Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Kamu Harus Pergi, Juragan!


__ADS_3

Naura mundur beberapa langkah saat Wisnu mendekatinya. Lalu, saat jarak mereka semakin dekat, Naura justru melangkah pergi.


"Naura, kau mau kemana?"


Naura tak bicara. Ia hanya berjalan ke belakang lalu kembali sambil membawa sebuah baskom dan handuk kecil di tangannya. Ia meletakan itu di atas meja makan lalu kembali pergi mencari kotak P3K. Ia meletakan juga di atas meja makan. Lalu ia menarik kursi dan menatap Wisnu dengan dingin.


"Duduklah, juragan."


"Kamu mau melakukan apa?" tanya Wisnu namun ia duduk juga di hadapan Naura.


"Aku akan memotong tanganmu!"


"Naura!" Wisnu melotot.


"Aku akan membersihkan luka di tanganmu, juragan. Makanya kalau emosi jangan lampiaskan ke beton. Pukul aja langsung orangnya." Kata Naura lalu mengambil tangan Wisnu dan membersihkannya dengan air hangat yang ada dalam baskom.


"Aku tak akan pernah memukulmu, Ra."


Naura mendongak. Menatap Wisnu langsung ke matanya membuat Wisnu sedikit jengah. "Dan juga istri-istriku yang lain." lanjut Wisnu agar Naura tak merasa istimewa.


"Aku lebih suka kau memukul ku, juragan."


"Kenapa?"


"Soalnya kalau aku babak belur di pukul olehmu, aku akan punya alasan untuk melaporkanmu ke kantor polisi. Kau akan ditangkap karena kasus KDRT. Dan jalanku untuk cerai darimu akan menjadi mulus."


"Kau ingin cerai dariku? Aow....!" Wisnu menjerit jengkel sambil menarik tangannya dari genggaman Naura. Akibatnya, tangannya menjadi sakit karena genggaman tangan Naura yang kuat.


Naura hanya tertawa. "Memangnya juragan mau bercerai dariku?"


"In your dream!" ketus Wisnu.


"Hei juragan, itukan adalah kata-kata ku." protes Naura.


Wisnu terkekeh. Entah mengapa ia senang melihat Naura jengkel.


"Aku tak akan pernah menceraikan mu, Naura."


"Bagaimana dengan istrimu yang lain?"


"Aku juga tak bisa menceraikan mereka. Aku sudah ada dalam situasi pernikahan poligami ini. Aku berkewajiban untuk menjalaninya secara adil dan benar."


Naura memberikan obat merah di tangan Wisnu kemudian membungkus tangan itu dengan kain kasa.


" Kalau begitu, suatu saat kau harus menerima keinginanku untuk bercerai darimu."


"Kenapa?"


"Pertama, karena kita tak saling mencintai. Kedua hubungan diantara kita hanya sebatas kepuasan di atas ranjang dan itu bisa kau dapatkan dari kedua istrimu yang cantik bagaikan bidadari. Ketiga, karena sesungguhnya aku tak pernah mau dipoligami. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya wanita di hati suamiku. Dan itu tak akan pernah kau berikan." Naura berdiri dan hendak melangkah namun Wisnu menahan tangannya.


"Apakah jika aku menceraikan mu, kau akan menerima cinta Satria?"


"Aku pikir tidak."


"Mengapa? Bukankah kau juga menyukainya?"


Naura tersenyum sinis. "Aku pikir dia tak akan pernah menerima diriku yang sudah pernah menjadi barang bekas orang lain."


"Naura!" Wisnu tak senang Naura menyebut dirinya barang bekas.


"Ada apa juragan? Bukankah jika kita bercerai maka aku akan menjadi bekas istrimu? Kak Satria tampan, punya profesi yang menjanjikan, berasal dari keluarga yang terhormat, bagaimana mungkin dia mau menikahi seorang seorang janda sepertiku? Seandainya pun dia mau, pasti orang tuanya akan menolak ku." Naura menarik tangannya dari genggaman Wisnu. "Pulanglah. Mba Indira pasti sudah menunggumu."

__ADS_1


"Tanganku sakit, tak bisa menyetir. Aku akan tidur di sini."


"Tidak boleh." Kata Naura penuh penekanan.


"Kenapa tidak boleh?"


"Bukankah tadi juragan yang bilang, bahwa sebagai suami yang menjalani pernikahan poligami maka juragan harus adil? Kalau juragan tidur di sini, maka juragan menjadi sangat tidak adil."


"Tapi tanganku..."


"Sebentar lagi mas Gading pasti datang. Aku sudah mengirim pesan padanya." Kata Naura lalu segera membereskan semua peralatan yang ia pakai untuk membersihkan luka Wisnu.


Tepat setelah ia selesai, ponsel nya tiba-tiba saja berbunyi.


"Hallo Jeslin." Sapa Naura dan membuat Wisnu menatapnya tak suka.


"Na, loe di mana? Satria sangat terpukul saat tahu kalau loe sudah menikah. Dia bahkan sekarang sudah minum sangat banyak pada hal kami baru saja 15 menit sampai di diskotik."


Naura menarik napas panjang. Hatinya juga sakit. Namun bagaimana pun dia adalah perempuan yang sudah bersuami. "Maaf, Jes. Memang sebaiknya seperti itu. Karena bohong itu nggak baik. Gue sudah di rumah saat ini bersama juragan."


"Masya Allah! Juragan menemukan loe di sana."


"Dia juga salah satu tamu undangan. Gue tutup dulu ya, bye..."


Tak sampai 10menit, Gading akhirnya datang. Naura dapat melihat kalau Wisnu sebenarnya tidak ingin pergi namun karena prinsip keadilan sebagai suami yang berpoligami, Wisnu akhirnya pulang ke rumah Indira.


Setelah Wisnu pergi, Naura segera ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Saat ia naik ke atas tempat tidur, ia merasa sepi. Naura rindu pada kakeknya. Sudah 2 hari ini ponsel kakek tak bisa dihubungi. Naura ingin tahu kabar kakeknya.


Beginilah kalau hidup berpoligami. Harus rela kesepian karena suami ada bersama yang lain. Ah, kakek, kenapa juga menikahkan aku dengan Wisnu? Kakek tetap setia pada nenek sampai meninggal. Papa sama Mama juga begitu. Lalu kenapa aku dibiarkan menjadi istri ketiga?


Naura teringat dengan kejadian di pesta ulang tahun Satria. Rasanya sangat menyakitkan. Orang yang dia cintai, tak akan pernah menjadi miliknya lagi.


********


"Bagaimana tanganmu, mas?" tanya Indira saat bangun pagi. Wisnu sudah mandi dan Sementara mengenakan pakaiannya. Indira langsung membantu Wisnu memasang kancing kemejanya.


"Sudah agak baikan."


"Lukanya karena apa sih?"


"Aku kan sudah bilang semalam kalau tak ingin menceritakan penyebab luka ini." Kata Wisnu dingin lalu segera meninggalkan kamar. Tak peduli dengan wajah Indira yang agak cemberut. Perempuan itu masih menyimpan kesal karena saat Wisnu pulang semalam, suaminya itu langsung tidur tanpa bicara apa-apa. Indira penasaran bagaimana tangan Wisnu bisa terluka sedangkan Wisnu semalam pergi ke pesta salah satu koleganya. Indira sebenarnya ingin bertanya pada Gading. Namun pasti asisten suaminya itu akan tetap menutup mulutnya.


Gading sementara membersihkan mobil saat Wisnu keluar menemuinya.


"Selamat pagi, tuan!"


"Selamat pagi, Gading. Oh, ya. Jam berapa kamu akan mengantar Naura kembali lagi ke desa?"


"Maaf tuan, 15 menit yang lalu, nyonya baru saja menelepon dan mengatakan kalau ia sudah kembali ke desa dengan menggunakan bus."


"Apa? Bagaimana mungkin dia naik bus sementara mobilku begitu banyak?" Wisnu jadi kesal.


"Nyonya memang orangnya sangat mandiri." Gading mendekat. "Tuan, semalam aku mendengar percakapan antara nyonya dan tuan Satria. Nyonya mengatakan dengan tegas bahwa ia sudah menikah dan tak mungkin bisa bersama dengan tuan Satria."


"Lalu kenapa sampai mereka berpelukan?"


"Tuan Satria tak percaya kalau nyonya Naura sudah menikah. Nyonya Naura juga menangis karena menyesali kenapa baru sekarang tuan Satria menyatakan cintanya. Kayaknya mereka hanya saling menyesal aja."


"Saling menyesal apa, Gading?" Wisnu melotot.


"Eh...., mungkin nyonya merasa menyesal kenapa baru sekarang tuan Satria menyatakan cintanya."

__ADS_1


"Menurutmu mereka terlihat saling mencintai?"


"Saling mencintai pun tak ada gunanya, tuan. Karena aku sangat yakin kalau nyonya tak akan pernah menghiananti tuan Wisnu."


Wisnu sedikit merasa lega. "Kalau begitu, bersiaplah, kita akan kembali ke desa."


"Tuan, bukankah pagi ini kita harus ke pabrik?"


Wisnu mendengus kesal. Namun ia tak bisa mengabaikan pekerjaan hari ini. "Baiklah. Kita ke pabrik dulu. Aku yakin kalau Indira juga mau ke butiknya."


Gading tersenyum. Ia bersyukur karena Wisnu tahu kebenarannya tentang apa yang terjadi semalam di taman itu. Gading sangat yakin, sekalipun Naura terlihat suka memberontak dan agak urakan, namun Naura adalah perempuan baik-baik. Buktinya ia masih bisa menjaga kesuciannya sampai akhirnya menikah dengan Wisnu.


*********


Karena banyaknya pekerjaan yang harus Wisnu selesaikan di kota, demikian juga dengan Indira. Akhirnya mereka belum jadi kembali ke desa. Wisnu menelepon bi Aisa untuk menanyakan kabar Lisa.


"Non Lisa baik-baik saja, juragan. Semenjak pagi, ia sudah bersama non Naura. Naik sepeda, berkeliling kampung dan bermain dengan anak-anak di perkampungan. Sorenya mereka memancing di pinggir danau. Bibi juga ikut memancing. Non Lisa terlihat sangat senang. Tadi selesai makan malam, non Naura mengajarinya membaca dan menulis. Sekarang mereka sudah tidur di villa. Bibi ada di sini menemani mereka."


"Baiklah, bi." Wisnu pun mengahiri percakapan mereka. Ia lega karena Naura sudah tiba dengan selamat di desa. Ia juga senang mendengar Lisa selalu bergembira jika bersama Naura. Wisnu sebenarnya ingin menelepon Naura. Namun ada rasa gengsi dalam hatinya.


"Mas.....!" Indira tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menggodanya dengan usapan lembut di perut Wisnu.


Wisnu membalikan badannya. "Aku masih ada pekerjaan, Indira. Kau tidurlah. Jangan menungguku karena aku tak ingin melakukan apa-apa malam ini." Kata Wisnu lalu mengecup dahi Indira dan segera keluar dari kamar.


Indira menahan rasa kesal di hatinya. Selalu seperti ini. Wisnu sangat dingin orangnya. Apalagi semenjak ia menikah lagi dengan Naura, Wisnu menjadi semakin dingin padanya. Aku akan membuat mas menceraikan mu, Naura.


Secara tak sengaja, Indira mendengar percakapan antara Wisnu dan Gading tadi pagi. Ia akan mencari tahu siapa Satria itu.


************


Wisnu, Gading dan Indira tiba kembali di rumah bukit keesokan sore. Indira langsung mandi dan tidur karena ia merasa sangat lelah. Selama dua hari ini menyelesaikan segala pekerjaannya di butik. Sebenarnya ia masih ingin tinggal. Namun karena Wisnu beralasan harus segera pulang karena Lisa, Indira pun ikut pulang juga. Ia tak mau sampai waktunya bersama Wisnu yang tinggal 2 hari lagi akan dimanfaatkan oleh Naura.


"Bi, dimana Lisa?" tanya Wisnu pada Saima.


"Non Lisa sedang tidur di kamarnya. Nyonya Naura yang menidurkannya. Keduanya baru saja kembali dari perkampungan."


"Lalu, kemana Naura?"


"Nyonya sepertinya sudah kembali ke villa. Soalnya tadi nyonya bilang mau mandi."


Wisnu melihat ke arah luar. Hujan sepertinya mulai turun. "Ambilkan aku payung, bi."


Saima mengambil sebuah payung hitam dan menyerahkannya pada Wisnu. Setelah itu, Wisnu pun pergi meninggalkan rumah utama menuju ke villa yang ada di kaki bukit.


Saat ia masuk ke ruang tamu, ruangan itu nampak berbeda. Sepertinya Naura sudah menata kembali seluruh perabotannya. Wisnu pun menyimpan payung di dalam sebuah guci besar yang ada di dekat pintu. Ia menutup kembali pintu depan dan segera menuju ke kamar Naura. Pintu kamar yang tidak terkunci seluruhnya membuat Wisnu masuk dengan leluasa. Naura tak ada di kamar namun ada bunyi air di kamar mandi. Wisnu pun melangkahkan kakinya ke sana. Jantungnya langsung berdetak dengan sangat keras melihat istri ketiganya itu sedang mandi, membelakanginya di bawah guyuran shower. Aliran darah Wisnu langsung terasa panas. Ia pun dengan cepat membuka bajunya, dan berjalan perlahan mendekati Naura, lalu tangannya melingkar di pinggang ramping istrinya itu sambil berbisik. "Aku menginginkanmu, sayang."


Bola mata Naura membulat. Kedua kakinya gemetar saat berbalik dan menatap Wisnu. "Juragan...., kau harus pergi karena ini masih belum waktuku bersamamu."


**********


Spesial thx utk beb Juli


makasi sudah bantu emak, nyumbang ide dan juga bantu2 ngetik sementara emak kerja. Suka banget dengan bab ini


Nah... lho.....


kira2 Juragan pergi nggak ya????


Emak up lagi nih.....


jika like nya tambah banyak, vote nya juga banyak dan komentarnya juga banyak, tengah malam mungkin Mak up lagi deh

__ADS_1


__ADS_2