Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Jangan tinggalkan aku, sayang


__ADS_3

Saat mereka tiba di rumah sakit kecamatan, Naura segera dimasukan ke ruang gawat darurat. Alangkah terkejutnya Wisnu saat melihat kalau Satria ada di sana.


"Apa yang terjadi dengan Naura?" pekik Satria saat melihat wajah dan tangan Naura yang terluka. Ia semakin terkejut saat melihat ada darah segar yang mengalir di kaki Naura.


"Istriku sedang hamil saat terjatuh." Kata Wisnu dengan wajah sangat tegang.


"Peralatan di rumah sakit ini sangat terbatas, kita harus segera membawanya ke rumah sakit di kota. Suster, ambilkan oksigen. Kita harus memberikan pertolongan pertama pada pasien sebelum kita membawanya ke rumah sakit yang ada di kota." Kata Satria. Ia memberi kode pada perawat untuk mempersilahkan keluarga pasien menunggu di luar. Wisnu sebenarnya tak rela harus meninggalkan ruangan. Apalagi di sana ada Satria. Tapi ia yakin kalau Satria pasti akan melakukan yang terbaik untuk Naura.


Setengah jam kemudian, Naura sudah dinaikan ke atas ambulance dan langsung di bawa ke rumah sakit kota. Satria sendiri yang mendampingi Naura. Wisnu tak diijinkan naik ke atas ambulance karena tempatnya yang terbatas.


Sepanjang perjalanan, Wisnu tak henti-hentinya memanjatkan doa. Ada rasa ketakutan dalam hatinya saat melihat wajah pucat Naura. Wisnu jadi ingat dengan wajah pucat Dina menjelang kematiannya.


Sesampai di rumah sakit, mereka langsung menangani Naura dengan serius.


"Pasien kehilangan banyak darah. Kita harus memberinya donor. Cepat periksa golongan darahnya." Perintah dokter ahli kandungan.


15 menit kemudian....


"Golongan darah pasien AB negatif."


Wisnu yang mendengarnya jadi terkejut karena itu juga golongan darah Dina.


"Kita kehabisan golongan darah itu."


Wisnu menjadi tegang.


"Golongan darahku, AB negatif." Kata Satria. Mereka pun segera membawa Satria ke ruang pengambilan darah.


**********


"Tuan, minum dulu!" kata Gading sambil menyerahkan sebuah botol air mineral. Wisnu terlihat kacau dengan kemeja dan celana yang masih berlumuran darah.


"Terima kasih." kata Wisnu lalu meneguk air mineral itu sampai setengah. Ia menarik napas panjang sambil matanya tak lepas dari pintu ruang operasi.


"Aku yakin, pagi itu Naura akan mengatakan tentang kehamilannya. Sayangnya, aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya yang sedang gembira. Naura memang tomboy, keras kepala, suka membantah semua perkataan ku. Dia boleh mengatakan kalau tak ingin memakai perasaan dalam hubungan kami, namun aku yakin, dia bahagia dengan kehamilannya." Kata Wisnu pelan lalu mengusap wajahnya kasar. Ada rasa sesal dalam hatinya.


"Sabar ya, tuan."


"Selama ini, aku tak pernah memperdulikan apakah Regina atau Indira akan hamil atau tidak. Karena sejujurnya aku merasa trauma dengan kehamilan Dina yang membawa kematian padanya. Namun tadi, saat tahu kalau Naura hamil, entah mengapa ada perasaan senang yang tak bisa aku lukiskan hadir dalam hatiku."


"Mari kita berharap yang terbaik dari Allah. Nyonya adalah perempuan yang kuat. Walaupun begitu, apapun nanti keputusan Allah bagi nyonya, aku harap tuan akan kuat untuk menerimanya."


Wisnu hanya bisa mengangguk. Walaupun sebenarnya saat ini ia sedang mengalami ketakutan. Rasa takut jika harus kehilangan Naura.


Pintu ruang operasi terbuka. Dokter Donny, sebagai dokter ahli kandungan mendekati Wisnu dan Gading.


"Operasi nya sudah selesai. Dan saya punya kabar buruk untuk anda, tuan Furkan. Pertama, kami tak bisa menyelamatkan janin yang ada di rahim istri anda karena ia mengalami benturan yang sangat keras dan janinnya masih berusia 5 minggu sehingga sangat rapuh. Alhamdulillah walaupun begitu, kepalanya tak mengalami benturan yang berarti. Namun kabar buruk lainnya adalah istri anda saat ini mengalami koma dan saya belum tahu kapan ia akan sadar."

__ADS_1


Wisnu terkejut mendengar. Seluruh tulang-tulang yang ada dalam tubuhnya seakan tak mampu menahan berat tubuhnya. Wisnu menjadi sangat lemah sehingga Gading denhan cepat langsung memeluk bosnya itu dan membantunya duduk kembali. Wisnu merasa jantungnya seakan berhenti berdetak.


***********


Tangan Wisnu perlahan menyentuh tangan Naura yang terbaring tak berdaya dengan wajah pucat.


"Sayang, ayo buka matamu. Jangan biarkan aku sendiri. Aku akan menjadi gila jika kau tak ada." Kata Wisnu sambil mencium tangan Naura dengan lembut. "Kau boleh menggunakan celana jeans sobek-sobek mu lagi. Kau boleh bersikap urakan dan judes kepadaku, namun aku mohon, jangan tinggalkan aku. Karena sesungguhnya, hanya kamu yang bisa menghadirkan semangat hidupku setelah kematian Dina. Hanya kamu yang bisa membuat aku tertawa lepas bahkan melanggar prinsip-prinsip hidup yang selama ini ku pegang teguh. Karena ternyata semenjak kau ada dalam kandungan, kita sudah pernah dijodohkan. Takdir telah membawamu kembali padaku." Wisnu tak bisa menahan tangisnya. Lelaki yang biasa terlihat kuat dan tegar itu akhirnya meneteskan air mata. Ia tak pernah mengalami rasa takut kehilangan seperti ini. Bahkan saat kematian Dina pun, Wisnu tak pernah mengalami ketakutan seperti ini.


Para penduduk desa, datang ke rumah sakit. Walaupun mereka tak diijinkan masuk karena Naura masih ada di ruang perawatan intensif namun kehadiran mereka sangat menghibur Wisnu. Ia merasa bangga karena Naura begitu disayang oleh mereka. Beberapa anak kecil yang ikut bahkan menangis karena tak bisa bertemu dengan Naura.


Regina dan Indira juga datang. Dengan wajah palsu penuh penyesalan keduanya berusaha menghibur Wisnu.


"Maafkan aku ya, mas. Karena tanganku licin dengan keringat sehingga aku tak bisa menahan tangan Naura." Kata Regina sambil menangis di bahu Wisnu.


"Sudahlah. Tak ada yang perlu disalahkan saat ini. Aku berharap kalian berdua juga mendoakan Naura agar ia bisa siuman." Kata Wisnu.


"Tentu, mas. Aku dan mba Regina selalu mendoakan Naura. Oh ya, apakah tidak sebaiknya mas pulang dan istirahat dulu? Mas bisa istirahat di rumahku karena jaraknya lebih dekat dari rumah sakit ini. Mas sudah tiga hari nggak istirahat. Nanti mas sakit." Ujar Indira penuh kelembutan. Ia ingin Wisnu datang ke rumahnya karena memang sekarang adalah gilirannya untuk bersama Wisnu.


"Aku akan tetap di sini sampai Naura siuman." Kata Wisnu tegas.


Regina dan Indira pun tak berhasil membujuk Wisnu untuk pulang.


Satria beberapa kali datang melihat Naura. Walaupun sebenarnya Wisnu tak suka dengan cara Satria menatap Naura tapi dia tak bisa membenci pria yang telah memberikan darahnya untuk menyelamatkan Naura.


Wisnu sebenarnya sudah menyewa sebuah paviliun di bagian belakang rumah sakit ini. Namun dia tak pernah tidur di sana. Tempat itu hanya digunakannya untuk mandi dan makan. Selebihnya ia berada di ruangan tempat Naura dirawat. Sekalipun harus tidur di kursi sambil meletakan kepalanya di ranjang perawatan Naura.


"Alhamdulillah, kau sudah membuka matamu? Kau akhirnya sadar, sayang." Kata Wisnu sambil mencium dahi Naura dengan luapan kegembiraan yang sangat besar. Ia pun menekan tombol merah yang ada di dekat ranjang Naura untuk memanggil dokter.


*********


Sore hari, Naura dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Ia tak lagi menggunakan selang oksigen. Hanya selang infus yang masih menancap di tangannya.


Selama 4 hari tak sadarkan diri, Naura akhirnya sadar dan kini sudah bisa duduk di atas ranjang walaupun harus menggunakan bantal untuk menyangga punggungnya.


"Juragan, apa yang terjadi dengan diriku?" tanya Naura saat mereka tinggal berdua di ruangan itu.


"Kau jatuh dari bukit saat hendak mengambil kelincinya Lisa."


"Aku tahu itu. Maksudku, bagaimana dengan kandunganku? Pagi itu, aku ingin bilang kalau aku hamil."


Wisnu mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur Naura. Perlahan ia mengambil kedua tangan Naura dan menggenggamnya erat. "Ra, anak kita tak bisa diselamatkan."


"Aku keguguran?" Tanya Naura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya."


"Tidak.....! Aku tak bisa menjaganya dengan baik. Aku sungguh kejam." teriak Naura histeris. Wisnu langsung memeluknya.

__ADS_1


"Jangan salahkan dirimu. Ini sudah kehendak yang kuasa." kata Wisnu sangat lembut sambil mengusap kepala Naura dengan penuh rasa sayang. Naura menangis dalam pelukan Wisnu. Ia sedih karena harus kehilangan anak yang sudah dicintainya saat pertama kali ia tahu sudah ada dalam perutnya. Naura bahkan berpikir dengan kehadiran anak itu maka ia bisa menerima pernikahannya dengan Wisnu sekalipun harus mengubur impiannya untuk menjadi istri satu-satunya dari sang suami. Naura bahkan berpikir untuk belajar lebih dalam tentang poligami agar ia ikhlas menjalaninya. Namun kini semuanya sirna.


**********


Setelah dirawat selama 9 hari di rumah sakit, Naura pun diijinkan pulang. Namun Wisnu belum membawanya ke desa karena Naura harus menjalani konsultasi dengan dokter untuk memastikan kesembuhannya secara total. Makanya Wisnu membawa Naura ke rumahnya.


Bu Aisa dan bi Saima dipanggil oleh Wisnu ke kota. Ia tahu bahwa Naura sangat sayang pada kedua pelayannya itu.


Regina dan Indira pun datang dan tinggal di rumah Wisnu. Lisa menangis sambil meminta maaf pada Naura.


"Sudahlah sayang. Lisa nggak salah, kok. Bunda saja yang kurang hati-hati." kata Naura menghibur Lisa.


Regina memanfaatkan kedekatan Lisa dengan Naura untuk tinggal di rumah itu. Biasanya mereka akan datang jika Wisnu yang memintanya.


Perhatian Wisnu sangat besar pada Naura. Ia selalu mengontrol jam minum obat, makanan apa yang akan Naura makan. Wisnu bahkan berkonsultasi dengan ahli gizi agar dapat memberikan nutrisi yang tepat bagi istrinya itu.


********


Hari ini, Jeslin baru saja pulang. Naura memutuskan untuk beristirahat sejenak. Wisnu sedang ke desa untuk beberapa pekerjaan di sana. Namun Naura yakin, sebelum Maghrib, suaminya itu pasti sudah ada di rumah.


Saat Naura memasuki ruang tamu, ia mendengar percakapan Indira dengan Regina. Sebenarnya Naura tak bermaksud menguping, namun saat namanya disebut, Naura pun menghentikan langkahnya.


"Mba, bagaimana kalau Naura tahu bahwa mba sengaja melepaskan tangannya?" tanya Indira.


"Dia tak akan tahu. Ide itu secara langsung muncul di kepalaku saat melihat posisi Naura. Sebenarnya aku tak terlalu yakin kalau dia hamil. Aku hanya ingin membuatnya jatuh, siapa tahu kepalanya terbentur dan dia langsung mati. Ternyata dia punya banyak cadangan nyawa. Untunglah ia keguguran. Kau dapat bayangkan jika mas memiliki anak kandung darinya, kita berdua akan semakin dicuekin."


Indira tertawa mendengar perkataan Regina. "Mba licik juga ya?"


"Kita harus seperti itu untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi milik kita. Aku mencintai mas Wisnu. Akan kulakukan apa saja agar harta kekayaan mas, tak akan terbagi dengan yang lain. Lisa harus menjadi satu-satunya pewaris kekayaan Furkan."


"Kalau aku hamil gimana?"


"Tentu saja anakmu harus mendapatkan apa yang menjadi haknya. Namun tidak dengan Naura. Karena dia bisa membuat mas lupa pada kita berdua."


Telinga Naura menjadi merah saat mendengar percakapan itu. Tangannya terkepal dengan sangat keras sehingga urat-uratnya nampak jelas.


Kalian dengan sengaja membunuh anakku? Jangan salahkan aku jika aku juga akan sama jahat dan liciknya seperti kalian.


Naura membalikan badannya. Emosinya menyala. Tatapan matanya menjadi tajam. Ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Wisnu.


"Ada apa, Ra?"


"Juragan, pulang ya? Aku butuh juragan saat ini." kata Naura dengan suara yang dibuat semanja mungkin.


**********"


Konflik panjang pun dimulai....

__ADS_1


Naura akan berubah dan membuat juragan bucin kepadanya.


__ADS_2