Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Kejutan untuk Naura


__ADS_3

Satria mengantarkan Naura sampai di depan lobby apartemen.


"Untuk menghindari fitnah yang tak baik, aku akan membatasi diriku untuk bertemu denganmu. Aku hanya akan jalan denganmu jika bersama Jeslin. Aku akan sabar menunggu sampai kau resmi bercerai dengan Wisnu."


Naura menatap Satria. "Cari saja gadis lain, kak. Aku tak pantas untukmu."


"Hatiku selalu mengatakan bahwa kamu sangat pantas untukku."


Naura membuka pintu mobil. "Kak, terima kasih untuk kue dan bunganya ya? Juga untuk makanan yang kemarin."


"Bunga? Makanan? Aku tak pernah mengirim sesuatu untukmu."


"Kalau begitu siapa yang mengirimnya?"


Satria tersenyum. "Kamu cantik, Na. Pastilah banyak orang yang mengagumimu."


"Kakak bisa saja." Naura segera menutup pintu mobil. Ia melambaikan tangannya pada Satria lalu segera masuk ke dalam apartemen.


"Nona Naura, ini ada titipan kue untuk nona." kata Pak Somat sambil menyerahkan sebuah bungkusan.


"Pak, siapa yang memberikannya?"


"Kurir yang mengantarnya."


"Terima kasih." Naura menerima bungkusan itu lalu segera masuk ke dalam lift. Ia berpikir dengan keras, siapa yang telah memberikan bunga, kue dan makanan untuknya.


Apakah Wisnu? Apakah dia yang memberikan semua ini padaku? Tapi bagaimana ia bisa tahu makanan kesukaanku? Bagaimana ia bisa tahu kalau aku menyukai bunga mawar? Bukankah aku tak pernah mengatakan apa-apa kepadanya tentang kesukaanku?


Pintu lift terbuka. Naura keluar dari dalam lift. Saat ia akan membuka pintu masuk, ia menoleh ke arah pintu apartemen yang berhadapan dengan pintu apartemen kakaknya Jeslin. Pintu itu sedikit terbuka. Naura mendengar ada tawa anak kecil dan ia merasa kalau itu mirip dengan suara Lisa.


Naura tersenyum lalu membuka pintu masuk. Ia memang sayang pada Lisa namun ia tahu bahwa ia harus membatasi semua rasa yang ia miliki untuk Lisa karena para akhirnya ia akan melepaskan ikatannya dengan Lisa saat ia bercerai dengan Wisnu.


Jeslin sedang menonton TV saat Naura masuk.


"Hai, bagaimana acara jalan-jalannya dengan dokter Satria yang tampan itu?' tanya Jeslin.


"Berjalan dengan baik. Dia ingin menunggu gue sampai gue resmi bercerai dari Wisnu. Namun gue menolaknya. Gue tak pantas untuknya. Oh ya, tadi gue bertemu dengan Yuda dan gue memukulnya."


Jeslin menatap Naura dengan sangat terkejut. Ia tahu apa arti pukulan Naura. "Elo memukul nya di mana?"


"Satu kali di wajah dengan tinjuku dan satu kali tendangan di perut."


"Dia jatuh?"


"Ya. Dan tak bisa berdiri lagi."


Jeslin tertawa. "Terima kasih. Gue ingin melakukannya namun tak bisa. Akhirnya loe melakukan itu untuk gue."


"Gue tak tahu bagaimana membalas sakit hati loe. Gue hanya tahu memukul orang. Nggak ada keahlian lain."


Jeslin tiba-tiba memeluk Naura sambil menangis. Selama beberapa hari ini ia berusaha tegar namun ternyata ia tak bisa. Dia hancur menerima kenyataan kalau dirinya dan Yuda tak bisa lagi bersama.


"Loe pasti kuat, Jes. Loe cantik, pintar dan juga berbakat. Gue yakin kalau loe akan mendapatkan pria yang lebih baik dari Yuda. Pria yang akan menerima loe apa adanya."


"Gue benci sama Yuda. Walaupun itu dia lakukan dalam keadaan mabuk namun tetap saja gue benci. Gue sudah bilang padanya jangan keseringan minum akhirnya beginilah jadinya."


"Mungkin ini cara Tuhan untuk mengatakan kepada mu bahwa kalian nggak jodoh."


Jeslin melepaskan pelukannya. Ia menatap sahabatnya. "Na, loe kan sudah menikah dengan juragan Wisnu, apa loe serius mau cerai dengannya?"


"Mau gimana lagi? Untuk apa bertahan dengan pria beristri banyak."


"Dia kan sudah akan bercerai dengan Regina dan Indira. Loe akan menjadi satu-satunya."


"Sudah terlambat."

__ADS_1


"Memangnya loe nggak mencintai Juragan Wisnu?"


"Nggak."


"Loe yakin?


Naura diam.


"Apakah loe nggak memikirkan Wisnu saat kalian berjauhan seperti ini? Apakah hati loe nggak bergetar setiap kali bertemu dengannya?"


"Memikirkan Wisnu?" Naura terdiam lagi. Apakah benar gue nggak memikirkan Wisnu? Apakah benar hati gue nggak bergetar saat menatapnya?


"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Na. Wisnu mungkin salah karena terlalu cemburu buta. Namun dia juga nggak salah karena hati mana yang nggak akan panas saat melihat pasangan kita tidur bersama tanpa busana dengan orang lain."


"Loe kok sekarang membela Wisnu sih?"


"Karena gue sudah merasakan apa itu kehilangan. Gue nggak ingin loe akhirnya menyesal karena kehilangan pria yang sungguh-sungguh mencintai loe."


Naura berdiri. "Gue mau tidur."


Jeslin hanya mengangguk. Ia menatap sahabatnya itu. Ponsel Jeslin berbunyi. Sebuah pesan masuk. Jeslin tersenyum. Ia membalas pesan itu lalu segera menyusul sahabatnya ke kamar.


*********


Setelah dua minggu menjalani masa percobaan, Naura akhirnya di terima dan hari ini, adalah hari libur pertamanya yang kebetulan jatuh di hati sabtu. Setelah mencuci pakaian dan mandi, Naura bermaksud akan olahraga di sekitar apartemen karena waktu baru saja menunjukan pukul 8 pagi. Hari ini Jeslin pulang ke rumah orang tuanya karena mereka baru saja kembali dari luar negeri.


Bel pintu apartemen berbunyi. Naura membukanya.


"Hallo nyonya...!"


Mata Naura membulat tak percaya. Anak-anak yang dari desa berdiri di depan pintu sambil memegang bola. Di belakang mereka berdiri Wisnu dan Lisa.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Naura diantara rasa senang dan kaget.


"Kami rindu dibawakan kue oleh nyonya. Taman bermainnya hampir selesai namun nyonya malahan tinggal di sini." Ujar Ucon yang berbadan gembul.


"Untung saja juragan mau mengantar kami ke sini. Boleh kan nyonya?" sambung Mila, satu-satunya anak gadis yang sering main bola dengan mereka.


"Bunda, bolehkan?" tanya Lisa.


"Boleh. Ayo semua kita pergi ke lapangan." ajak Naura. Ia menatap sekilas ke arah Wisnu, tersenyum pada suaminya itu sambil mengatakan, "Terima kasih sudah membawa mereka."


Wisnu jadi senang. Idenya untuk membawa anak-anak ini ternyata berbuah manis. Ia mendapatkan senyum dan ucapan terima kasih dari istrinya itu.


*********


Selama 2 jam Naura dan anak-anak itu bermain bola. Ia nampak tertawa bahagia bersama mereka. Lisa pun ikut bermain. Walaupun kadang gadis kecil itu kadang terjatuh, namun ia tak menangis. Gadis berkepang dua itu justru tertawa bahagia.


"Juragan ayo ikut main....!" ajak anak-anak.


Wisnu nampak ragu. Namun saat Naura mengajaknya juga, ia pun segera ikut bergabung.


"Ayah, Lisa lapar." ujar Lisa.


"Lisa ingin makan nasi?" tanya Wisnu.


"Nggak mau. Maunya kue coklat yang tadi ayah beli."


"Baiklah. Anak-anak, kita istirahat aja dulu ya?" ujar Wisnu lalu ia segera menuju ke mobilnya yang parkir dekat lapangan. Ia meminta Gading membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan kue coklat, susu dan minuman lainnya yang dia beli untuk anak-anak.


Mereka duduk di bawa pohon besar yang ada di pinggir lapangan sambil menikmati kue dan minuman yang ada.


Naura menatap doa kue yang ada. Itu sama dengan kue coklat yang diberikan oleh seseorang padanya.


Apakah Wisnu yang mengirimkan kue bunga dan makanan itu untukku?

__ADS_1


"Ra, kamu nggak ikut makan kue ini? Ini kan kue kesayanganmu?" ujar Wisnu.


"Bagaimana kamu bisa tahu ini kue kesayanganku?"


"Aku pernah melihat dus kue ini waktu datang ke villa. Aku hanya menduga saja kalau ini adalah kue kesayanganmu."


Naura diam sejenak. Ia tak tahu kalau Wisnu akan memperhatikan dia sedetail itu.


"Jadi yang mengirim kue, bunga dan makanan itu ke apartemen adalah kamu?"


Kepala Wisnu mengangguk. "Aku hanya ingin melihat kau tersenyum saat menikmati makanan itu. Soalnya jika tahu dari aku, kamu pasti nggak akan memakannya." kata Wisnu dengan wajah sedih.


Tak ada kata yang keluar dari bibir Naura. Apakah Wisnu begitu takut kalau aku akan membuang makanan itu jika tahu bahwa semuanya berasal dari Wisnu?


"Bunda, ayo main lagi!" ajak Lisa sambil menarik tangan Naura.


"Ok. Ayo.....!"


Mereka pun bermain bersama lagi. Sampai akhirnya anak-anak harus berhenti karena waktu sudah menjelang tengah hari dan panas.


Wisnu mengajak anak-anak makan di sebuah restoran yang ada di dekat apartemen. Tentu saja Naura harus ikut karena Lisa mengajaknya.


Selesai makan, dengan menggunakan mobil Wisnu yang lain, dua mobil segera membawa 8 orang anak-anak itu kembali ke desa.


"Apakah bunda senang hari ini?" tanya Lisa. Keduanya sedang berjalan sambil berpegangan tangan menuju ke apartemen.


"Ya. Bunda sangat senang."


"Ayah ayo ke sini dan pegang tangan Lisa yang satu." Ajak Lisa.


Wisnu yang berjalan di belakang Naura dan Lisa pun segera memegang tangan Lisa. Mereka nampak seperti keluarga kecil yang berbahagia.


"Terima kasih sudah mengantarkan bunda sampai di depan pintu. Nanti besok atau lusa kita bertemu untuk makan es cream lagi." Kata Naura lalu mencium pipi Lisa.


"Apakah bunda nggak ingin mencium ayah? Atau kalian lagi marahan ya? Lisa nggak pernah melihat ayah mencium bunda lagi."


"Kami nggak marahan sayang." ujar Wisnu cepat diikuti anggukan kepala Naura.


"Kalau begitu ayah cium bunda."


Wisnu dan Naura saling berpandangan.


"Tuh kan, memang sedang marahan. Makanya bunda nggak mau tinggal dengan kita lagi." Lisa merajuk. Ia tertunduk dengan wajah sedih membuat Naura dan Wisnu jadi bingung.


"Baiklah, ayah akan mencium bunda." Wisnu mendekat, ia memeluk Naura dan setelah itu ia mencium dahi Naura dengan sangat lembut.


"Di pipi kiri dan kanan juga dong." pinta Lisa.


Wisnu mencium pipi kanan dan kiri Naura secara bergantian. Naura dapat merasakan kalau tangan Wisnu yang memegang pundaknya agak gemetar. Naura sendiri merasa kan kalau jantungnya berdetak tak beraturan.


"Sekarang bunda juga mencium ayah." kata Lisa. Naura merasakan kalau badannya sedikit gemetar. Namun demi Lisa, Naura memberanikan diri untuk mencium pipi Wisnu. Namun karena Wisnu menggerakkan wajahnya, ciuman Naura justru mendarat di bibir Wisnu. Walaupun hanya sekilas namun ciuman itu mampu membuat keduanya merasakan ada desiran aneh di kulit tubuh mereka.


Lisa tersenyum senang. Ia menatap ayah dan bundanya secara bergantian. "Mengapa wajah ayah dan bunda menjadi merah?"


"Eh, kami...." Naura menjadi bingung.


Wisnu tersenyum. "Bunda dan ayah sedang bahagia, sayang."


"Kalau begitu, bolehkah malam ini kita tidur bertiga?" tanya Lisa dengan wajah penuh permohonan.


Wisnu dan Naura kini kembali berpandangan. Keduanya ingin menggeleng namun tak ingin menyakiti Lisa.


***********


menginap atau tidak ya??

__ADS_1


__ADS_2