
Anak-anak yang sedang bermain bola itu akhirnya membubarkan diri karena hari sudah mulai gelap.
"Nyonya, besok kita main lagi ya?"
Naura mengangguk. "Besok sore kita ketemu di sini ya?"
Anak-anak itu pun pulang dengan wajah gembira. Naura membersihkan kotoran yang menempel di celana jeansnya lalu ia segera berbalik dan hendak kembali ke rumah namun ia tak jadi melangkah melihat kalau Wisnu berdiri di sudut lapangan sambil menatapnya. Pria itu memasukan keduanya tangannya di kantong celananya dan menatap lurus ke arah Naura.
Wajah ceria Naura langsung berubah dingin saat mengingat bagaimana tuduhan Wisnu kepadanya. Ia pun melangkah pelan, meninggalkan lapangan dengan arah yang berlawanan dengan Wisnu.
"Ra....!" Wisnu mengejar istrinya dan akhirnya berjalan di belakang Naura.
Naura tahu kalau Wisnu ada di belakangnya, namun ia pura-pura tak mau peduli. Sampai akhirnya sebuah pelukan dari belakang menghentikan langkahnya.
"Juragan, lepaskan. Nanti ada yang melihat." Naura memberontak tapi Wisnu semakin kencang memeluknya.
"Biar saja ada yang melihat. Memangnya mereka akan bilang apa? Kita kan pasangan suami istri. Memangnya salah jika suami memeluk istrinya."
Naura dengan cepat membalikan tubuhnya. Ia bermaksud akan memarahi Wisnu namun yang terjadi adalah suaminya itu justru seperti sudah menantinya. Bibir Naura secara cepat dikecup dan membuat Naura langsung melotot dan memukul dada Wisnu dengan gemas.
"Juragan!"
"Ya, sayang.....!" Ujar Wisnu sambil menahan kedua tangan Naura. Ia merasa gemas dengan istrinya itu.
"Menyebalkan!" Naura menarik tangannya dari genggaman sang suami lalu mendorong Wisnu menjauh setelah itu ia melangkah cepat menuju ke rumah.
Tawa Wisnu terdengar bahagia melihat kekesalan yang nampak di wajah Naura. Ia suka dengan sifat kekanakan istrinya itu. Ia pun menyusul ke dalam rumah.
"Juragan, aku mau pulang ke villa." Kata Naura begitu melihat Wisnu masuk.
"Kita bobo saja di sini. Nanti aku minta Gading membawa makan malam dari rumah bukit."
"Aku harus mengerjakan tugas akhir ku. Lusa adalah jadwal konsultasi dengan dosen pembimbing."
"Nanti aku minta Gading mengambil laptopnya."
"Nggak bisa, juragan. Aku mau pulang karena aku tak membawa pembalut."
"Pembalut?" Wisnu terkejut.
"Iya."
"Kamu sedang datang bulan?"
Naura mengangguk lalu mengambil ponselnya. Wajah Wisnu terlihat kecewa.
"Kenapa wajah juragan seperti itu?" tanya Naura pura-pura bingung padahal ia sudah tahu apa yang Wisnu inginkan.
"Nggak. Ayo kita pergi!" Kata Wisnu sambil menyimpan kekecewaan dalam hatinya. Ia sebenarnya kecewa bukan karena tak bisa bercinta dengan Naura. Namun ia merasa kecewa karena Naura ternyata belum hamil lagi.
************
Selesai mandi dan makan malam bersama di villa, Wisnu membiarkan Naura mengerjakan tugasnya sementara ia duduk bersama Gading di teras depan sambil menikmati kopi yang baru saja dibuatkan oleh Saima sebelum perempuan itu kembali ke rumah bukit.
"Gading, tolong kamu awasi dokter itu ya? Jangan-jangan hanya modusnya saja merawat ibu Kumala pada hal dia ingin mengawasi istriku dan merebutnya." Ujar Wisnu.
"Tenang saja, tuan. Sekalipun dokter Wisnu merayunya dengan baik namun nyonya pasti tak akan tergoda."
"Tapi Naura mengaku padaku kalau ia masih menyukainya. Memang sih dia bilang nggak mungkin akan mengkhianati aku. Tapi kalau mereka selalu dekat, perasaan itu akan semakin kuat."
"Tuan cemburu ya?" tanya Gading dengan hati-hati.
"Entahlah. Aku tak mengerti dengan perasaanku ini. Aku hanya ingin dia menjadi milikku seorang. Mungkin aku terlalu posesif tapi memang itulah kenyataannya."
"Dan tuan mencintai nyonya ketiga."
__ADS_1
"Andai aku bertemu Naura sebelum aku ketemu Regina dan Indira."
"Saat itu terjadi, nyonya masih remaja. Memangnya tuan mau menikahi anak remaja?"
Wisnu tertawa. "Benar juga ya." Bahkan 3 tahun yang lalu saat aku ketemu dengannya di lokasi pemakamannya Dina, Naura masih menggunakan seragam SMA."
"Ternyata tuan sudah mengingat peristiwa itu. Aku saat pertama kali melihat foto nyonya yang diajukan kakek Zumi, aku langsung mengingatnya, tuan."
"Oh, ya? Kenapa kau tak bilang padaku, Gading?"
"Entahlah, apa yang membuat saat itu aku tak mengingatkan tuan."
"Dasar kau, Gading. Makanya, kau harus pacaran. Usiamu lebih tua dariku namun aku tak pernah melihatmu menggandeng seorang wanita pun."
Gading hanya tersenyum. "Jika aku pacaran, maka pacarku pasti akan sering makan hati karena saat aku kencan dengannya, tuan pasti akan meneleponku untuk mengerjakan ini dan itu."
Wisnu terkejut mendengar pengakuan Gading. Namun ia akui, bahwa hanya Gading yang bisa mengerjakan tugas tanpa mengenal waktu dan tanpa mengeluh. Apakah itu yang membuat Gading tak punya waktu untuk berkencan?
"Jika kau ingin berkencan, katakan padaku. Maka aku akan memberikan waktu yang banyak untukmu."
Kepala Gading mengangguk. "Tapi aku akan berkencan jika tuan sudah benar-benar bahagia."
"Mungkin aku akan bahagia jika hanya memiliki satu istri. Dan aku tak bisa melakukan itu sekarang. Karena aku sudah berjanji di depan pusara kakakku, kalau aku akan menjaga Regina dengan baik. Aku sudah bersumpah pada ibuku sebelum dia meninggal bahwa aku akan terus bersama Indira. Dan aku juga tak bisa melepaskan Naura karena hanya dia yang saat ini membuatku bahagia."
Kedua lelaki itu pun saling diam dan tenggelam dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Wisnu memutuskan untuk masuk ke dalam dan Gading akan kembali ke rumah yang ada di perkampungan.
Setelah Gading pergi, Wisnu segera menutup pintu dan menuju ke kamar. Ia melihat kalau Naura masih duduk di meja belajarnya sambil membaca laptop dengan wajah serius.
Wisnu pun melangkah dan berdiri di belakang tempat duduk dari Naura. Ia memegang kedua bahu istrinya dan memberikan pijatan lembut di sana. Naura langsung memejamkan matanya. Ia memang merasa pundaknya agak kaku dan tegang. Pijatan Wisnu begitu lembut membuat aliran darah yang ada di bagian pundak seperti mengalir dengan lancar. Naura menggerakkan kepalanya.
Tangan Wisnu bergerak naik ke kepala Naura lalu kembali memberikan pijatan lembut di sana.
"Juragan, kau membuatku mengantuk." Kata Naura sambil menguap.
"Ya, aku memang butuh istirahat." Naura berdiri dan menggerakkan tubuhnya sedikit lalu segera menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Setelah Naura selesai, ia melihat kalau Wisnu sudah ada di atas ranjang dan sudah berganti pakaian.
Naura pun naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Wisnu langsung mendekat dan menarik tubuh Naura dalam pelukannya.
"Juragan aku sedang datang bulan." Naura mengingatkan saat ia merasakan kalau bagian bawah tubuh Wisnu yang menempel di belakangnya agak keras.
"Tidurlah. Aku masih bisa menahan diriku. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini." bisik Wisnu sambil memejamkan matanya.
Tak ada protes lagi yang keluar dari mulut Naura karena ia sudah sangat mengantuk. Naura pun jatuh dalam mimpi seperti juga Wisnu yang perlahan tertidur sambil memeluk istrinya.
**********
Selesai sarapan, Naura bermaksud akan pergi ke rumah ibu Kumala. Namun, karena ban sepedanya kempes dan masih ada di rumah perkampungan, Naura pun memutuskan untuk meminta Gading mengantarkannya.
"Ra, kau mau kemana?" tanya Wisnu yang baru saja selesai berkeliling kebun teh bersama Gading.
"Aku mau melihat bibi Kumala. Mas Gading mana?.Aku mau memintanya untuk mengantarkan ku."
"Gading ada di luar."
Naura akan melangkah pergi namun Wisnu menahan tangannya.
"Biar aku yang mengantarmu pergi." Kata Wisnu .
"Ok." Naura hanya mengangguk.
15 menit kemudian, Wisnu dan Naura sudah ada di rumah Kumala. Wanita paruh baya itu terlihat sudah semakin membaik walaupun selang infus belum dilepas dari tangannya.
"Pak dokter baru saja pergi. Nanti katanya ia akan kembali sore menjelang malam. Bu bidan yang akan mengganti botol infus bibi Kumala siang nanti." Kata Gayatri membuat Wisnu bernapas lega karena tahu tak ada Satria sampai sore nanti.
"Ibu, semoga cepat sembuh ya?" Ujar Wisnu sambil menggenggam tangan mantan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, nak. kau juga jaga kesehatan ya? Jangan terlalu sibuk bekerja." Kata Kumala dengan penuh kasih.
"Iya, Bu." Ujar Wisnu. Ia ingat sebelum Dina menutup matanya, ia sempat membisikan sesuatu. "Tolong jaga ibuku. Walaupun kelak kau sudah bersama orang lain, aku mohon, sayangilah ibuku seperti aku masih ada di sampingmu."
Wisnu memang menyayangi Kumala. Ia sempat mengajak Kumala untuk tinggal di rumahnya. Namun Kumala selalu menolak. Karena Kumala memang tak pernah ingin menyusahkan orang lain dengan kehidupannya.
Ibu Kumala akhirnya tertidur. Wisnu pun melepaskan tangan wanita tua itu, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tipis. Ia keluar dari kamar dan melihat kalau istrinya itu sedang menerima telepon dari seseorang. Saat Wisnu mendekat, dadanya langsung terasa sesak saat mendengar Naura menyebutkan nama seseorang. Namun Wisnu berusaha menekan perasaannya. Ia tak mau Naura sampai ngambek seperti kemarin sore. Ia percaya bahwa Naura tak mungkin mengkhianatinya. Dan mulai tadi malam Wisnu sudah berjanji dalam hatinya untuk mengikis semua perasaan sayang yang masih Naura miliki untuk Satria.
"Baiklah kak Satria. Terima kasih banyak ya sudah ngerepotin kakak. Aku harap hasil pemeriksaan darah bibi Kumala semuanya baik-baik saja. Semangat kerjanya pak dokter bye....." Naura tersenyum sambil memasukan kembali ponselnya di kantong celana yang dipakainya. Saat ia membalikan badannya, ia terkejut melihat Wisnu berdiri di belakangnya.
"Ih.... juragan, kamu bagai hantu saja."
Wisnu tersenyum. Tangannya terulur, menyentuh pipih Naura dan membelainya lembut dengan ibu jarinya. "Dokter Satria bilang apa?"
"Kak Satria akan ke kota untuk mengambil hasil pemeriksaan darah bibi Kumala. Jadi dia mungkin akan tiba di sini saat malam hari." Jawab Naura lalu menahan tangan Wisnu yang masih membelai pipinya.
"Kenapa?"
"Malu nanti dilihat Gayatri."
"Gayatri sepertinya sedang sibuk di belakang." Kata Wisnu lalu melingkarkan tangannya di pinggang Naura.
"Ih...juragan, jangan main peluk sembarangan."
Wisnu semakin mengeratkan pelukannya. "Aku pergi dulu, ya? Kamu masih ingin di sini?"
"Iya. Aku sampai sore di sini. Soalnya sore ada janjian main bola dengan anak-anak."
"Ra, kamu itu sudah menjadi ibu-ibu. Masa sih masih main bola dengan anak-anak."
"Biar saja juragan. Dari pada aku rindu mau berkeringat di dalam diskotik, mending aku main bola dengan anak-anak."
Tangan Wisnu menarik hidung mancung Naura dengan gemas. "Coba saja kalau kamu berani masuk diskotik lagi. Aku akan menghukum mu."
"Apa memangnya hukuman yang akan juragan berikan?"
"Aku akan mengurung mu di kamar dan akan bercinta denganmu sepanjang hari." bisik Wisnu dengan tatapan menggoda.
"Kalau begitu aku akan pergi ke diskotik saat ke kota nanti. Aku suka menerima hukuman seperti itu." Ujar Naura sambil berbisik sangat dekat di telinga Wisnu.
Mata Wisnu membulat dengan tatapan tak percaya. "Kamu nakal ya?"
Terdengar kekehan Naura membuat Wisnu tak tahan lagi. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dengan ciuman mesra. Naura membalas ciuman itu sambil memejamkan matanya. Keduanya seakan lupa dengan tempat dan waktu. Ciuman itu berhasil menciptakan percikan api gairah yang membuat satu desahan manis lolos dari bibir Naura. Sampai akhirnya Naura sadar dan langsung melepaskan pertautan bibir mereka.
Mata keduanya saling bertatapan dengan napas yang saling memburu. "Pergilah juragan, karena aku tak bisa bertanggungjawab untuk menuntaskan apa yang baru saja kita mulai. Jangan lupa, aku masih bulan merah."
"Kau sungguh berbahaya Naura Kiana Furkan." Ujar Wisnu sedikit frustasi karena hampir tak bisa menahan hasratnya. Ia mengecup dahi Naura. "Aku pergi dulu ya? Nanti aku akan meminta bibi Aisa mengirimkan makan siang di sini. Katakan pada Gayatri kalau dia tak perlu masak."
Naura mengangguk. Ia berdiri di depan pintu dan memandang Wisnu yang akhirnya pergi dengan mobilnya.
Tak jauh dari situ, ada dua orang lelaki yang berdiri mengamati. Mereka pun melihat adegan ciuman juragan dan Naura.
"Sialan! Perempuan itu benar-benar panas. Aku jadi tak sabar untuk mencicipinya."
"Ingat, misi kita melenyapkannya."
"Aku akan mengurungnya selama beberapa hari dulu, menikmati manisnya tubuh istri ketiga juragan itu, barulah kita melenyapkannya."
"Terserahlah. Yang penting perempuan itu akan mati. Ingat, kita harus menangkapnya hari ini."
**********
Apakah yang akan terjadi selanjutnya???
dukung emak terus ya guys
__ADS_1