
Sepanjang perjalanan ke desa, Wisnu memperhatikan Gading. "Mengapa aku merasa kalau sejak kemarin kamu nggak ganti baju ya?"
Deg!
Gading menjadi tegang. "Aku, kehilangan kunci lemari ku."
"Memangnya kamu kehabisan uang dan tak membeli baju baru?"
"Nggak sempat tuan. Lagi pula baju ini masih bersih dan tak bau apek. Aku kan selalu pakai minyak wangi." Gading berusaha tersenyum. Untuk yang pertama kali ia bohong pada Wisnu namun ia tahu kalau ini bohong yang tak akan merugikan tuannya.
"Tapi kalau sampai di desa, saya akan ganti baju. Kan baju saya banyak juga di desa." Lanjut Gading membuat Wisnu hanya mengangguk.
Akhirnya mereka sampai di kota. Wisnu dan Gading langsung ke sawah dan ladang untuk mengecek tanaman yang ada sekaligus panen beberapa jenis tanaman.
Wisnu juga meninjau proyek jalan lingkar dan pembangunan taman bermain anak-anak.
Selesai makan siang, Wisnu beristirahat sambil duduk di teras samping dan melakukan panggilan Videocall dengan Lisa.
Anak itu sangat gembira saat menunjukan pedang dan senjata mainan yang dibelinya. Ia ternyata membeli juga untuk Wisnu dan Naura.
"Supaya ayah dan bunda nggak memakai bantal lagi untuk bermain perang-perangan." itulah yang Lisa katakan saat menunjukan pedang dan senjata untuk Naura dan Wisnu.
Wisnu tak dapat menahan tawanya saat mendengar perkataan Lisa saat panggilan itu berakhir. Ia tak dapat membayangkan bagaimana jengkelnya Naura saat akan diajak Lisa bermain.
Membayangkan wajah Naura, Wisnu tak tahan untuk segera menghubunginya. Hanya sebuah pesan singkat karena ia tak ingin menganggu pekerjaan istrinya itu.
Hallo sayang, apakah kau sudah makan siang?
Agak lama baru Naura membalasnya. Hanya sebuah kata siang.
Sudah
Sebenarnya Wisnu kurang puas dengan pesannya yang dibalas singkat saja. Namun ia tak mau mengeluh karena ia tahu betapa juteknya Naura. Syukur saja pesannya telah di balas.
Wisnu menatap ke arah pondok. Nampak Gading sedang duduk di sana. Sesekali ia tersenyum namun sesekali ia nampak termenung. Selama tujuh tahun bekerja dengan Wisnu, Gading selalu tepat waktu, rapih dalam berpakaian, tak pernah menonaktifkan ponselnya dan selalu fokus dalam bekerja.
Wisnu melangkahkan kakinya menuju ke pondok.
"Tuan....!" Gading menunduk hormat pada Wisnu.
"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari sana senyum sendiri, kadang juga termenung. Mau dikata ada masalah, nggak. Mau dibilang ada masalah, iya. Ada apa?"
Gading menarik napas panjang. Ia tahu kalau tak bisa menyembunyikan sesuatu dari Wisnu. Namun ia malu untuk mengakuinya.
"Aku baik-baik saja, tuan."
Wisnu duduk di samping Gading. "Gading, usiamu susah 32 tahun. Kapan kau akan menikah? Aku bahkan tak pernah melihatmu dekat dengan gadis manapun juga. Apakah kau tak ingin meraih kebahagiaan?"
"Aku tentu saja mau, tuan. Tapi mana ada gadis yang mau dengan pria super sibuk seperti aku?"
Wisnu tertawa. "Jadi kau mau menyalahkan aku karena membiarkanmu jomblo?"
"Sedikit"
Mereka berdua pun tertawa bersama. Wisnu sangat senang karena Gading selalu ada padanya. Dan ia berjanji dalam hatinya akan mencarikan seorang gadis yang terbaik bagi Gading.
**********
"Elo nggak ke apartemen sebelah?" tanya Jeslin saat melihat Naura yang masih duduk sambil menonton TV pada hal waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.
"Malam ini mau tidur di sini saja."
"Kenapa?"
"Capek gue tiap malam di ajak main sama juragan."
"Main apaan."
"Main perang-perangan."
"Maksudnya?"
Naura menceritakan tentang perkataan Wisnu yang asal saja pada Lisa. Jeslin jadi tertawa mendengarnya.
"Memangnya loe ribut kalau lagi bercinta dengan juragan?"
"Bukan hanya gue saja yang ribut. Juragan juga."
"Juragan hebat nggak di ranjang?" tanya Jeslin.
__ADS_1
Wajah Naura memerah. "Ih....kok tanya yang begituan sih Jeslin."
"Kita kan sahabat. Nggak apa-apa berbagi informasi."
"Mana aku tahu dia hebat atau nggak. Kan gue nggak pernah mencoba dengan laki-laki lain."
"Maksud gue, loe puas nggak?"
"Puaslah. Gue bahkan hampir kewalahan menghadapi hasrat juragan yang nggak mengenal kata lelah."
Jeslin tersenyum. "Tuan sama asistennya kayaknya sama."
"Mas Gading?"
"Iya. Kami melalui 4 ronde semalam. Sesuatu yang tak pernah gue rasakan saat bersama Yuda. Mas Gading benar-benar hebat."
"Jes, loe nggak suka kan sama mas Gading?"
Jeslin tertawa. "Loe pikir kalau gue hanya butuh waktu satu malam untuk melupakan Yuda?" Jeslin kemudian terdiam sejenak. "Gue merasa perasaan gue nggak sama seperti kemarin. Apa gue sudah sudah move on ya?"
"Nggak tahu juga. Berarti mas Gading bisa bikin loe merasa nyaman kan?"
"Mas Gading memang orang baik."
Bel pintu apartemen berbunyi. Jeslin yang membukanya.
"Mas Gading? Lisa?"
Lisa langsung masuk. "Bunda, kok masih di sini? Kita kan mau main perang-perangan."
"Bunda capek, nak. Inginnya langsung tidur." Ujar Naura.
"Ih bunda, kan Lisa sudah beli pedang, pistol, topi untuk dipakai nanti." Lisa nampak kecewa.
Sementara Naura membujuk Lisa, Jeslin dan Gading saling berpandangan.
"Apa kabar mas Gading?"
Gading tersenyum. "Baik."
Keduanya saling melirik. Entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing. Jeslin merasakan kalau buku kuduknya merinding saat ia berdekatan dengan Gading. Begitu pula dengan Gading. Jantungnya berdebar tak beraturan.
"Bibi Jeslin, ayo ikut!" ajak Lisa.
Jeslin pun mengangguk. Entah mengapa ia ingin dekat dengan Gading saat ini.
Akhirnya mereka berempat pun diajak Lisa main perang-perangan. Wisnu dan Naura satu tim, Jeslin dan Gading satu tim sedangkan Lisa adalah pemimpinnya.
Saat ini, Gading dan Jeslin sedang bersembunyi di belakang sofa. Mereka duduk saling berdempetan sambil sesekali mengawasi Lisa yang sedang mencari mereka.
"Mas Gading, kakiku kesemutan." Bisik Jeslin.
"Ayo duduk. Jangan jongkok seperti itu."
Jeslin pun duduk di atas lantai sambil menjulurkan kakinya. Gading memijat pergelangan Jeslin.
Tiba-tiba Jeslin laba-laba.
"Mas Gading ada laba-laba...!" Jeslin menarik tangan Gading namun yang terjadi adalah Gading justru jatuh di atas tubuh Jeslin. Pandangan Keduanya bertemu. Jeslin merasakan jantungnya berdebar kencan. Demikian juga dengan Gading. Dan entah siapa yang memulai, bibir keduanya menyatu dalam ciuman yang hangat dan saling mendamba.
"Ada apa Lisa?" tanya Naura yang keluar dari persembunyiannya melihat Lisa yang mengintip dari sofa kembali duduk. Wisnu pun ikut keluar.
"Lisa melemparkan laba-laba mainan ke arah bibi Jeslin. Lisa pikir bibi akan lari eh, paman Gading justru menutupi tubuh bibi bisa."
Naura membulatkan matanya. Ia segera menarik tangan Lisa dan memberikannya pada Wisnu. "Lisa sayang, permainan selesai. Lisa cuci tangan dan minta ayah buatkan susu ya?"
"Baik." Lisa menurut.
Naura segera melangkah mendekati sofa.
"Jeslin..., permainan selesai." teriak Naura.
Perlahan Jeslin dan Gading keluar dari balik sofa.
Naura melotot ke arah Jeslin saat melihat kalau bibir temannya itu agak bengkak.
Wisnu kembali dari dapur sedangkan Lisa sudah duduk di depan TV.
"Aku mau pulang dulu." Kata Jeslin.
__ADS_1
"Aku juga mau pulang. Tuan sudah tak membutuhkan apa-apa lagi kan?" tanya Gading.
"Tidak. Lagi pula ini sudah hampir jam 9 malam. Kau pulanglah. Besok jemput aku jam 8 pagi."
Gading mengangguk. Ia melirik ke arah Jeslin. Keduanya saling tersenyum.
"Eh, aku mau tidur di apartemen Jeslin juga." Kata Naura membuat Wisnu kaget. Ia menahan tangan Naura.
"Ra, kenapa harus ke sebelah sih?"
"Aku....aku....."
"Iya. Kenapa juga harus ke sebelah. Nanti tuan kesepian." Imbuh Gading membuat Naura menoleh dengan kaget ke arahnya. Sejak kapan Gading suka mencampuri urusannya?
Gading hanya tersenyum.
"Ra.....!" Wisnu memohon.
"Aku akan tinggal sampai Lisa tidur." Naura menatap Jeslin. "Awas loe macam-macam." bisiknya.
"Mas Wisnu, aku pamit ya?" ujar Jeslin. Gading pun pamit.
Naura masih berdiri di depan pintu masuk. Memastikan Jeslin masuk ke apartemen kakaknya dan Gading masuk ke lift.
"Ra, kamu kenapa? Kayaknya mengawasi Gading dan Jeslin. Ayo tutup pintunya." Wisnu menarik tangan Naura untuk masuk.
"Aku khawatir, juragan."
Wisnu yang baru menutup pintu menatap Naura. "Apa yang membuatmu khawatir?"
"Jeslin dan Gading."
"Kenapa mereka?"
"Memangnya Gading nggak cerita?" Naura kaget juga mengetahui kalau Wisnu tak tahu.
"Cerita apaan sih?"
Naura menatap Lisa yang masih asyik dengan film kartunnya. "Jeslin dan mas Gading, mereka..., mereka , ti.....dur bersama semalam."
Wisnu kaget dan langsung terkekeh. "Akhirnya si Gading tak perjaka juga. Baru deh ia tahu apa itu sorga dunia."
"Katanya mereka semalam sampai 4 ronde."
"Apa? Kita kalah dong sama Gading dan Jeslin."
Naura menampar punggung Wisnu. "Dasar mesum!"
"Aku akan menyuruh mereka segera menikah!"
"Jeslin kan nggak mencintai Gading."
"Cinta bisa datang belakangan. Kayak aku dan kamu." Kata Wisnu sambil mencolek pinggang Naura.
"Apaan sih juragan." Naura langsung melangkah pergi dan duduk bersama dengan Lisa.
Wisnu diam sesaat. Memikirkan bagaimana Gading bisa jatuh pada pesona Jeslin. Ternyata asistenku itu diam-diam mau mengalahkan aku. Enak saja dia!
********
Jeslin berdiri di depan pintu apartemen. Entah pikiran gila apa yang memenuhi otaknya sampai ia berharap Gading akan kembali.
ting.....tong....
Jeslin membuka pintu apartemen. "Mas Gading?"
Gading langsung melangkah masuk, mendorong tubuh Jeslin yang yang masih berdiri di depan pintu. Jeslin akhirnya tersandar di dinding.
"Jeslin, maafkan aku. Kau membuat aku merasa gila." Kata Gading sambil membelai wajah Jeslin.
"Kalau begitu buktikan kegilaan mu." kata Jeslin senyum di wajahnya. Jangan ditanya bagaimana jatuhnya berdetak saat ini.
"Bagaimana caranya?"
Jeslin memegang tangan Gading. "Mari kita lanjutkan apa yang kita mulai tadi malam."
"As you wish!"
Nah lho...siapa yang nakal di sini??
__ADS_1