
Kenapa ya, Naura yang sudah tahu segala kebusukan Indira dan Regina masih memendamnya sendiri, sehingga kesannya kayak sinetron gitu........(Komentar pembaca)
Dari awal aku sudah menjelaskan tentang karakter Naura yang cuek dan nggak mau pusing dengan urusan orang. Ada alasannya mengapa Naura masih diam. Alur cerita ini memang sudah diatur demikian karena kalau cepat ketahuan, Naura belum cinta dengan Wisnu. Tujuan Naura sebenarnya ingin membalas Indira dan Regina melalui kedekatannya dengan Wisnu namun perhatian dan kasih sayang Wisnu justru membuat perasaan Naura yang awalnya untuk Satria perlahan akan beralih kepada Wisnu. Ingat ya, nggak mudah melupakan cinta pertama dan cinta yang sudah dipendam Naura selama bertahun-tahun.
Dengan penuh kerendahan hati, saya memohon pembaca untuk sabar menunggu prosesnya. Pernikahan Wisnu dan Naura saja baru mau 3 bulan. Masa sih sudah langsung ke endingnya.
***********
Jodi dan Johan, saling berpandangan ketika merasakan kalau sang nyonya sudah terlalu lama ada dalam toilet.
Mereka masih berdiri di depan toilet itu tanpa berani untuk masuk itu toilet khusus wanita.
"Aku merasa ada yang aneh. Kau tunggulah di sini dan aku akan menyelidiki toilet ini." Kata Jodi. Ia melangkah mengitari toilet itu dan terkejut melihat kalau ada pintu belakang berupa jalan setapak menuju ke bagian tempat parkir yang lain.
Jodi langsung masuk dari pintu belakang dan terkejut melihat ponsel Naura yang ada di lantai.
"Johan, kita kecolongan. Ayo kita cari nyonya. Juragan bisa menghabisi kita." Jodi langsung menemui Johan yang masih berdiri di depan pintu masuk toilet.
Keduanya langsung naik mobil dan menuju ke gerbang keluar mobil. Di sana ada CCTV. Setelah menunjukan kartu identitas sebagai bodyguard yang resmi, penjaga pintu mengijinkan mereka melihat mobil yang keluar dalam kurun waktu 30 menit. Ternyata hanya ada dua mobil. sebuah mobil sedang berwarna putih dengan kaca transparan dan sebuah mobil Pajero warna hitam dengan kaca gelap. Jodi dan Johan yakin kalau di mobil itulah nyonya ketiga berada.
"Tuan......!"
Jodi yang akan masuk ke dalam mobil menoleh. Seorang perempuan cantik, berusia sekitar 40an menatapnya. Ia mengenakan kerudung dan kacamata hitam.
"Ya. Anda siapa?"
"Nama saya tak penting. Namun saya melihat mobil panjero hitam membawa nyonya Naura yang nampak pingsan. Aku tahu kemana mereka membawanya."
"Kemana?"
Perempuan itu menyebutkan sebuah lokasi yang agak jauh.
"Apakah kamu yakin? Kamu tidak bohong kan?"
"Tidak, tuan. Saya hanya tak ingin nyonya ketiga menjadi korban kebejatan seseorang."
"Terima kasih!"
Jodi dan Johan meninggalkan lokasi itu.
"Menurutmu, wanita tadi layak dipercaya?" tanya Johan.
"Entahlah. Dia terlihat tulus. Kita cari saja ke lokasi itu."
"Mengapa wajahnya sangat familiar ya? Dia itu mirip istri pak kades."
Jodi menatap temannya yang sedang menyetir mobil. "Kamu yakin?"
"Ya. Aku kan pernah bilang kalau istri pak kades itu cantik. Sayangnya pak kades justru suka bermain dengan wanita yang lain."
"Kita konsentrasi saja mencari nyonya ketiga. Karena juragan akan menghabisi kita jika terjadi sesuatu dengan istri kesayangannya itu."
**********
30 menit sebelum waktu itu.....
Satria datang ke water park. Dalam perjalannya ke kota, ia baru menyadari bahwa beberapa tas dari peserta tarian ada di dalam mobilnya. Sekarang mereka pasti akan membutuhkan tas ini karena akan ganti baju selesai mandi. Makanya, ia pun memutuskan untuk datang ke sini.
Parkiran di depan sudah penuh dan Satria tahu di bagian belakang ada tempat parkiran. Ia pun memarkir mobilnya dan sebelum turun, ponselnya berbunyi. Ada panggilan dari ibunya. Sementara menerima telepon, Satria melihat ada seorang gadis yang dibopong oleh 3 orang lelaki. Ia awalnya cuek saja karena berpikir mungkin gadis itu mabuk. Namun saat melihat pakaian yang dikenakan oleh gadis itu, Satria menjadi tegang. Itukan baju Naura!
"Mami, nanti aku hubungi lagi ya?" ujar Satria dan bermaksud akan turun namun matanya yang awas melihat ada pistol yang disembunyikan di pinggang para pria itu. Satria kembali menutup pintu mobilnya secara perlahan, mengambil ponselnya dan segera mengabadikan beberapa gambar. Ia memutuskan untuk mengikuti mereka secara diam-diam.
Mobil Pajero hitam itu melesat dengan kecepatan tinggi membuat Satria sedikit kesulitan mengikuti mereka.
Mobil memasuki area pelabuhan pribadi dan Satria tak bisa lebih mendekat. Makanya, ia turun dari mobil dan mencari jalan untuk memasuki area itu.
Ia bisa melihat kalau Naura diturunkan dari atas mobil dan dibawa masuk ke dalam salah satu kapal.
__ADS_1
Saat Satria mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang, ia terkejut melihat batrei gawainya itu yang memperlihatkan angka 3 %.
"Sial.....!" Satria berdecak kesal namun ia masih mencoba menghubungi teman polisinya. Sayangnya, saat panggilan itu tersambung, ponsel Satria mendadak mati.
Tenanglah, Na. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkanmu.
**********
Gading melaporkan pada Wisnu bahwa mereka yang sedang ada di water park sangat terkejut saat menyadari bahwa Naura hilang.
"Lalu kedua bodyguard itu untuk apa?" teriak Wisnu kesal lalu segera masuk ke dalam mobil.
"Mereka menunggu nyonya di depan toilet. Mereka tak tahu kalau toilet itu ada jalan belakangnya. Sekarang mereka sedang mengejar mobil Pajero hitam yang dicurigai membawa nyonya."
Wisnu mengepal tangannya. "Jika istriku sampai terluka lagi, dan jika dia tersakiti lagi, aku akan membunuh siapa saja yang menjadi dalang dari semua ini."
Gading terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka kalau begitu besar arti Naura bagi tuannya ini.
********
Perlahan Naura membuka matanya. Ia berada di atas tempat tidur namun bukan di dalam ruangan melainkan....
"Aku ada di atas kapal?"
Tangan dan kakinya diikat dan Naura merasa kesulitan.
"Hallo.....ada orang kah?" teriak Naura.
Dua orang lelaki masuk. Di badan mereka melingkar senjata Laras panjang dan mereka memakai masker.
"Pengecut! Beraninya menyembunyikan wajah kalian. Kenapa? Takut ketahuan."
"Kalau kami tidak diperintahkan untuk tak menyentuhmu, sudah aku sobek mulutmu itu, nona."
"Nyonya! Jangan kalian lupa kalau yang kalian culik ini adalah istri juragan Wisnu."
Kedua orang itu saling berpandangan dan tertawa sangat keras.
Aku harus melakukan sesuatu. Ini tak boleh terjadi. Aku tak tahu mereka akan membawaku kemana. Pasti ini masih ada hubungan dengan Indira dan Regina.
"Aku mau buang air kecil!" kata Naura.
"Jangan coba-coba membohongi kami, nyonya. Asal kau tahu saja, di dek kapal, ada 10 orang menggunakan senjata yang sama dengan diri kami. Kau tak akan lolos dengan mudah."
"Aku mau pipis. Memangnya kalian mau aku ngompol di atas tempat tidur?"' Naura berusaha menunjukan keberaniannya walaupun jantungnya hampir copot karena ketakutan.
"Kamar mandinya di sana!" tunjuk salah satu pria pada sebuah pintu kayu berwarna hitam.
"Bagaimana aku bisa buang air dengan tangan dan kaki yang terikat seperti ini?"
Kedua orang itu saling berpandangan, lalu salah satu maju dan membuka ikatan tali yang ada di tangan dan kaki Naura.
Naura turun dari ranjang sambil menggerakkan kaki dan tangannya yang terasa kaku. Ia masuk ke kamar mandi sambil berpikir keras, apa yang harus ia lakukan.
"Cepatlah......!"
Naura kesal karena ia belum mendapatkan ide dan mereka sudah mengetuk lagi pintunya.
Tiba-tiba perempuan itu tersenyum. Mereka tak akan bisa menyakiti aku kan?
Naura membuka pintu kamar mandi. Ia kemudian keluar. Saat dilihatnya kalau penjaga tinggal satu orang, Naura langsung menyerangnya dengan cepat. Penjaga yang tidak siap itu langsung roboh. Naura mengambil senjatanya dan melihat jenis senjata seperti apa ini. Ia bersyukur sering memainkan game yang berhubungan dengan senjata-senjata sehingga bisa tahu berbagai jenis senjata dan cara menggunakannya.
Naura mencari cara bagaimana bisa lolos. Sampai matanya menatap sebuah korek api yang terletak di atas meja. Ia mengambil korek api itu lalu beberapa kertas yang ad di sana. Naura membuat api di atas tempat tidur dan perlahan tempat tidur itu mulai terbakar. Setelah itu, Naura mengarahkan senjatanya di sebuah jendela kaca. Beberapa kali bidikan kaca jendela itu pecah dan menimbulkan keributan. Beberapa orang masuk dan langsung terbatuk-batuk.
Ya Allah, ampunilah aku!
Naura mengarahkan senjatanya ke bagian kaki para lelaki yang masuk itu. Suasana di dalam ruangan kamar itu menjadi kacau karena asap yang tebal. Api kini mulai membakar dinding kayu.
__ADS_1
"Jangan menembaknya, ingat pesan bos."
Saat beberapa lelaki itu tumbang dengan luka tembak di kaki, Naura berhasil keluar kamar. Ia bersembunyi saat melihat ada beberapa pria lain yang datang.
Setelah itu ia mencari celah agar bisa keluar.
"Naura.....!" Seseorang menariknya.
"Kak Satria?" Naura terkejut.
"Ayo lewat sini!" ajak Satria sambil menarik tangan Naura. Baju Satria nampak basah.
Saat melewati sebuah ruangan, Naura melihat ada beberapa tabung gas. Ide gilanya kembali datang.
"Kak, tolong bantu aku menarik tabung gas ini.
Mereka pun menarik tabung gas itu sampai ke luar kapal. Saat di dengarnya para lelaki itu sudah mendekat, Naura meminta Satria untuk melompat ke dalam air.
"Tapi, Na."
"Lompat aja, kak." Satria menurut. Ia melompat ke air.
Naura menjauh dari tabung gas itu. Ia membisikan senjatanya beberapa kali ke sana. Dan sebelum tabung gas itu meledak, Naura membuang senjata itu dan melompat ke dalam air. Berenang dengan Satria secepat mungkin agar menjauh dari kapal yang kini terbakar hebat.
Tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi.
Satria memegang tangan Naura untuk keluar dari air dan berjalan menjauhi pantai.
"Dingin.....!" Kata Naura sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Satria dengan cepat menarik tubuh Naura dalam pelukannya.
Beberapa mobil masuk ke area pelabuhan pribadi itu dan salah satunya mobil Wisnu. Saat ia turun, ia terkejut melihat Satria yang sedang berjalan bersama Naura namun tangan pria itu melingkar di bahu Naura sedangkan tangannya yang lain memegang kedua tangan Naura yang ada di depan dadanya. Dada Wisnu terasa panas. Ia cemburu namun bersyukur karena istrinya selamat.
Kenapa harus Wisnu? Kenapa bukan aku yang menyelamatkan istriku?
Naura menoleh kembali ke arah pantai tanpa memperhatikan Wisnu yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Ada apa?" tanya Satria.
"Apakah mereka semua hangus terbakar?"
"Mungkin."
"Apakah aku berdosa?"
"Tidak! Kau membela dirimu sendiri."
"Setidaknya ini memberikan mereka pelajaran."
"Apa?"
"Naura, jangan dilawan."
Lalu keduanya tertawa bersama. Satria menjadi gemas rasanya. Ia tanpa sadar membelai wajah Naura. "Kau tetap cantik walaupun dalam keadaan berantakan seperti ini."
"Kak.....!" Naura melotot. Ia ingin mengingatkan Satria akan statusnya sebagai istri orang.
"Naura.....!"
Keduanya membalikkan tubuhnya. Mereka sama-sama terkejut melihat Wisnu yang sudah berdiri di depan mereka.
Mata Wisnu menatap tangan Satria yang masih melingkar di bahu istrinya.
Naura melihat mata Wisnu menggelap dengan rahang yang mengeras. Ia tahu kalau Wisnu sedang dalam mode marah.
Ketiga orang itu saling menatap satu dengan yang lain. Tak peduli dengan polisi yang mulai menginterogasi. Dua pria, yang menyukai wanita yang sama.
********
__ADS_1
Elena...., aku sudah penuhi janjiku menulis part yang ada adegan bar-bar nya Naura. Entahlah, apakah bagus atau tidak. Aku nulis part ini butuh waktu sampai 5 jam.
Semoga suka ya guys.....