Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Aku Ingin Bercerai


__ADS_3

Siapapun yang mengenal Naura di kampus ini sangat yakin bahwa gadis tomboy ini pasti sangat pintar dan dapat dengan mudah menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya dalam ujian ini. Dan waktu 1 jam 30 menit itupun berakhir. Naura lulus dalam ujian dengan semua dosen yang memberikan nilai A+.


Di bagian belakang ruang ujian itu, Wisnu pun nampak tersenyum bahagia. Ia ikut merasa bangga karena Naura mampu menjawab semuanya dengan sangat luar biasa.


Semua teman-temannya memberikan selamat. Naura mengambil foto bersama dengan para dosen penguji dan juga dosen pembimbingnya. Ponsel Naura masih ada di tangan Wisnu dan ponsel Jeslin yang digunakan untuk mengambil gambar.


Semua nampak bahagia. Ingin sekali Wisnu mendekat, memeluk dan mencium istrinya itu. Jujur saja, ia sangat rindu. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar karena ia menahan dirinya untuk tak mendekat. Ia tak ingin menganggu momen bahagia Naura dengan teman-temannya. Lagi pula hanya Jeslin, Yuda dan Satria yang tahu kalau Naura sudah menikah. Jika Wisnu muncul di sana, Naura pasti enggan mengenalkannya sebagai suami. Apalagi dengan status Naura sebagai istri ketiga.


"Na, juragan Wisnu ada di belakang bersama Gading." bisik Jeslin ketika acara foto-foto selesai dan Naura sementara membereskan seluruh peralatan yang dibawahnya. Teman-temannya yang lain sudah pergi dan yang tersisa hanyalah Yuda, Satria dan Jeslin.


Naura bukannya tak menyadari kedatangan Wisnu. Namun ia pura-pura tak tahu. Ia tak mengerti dengan perasaanya sendiri. Hanya melihat Wisnu saja dari jauh, jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Namun mengingat kembali semua kata-kata pedas yang diucapkan Wisnu padanya, membuat hati Naura kembali sakit.


"Kita pergi sekarang? Aku sudah memesan tempat untuk 20 orang." kata Satria.


Naura menatapnya. "20 orang? Tapi aku nggak punya uang untuk...."


"Aku yang akan membayarnya. Kita akan merayakan kelulusan mu, istriku." Kata Wisnu yang sudah berdiri diantara mereka.


Wajah Satria nampak merah menahan marah. Ingin rasanya ia melayangkan bogem nya ke arah pria yang telah merebut cinta terbesar dalam hidupnya.


Naura sendiri tak bisa berkata apa-apa. Ia menatap Jeslin.


"Na, kami tunggu loe di luar ya." Kata Jeslin sambil menarik tangan Yuda dan Satria untuk membiarkan pasangan itu bercerita sejenak.


Gading pun memilih keluar dari ruang ujian itu, meninggalkan Wisnu dan Naura yang hanya saling menatap tanpa bicara apa-apa.


"Ra, selamat ya?" ujar Wisnu memulai percakapan sambil mengulurkan tangannya. Naura menerima uluran tangan Wisnu, namun hanya sedetik saja dan ia menarik tangannya kembali. Ia membuang muka. Tak ingin menatap wajah tampan di depannya. Naura harus mengakui. Darah Turki dan Indonesia yang bercampur di diri Wisnu telah membuat ia tumbuh menjadi pria tampan. Naura selalu mengingat wajah Deniz Burak, aktor tampan asal Turki setiap kali ia menatap wajah Wisnu.


"Aku harus pergi.....!" Naura melangkah namun Wisnu menahan tangannya. "Maafkan aku. Maafkan aku yang telah menyakitimu, menuduhmu berselingkuh dengan Satria pada hal semua itu adalah jebakannya Indira, Regina dan Hartono."


Naura menatap Wisnu sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia menarik tangannya dengan kasar dan melipatnya di depan dadanya.


"Baguslah kalau kau akhirnya tahu. Nikmati saja kebersamaan mu dengan kedua istrimu, Wisnu Bragmantio Furkan."

__ADS_1


Betapa sakitnya hati Wisnu saat Naura menyebutnya 'kamu' bukan juragan atau mas.


"Na, maafkan aku yang selama ini tak menyadari kalau Regina dan Indira sudah berbuat jahat padamu. Aku juga baru tahu kalau merekalah yang menyebabkan kau keguguran. Aku juga baru tahu kalau merekalah dalang dari semua penculikan yang terjadi atas mu. Hartono, Jupri, Regina dan Indira juga sudah ditangkap oleh polisi pagi ini. Aku juga sudah meminta pengacaraku untuk mengurus proses perceraianku dengan Regina dan Indira. Aku ingin kita bersama lagi."


Naura menatap Wisnu dengan dada yang terasa perih. Seenaknya saja Wisnu meminta maaf setelah semua kata-kata kasar yang ia ucapkan pada Naura?


"Mengapa kamu mau bersamaku lagi? Bukankah aku perempuan murahan di matamu? Jangan lupa, sekalipun tak sengaja, tubuhku dan tubuh Satria sudah saling bersentuhan. Katakan pada pengacara mu, urus juga perceraian mu dengan aku. Karena aku nggak punya uang untuk mengurus perceraian kita."


"Apa maksud kamu, Ra?" tanya Wisnu dengan dada yang semakin sakit mendengar perkataan Naura.


"Aku ingin bercerai darimu !" Kata Naura, tidak terlalu keras namun sangat tajam menusuk gendang telinga Wisnu.


"Ra, apa kamu serius? Aku ingin menceraikan Regina dan Indira. Kamu akan menjadi satu-satunya dalam hidupku. Bukankah itu yang kau inginkan?"


"Maaf, aku nggak tertarik lagi. Kamu, sudah beberapa kali meragukan kesetiaan ku. Sudah berulang kali kukatakan, aku tak akan pernah mengkhianati mu walaupun hatiku masih untuk Satria. Namun kamu sama sekali tak pernah percaya padaku. Kalau tak ada bukti yang menunjukan bahwa aku dan Satria dijebak, apakah kamu akan percaya dengan semua penjelasan ku? Nggak kan?" Susah payah Naura menahan air matanya. Ia berjanji tak akan pernah menangis di hadapan seorang laki-laki.


"Aku tahu kalau aku bodoh, Ra. Aku bersalah. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya." Wisnu meraih kembali tangan Naura.


"Nggak." Naura menarik tangannya dari genggaman Wisnu. "Aku tak akan mau bersamamu lagi." Lalu ia segera berbalik hendak pergi namun Wisnu justru memeluknya dari belakang. "Aku tak akan pernah melepaskan mu, Ra. Aku ingin kau menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Aku mencintai kamu."


Di tempat parkir, Satria, Yuda dan Jeslin sudah menunggu.


"Kita pergi sekarang? Gue sudah lapar. Dari pagi belum makan." Kata Naura lalu segera masuk ke dalam mobil. Ia sama sekali tak menunjukan rasa sedih. Naura memang pandai menyembunyikan perasaannya.


Sementara itu, Wisnu berjalan dengan langkah gontai keluar dari ruangan tempat Naura ujian. Seluruh tulang-tulang nya terasa lepas dari tubuhnya. Kata-kata Naura sekeras tendangannya yang melumpuhkan semua penjahat yang selama ini menyerangnya. Wisnu tak punya kekuatan untuk melawannya.


"Tuan....!" panggil Gading.


"Ayo kita kejar mereka, Gading. Aku tak akan membiarkan Naura hilang dari pandanganku."


"Aku sudah meminta anak buah kita mengikuti mobil Satria. Sekarang kita ke kantor polisi dulu untuk membuat keterangan. Polisi sudah menunggu kita."


Wisnu hanya mengangguk. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Naura.

__ADS_1


**********


Jeslin menatap sahabatnya yang masih asyik menggerakkan badannya. Ia tak tahu kekuatan apa yang merasuki Naura, namun semenjak mereka tiba di diskotik ini, Naura sama sekali belum berhenti menggerakkan badannya mengikuti permainan sang DJ.


"Apakah dia nggak capek? Kita sudah berada di sini semenjak jam 10 malam, dan ini sudah setengah dua pagi. Dia sama sekali belum pernah duduk. Apa dia kerasukan jin?" tanya Jeslin sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah beberapa kali memanggil Naura untuk duduk namun sahabatnya itu selalu berkata bahwa ia masih ingin mengerakkan badannya.


"Biarkan dia seperti itu. Lama-lama juga dia pasti capek." Ujar Yuda sambil meneguk minumannya.


"Yang, jangan terlalu banyak. Nanti loe mabuk." tegur Jeslin.


"Tenang aja. Gue yang akan mengawasi dia." Ujar Satria sambil menepuk pundak temannya.


"Biasanya Naura menggoyangkan badannya dengan sangat bahagia. Namun gue yakin kalau hari ini ia menggoyangkan badannya karena ingin menghilangkan gundah di hatinya. Naura bukan tipe perempuan cengeng yang dengan mudah mengeluarkan air mata." Ujar Jeslin sambil terus memandang sahabatnya itu. Biasanya Naura akan menari dengan wajah gembira. Namun kali ini, sangat jelas terlihat kalau ia sedang memikirkan sesuatu.


Di sudut ruangan yang agak gelap, nampak Wisnu sedang duduk bersama Gading.


"Tuan, apakah kita akan terus di sini? Ini sudah hampir pagi."


"Aku ingin mengenal kehidupan istriku. Dulu kami menikah tanpa saling mengenal. Aku akan memulainya dari awal. Aku akan merebut hatinya kembali. Aku bersumpah demi apapun, aku akan mendapatkan hatinya." Kata Wisnu sambil terus memperhatikan Naura yang sedang menggoyangkan badannya. Walaupun hatinya sangat sakit melihat penampilan Naura yang mengenakan celana jeans yang robek di bagian lutut serta kaos putih ketat yang membungkus tubuh seksinya, Wisnu berusaha menahan semuanya itu.


Jam 3 subuh, mobil Satria berhenti di depan sebuah apartemen mewah. Wisnu menarik napas lega melihat hanya Jeslin dan Naura yang turun sedangkan Satria dan Yuda langsung pergi ketika melihat kedua gadis itu sudah masuk ke lobby.


"Gading, cari tahu tentang apartemen itu. Sepertinya masih banyak unit yang kosong. Aku ingin tinggal satu lantai dengan istriku."


"Baik, tuan!" ujar Gading lalu kembali menjalankan mobil.


Wisnu menyandarkan punggungnya. Aku tak akan pernah menceraikan mu, Naura. Aku bersumpah!


***********


Maaf ya part ini kurang panjang


emak masih suka pusing....

__ADS_1


Isolasi mandiri hari keempat guys


__ADS_2