Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Obsesi Hartono


__ADS_3

Apakah salah jika seorang istri menggoda suaminya dengan tubuhnya sendiri? Nggak kan? Jadi jangan bilang Naura kayak "perempuan ja..l...ng"


Aku kaget aja membaca ada yang berkomentar seperti itu. Memang hak pembaca untuk berkomentar namun hak penulis juga untuk membela tokoh dalam ceritanya. Karena bagiku, apa yang Naura lakukan pada Wisnu masih hal yang wajar. Beda kalau Wisnu menolak dan Naura memaksakan kehendak.


Happy reading ya....


*********


Hartono bangun pagi ini sambil tersenyum. Ia bermimpi sangat manis dan cukup erotis semalam. Ia bercinta dengan Naura. Istri ketiga Juragan Wisnu yang walaupun terlihat agak tomboy dan kulitnya tak seputih 2 istri yang pertama namun Hartono sungguh tertarik pada perempuan berusia 20 tahun itu.


Banyak penduduk yang menceritakan tentang kebaikan hati istri ketiga ini. Hartono juga pernah diam-diam mengintip ketika Naura bermain bola dengan anak-anak di lapangan. Tawanya yang khas, senyumnya yang manis membuat hati Hartono bergetar setiap kali melihatnya. Sebagai lelaki yang punya banyak pengalaman dengan wanita, Hartono tahu kalau Naura punya gaya tarik seksual yang luar biasa. Hartono bisa membayangkan bagaimana liarnya perempuan saat bersama Wisnu dan itu yang ingin dirasakannya.


"Naura.....!" guman Hartono sambil membayangkan bibir Naura yang ia cium dalam mimpinya semalam.


"Pak kades.....!" Jupri sang asisten datang menemuinya di teras samping rumahnya.


"Ada apa Jupri? Kau sudah menganggu lamunanku yang sangat berharga."


Jupri mendekat dan membisikan sesuatu. Mata Hartono langsung bersinar. "Oh ya? Jadi mereka adalah orang suruhan? Lalu, siapa yang menyuruh mereka?"


Jupri berbisik lagi.


"Waw konflik para istri. Baguslah. Katakan pada mereka, aku siap untuk mengadakan negosiasi." Kata Hartono sambil tersenyum manis.


Nurlela, istri pertama Hartono mendengar percakapan itu. Hatinya terbakar cemburu melihat senyum mesum suaminya. Entah perempuan mana lagi yang akan menjadi korbannya. Hartono sepertinya tidak puas dengan 2 istri sah dan beberapa perempuan yang dinikahinya secara siri. Belum lagi dengan beberapa perempuan malam yang menjadi langganan nya. Nur sendiri sudah berbulan-bulan tak disentuh oleh Hartono. Namun itu semua Nur syukuri karena ia sendiri merasa jijik dengan suaminya itu.


Semalam, Nur mendengar Hartono berbicara tentang istri ketiga juragan. Nur tahu suaminya terobsesi dengan Naura. Dan Nur tak akan pernah mengijinkan Hartono sampai berbuat nekad pada istri juragan itu. Kebaikan hati Naura sudah menyebar di desa ini dan Nur bersimpati dengan Naura.


**********


Naura tahu kalau Wisnu sudah bangun sejak setengah jam yang lalu, namun dia dengan sengaja tak mau melepaskan dirinya dari Wisnu. Ia memeluk suaminya itu dengan sangat erat. Naura tak ingin sarapan sambil melihat 2 wajah malaikat berhati iblis itu. Naura terkadang harus menahan tangannya yang tergoda untuk menjambak rambut panjang Regina dan Indira. Apalagi saat mengingat masa kegugurannya beberapa waktu yang lalu. Dan sekarang ini ditambah dengan hampir ternoda nya Naura akibat para penculik itu.


"Ra....., sayang, kamu harus bangun untuk sarapan. Ini sudah jam 8 pagi. Ada obat yang harus kamu minum juga pagi ini." kata Wisnu sambil menepuk pipi Naura perlahan.


"Juragan, aku masih mengantuk."


"Nanti setelah itu bobo lagi." Ujar Wisnu lalu mengecup bibir istrinya, membuat Naura membuka matanya.


"Juragan, bolehkah hari ini kau tidak bekerja? Dan menemani aku di sini?" tanya Naura saat ia sudah dalam posisi duduk.


Wisnu mengangguk dengan cepat. Tangannya menyentuh dagu istrinya. "Apapun untukmu, sayang."


Tanpa diduga Naura mengecup bibir Wisnu. "Good boy!" ujarnya lalu turun dari tempat tidur. Ia melangkah ke kamar mandi tanpa peduli dengan tubuhnya yang polos dan membuat Wisnu kembali merasakan hasrat yang besar untuk istrinya itu namun ia harus menahannya. Tubuh Naura masih sakit dan Wisnu tak ingin menyakiti istrinya. Makanya ia memilih untuk merapikan tempat tidur saja daripada ikutan mandi bersama istrinya.

__ADS_1


Aisa sudah menyiapkan sarapan di meja makan saat Wisnu dan Naura keluar dari kamar. Tadi saat Naura sedang mandi, Wisnu sudah menelepon Aisa untuk menyediakan sarapan di villa karena ia dan Naura tak akan ke rumah utama.


"Juragan, tadi ada si Jupri yang datang. Ia disuruh oleh pak kades untuk memberitahukan bahwa pencarian terhadap ketiga orang itu belum membuahkan hasil. Polisi juga tak dapat berbuat banyak karena nyonya tak bisa mengenali mereka." Ujar Aisa sambil menyajikan sarapan yang ada.


"Hmm" Jawab Wisnu singkat lalu mulai menikmati sarapannya.


Naura pun makan tanpa banyak bicara.


"Nyonya, setelah sarapan dan minum obat dari dokter, segera minum rebusan rempah-rempah ini ya? Bibi Saima yang membuatnya. Katanya ini untuk mengobati luka dalam jika ada benturan." Ujar Aisa sambil meletakan sebuah gelas yang berisi air yang berwarna hijau mudah.


'Ok, bi." Kata Naura sambil mengucapkan terima kasih. Ia bahagia karena Saima dan Aisa sangat memperhatikannya. Wisnu pun merasa senang karena Naura bukanlah anak kota yang manja sehingga enggan meminum obat tradisional yang rasanya sering tak enak di lidah.


Selesai sarapan, Naura meminum semua obat yang disiapkan untuknya lalu segera ke kamar untuk memeriksa skripsinya. Wisnu sedang berbincang dengan Gading di ruang tamu.


Sementara membaca, Naura yang duduk menghadap jendela, melihat Indira yang memasuki halaman villa. Wajah perempuan itu terlihat cantik dengan gaun berwarna putih. "Dia memang mirip malaikat. Orang bisa saja tertipu dengan penampilan dan kecantikannya. Tapi dia bagaikan malaikat pencabut nyawa." guman Naura. Entah mengapa sejak tahu kalau orang yang menyuruh menculik Naura adalah Indira dan Regina, ia selalu saja terbakar emosi.


20 menit kemudian, Indira terlihat pergi bersamaan dengan Gading. Wisnu pun masuk ke kamar.


"Jangan terlalu memaksakan diri untuk membaca. Kamu kan belum pulih." Kata Wisnu lalu ikut bergabung bersama Naura di sofa.


Naura melepaskan beberapa lembar kertas yang dipegangnya. Ia kemudian memeluk lengan Wisnu dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Ada senyum di wajah Wisnu saat menyadari bahwa Naura semakin manja padanya. Tentu saja ia suka dan menikmatinya.


"Mba Indira ngapain tadi?" tanya Naura.


"Dia mengingatkan aku untuk pembukaan butiknya besok jam 1 siang. Dia menanyakan apakah aku akan pergi dengannya hari ini ke kota. Aku katakan bahwa aku pergi besok saja."


"Memang Indira terlihat kecewa. Aku juga sebenarnya nggak enak hati. Tapi mau gimana lagi. Aku kan sudah berjanji untuk bersamamu. Lagi pula kamu memang masih sakit." Kata Wisnu lalu mencium kepala Naura yang masih bersandar di bahunya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Naura.


"Terima kasih, sayang." Kata Naura. Ia sengaja menekan kata yang terakhir membuat Wisnu gemas dan kembali mencium puncak kepalanya.


"Berhentilah memanggil aku, juragan. Aku lebih suka panggilan yang tadi."


"Sayang maksud nya?" .


"Ya....."


"Bagaimana kalau Wisnu......!" Naura menyebutkan nama Wisnu dengan suara sensual, persis ketika mereka sedang bercinta dan Naura akan mencapai pelepasannya. Ia suka meneriakkan nama Wisnu tanpa sebutan mas di depannya.


"Ah, aku lebih suka yang itu."


Tawa keduanya pecah. Wisnu merasakan hatinya berbunga-bunga. Ia sebenarnya bukan tipe pria yang suka membahas keintiman di atas tempat tidur. Namun bersama Naura, semua cerita apa saja akan membuat pria itu senang untuk membahasnya.


"Aku mengantuk, sayang." Naura melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Wisnu lalu membaringkan kepalanya di pangkuan suaminya. Ia memang merasa mengantuk. Mungkin karena obat yang diminumnya.

__ADS_1


"Tidurlah!" Kata Wisnu sambil membelai rambut Naura membuat istrinya itu semakin mengantuk.


**********


Sore hari, Wisnu mengajak Naura untuk pergi melihat kebun namun Naura menolak. Ia ingin menikmati kesendiriannya. Lagi pula Regina dan Indira sudah pergi ke kota. Tujuan Naura meminta Wisnu menemaninya di hari ini karena ia tak ingin Wisnu berbagi waktu dengan mereka. Jadi jika mereka tak ada, Wisnu bekerja seharian pun di ladang, Naura tak peduli.


Naura duduk di teras depan. Ia menikmati angin sejuk di tepi danau sambil minum susu hangat dan kue kiriman bibi Kumala. Naura merasa sangat sayang pada Kumala. Sekalipun tahu kalau perempuan itu adalah ibu dari Dina, cinta sejati dari Wisnu. Naura tak merasa cemburu atau apapun juga. Ia justru kasihan dengan Kumala yang hidup seorang diri.


"Nyonya, ada pak kades yang mencari." Wina mendekat. Di belakangnya sudah berdiri Hartono bersama Jupri.


"Selamat sore pak kades." Sapa Naura ramah lalu mempersilahkan Hartono duduk. Wina masuk ke dalam villa untuk menyiapkan minuman.


"Apa kabar nya, nyonya?"


"Saya sudah merasa baikan, pak."


Hartono tersenyum manis. Matanya melirik ke arah paha Naura yang sedikit terlihat karena Naura menggunakan celana rumahan yang panjangnya hanya sebatas paha. Menyadari arah mata sang kades, Naura mengambil kursi bantal dan meletakkannya di atas pahanya.


"Maaf ya, nyonya jika kami tak bisa menemukan penculiknya."


"Nggak masalah, pak. Yang penting keamanan di desa ini harus lebih ditingkatkan. Bagaimana jika terjadi pada perempuan lain yang tidak bisa bela diri?"


"Betul juga, ya." Hartono mengangguk.


Wina datang membawa 2 gelas teh. Jupri melirik ke arah Wina sambil mengedipkan matanya. Wina tersenyum malu. Jupri memang seorang duda. Istrinya meninggal 3 tahun yang lalu. Wina mendengar dari para penduduk desa bahwa Jupri selalu mengenang istrinya itu sehingga masih belum mau menikah. Wina suka dengan pria yang setia.


"Nyonya, maksud kedatangan saya ke sini mau menanyakan apakah nyonya mau ikut dalam lomba tarian antar kecamatan? Saya lihat anak-anak gadis bersemangat kalau bersama nyonya."


"Memangnya, lomba itu kapan?"


"2 Minggu lagi."


"Saya belum bisa janji, pak kades. Saya mau tanya dulu pada bibi Kumala dan minta ijin mas Wisnu."


"Baiklah."


"Silahkan diminum teh nya, pak."


Hartono merasakan hatinya sangat senang bersama Naura. Ia menikmati percakapan mereka sore ini dan ia harus sabar menanti sampai waktunya tiba. Waktu yang sudah ditetapkan oleh dua nyonya itu. Dan Hartono senang sambil menunggu gilirannya untuk mendapatkan Naura, ia bisa memaksa dua istri Wisnu itu untuk melayani napsu yang sudah tak tertahankan ini.


Setelah Hartono pergi, Naura memandang kepergian mereka dengan hati yang tak tenang. Kenapa aku merasa kalau dia adalah orang jahat ya?


********

__ADS_1


Apa rencana Hartono untuk Naura?


Dukung emak terus ya?


__ADS_2