
Desa Hijau Permai kini sudah sangat terkenal. Objek wisata danau dan air terjun membuat banyak wisatawan lokal dan internasional mengunjungi.
Kehidupan ekonomi penduduk pun sudah sangat baik. Wisnu sebagai kepala desa sudah beberapa kali diwawancarai dan masuk TV karena kemajuan desa ini.
Ini adalah tahun ke-2, diperiode ketiga Wisnu menjabat sebagai kepala desa. Itu artinya ini adalah periode terakhir. Walaupun pada kenyataannya penduduk desa tak ingin menggantikan Wisnu dengan siapapun namun Wisnu sudah mengatakan kalau ia akan tetap menopang perkembangan ekonomi desa ini sebagai seorang pengusaha.
Kehidupan rumah tangga Wisnu dan Naura tetap harmonis dan selalu membuat iri siapa saja yang melihat karena kemesraan keduanya.
Hari ini, mereka akan merayakan 17 tahun pernikahan. Acaranya hanya sederhana, dilaksanakan di rumah bukit.
Beberapa tahun yang lalu, Wisnu sudah jujur ke Lisa tentang ayah kandungnya. Awalnya Lisa seperti tak terima namun setelah diberikan penjelasan panjang lebar oleh Wisnu dan juga Regina ibunya, Lisa akhirnya bisa menerimanya. Ia tetap mendapatkan cinta yang sama dari Wisnu dan Naura.
Usia Lisa kini sudah 22 tahun. Ia baru saja menyelesaikan studi di fakultas ekonomi setahun yang lalu, dan sambil bekerja dia juga meneruskan studi S2 nya. Lisa membantu mengolah klinik kecantikan Regina yang memang sudah semakin terkenal tapi juga diajarkan Wisnu untuk mengolah salah satu anak perusahaan nya di Jakarta.
Gading tetap menjadi tangan kanan Wisnu. Sekuat apapun Jeslin merayunya untuk bergabung di perusahaan keluarganya, Gading tetap berada di sisi Wisnu.
"Ibu.....!"
Naura yang sedang menyiapkan makanan untuk acara nanti sore, tersenyum mendengar suara Erdana yang memanggilnya. Ia membalikan badannya dan menemukan kalau putranya sudah berdiri di belakangnya. Baru 15 tahun dan Erdana sudah lebih tinggi dari Naura. Mungkin karena keseringan olahraga sehingga tingginya begitu ideal. Tak lama lagi akan seperti Wisnu ayahnya.
"Sayang, kau sudah datang? Elmira di mana?"
"Elmira masih ada syuting iklan. Oma Kumala menemaninya. Sore baru mereka datang." Erdana mendekat lalu mencium tangan ibunya.
"Kau tampan. Seperti ayahmu." ujar Naura sambil memeluk putranya.
"Aku juga tampan karena mirip ibu." ujar Erdana.
Naura hanya tertawa. Erdana tak akan mengakui kalau wajahnya mirip sang ayah. Dia selalu mencari kesamaan di wajahnya dengan sang ibu. Mungkin karena Erdana lebih dekat pada Naura dibandingkan Wisnu. Sangat berbeda dengan Elmira dan Daffa yang begitu dekat dengan ayah mereka.
"Ayah ke mana, Bu?" tanya Erdana sambil menikmati kue buatan ibunya.
"Ayah ke kantor desa sebentar. Ada tamu dari kecamatan. Bagaimana sekolahmu, nak?"
"Alhamdulillah baik, bu. Tugasnya lumayan banyak. Baru juga 2 bulan jadi anak SMA, aku sudah pusing."
Naura terkekeh sekaligus juga agak sedih. kesibukannya di desa ini, membuat waktunya untuk anak-anaknya yang kini bersekolah di kota jadi agak berkurang. Untung saja Oma Kumala sangat setia menjaga cucu-cucunya.
"Apakah ibu mengundang Tante Jeslin?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Mentari tadi bertanya saat kami di sekolah. Sepertinya ia ingin ikut ke sini juga."
"Kalian satu sekolah?"
__ADS_1
"Iya. Dengan anak dokter Yuda juga yang bernama Prayuda. Namun dia sudah kelas 2."
Sore harinya, acara syukuran 17 tahun pernikahan pun dilaksanakan.
Naura nampak sangat cantik dengan baju gamis berwarna putih. Wisnu Bahkan beberapa kali berbisik ke istrinya itu untuk mengatakan betapa cantiknya dia. Naura sama sekali tak berubah, walaupun usianya sudah berusia 37 tahun.
Elmira terlihat cantik juga. Sekalipun ia sudah menjadi artis remaja, namun ia terlihat begitu sederhana.
Naura melihat betapa cantiknya anak tertua Jeslin. Mentari sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang bersinar.
"Sayang, tadi aku ketemu dengan dokter Satria. Mereka sedang ada di sini. Sekalian saja aku ajak ke sini. Eh, itu mereka datang."
Satria, Gayatri, Noah dan Chakira yang kini berusia 10 tahun. Walaupun masih berusia 10 tahun, namun kecantikan Chakira jelas terlihat. Rambutnya yang panjang bergelombang membuat ia terlihat seperti putri dalam cerita dongeng.
Erdana dan Mentari. Noah pun ikut nimbrung denhan mereka. Walaupun Noah masih duduk di bangku SMP namun anak tertua Satria itu berteman baik dengan Erdana dan Mentari.
"Kak, kita pergi ke danau, yuk!" ajak Chakira.
"Agak mendung, Cha. Di sini aja." ujar Noah.
"Oh...kakak, kita kan jarang datang ke desa. Ayolah!"
Melihat Noah yang nampak enggan menemani adiknya, Erdana langsung berdiri dan memegang tangan Chakira.
Chakira nampak sangat senang. Sambil bergandengan tangan, keduanya menuruni bukit.
Mentari yang melihat bagaimana perhatiannya Erdana pada Chakira, merasakan ada yang sakit di hatinya. Namun ia berusaha menepisnya. Erdana memang baik pada siapa saja.
Di tepi danau, Erdana mengambil beberapa gambar Chakira dari ponselnya. Gadis itu sangat pintar bergaya. Wajahnya fotogenik menurut Erdana.
"Makasi ya, kak." ujar Chakira saat Erdana memperlihatkan hasil fotonya.
"Sama-sama."
cup!
Chakira mencium pipi Erdana sebelum berlari meninggalkan cowok itu. Erdana terkejut. Ia memegang pipinya sambil tersenyum. Ia jadi ingat, ini adalah yang kedua kalinya Chakira mencium pipinya.
*********
Entah sudah berapa kali Naura mencapai puncak kenikmatannya, yang pasti Wisnu sangat memuaskan istrinya malam ini sebelum ia sendiri juga mencapai puncaknya.
"Mas.....!" Naura tersenyum bahagia sambil mengusap keringat di wajah suaminya.
"Kau masih seperti pertama kali aku menyentuhmu, sayang. Begitu menghangatkan, bikin candu dan sedikit liar."
__ADS_1
Naura tertawa mendengar perkataan Wisnu. "Apakah aku seperti itu?"
"Ya. Sama sekali tak berubah kalau soal yang itu."
"Mas juga nggak berubah. Masih seperti dulu pada hal kita sudah 17 tahun bersama."
Wisnu membelai wajah istrinya. "Usia kita beda hampir 10 tahun. Makanya aku harus selalu tampil bugar agar kau tak melirik pria lain. Sekarang kan lagi zaman perempuan nikah dengan berondong."
"Aku nggak pernah tertarik melihat wanita lain, mas. Sekalipun wajahmu sudah berkeriput, rambutmu sudah memutih, punggungmu pun mungkin agak membungkuk, aku akan tetap menyayangimu."
Wisnu kembali mencium bibir Naura. "Betapa beruntungnya aku memilikimu, sayang."
"Ada juga merasa beruntung memilikimu, mas. Juragan ku yang tampan, sedikit posesif dan lumayan romantis."
Wisnu terkekeh. Ia melebarkan tangan kanannya dan membiarkan Naura tidur di lengannya. "Anak-anak kita mulai beranjak remaja. Mungkin tak akan lama lagi mereka akan meninggalkan kita. Erdana mengatakan kalau ia ingin kuliah di Amerika atau London."
"Aku mendukungnya, mas."
" Awas ya kalau kau menangis saat merindukannya."
Naura tertawa. Ia memang paling cengeng jika menyangkut anak-anaknya.
"Mas, Lisa kayaknya sudah serius dengan pacarnya. Bagaimana menurutmu?"
"Kalau memang pria itu serius dan bertanggungjawab, kenapa tidak?"
"Berada tua aku kalau nanti akan punya menantu."
Wisnu berbalik dan menempatkan dirinya di atas sang istri. "Aku nggak merasa tua, tuh. Justru aku sekarang merasa lebih muda dan ingin lanjut lagi."
"Lanjut apa, juragan?"
"Ronde kedua....."
"Mas Wisnu.....!" Naura memekik kaget saat Wisnu sudah menunduk dan mencium lehernya lagi. Wisnu tahu dimana letak kelemahan Naura.
"Happy anniversary, sayang." bisik Wisnu sebelum melancarkan aksi ronde keduanya.
Juragan......juragan....., belum juga berubah ya....
**********
segitu dulu ya emak-emak extra part nya
Mau nambah lagi?????
__ADS_1