
Baru dua tahun Wisnu menjadi kepala desa di desa Hijau Permai ini, sudah banyak kemajuan yang terlihat. Selain proyek jalan lingkar yang akhirnya selesai, taman bermain anak, pusat kesehatan desa, juga perekonomian rakyat yang semakin meningkat. Wisnu mengembalikan semua ladang para penduduk yang dulu diambil paksa oleh Hartono.
Pak Somat sudah mengundurkan diri jadi sekretaris desa karena usianya yang semakin tua. Maka dipilihlah salah satu pemuda desa yang bernama Budi untuk menggantikan Somat.
Desa ini semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan karena lokasi ke air terjun sudah di buka.
"Mas, aku kalau ke sini jadi ingat kegilaan kita dulu." bisik Naura sambil melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Mereka sekeluarga sedang menginap di daerah air terjun ini. Wisnu memang mendirikan beberapa cottage yang dapat di sewa oleh pengunjung dengan catatan harus bisa menunjukan identitas sebagai pasangan yang sah. Wisnu tak ingin tempat ini menjadi tempat maksiat dari orang-orang yang tak bertanggungjawab.
Wisnu terkekeh mendengar perkataan istrinya. "Kau masih mengingat hari itu?"
"Tentu saja. Itu sangat berkesan bagiku."
"Kita dapat mengulangnya lagi."
"Jangan gila kamu, mas. Nanti mereka akan mengira kita adalah pak kades dan Bu Kades mesum."
"Tentu saja bukan di lokasi air terjunnya, sayang. Tapi di kamar ini. Anak-anak kan kebetulan nggak ikut. Aku sudah kepingin nambah momongan lagi. Jeslin sebentar lagi melahirkan anak kedua mereka."
Naura menatap suaminya. "Mas, Jeslin kan melahirkan secara normal waktu anak pertama. Aku dioperasi. Jadi jarak waktunya untuk bisa hamil lagi memang nggak sama seperti Jeslin."
"Tapi kan si kembar sudah 2 tahun 7 bulan."
Naura melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Wisnu. Ia memegang kedua tangan suaminya dan mereka kini saling berhadapan. "Mas, ingin punya anak berapa lagi? Kita kan sudah punya tiga."
"Aku mau kamu hamil lagi, pokoknya. Siapa tahu kembar lagi." Wisnu memegang wajah Naura. Membelainya lembut dengan ibu jarinya. "Aku ingin rumah kita ramai dengan anak-anak. Usiaku semakin bertambah jadi wajarlah jika ingin cepat-cepat lagi punya baby."
Naura mencium kedua tangan Wisnu secara bergantian. "Mas tetap terlihat tampan di mataku. Oh ya sudah baca viral Minggu ini?"
"Belum. memangnya kenapa?"
"Mas termasuk dalam 10 pria tertampan yang menjadi pemimpin negeri ini. Ada gubernur, ada bupati, ada camat dan ada kepada desa. Namun pilihan emak-emak jatuh pada mas."
"Oh ya?"
"Aku bangga padamu, mas. Walaupun sedikit cemburu saat baca ada yang nulis, wah pak kades tertampan sedunia. Ada juga yang komentar, Bu kadesnya aku aja ya?"
Wisnu tertawa. "Sampai segitunya? Kenapa kamu nggak ikut komen juga, perkenalkan aku ibu kadesnya pak Wisnu."
"Nggak perlu diperkenalkan. Karena aku yakin mas nggak akan tertarik dengan mereka semua."
Wisnu menarik Naura untuk segera masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa, mas?" tanya Naura bingung.
"Sudah kepingin mencium kamu. Kalau di luar nanti penghuni cottage yang lain akan iri."
"Ih...mas ini." Naura jadi tersipu namun ia menerima ciuman suaminya dengan sangat antusias.
__ADS_1
*********
Gayatri, menatap putranya yang sudah berusia 1 tahun 3 bulan. Ia bahkan berlari ke sana kemari mengejar kupu-kupu di taman belakang. Setelah menikah, ia dan Satria sempat beberapa bulan tinggal di desa. Namun karena perut Gayatri semakin membesar dan Satria harus kembali ke kota untuk melanjutkan kuliahnya, walaupun agak terpaksa, Gayatri mau juga ikut tinggal di kota.
"Ibu.....!" panggil Noah sambil memegang kupu-kupu yang berhasil ditangkap oleh sopir pribadi mereka yang bernama pak Nurdin.
Gayatri tersenyum sambil mengangkat jempolnya.
"Noah, ayo masuk! Nanti sore main lagi."
Noah menurut. Ia berlari ke arah ibunya dan keduanya masuk kembali ke dalam rumah.
Satria baru saja keluar dari ruang kerjanya saat Gayatri dan Noah masuk.
Ketika melihat ayahnya, Noah langsung berlari dan memeluk kaki ayahnya. Satria menggendong putranya itu dengan perasaan bangga. "Noah sudah makan?"
Anak itu mengangguk. Satria langsung mencium pipi gembul putranya dengan gemas.
"Sayang, kamu kenapa? Kok agak pucat?" tanya Satria. Ia melepaskan Noah dan langsung mendekati istrinya.
"Aku memang merasa agak pusing, mas."
"Ayo, aku periksa!" ajak Satria dan langsung membawa istrinya ke kamar. Ia mengambil peralatannya dan langsung memeriksa istrinya itu.
"Tekanan darahnya normal. Suhu badannya juga normal. Selain pusing, apalagi yang kamu rasakan?"
"Sedikit mual, mas."
Gayatri mengerutkan dahinya. "Aku...., sepertinya belum, mas."
"Sepertinya kamu hamil lagi, sayang." Satria langsung tersenyum senang.
"Hamil? Tapi, aku minum pil KB ku."
"Apakah kamu meminumnya rutin? Minggu yang lalu saat kita ke puncak, perasaan kamu nggak bawa pil itu."
Gayatri perlahan bangun dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang. "Mas, aku hamil lagi. Rasanya sangat menyenangkan."
"Alhamdulillah kalau Allah mempercayakan kita untuk memiliki anak lagi." Satria memeluk istrinya dengan perasaan gembira. Ia bahagia, saat patah hati dan kehilangan harapan, Tuhan mempertemukannya dengan Gayatri. Kembang desa yang bukan hanya cantik, tapi juga mampu membuatnya jatuh cinta lagi. Kesederhanaannya membuat Gayatri banyak disukai oleh oleh semua keluarga dan sahabat Satria. Ia juga mampu beradaptasi dengan baik sehingga dalam acara apapun, ia bisa mendampingi Satria sebagai wanita berkelas namun tetap sederhana.
*********
Hari ini, Wisnu ulang tahun. Sejak minggu yang lalu dia ingin merayakannya berempat saja bersama istri dan anak kembarnya. Namun para penduduk desa sudah mempersiapkan pesta ulang tahun bagi pak kepala desa yang sangat mereka sayangi itu.
Di depan rumah bukit, sudah dibangun tenda yang sangat besar. Seluruh masyarakat akan membawa makan bersama. Mereka bahkan menyiapkan panggung yang dihiasi sangat indah.
"Mas, lihatlah mereka sangat menyayangimu. Aku bangga menjadi istri pak kades yang tampan dan pintar ini." ujar Naura sambil memberikan ciuman manis di wajah suaminya. Keduanya sedang berdiri di depan jendela kamar yang memang berhadapan langsung dengan tenda yang sudah masyarakat siapkan.
__ADS_1
Wisnu melingkarkan tangannya di pinggang Naura. Beberapa detik kemudian ia mengerutkan dahinya lalu menatap ke arah pinggang istrinya.
"Ada apa mas?"
"Kamu tambah gemuk ya sekarang?"
"Gemuk? Ya ampun, mas nanti kalau badanku melar bagaimana? Apakah mas nggak akan mencintai aku lagi? Mas akan poligami lagi dan mencari gadis yang muda dan ramping?" tanya Naura khawatir.
Wisnu tertawa. "Mengapa jadi panik seperti ini, sayang? Aku nggak mungkinlah cari istri lagi hanya karena kamu menjadi gemuk. Aku justru senang itu tandanya kamu bahagia bersamaku, sayang."
Naura kembali mencium pipi suaminya. "Aku ada hadiah spesial untukmu, mas. Tapi hadiahnya nanti sebentar. Setelah pengajian selesai."
Wisnu menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Aku nggak butuh hadiah, sayang. Kamu, dan anak-anak kita adalah hadiah terindah sepanjang hidupku di dunia."
"I love you pak kades."
"I love you too bu kades."
Sore hari, acara perayaan ulang tahun Wisnu pun dimulai. Pertama-tama diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an kemudian mendengarkan tausiah dari pak ustadz.
Selanjutnya acara pemasangan lilin ulang tahun. Semua pun menyanyikan lagu itu dalam suasana gembira.
Lisa memberikan sebuah hadiah jam tangan untuk ayahnya. Gadis itu kini berusia 10 tahun dan ia mulai tumbuh menjadi gadis cantik.
Kalau si kembar karena baru berusia 3 tahun hanya bisa memberikan ciuman sayang di pipi Wisnu.
Naura kemudian memberikan sebuah kita kecil sebagai hadiahnya. Semua penduduk langsung berteriak agar Wisnu membukanya. Wisnu pun membuka kotak kecil itu. Matanya langsung berbinar sempurna saat melihat isi kotak itu adalah sebuah tespack yang menunjukan dua garis merah.
"Kau hamil?" tanya Wisnu.
"Ya."
Wisnu langsung memeluk Naura dengan luapan kebahagiaan yang tak terbendung lagi. Setelah ia mencium pipi Naura, ia menatap semua yang hadir saat itu.
"Istriku hamil."
"Hidup Bu kades....!"
Dan pesta pun menjadi semakin meriah.
Jeslin memeluk anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki. Bayi mungil itu kini berusia 3 bulan. Gading nampak bahagia di samping istrinya. Matanya sesekali mengawasi putri pertamanya yang sedang bermain bersama si kembar. Ia merasa hidupnya sempurna.
Acara itu pun selesai. Ketika si kembar sudah tertidur, pak kades dan bu kades menuju ke kamar mereka.
Malam ini dilewati dengan sangat manis dan penuh gairah. Walaupun Wisnu harus menahan dirinya agar tak terlalu banyak meminta mengingat istrinya itu sedang hamil. Saat Naura sudah tertidur dalam dekapan Wisnu, pria itu tersenyum bahagia. Ia tadi tertidur sebentar. Bermimpi tentang Dina yang datang menemuinya. Wajah Dina nampak bercahaya. Ia hanya berdiri sambil melambaikan tangannya pada Wisnu setelah itu ia menghilang. Tak ada lagi rasa kesedihan ketika mimpi itu berakhir. Karena kini, Wisnu sudah menemukan mimpi indahnya bersama Naura. Dan Wisnu yakin, ia akan lebih menikmati kebahagiaan yang lain saat Naura tetap ada dalam dekapannya. Naura sang istri ketiga, kini menjadi satu-satunya.
************
__ADS_1
Duh....
emak nggak rela mau bilang good bye nih....