
Naura turun dari mobil kedua bodyguardnya. Ia datang ke rumah Kumala dan akan menjemput ibunya ke rumah Wisnu.
"Aduh, aku melupakan kue yang sudah disiapkan untuk anak-anak. Johan, tolong kembali ke rumah bukit dan ambil kuenya ya? Minta juga bi Aisa untuk membuatkan es jeruk bagi anak-anak. Dan kamu Jodi, segera ke rumah mas Wisnu, dan minta pelayan untuk membersihkan teras samping. Aku dan anak-anak akan makan siang di sana. Minta juga pelayan untuk membawakan beberapa buah dari kebun." Kata Naura saat turun dari mobil.
"Tapi nyonya, kata tuan kami tak boleh meninggalkan nyonya sedikit saja." Kata Johan.
"Jangan takut. Aku akan pergi bersama dengan ibu Kumala dan Gayatri. Lagi pula ini masih pagi. Mana mungkin para penjahat itu berani mendekati aku. Jalannya saja ramai dengan para penduduk yang hilir mudik."
Jodi dan Johan saling berpandangan. "Baiklah, nyonya. Telepon kami jika ada sesuatu yang nyonya inginkan" Kata Johan lalu segera naik mobil bersama Jodi.
Naura mengangguk. Kedua bodyguard itu pun pergi saat melihat Gayatri ada di sana dan sedang menjemur pakaian.
"Assalamualaikum....!" Sapa Naura
"Waalaikumsalam, nyonya!" balas Gayatri.
"Ibu kemana?"
"Ibu sedang ke pasar sebentar. Nggak lama lagi pasti balik. Soalnya sudah sejam lebih perginya. Kata ibu hari ini nyonya ada janji dengan ibu."
"Iya. Makasi ya kamu selalu membantu ibu."
Gayatri tersenyum. "Aku sudah menganggap ibu Kumala seperti ibuku sendiri. Kebetulan hari ini bapakku sedang kerja di luar kampung jadi aku punya waktu luang di sini."
Naura duduk di teras sambil memainkan ponselnya.
"Nyonya, saya tinggal sebentar ya? Mau mengambil ponsel saya di rumah."
"Baiklah."
Saat Gayatri pergi, ponsel Naura berbunyi. Rupanya panggilan dari Wisnu.
"Hallo Juragan!"
"Panggil aku, mas."
"Hallo sayang..."
Wisnu tertawa kecil. "Aku lebih suka yang itu."
"Dasar mesum!"
"Panggilan sayang itu bukan sesuatu yang mesum. Itu adalah tanda sayang. Aku sudah merindukanmu pada hal aku belum tiba di kota. Entah mengapa aku kepikiran kamu terus." Kata Wisnu membuat Naura tertawa.
"Gombalnya masih pagi. Malu di dengar mas Gading."
"Gading tahu apa tentang gombal? Pacaran saja nggak pernah."
"Kita jodohkan Gading, yuk!"
Wisnu tertawa. "Itu ide yang bagus, sayang. Akan kita bicarakan dengan serius saat aku kembali. Sekarang, aku sudah tiba di depan pabrik. Nanti kita bicara lagi ya, bye..."
"Bye...." Naura tersenyum. Wisnu jadi aneh menurutnya. Dia adalah lelaki pendiam yang dingin dengan wanita (itu sih menurut istri pertama dan kedua), sekarang jadi sok romantis.
Tak lama kemudian, Naura menerima sebuah pesan. Ia sangat terkejut saat membuka pesan itu. Dengan cepat ia berdiri, dan sebuah mobil hitam sudah menunggunya di depan rumah Kumala.
10 menit setelah kepergian Naura, Kumala datang menggunakan ojek. Bersamaan dengan itu, Gayatri datang dari arah yang berbeda.
"Lho, nyonya Naura dimana ya?" tanya Gayatri sambil masuk dan ikut membawa belanjaan Kumala.
"Naura sudah datang?"
"Iya, bu. Tadi aku tinggal sebentar untuk mengambil ponselku di rumah. Apa mungkin nyonya sudah pergi ke rumah juragan?" tanya Gayatri.
"Mungkin saja ia bosan menunggu. Anak itu pasti sudah pergi lebih dulu. Dia pasti ingin melihat persiapan di sana. Kamu bantu ibu memasak sebentar ya? Setelah itu baru kita ke rumah Juragan. Ibu ingin membuat makanan yang akan membuat kandungan Naura subur. Supaya ia bisa hamil lagi."
"Baik, Bu!"
2 jam pun berlalu. Kumala dan Gayatri sudah tiba di rumah Wisnu. Anak-anak sudah berkumpul. Mereka akan menikmati kebersamaan dengan sang nyonya, lalu makan siang bersama dan sorenya akan main bola bersama.
"Mana nyonya Naura?" tanya Johan saat melihat Kumala dan Gayatri yang datang berdua saja.
"Bukankah dia sudah ada di sini?" Kumala balik bertanya. Perasaannya sebagai seorang ibu sudah was-was.
__ADS_1
"Tadi nyonya bilang kalau ia akan ke sini bersama dengan bibi dan Gayatri." Kata Johan lagi. Ia segera mencari Jodi yang sudah lebih dulu ada di rumah ini. Namun baik Jodi maupun pelayanan lainnya, tak ada yang melihat Naura datang ke rumah ini.
"Aku tadi meninggalkan nyonya sebentar untuk mengambil ponselku di rumah. Nyonya sedang main ponsel di teras depan." Kata Gayatri ikut merasa tegang juga. Para pelayan dan pekerja lainnya pun ikut mencari.
*********
Ada senyum kepuasaan di wajah Wisnu saat kerja sama dengan wakil dari perusahaan Korea akhirnya bisa ditandatangani. Kini Wisnu dapat mengembangkan usahanya di bidang pertanian dengan investor dari Korea. Wisnu ingin meningkatkan ekonomi penduduk yang ada di desa.
Ketika para tamu sudah pulang, Wisnu pun mengambil ponselnya yang sama sekali belum disentuhnya sejak 4 jam terakhir. Ia mengabaikan perutnya yang sudah lapar dan ingin menelepon istrinya dulu.
Panggilan itu tersambung.
"Hallo sayang......!"
"Ah......!"
Deg! Wisnu mendengar suara khas orang bercinta.
Tak lama kemudian panggilan itu terputus. Jantung Wisnu bagaikan berhenti berdetak. Ia kembali menghubungi ponsel Naura namun tak tersambung lagi.
"Tuan, detektif yang mengikuti nyonya Regina dan Indira ingin bertemu untuk melaporkan hasil pengamatan mereka." Kata Gading yang baru masuk di ruangan kerja Wisnu.
"Tunggu sebentar Gading." Wisnu segera menelepon Jodi saat dilihatnya ada 5 kali panggilan tak terjawab dari Jodi.
"Juragan, maaf menganggu namun nyonya Naura tiba-tiba saja menghilang saat berada di rumah ibu Kumala."
"Lalu apa yang kalian kerjakan sampai tak mengawasi istriku?" teriak Wisnu kesal. Ia memutuskan sambungan teleponnya.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Istri anda ada di California Hotel kamar 3021
"Gading, dimana hotel California itu?" tanya Wisnu dengan dada yang sesak oleh rasa penasaran, marah dan cemburu.
"Hotel itu ada di luar kota tuan, hotelnya agak masuk ke dalam di daerah pantai. Kalau dari desa jaraknya hanya sekitar 45 menit. Hotel itu baru beberapa bulan ini dibuka."
"Ayo kita ke sana!"
"Tapi ada apa, tuan? Terus bagaimana dengan para detektif yang ingin ketemu?"
Perjalanan ke hotel itu dirasakan Wisnu agak lama. Ia bahkan beberapa kali mengumpat kesal karena jalanan yang macet.
Saat mobil mereka telah memasuki halaman parkir hotel, mata Wisnu yang tajam melihat mobil Ferrari merah metalik milik Satria yang sudah sangat dihafalnya karena plat nomornya sangat mudah diingat : B 111 SA.
apakah Naura bersama Satria? Apa yang mereka lakukan di hotel ini?
Dengan tak sabar, Wisnu turun dari mobil dan berjalan memasuki lobby hotel yang nampak ramai dengan para wisawatan dari Cina.
Wisnu tak perlu bertanya pada resepsionis karena ia sudah tahu kamar yang akan dia tuju.
Gading berhasil memarkir mobilnya dan menyusul Wisnu sebelum pintu lift tertutup.
"Tuan, ada apa?" tanya Gading penasaran.
"Diam saja Gading." sentak Wisnu nampak sangat marah. Pintu lift terbuka di lantai 3. Saat Wisnu keluar dari lift, ia segera mencari kamar nomor 3021. Saat ia berhenti di depan pintu, Wisnu mengetuk namun tak ada yang membukakan. Pada saat yang sama, seorang cleaning service keluar dari kamar yang di 3022.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya cleaning service laki-laki itu.
"Eh, kunciku tertinggal di dalam dan istriku sepertinya sedang mandi. Boleh tolong bukakan?"
Cleaning service itu nampak berpikir sejenak.
"Aku tidak bohong! Istriku memang ada di dalam. Tolong di buka." Wisnu berusaha bersikap ramah walaupun sebenarnya ia mulai tak sabar.
"Baiklah tuan!" Tukang cleaning service itu mengambil kartu masternya dan langsung memasukan ke lubang kunci yang ada. Terdengar bunyi bip dan pintu itu akhirnya terbuka.
Wisnu langsung menahan pintu itu dengan kakinya, ia membuka dompetnya dan memberikan 1 lembar uang pecahan seratus ribu kepada cleaning service itu. Setelah pria itu pergi, Wisnu masuk diikuti oleh Gading.
Sebuah kamar jenis presidential suite, nampak di depan mata Wisnu saat ia berdiri di depan lorong. Langkah Wisnu semakin ke dalam ruangan sampai akhirnya ia menemukan sebuah tempat tidur king size. Lantai kamar bertaburan dengan kelopak bunga mawar, bercampur dengan beberapa lembar pakaian yang ada di sana. Wisnu sangat mengenal baju itu. Milik Naura. Tempat tidur itu terbuat dari kayu jati, menggunakan empat tiang penyangga sebagai tempat kelambu diletakan. Kelambu itu tertutup dan Wisnu langsung membukanya.
Langkah Wisnu mundur beberapa langkah. Ia berusaha tak percaya dengan apa yang dilihatnya namun itulah yang nyata dia lihat.
Di atas tempat tidur itu, Naura nampak tertidur memeluk Satria yang juga tertidur. Naura sedang tidur sedikit miring, menampakan punggungnya yang polos, Sementara dada Satria juga terlihat polos.
__ADS_1
"Naura......!" teriak Wisnu dengan kemarahan yang tak tertahankan lagi.
Perlahan Naura membuka matanya. Ia terlihat masih sedikit bingung, matanya langsung terbuka lebar saat menyadari bahwa ia sedang memeluk seseorang.
"Satria....?"'teriak Naura kaget. Ia bangun namun langsung menahan lagi selimutnya saat menyadari bahwa ia dalam keadaan polos. Untung saja Gading berdiri agak jauh karena tak berani melihat apa yang ada di sana.
Mendengar teriakan Naura, Satria pun ikut berdiri. Ia terkejut mendapati dirinya dalam keadaan tanpa busana.
Wisnu langsung naik ke atas tempat tidur, dia langsung menghajar Satria dengan membabi buta. Satria yang tak siap langsung jatuh dari tempat tidur pada pukulan kedua.
Mata Wisnu langsung membara dengan rasa marah yang tak tertahankan lagi saat melihat keadaan Satria yang sama sekali tak berbusana. Ia terus menghajar Satria membuat Naura segera melingkarkan selimut ditubuhnya dan turun dari tempat tidur.
"Juragan...., hentikan! Kau bisa membunuhnya! Gading....kenapa kamu hanya diam saja." Teriak Naura yang kesulitan menahan tangan Wisnu karena tangannya yang satu menahan selimut agar tak jatuh.
Gading yang berbadan kekar itu berhasil menarik Wisnu yang sudah berjongkok di hadapan Satria yang telah rebah di atas lantai.
Naura mengambil celana Satria dan melemparkannya ke arah Satria dan secara cepat sambil menahan rasa sakit di wajah dan perutnya, Satria mengenakan pakaiannya lagi.
"Lepaskan aku, Gading!" Wisnu berusaha melepaskan diri dari Gading, namun badan Gading yang lebih tinggi dan lebih besar dari Wisnu membuat pria itu mampu menahan Wisnu.
Naura memungut pakaiannya lalu segera ke kamar mandi.
Ponsel Wisnu berbunyi. Masuk beberapa foto kedekatan Satria dengan Naura dibeberapa kesempatan yang ada. Saat Naura mengikuti lomba, saat Naura di rumah Kumala dan saat ada di rumah sakit.
ini sebagai bukti kalau istrimu dan Satria sudah lama selingkuh.
Demikian pesan yang tertera di bawa foto-foto itu.
"Aku akan membunuhmu, Satria.....!" Teriak Wisnu saat melihat foto-foto itu.
Tak lama kemudian Naura keluar dari kamar mandi. Ia mencari ponselnya dan untuk menunjukan pesan yang membuatnya datang ke hotel ini. Namun pesan itu sudah tak ada. Naura kini tahu kalau dia sudah dijebak.
"Aku bisa menjelaskan Wisnu. Ini tak seperti yang kau kira!" Kata Satria.
"Diam....! Aku sudah punya cukup bukti untuk meyakini diriku, hubungan seperti apa yang kalian miliki." seru Wisnu masih dengan kemarahan yang besar.
"Juragan, aku dijebak. Kami....!"
"Diam.....!" teriak Wisnu sambil menatap Naura dengan tajam. Ia melepaskan diri dari cengkraman tangan Satria dan menarik Naura dengan kasar.
"Tunggu!" Satria mengejar.
"Jangan membuat skandal yang memalukan di tempat ini Satria! Tenang saja, aku akan membuat perhitungan denganmu, nanti!" kata Wisnu dengan tatapan tajam dan penuh ancaman. Ia terus menyeret Naura keluar dari kamar, masuk ke dalam lift tanpa suara.
Saat mereka keluar dari lift, Wisnu terus menarik tangan Naura menuju ke meja resepsionis.
"Kamar nomor 3021, dipesan atas nama siapa ya?" tanya Wisnu.
"Atas nama nyonya Naura Furkan." Ujar gadis di meja resepsionis itu membuat Naura semakin terkejut.
"Ini fitnah. Aku tak pernah memesan kamar. Aku ke sini karena sms sialan itu." kata Naura tak terima.
Wisnu menatap istrinya dengan tajam. Lalu mengucapkan terima kasih pada petugas hotel itu, kemudian ia menarik tangan Naura dan berjalan keluar hotel. Di tempat parkir, terlihat Regina dan Indira yang baru turun dari mobil mereka masing-masing.
"Ada orang yang mengirim pesan pada kami untuk datang ke sini. Ada apa, mas?" tanya Regina dengan wajah yang bingung.
Wisnu tak menjawab, ia hanya membuka pintu mobilnya dan mendorong Naura untuk masuk ke dalam, lalu ia sendiri duduk di samping Naura.
"Jalan Gading! Kita pulang ke desa!" kata Wisnu dengan kemarahan yang belum juga hilang. Ia memandang Naura yang duduk di sampingnya.
"Pantas saja kau tak mau ikut denganku ke kota. Ternyata ini kau yang kau rencanakan." kata Wisnu dengan nada menuduh.
Naura menatap Wisnu tak kalah tajamnya. "Dengarkan dulu penjelasan ku, juragan. Aku..."
"Diam...! Aku muak dengan kemunafikan mu!" sentak Wisnu membuat Naura memilih diam. Ia tahu Regina dan Indira ada dibalik semua ini. Saatnya dia akan membongkar kebohongan dua istri Wisnu itu.
*********
Emak nulis part ini panjang....
jadi jangan ada protes bilang kurang panjang ya ???
Duh, akhirnya konflik terbesar dimulai....
__ADS_1
Ujian ini akan menunjukan siapakah yang paling dewasa antara Wisnu dan Naura.