Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Menjadi Pusat Perhatian


__ADS_3

Suara Kokok ayam jantan terdengar, membangunkan Wisnu dari tidurnya. Perlahan, ia melepaskan Naura yang ada dalam pelukannya. Mengecup hidung mancung istrinya itu dengan sangat lembut lalu ia turun dari tempat tidur. Tangan Wisnu memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh polos Naura, seolah ia takut ada yang akan melihat tubuh polos itu yang semalam membuatnya tak bisa menahan diri lagi untuk menyentuhnya.


Setelah selimut itu menutup sempurna sampai ke batas leher Naura, Wisnu mengambil celana hitam dan kaos putih yang ada di atas lantai, memakainya kembali lalu berjalan ke luar kamar.


Matahari belum juga menampakan sinarnya namun Wisnu harus bangun untuk menyiapkan semuanya sebelum keberangkatannya ke kota.


Gading sudah menunggunya di luar dengan dua orang lelaki yang semalam baru saja datang dari kota.


"Ayo kita bicara di sana. Kalau istriku mendengar, maka ia pasti akan marah." Kata Wisnu lalu mengajak mereka ke tepi danau dan duduk di bangku beton yang ada di sana.


"Tugas kalian adalah mengawasi istriku dari jauh. Jangan sampai Naura tahu kalau kalian ada bodyguard yang aku sewa untuk menjaganya. Istriku itu selalu merasa bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri karena ia memang bisa ilmu bela diri. Namun kejadian kemarin membuatku khawatir kalau ada yang ingin menjahati istriku." Kata Wisnu membuat Kedua bodyguard itu mengangguk.


"Nama mereka adalah Jodi dan Johan. Saya sudah memberitahukan apa yang harus mereka kerjakan. Untuk sementara mereka akan tinggal di rumah ibu Kumala. Ibu Kumala sangat setuju karena beliau juga mengkhawatirkan keadaan nyonya Naura. Nanti penduduk desa akan mengenal mereka sebagai pedagang yang bekerjasama dengan tuan." kata Gading


"Baiklah. Bagus kalau begitu. Nanti Gading yang akan mengatur semuanya. Saya harus kembali ke kamar dulu supaya Naura tak curiga." Wisnu langsung kembali ke dalam villa. Ia membuka pintu secara perlahan dan menutupnya kembali. Ia juga membuka pakaiannya kembali dan kembali bergabung dengan Naura di bawa selimut yang tebal. Sebab sesungguhnya Wisnu masih lelah dan mengantuk karena aktivitas bercinta mereka baru dimulai saat sudah jam 2 subuh.


Semalam, saat Wisnu masuk ke kamar, Naura sudah tertidur. Selesai makan malam, Wisnu memang ada rapat kecil dengan Gading dan mandor yang ada diperkebunan untuk membicarakan mengenai seluruh pekerjanya, yang atas usulan Naura harus mendapatkan makanan bergizi setiap seminggu sekali. Rapat itu selesai saat jam sudah menunjukan pukul 11 malam.


Saat itu Wisnu pun langsung mengganti pakaiannya lalu ikut bergabung dengan Naura di atas tempat tidur. Ia pun tak lama langsung terlelap dengan memeluk istrinya. Namun baru beberapa jam ia tertidur, Wisnu merasakan kalau Naura semakin erat memeluknya bahkan tangan Naura memegang kuat kaos Wisnu. Sepertinya Naura sedang mimpi buruk karena ia mengeluarkan kata-kata yang menunjukan rasa takutnya.


"Tidak....! Jangan....! Hentikan.....!"


Wisnu langsung bangun dan menepuk pipi Naura. "Sayang...., bangun..., ada apa?"


Naura membuka matanya perlahan. Ia langsung bangun dan memeluk Wisnu. "Aku bermimpi tentang penculikan itu."


"Tenanglah, sayang. Tak ada sesuatu yang akan mengganggumu lagi. Aku akan selalu ada bersamamu."


Naura masih terus melingkarkan tangannya di leher Wisnu.


"Itu hanya mimpi sayang, jadi kau jangan takut lagi ya?" Wisnu membelai wajah Naura dengan lembut lalu memberikan ciuman hangat di pipi Naura.


"ayo tidur lagi." Kata Wisnu lalu menepuk bantal Naura.


mata Naura menatap Wisnu. Tangannya yang masih melingkar di bahu Wisnu perlahan diturunkannya.


"Ada apa?" Tanya Wisnu.


"Ngantuk nya sudah hilang." kata Naura lalu menyandarkan bahunya di kepala ranjang.


"kalau begitu, kamu ingin apa?" Tanya Wisnu dengan tatapan yang mulai diselimuti oleh kabut gairah. ia baru menyadari kalau Naura menggunakan gaun tidur tipis yang transparan sehingga Wisnu dapat melihat dengan jelas semua yang ada dibalik gaun itu.


"Juragan, pijat aku, mau nggak?"


Wisnu mengangguk.


Naura langsung membalikan punggungnya menghadap Wisnu, ia menurunkan tali gaun tidurnya sehingga tubuh bagian atasnya sudah polos.


Wisnu mengambil minyak zaitun yang ada di atas nakas dan menuangkan ditelapak tangannya. Perlahan tangannya mulai memijat punggung Naura.


Namun akhirnya, acara pijat-pijatan itu menjadi awal keduanya kembali bergumul bersama untuk mencapai sorga dunia.


Ingatan kejadian semalam membuat Wisnu tersenyum. Ia semakin erat memeluk tubuh Naura dan kembali jatuh dalam lelapnya tidur.


*********


Jam 11 siang, Wisnu sudah berangkat ke kota untuk mengakhiri peresmian butik baru Indira. Naura ikut juga ke kota karena ia ada jadwal konsultasi akhir dengan dosen pembimbingnya.


"Kamu ikut saja ke acara pembukaan butiknya." Kata Wisnu saat Naura turun di depan kampus.


"Acaranya jam berapa?"


"Tadinya dia bilang jam 2 siang namun ditunda lagi jam setengah empat sore. Sekarang kan baru jam setengah dua."

__ADS_1


"Apa mba Indira nggak akan marah jika aku pergi ke sana? Aku kan nggak diundang?"


"Ngapain juga dia harus marah. Regina juga aku ajak ke sana."


"Akan ku telepon jika aku memang akan pergi." Kata Naura lalu turun dari mobil Wisnu.


"Ra, jangan naik sembarangan kendaraan."


"Tenang saja, juragan. Aku bersama Jeslin. Bye....."


Naura langsung menuju ke ruangan dosennya. Skripsi Naura sudah selesai dan tinggal ditandatangani untuk persetujuan ujian.


Ia tak lama berada di ruangan dosennya. Saat ia keluar, Jeslin sudah menunggu nya dengan dua paper bag yang berisi sepatu dan gaun untuk Naura. Sebenarnya sejak kemarin Naura sudah menelepon Jeslin untuk menyiapkan semuanya.


"Sekarang, ayo kita mendandani mu. Dan kamu tahu, teman-,teman di teater juga sudah siap. Aku sudah membuat undangan palsu sehingga mereka bisa masuk."


"Siapa saja yang akan ikut?"


"Niko yang akan menjadi pengusaha dadakan, Delia yang menjadi fotografer dadakan, serta si bule tampan Joe yang akan menjadi penggoda mu saat ini. Mereka akan datang dengan mobil masing-masing."


"Bayarannya?"


"Untukmu, gratis sayang..."


"Yes....!" Naura tersenyum senang. Ia memang sudah menyusun semua ini sebagai salah satu bentuk balasan atas apa yang Indira lakukan padanya.


********


Acara pembukaan cabang butik Indira yang baru dilaksanakan di samping sebuah mall. Bangunan butik sudah dihiasi dengan sangat mewah dan undangannya khusus dari kalangan atas, para pejabat dan selebritis.


Naura datang menggunakan gaun berwarna hitam gold. Gaun yang panjangnya sampai ke mata kaki namun memiliki belahan Sampai ke paha bagian bawah. Rambut Naura disanggul modern, dengan anting-anting panjang bertahtakan berlian, anting itu dipinjam Jeslin dari toko perhiasan khusus berlian kepunyaan orang tuanya.


Naura menggunakan sepatu keluaran salah satu merk sepatu ternama dengan model unlimited. Tentu saja untuk bisa membeli sepatu ini, ia harus menguras kartu kredit unlimited nya. Naura yakin kalau Wisnu tak akan marah.


Joe, si bule tampan yang sudah sejak tadi berdiri tak jauh dari Naura langsung memulai aktingnya.


"Wow....! She is very beautiful. I think she is the prettiest right now. What do you think, sir?" tanya Joe sambil mencolek bahu Wisnu.


Wisnu menatap gadis itu. Naura? Ia hampir tak mengenali istri ketiganya itu.


"Yes. She is very beautiful." Kata Wisnu dengan bangganya. Ia memang kurang suka dengan baju yang Naura kenakan karena bentuk tubuh istrinya itu tercetak jelas di balik kain yang menutupi tubuhnya. Dan belahan gaun Naura membuat Wisnu was-was karena ia dapat melihat beberapa mata pria yang menatap Naura seolah terpesona padanya. Wisnu akan mendekati Naura namun Joe mendahului langkahnya.


"Oh baby, i think i fall in love with you." Ujar Joe. Ia mengambil tangan kanan Naura dan menciumnya dengan sangat lembut.


Hati Wisnu menjadi panas. Ia akan mendekati bule itu dan mengatakan kalau Naura adalah istrinya.


Namun baru saja ia akan mendekati Naura, Indira langsung menarik tangan Wisnu.


"Mas, acaranya akan dimulai."


Acara gunting pita selesai dan para tamu undangan diundang untuk masuk ke dalam butik, menikmati gaun-gaun cantik dengan harga yang sangat mahal.


"Apakah anda boleh menolongku?" tanya Niko kepada Delia yang pura-pura memotret.


"Ada apa tuan?"


"Tolong ambil gambar gadis itu, aku sangat tertarik menjadikan dia model iklan." Ujar Niko. Wisnu yang berdiri di samping Niko langsung menyentuh bahu Niko.


"Maaf tuan, dia bukan gadis tapi nyonya Naura Furkan. Dia adalah istriku."


"Istrimu?" Niko tertawa.


"Mana mungkin pria sepertimu adalah suaminya? Kau kan sudah menikah. Pemilik butik ini kan adalah istrimu?" Niko menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Indira mendekat. "Tuan."


Niko tersenyum kepada Indira. "Saya Niko Hanggara, pemilik perusahaan kain dan rumah mode di Jakarta ini."


"Senang sekali kau datang ke sini, tuan.'


"Baju-baju buatan mu sangat bagus. Aku ingin membeli beberapa dan akan ku kirimkan pada nona cantik yang ada di sana."


Indira terkejut melihat Naura ada. Regina sendiri tak bisa datang karena sedang tak enak badan. Ia tak menyangka kalau Naura akan kelihatan secantik ini.


Joe terlihat sedang berbicara dengan Naura. Sesekali mereka tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan.


Naura yang menyadari arti tatapan Indira segera memasang tampang manis, tersenyum sekilas lalu berpose layaknya model saat Delia memotretnya.


Beberapa pria juga yang ada di sana mulai melirik Naura dengan kagum.


"Wah, dia pasti dari kalangan atas. Coba lihat sepatunya. Itukan keluaran Gucci dengan limited edition." Niko sengaja mengeraskan suaranya. "Aku mau kenalan, ah."


Melihat Niko yang melangkah mendekati Naura, Wisnu tak tahan lagi. Ia pun berjalan untuk melabrak kedua pria itu.


"Mas, mau kemana? Jangan meninggalkan aku." Indira menahan tangan Wisnu.


"Aku mau menyapa Naura."


"Biarkan saja dia. Lihat penampilannya. Sok mencari perhatian pria-pria kaya yang ada di sini. Naura itu genit."


"Indira!" sentak Wisnu tak suka.


"Ingat mas, ini masih hari milikku untuk bersamamu."


"Tapi bukan berarti aku tak boleh menyapa istriku yang lain." Wisnu melepaskan tangan Indira yang melingkar di lengannya, ia segera melangkah menuju ke tempat Naura. Sungguh ia tak tahan lagi melihat Naura dikelilingi oleh para pria. Indira menatap Naura dengan penuh kebencian. Ini adalah acaranya namun Naura yang menjadi pusat perhatian.


"Sayang......!" Wisnu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Naura dengan gaya posesif sambil menatap Niko dan Joe secara bergantian.


"Dia ini siapamu, baby?" tanya Joe.


"Temanku." Jawab Naura membuat Wisnu emosi.


"Naura!" Protes Wisnu.


"Teman hidupku." Naura melanjutkan sambil tertawa.


"Kalian suami istri? Tapi kan pemilik butik ini adalah istri tuan ini?" Niko mengerutkan dahinya.


"Aku istri ketiganya." Jawab Naura sedikit pelan.


"What? Gadis secantik ini kau jadikan istri ketiga?" Joe menggeleng. Ia menatap Naura dengan tatapan cinta. "Honey, just leave him and be mine. I will make you the only one in my life."


"Kamu.....!" Wisnu sudah tak tahan. Ia menarik kerah baju yang dipakai Joe.


"Juragan, kamu kenapa sih?" bisik Naura sambil menarik tangan Wisnu.


"Jangan panggil aku, juragan!" Wisnu melotot ke arah Naura lalu berkata pelan.


Semua yang ada di ruangan itu menatap ke arah mereka.


"Dengar kalian semua ya? Perempuan ini adalah istriku! Ayo sayang kita pergi dari !" Wisnu menautkan jarinya dengan jari Naura. Ia menatap para pria itu sambil menunjukan kepemilikannya pada Naura. Ia menarik tangan Naura meninggalkan butik. Naura menoleh sekilas pada Indira. Tersenyum dengan penuh rasa kemenangan. Walaupun dalam hati perempuan itu berkata lirih. Ya Allah, ampuni aku.


************


Mau lihat bagaimana Indira mengajak Naura berantem?


tunggu episode berikutnya ya?

__ADS_1


__ADS_2