
Makasih untuk semua doanya. Makasih juga 300 lebih komentar untuk bab sebelumnya.
jadi tambah naik deh nih imun 😍😍😍
*********
Jeslin sudah lama tenggelam di alam mimpinya namun Naura sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Entah pergi kemana rasa kantuknya. Pada hal semalam juga ia tidurnya hanya 4 jam saja karena terus belajar. Dan malam ini ia sengaja melelahkan dirinya di atas lantai diskotik namun tetap saja ia tak bisa tertidur.
Seumur hidupnya ia tak pernah mengalami insomnia. Dulu, walaupun sedih, ia masih tetap bisa tertidur. Waktu orang tuanya meninggal, ada kakek Zumi yang menemaninya. Dan ketika kakeknya meninggal, ada Wisnu yang menjaganya. Kini, dia sendiri. Jeslin memang ada di sampingnya, namun hati Naura terasa begitu hampa.
Kenekatannya untuk pergi dari Wisnu justru membuat hatinya galau. Keinginannya untuk bercerai dari pria itu, justru membuat hatinya terluka.
Apakah Wisnu telah memiliki arti yang begitu besar dalam hidupku? Apakah kebersamaan kami selama beberapa bulan ini telah membuatku terbiasa dengan kehadirannya? Perasaan ini pasti akan hilang. Aku hanya butuh waktu beberapa hari lagi agar kembali terbiasa. Aku harus kuat!
Di kamarnya, Wisnu pun sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Kamar ini justru semakin mengingatkannya pada Naura. Mereka pernah punya kenangan manis di kamar ini. Bahkan setiap sudut rumah ini membuat Wisnu mengingat Naura.
Ia kembali terngiang kata-kata Naura. Benarkah Wisnu hanya mencintai tubuh Naura dan bukan hatinya? Apakah selama ini Wisnu hanya menjadikan Naura bayang-bayang Dina karena wajah mereka yang agak mirip? Bukankah saat bersama Naura, ia justru sama sekali tak pernah mengingat Dina? Bahkan semenjak ia menikmati malam indah bersama Naura, dan ketika ia berpindah pada istrinya yang lain, ia justru kehilangan gairahnya pada Regina dan Indira karena terus mengingat Naura?
Wisnu bangun dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia mengambil remote dan menyalahkan kembali lampu kamar. Di ambilnya ponsel Naura dan membuka kembali galeri fotonya. Ia tersenyum melihat foto-foto mereka saat di air terjun. Naura terlihat sangat cantik. Tanpa polesan apapun ia terlihat sangat menarik.
Tangan Wisnu bergetar menyentuh layar ponselnya. "Ra, aku akan berjuang mendapatkan mu lagi. Akan kulakukan segala cara agar kau memaafkan ku." Lalu Wisnu mencium layar ponsel itu. Hatinya hampa tanpa ada Naura di sampingnya.
**********
2 hari setelah ujian itu, Naura dipanggil pihak kepolisian untuk memberikan keterangan perihal kejadian penculikan itu. Walaupun sebelumnya ia sudah pernah memberikan keterangan, namun ada sesuatu yang harus ia lengkapi sebelum berkas perkara ini dilimpahkan ke kejaksaan.
Entah bagaimana polisi bisa menemukannya, Naura cukup terkejut saat kemarin pagi, polisi menemuinya di apartemen ini. Sebenarnya ada rasa enggan untuk pergi karena ia tahu, ia pasti akan bertemu dengan Wisnu. Namun ia akhirnya pergi setelah Jeslin memilih untuk ijin kuliah dan mengantarkan Naura ke kantor polisi.
Saat mereka tiba, Wisnu memang sudah ada di sana. Naura bersikap dingin dan segera menuju ke ruangan penyidik untuk memberikan keterangan yang diperlukan.
Selama satu jam lebih ia memberikan keterangan dan akhirnya semuanya selesai. Begitu ia keluar, salah satu polisi meminta Naura untuk masuk ke ruangan yang lain. Ia terkejut melihat karena di sana ada Regina, Indira dan Wisnu.
"Silahkan kalian berbincang di sini secara baik-baik." Kata polisi itu yang akhirnya Naura tahu sebagai paman jauh Wisnu.
Naura duduk sambil menatap Regina dan Indira yang sudah menggunakan baju tahanan yang berwarna oranye.
"Baguslah kalau kau akhirnya mau berbicara dengan kami, Naura." Kata Regina
Matanya terlihat sembab. Sepertinya ia banyak menangis. Mungkin saja ia merindukan Lisa.
__ADS_1
"Katakan apa yang kalian mau. Aku malas berada di sini." Kata Naura sambil memasang tampang jutek.
"Aku akui kalau aku dan Indira salah. Kami terbakar cemburu dan sudah kehilangan akal sehat saat merencanakan semua ini. Namun ini semua terjadi karena kesalahan kamu juga, mas." Kata Regina tanpa bisa menahan air matanya. "Aku akui, kau menikahi kami tanpa cinta. Tapi bukankah sebelum kedatangan Naura, kau masih bersikap adil sama kami?
Pernahkah kami protes walaupun saat bercinta mas sering salah menyebut nama kami dengan nama Dina? Nggak kan? Aku dan Indira juga tetap saling menjaga perasaan kami masing-masing antara istri pertama dan istri kedua. Namun kehadiran Naura mengubah segalanya. Mas bahkan kesannya enggan menyentuh kami lagi. Bayangkan mas, untuk bisa memiliki waktu bersama mu, kami harus rela menunggu sampai hampir satu bulan. Dan mas hanya menyentuh kami satu kali saja. Mas sangat dingin dan semakin bertambah dingin saat Naura datang. Makanya aku selingkuh dengan Reno. Aku juga wanita yang butuh perhatian, kasih sayang dan belaian dari seorang pria." Kata Regina diantara Isak tangisnya.
"Ya. Ketidakadilan mas dalam menjalani poligami membuat kami jahat pada Naura." Sambung Indira dengan linangan air mata juga.
"Apapun yang Wisnu lakukan dalam kehidupan pernikahan ini, itu bukan alasan bagi kalian untuk dengan sengaja menyebabkan aku keguguran. Kalian sangat kejam menghilangkan anak yang ada dalam kandunganku. Dan jika Wisnu bersikap dingin pada kalian, jangan dibalas dengan perselingkuhan. Minta cerai saja kalau sudah tak tahan. Apakah kalian tak takut dengan hukuman dari Allah? Atau karena kalian tak mau berpisah dengan kekayaan Wisnu? Dasar serakah! Aku saja yang tak punya pekerjaan, nggak masalah jika berpisah dengan Wisnu. Dan kalian? Yang satu dokter kulit dengan penghasilan klinik kecantikan yang sangat banyak, yang satunya lagi memiliki butik dengan langganan para pejabat dan artis terkenal, penghasilannya pasti sangat banyak kan setiap bulannya. Apalagi yang kalian takutkan? Takut miskin? Nggak mungkinlah. Kecuali kaliannya saja yang salah mengolah semuanya." Naura berdiri. Ia mengambil tas punggungnya. "Aku pergi! Selamat menikmati upah dari kejahatan kalian....!" Lanjut Naura sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.
Regina, Indira dan Wisnu saling berpandangan. Wisnu pun berdiri. "Aku pergi dulu!"
"Kau memang tak pernah mencintai kami kan mas?" teriak Indira membuat langkah Wisnu terhenti.
"Maafkan aku....!" Ujar Wisnu lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu. Tangis Indira semakin dalam terdengar Ketakutannya soal masuk penjara membuatnya hampir stres berada di tempat ini. Apalagi ia merasa sedikit pusing.
Regina pun tak berbeda jauh dengan Indira. Ia sudah membayangkan karirnya sebagai dokter akan hancur. Dan yang terlebih buruk lagi, Lisa akan membencinya.
Namun penyesalan tak pernah datang di depan bukan? Penyesalan selalu datang di belakang. Terkadang akibatnya sangat fatal. Dan itu yang membuat manusia lupa saat melakukan kejahatan.
***********
Naura pun segera masuk ke dalam toko untuk menanyakan persyaratan apa yang dibutuhkan. Jeslin yang mendengarnya jadi kaget.
"Loe mau kerja di toko ini?" tanya Jeslin saat keduanya susah berada di dalam mobil.
"Kalau diterima, kenapa tidak?"
"Kenapa nggak minta kerja aja di perusahaan papa gue? Atau gue bisa minta kakak gue agar loe bisa bekerja di perusahaannya."
Naura menatap Jeslin. "Loe kayak nggak tahu aja kalau gue tuh paling nggak mau menyusahkan orang."
"Dasar keras kepala loe."
Saat mobil Jeslin pergi, mobil Wisnu yang dikendarai oleh Gading memasuki halaman minimarket itu.
**********
"Tuan, nyonya Naura tak mau menuntut nyonya Regina dan nyonya Indira. Tapi untuk Hartono dan Jupri, dia ingin menuntutnya atas dugaan penculikan. Kasus ini juga membuat beberapa orang tua di desa akhirnya mengadukan perbuatan Hartono yang memperkosa anak-anak gadis mereka karena tak mampu membayar hutang. Mereka juga menuntut Jupri yang menjadi kaki tangan Hartono. Saya dengar kalau ibu Kumala, istri pertama Hartono dan istri keduanya yang membuat gerakan keadilan ini. Di kampung sekarang ini, orang lagi ramai membicarakan kasus hartono."
__ADS_1
Wisnu yang sedang membaca laporan dari pengacaranya menyangkut proses perceraiannya terkejut mendengar kalau Naura tak mau menuntut kedua istrinya. "Apa yang menyebabkan Naura tak mau menuntut mereka?"
"Saya nggak tahu, tuan. Yang saya dengar dari Jeslin bahwa nyonya Naura nggak mau bolak-balik pengadilan dan bertemu dengan mereka dan juga dengan tuan."
Dada Wisnu terasa sesak mendengarnya. "Naura sungguh membenciku."
"Jadi bagaimana dengan tuan? Apakah juga ingin menuntut nyonya Regina dan Indira."
Wisnu diam sejenak. Matanya menatap Lisa yang sedang bermain bersama Aisa.
"Aku juga tak akan menuntut mereka, asalkan Regina langsung setuju bahwa hak asuh Lisa ada di tangan ku. Regina dapat setiap saat mengunjungi Lisa namun Lisa akan tinggal bersamaku. Lisa adalah keturunan kakakku. Aku tak bisa mengabaikannya."
"Baik, tuan. Aku ku sampaikan pada pengacara. Aku juga sudah sampaikan pada pemilik mini market itu untuk menerima nyonya Naura. Mereka awalnya menolak namun saat kukatakan kalau tuan adalah salah satu pemilik saham di perusahaan itu, mereka akhirnya menerima dan berjanji untuk merahasiakannya dari Nyonya Naura."
Wisnu tersenyum senang. "Naura sungguh baik
Ia sudah disakiti oleh Regina dan Indira namun masih membiarkan mereka lolos. Aku semakin tak ingin melepaskan nya pergi."
"Apa yang akan tuan lakukan?"
"Mengejarnya."
"Bagaimana caranya, tuan?"
"Kamu berikan aku ide, Gading."
"Tuan, aku kan nggak pernah pacaran."
Wisnu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang harus ia lakukan untuk mengejar mendapatkan hati Naura?
Ada yang tahu?
*********
Akhirnya selesai juga part ini. Menulis novel membuat imunku naik namun agak kurang konsentrasi Karena kepala sedikit pening.
Isolasi mandiri hari ke-5 .
Kembar nanti besok malam ya guys
__ADS_1