
Gayatri yang masuk ke ruang praktek dokter untuk merapihkan ruangan itu, terkejut melihat dokter tampan itu masih duduk di kursinya kerjanya.
"Aku pikir dokter sudah ke rumah sakit."
"Sedikit lagi."
"Baiklah kalau begitu nanti saja aku bersihkan ruangan ini, dok."
"Silahkan saja jika mau dibersihkan. Jangan pedulikan saya."
"Mana mungkin saya nggak perduli kan dokter."
Satria tersenyum. Gayatri terlihat selaku riang walaupun Satria tahu kalau gadis itu sudah tak punya ibu lagi.
"Dokter sedang bersedih ya?"
Satria mengerutkan dahinya. "Dari mana kamu tahu?"
"Sinar di mata dokter terlihat tak seperti biasanya."
'Oh ya?"
"Maaf, dok. Bukannya aku sok tahu. Namun wajah dokter memang terlihat tak seperti biasanya. Beberapa pasien yang datang tadi bahkan bertanya padaku apakah dokter sakit?"
"Sampai segitunya?"
"Makanya, dok. Ayo semangat. Aku nggak tahu apa yang menyebabkan dokter sedih namun hidupkan terus berjalan, dok. Jadi tinggalkan saja semua yang membuat dokter sedih."
Satria tersenyum. Perkataan Gayatri seolah mengisyaratkan kalau gadis itu tahu alasan Satria bersedih hari ini.
"Gayatri, apakah kamu punya pacar?" tanya Satria.
"Setahun yang lalu punya. Namun kami putus."
"Kenapa?"
"Karena aku tak mau dicium dan dipeluk olehnya."
"Kenapa kamu nggak mau dicium dan dipeluk olehnya. Itu kan wajar bagi orang yang pacaran."
"Ih dokter, mungkin aku kedengarannya kuno. Tapi bagiku yang berhak memeluk dan mencium aku hanyalah suamiku nanti dok. Dia kan belum tentu jadi suamiku."
Satria tertawa mendengar perkataan Gayatri. Gadis desa yang lucu tapi menarik.
***********
Apakah Gayatri bisa mengobati luka hati Satria?
__ADS_1
Terus gimana ngidamnya ala Naura dan Jeslin? Wisnu dan Gading pusing nggak ya??
menuju episode-episode akhir ya guys....