Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Oh....No....


__ADS_3

Gading tahu kalau ini salah. Ia tak seharusnya mengambil keuntungan dari suasana hati Jeslin yang sedang galau. Selama ini, Gading berhasil mengusir para wanita yang coba menggodanya untuk naik ke ranjangnya. Ia ingat saat liburan bersama Wisnu, Regina dan Lisa ke Thailand dua tahun yang lalu. Saat itu Gading kesepian di kamarnya. Lalu Wisnu mengirimkan layanan service kamar untuk Gading dengan harapan Gading akan senang. Awalnya Gading memang senang karena gadis itu sangat menarik dan pandai merayu. Namun Gading akhirnya menolak. Ia tahu kalau diusianya yang tak muda lagi, orang akan tertawa saat mendengar kalau ia masih perjaga. Hati Gading seolah mati rasa setiap dekat dengan gadis manapun.


Namun semenjak ia mengenal dan dekat dengan Jeslin, Gading merasa nyaman dengan gadis itu. Walaupun ia tahu, sangat tak mungkin baginya menjalin hubungan dengan Jeslin yang adalah anak orang kaya.


Pesona Jeslin membuat Gading mabuk kepayang. Gadis itu seakan menyihir Gading dengan senyuman dan ciumannya yang memabukkan. Gading lupa akan semuanya. Ia jatuh untuk yang pertama kali.


2 anak manusia yang berbeda jenis, berbeda usia dan berbeda pengalaman itu akhirnya menikmati panasnya gairah yang membakar raga mereka.


Gading secara alamiah menyatukan tubuh mereka dan membuat Jeslin sungguh terpesona. Apa yang Gading lakukan padanya sangat berbeda dengan yang ia lalui bersama Yuda. Gading begitu lembut, kesannya sangat hati-hati namun sangat membuat Jeslin puas.


Ketika akhirnya mereka berdua terlepas satu dengan yang lain, masih dengan napas yang memburu, Gading menatap Jeslin yang nampak memejamkan matanya dengan wajah yang tersenyum penuh kepuasaan.


"Maafkan aku, nona." kata Gading.


Jeslin membuka matanya, Ia menoleh ke arah Gading. "Mas, ini yang pertama buat mas Gading ya?" tanya Jeslin.


Gading mengangguk dengan sedikit malu.


"Makasi ya mas?" ujar Jeslin lalu membaringkan kepalanya di dada bidang Gading.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Gading. Tangannya terulur membelai rambut panjang Jeslin.


"Mas mau membantuku melupakan kebersamaan ku dengan Yuda. Tadi, saat kita bercinta, aku sama sekali tak mengingat Yuda. Mas sangat lembut dan aku merasa seakan dicintai oleh mas."


Gading hanya tersenyum. Ia sungguh tak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat ini. Di usianya yang sudah 32 tahun, ia justru bercinta dengan gadis yang 9 tahun lebih muda darinya.


Keduanya saling diam. Tak bicara. Seakan menikmati kesunyian yang tercipta. Jeslin yang masih tidur di atas dada Gading merasakan kalau Gading sedikit gelisah. "Ada apa, mas?" tanya Jeslin.


"Eh.....!" Wajah Gading menjadi merah.


Jeslin terkekeh melihat dari balik selimut yang menutupi tubuh mereka ada sesuatu yang menonjol.


"Mas Gading mau lagi?" tanya Jeslin sambil menahan senyum.


"Eh, aku....."


"Ah mas Gading sudah nakal ya?" goda Jeslin lalu kembali mencium Gading dengan panas.


*********


Naura bangun dengan bagian tubuh yang rasanya sakit semua. Dua malam berturut-turut diajak Wisnu bercinta membuat badan Naura rasanya pegal semua.


Ia perlahan turun dari tempat tidur sambil mengangkat tangan Wisnu yang masih memeluk pinggangnya.


Setelah mengenakan kembali bajunya semalam, Naura melangkah ke kamar mandi. Ia membasuh tubuhnya dengan air hangat sambil merenggangkan otot-otot nya yang terasa kaku. Sementara ia mandi, Naura merasakan kalau Wisnu memeluknya dari belakang.


"Juragan...., lepaskan!"


"Kenapa bangun sendiri?" tanya Wisnu sambil menggosok punggung Naura dengan sabun batangan yang ada.


"Aku melihat juragan masih tidur nyenyak." Naura membiarkan Wisnu menggosok punggungnya.


"Kenapa bangun sepagi ini?"


"Aku harus kerja."


Wisnu membalikan tubuh Naura. "Aku kan bilang kalau kamu nggak usah kerja hari ini karena tanganmu terluka."


"Hanya luka kecil saja." Naura bergeser dari bawa shower dan membiarkan Wisnu mandi sendiri. Ia segera meraih jubah mandinya dan membungkus tubuhnya karena dia melihat kalau si Wisnu junior sudah berdiri.


Tawa Wisnu terdengar saat Naura dengan cepat keluar dari kamar mandi. Ia tahu kalau istrinya itu sengaja menghindar. Wisnu selalu tak mengerti dengan dirinya yang selalu saja terbakar gairah saat dekat dengan Naura.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Wisnu saat keluar dari kamar mandi dan melihat bahwa Naura hanya duduk di tepi tempat tidur yang sudah dirapihkan nya dan masih mengenakan jubah mandinya.


"Aku nggak punya baju bersih di sini. Aku mau pakai saja bajuku yang tadi." Naura kembali ke kamar mandi dan menggunakan bajunya yang tadi. Saat ia keluar dilihatnya Wisnu sudah berpakaian rapi dan baru saja meletakan ponselnya.


"Aku merasa heran. Baru kali ini ponsel Gading tak aktif. Apa dia lupa kalau hari ini kami mau ke desa?"


"Mungkin mas Gading capek." Kata Naura lalu segera menyisir rambutnya dan keluar kamar. Wisnu mengikuti langkahnya.


"Selamat pagi bunda...selamat pagi ayah!" Sapa Lisa yang sudah rapi dengan baju sekolahnya. Ada Saima yang ternyata sudah datang.


"Selamat pagi sayang." kata Naura sambil mengambil tempat duduk di sebelah Lisa sedangkan Wisnu duduk di depan mereka.


"Ayah, pulang sekolah boleh kan aku sama paman Gading pergi ke mall." ujar Lisa.


"Lisa ditemani oleh bibi Saima dan sopir yang lain saja ya? Ayah sama paman mau ke desa. Memangnya Lisa mau beli apa?" tanya Wisnu penasaran.


"Lisa mau beli pedang sama senjata."


"Buat apa? Lisa kan anak cewek harusnya main boneka." kata Naura sedikit heran.


"Supaya bisa main perang-perangan sama ayah dan bunda."


"Main perang-perangan?" Naura menjadi bingung sedangkan Wisnu kelihatan salah tingkah.


"Semalam Lisa bangun. Mau minum. Saat akan ketuk kamar ayah dan bunda terdengar suara ah...ah...gitu, Lisa jadi takut. Saat ayah juga bangun kata ayah kalau bunda dan ayah sedang main perang-perangan."


Naura langsung tersedak. Ia menatap Wisnu dengan tajam sedangkan suaminya itu pura-pura menunduk sambil menikmati nasi gorengnya. Sedangkan Saima langsung menyingkir dari ruang makan. Ia menyembunyikan tawanya dan langsung menelepon Kumala saat berada di dapur.


"Berdoa saja supaya mereka akan baikan. Soalnya sudah main perang-perangan." Kata Saima.


"Main perang-perangan?" tanya Kumala tak mengerti.


"Itu mereka sudah intim lagi di kamar."


"Amin....amin...." Saima mengahiri percakapan singkat mereka.


Sedangkan Lisa di meja makan masih saja terus bercerita tentang perang-perangan. "Ayah sama bunda main perang-perangan nya pakai apa?"


Naura dan Wisnu saling berpandangan. Ingin rasanya Naura memukul kepala Wisnu dengan tangannya.


"Hanya pakai bantal sayang." Jawab Wisnu sambil menahan senyum. Ia tahu Naura kesal padanya.


"Terus kenapa harus ada suara ah...ah....kayak gitu?"


Naura langsung berdiri. "Lisa sayang, ini sudah hampir jam 7. Nanti Lisa terlambat ke sekolah."


Lisa mengabiskan susu nya lalu memanggil Saima untuk mengantarnya. Ada sopir lain yang sudah menunggu mereka di bawa.


"Aku mau ke depan." Kata Naura setelah membereskan meja makan.


"Aku masih menunggu Gading."


"Aku mau ganti pakaian dan pergi bekerja." kata Naura.


Wisnu menahan tangannya. "Naura, kau masih marah padaku?"


"Juragan aku sudah terlambat."


"Ya jangan pergi bekerja."


"Aku mau kerja."

__ADS_1


"Cium dulu!"


"Juragan!" Naura melotot namun Wisnu sudah memeluknya dan mencium dahinya dengan cepat. "Hati-hati saat bekerja ya?" ujarnya lalu melepaskan pelukannya.


Ia mengatakan Naura sampai di depan pintu. Setelah Naura masuk ke pintu apartemen itu, Wisnu masuk lagi ke unitnya dan menghubungi Gading kembali.


Naura membuka pintu kamar yang biasa ia dan Jeslin tempati. Matanya langsung terbelalak saat melihat Jeslin sedang bersama seorang pria di atas ranjang.


"Ah........!" Naura berteriak kaget saat pria itu berbalik dan ia melihat kalau itu adalah Gading.


"Nyonya!" Gading terlihat gugup dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Jeslin ikut terbangun. "Ada apa? kok berisik sih?" katanya sambil membuka matanya perlahan.


"Naura....?" Jeslin kaget. Ia melirik Gading yang juga nampak pucat di sampingnya.


Naura membalikan badannya. "Gading, ditunggu oleh juragan."


"Baik nyonya!" Gading turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya kembali.


"Mas Gading!" Panggil Jeslin. Ia juga ikut turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya kembali.


"Mandilah dulu di kamar sebelah. Supaya segar untuk ketemu juragan." Kata Jeslin. Gading hanya mengangguk dan menerima handuk bersih dari tangan Jeslin.


Setelah Gading pergi, Naura menatap sahabatnya. "Jadi?"


"Kami tidur bersama." Kata Jeslin sambil membereskan tempat tidurnya.


"Kok bisa?"


"Gue sedikit mabuk semalam. Namun gue sadar dengan apa yang gue lakukan. Gue ingin membuang semua kenangan bersama Yuda."


"Dengan tidur bersama Gading? Loe gila ya?"


Lisa duduk di atas tempat tidur. "Ini hanya akan jadi cerita satu malam. Namun gue merasa puas dengan mas Gading. Dia lembut, penyayang dan perjaka."


"Mas Gading masih perjaka?" Naura kaget.


"Ya. Perjaka yang manis."


Naura mendekati sahabatnya dan memukul kepala Jeslin dengan bantal. "Sadar! Loe mau mempermainkan pria lugu dan baik hati seperti mas Gading? Bagaimana kalau dia jatuh cinta sama loe."


Jeslin menatap sahabatnya. "Dia tak akan jatuh cinta padaku. Karena ia tahu aku bekas Yuda. Sudahlah, Na. Yang terjadi biarlah terjadi. Gue sekarang ini hanya ingin menikmati hidup gue tanpa ada bayangan Yuda. Dan Gue rasa mas Gading sudah berhasil membantu gue."


Naura hanya menggeleng melihat sahabatnya. Ia kemudian mengganti bajunya dengan seragam kerjanya. Sementara mengenakan baju kerjanya, Naura tiba-tiba teringat sesuatu.


"Jeslin, mas Gading menggunakan pengaman nggak?"


"Nggak."


"Gila! Bagaimana kalau loe hamil?"


Jeslin terkejut. Ia menatap Naura. "Oh...., no..."


*********


Nah.....Gimana kisah ini berlanjut?


Maaf ya emak lama up


Biasa Senin selalu sibuk

__ADS_1


dukung emak terus ya?


__ADS_2