Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Kena marah


__ADS_3

Shaletta masih melihat kepergian ibunya, mendadak ia dikejutkan oleh beberapa sosok manusia biang kerok.


"Hello, good morning Sha! apa kabar lo?"


ucap seorang siswa.


"Astaghfirullah, buat orang jantungan aja," Shaletta memegang dadanya. Sementara yang diomeli hanya cengengesan tak menentu.


"Kalau lo jantungan nanti akan kita bawa


ke rumah sakit terdekat," ujarnya tanpa dosa sehingga Shaletta menatap mereka datar.


"Gini Sha. Kita-kita kesini ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting lagi diperpenting," ucap Adam dengan wajahnya yang serius.


"Apa?"


"Apa lo mo pergi ngumpul bareng ama kita nanti malam?"


"Kapan?"


"Nanti jam 8."


Shaletta berpikir apakah ia diperbolehkan oleh ibunya keluar malam. Mana dia perempuan lagi.


"Hmmm, gue nggak bisa jawab pertanyaan kalian sekarang. Harus nanya ama orang tua gue dulu."


"Oke, nanti kabarin sama kita."


"Emang dimana kalian akan ngumpul-ngumpul?" tanya gadis itu lengkap-lengkap.


"Rencana dekat danau aja."


"Kok di sana?"


"Pemandangannya indah, apalagi pas malam ama bintang-bintang. Itu GG banget," jawab Rizal.


***


"Ta, ke kelas yuk! bel pulang udah bunyi," Sinta menuruti perkataan Jennifer. Ia langsung


ke kelas, mengemas barang-barang lalu pulang.


Shaletta saat ini sedang berjalan keluar gerbang. Tapi ada satu hal yang buruk, para TGS menghampirinya. Semoga ga ada yang aneh.


"Sha, lo sama siapa pulang?"


"Mungkin sendiri Dam."


"Kalau gitu sama kita-kita aja, gimana?" tawaran Adam langsung diterima Shaletta tanpa berpikir panjang.


"Hmmm, boleh."


Mobil hitam yang bermerk Toyota Calya milik Gema seketika menjadi penuh dengan muatan 6 orang.


"Gem, lo terus bawa mobil gini ke sekolah?"


"Jadi selama ini lo nggak pernah perhatiin gue?!" ucap Gema mendramastis.


"Nggak, ini karena mama gue tuh tadi di telfon mendadak oleh atasannya, saat keluar ternyata temannya mama udah nunggu di depan jadi langsung nebeng aja. Mama nitip kunci ini ke gue, ya otomatis gue bawa mobil deh pulang," ucap Gema panjang lebar sambil tetap fokus menyetir.


"Ooo."


"Berdua aja ngobrol, jadi kita nih apa di belakang? serasa jadi nyamuk aja."


"Kalau lo nyamuk, gue yang bunuh lo Dam biar sekalian mati aja, takutnya nanti ganggu orang," ucapan Gema yang diiringi tawaan semua orah membuat Adam menjadi cemberut.


Mereka sekarang sudah berada di depan rumah teman perempuannya.

__ADS_1


"Thanks! mampir?"


"Nggak usah dulu deh," ujar Ryan mewakili.


"Oke."


Karena Shaletta sudah tidak ada, Rizal mulai membuka pembicaraan.


"Woy, menurut kalian siapa dalang dibalik video itu?"


"Kalau menurut gue sih pasti orang yag benci ama dia. Kalau ala film-film sih orang terdekat," tutur Arya sambil mengingat-ingat film yang ditontonnya hingga Adam menepuk jidatnya.


"Yang kita bahasa tuh tentang siapa dalang videonya. Bukan film-film yang sering lo tonton."


Ucapan Arya tadi membuat Reno berpikir sejenak.


"Tapi kalau dipikir-pikir bisa saja benar apa yang dikatakan Arya. Kalau gue lihat emang benar orang-orang yang membuat seseorang hancur tuh orang yang dipercayainya."


"Tapi yang dekat sama dia tuh siapa?" pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Rizal.


"Atau jangan-jangan orang dibalik semua itu adalah murid baru itu?" tebak Reno membuat Adam merasa heran.


"Napa lo ngatain kalau orang itu Jennifer? secara kan dia itu baru bule lagi."


"Jangan lihat tampang bro! sebelum dia datang nggak ada seorangpun yang berani mengusik dia tapi setelah anak baru itu datang, Liasha sudah dua kali kena masalah. coba lo pikir apa nggak aneh tuh?"


Mereka semua tertegun mendengar penjelasan Reno yang masuk diakal itu.


"Tapi nggak mungkinkan kalau Jennifer bisa ngelakuin itu semua?" sela Ryan.


"Maksud lo?" tanya Rizal lagi.


"Maksud gue nggak mungkin dalangnya itu hanya dia, pasti ada juga orang lain yang lebih terlibat dalam masalah ini. Gue ngerasa kalau sekongkolannya Jenni tuh orang yang lebih kenal sama Liasha. Dalam artian orang yang dekat sama dia. Lagian Jenni itu mah ga mungkin bisa tahu semua tentang Liasha. Dia kan baru pindaj," terang Ryan.


"Pertanyaannya tuh siapa?"


anak baru itu. Kita harus selalu pantau


dia di sekolah dan untuk tugas ini salah seorang dari kita harus bisa deketin dia," ucap Gema yang sedari tadi diam.


Mereka semua langsung menghadap ke arah Adam.


"Napa lihat-lihat gue? gue tau gue ganteng."


"Si Adam yang akan bertugas di misi ini."


Rizal mengajukan Adam untuk misi yang cukup nekat tersebut. Tentu saja Adam tak terima dirinya disuruh-suruh.


"Eh-eh, tunggu dulu! kok gue?"


"Karena lo kan penggemarnya si bule itu!" Rizal mengatakannya dengan santai.


"Sejak kapan gue jadi fansnya dia?"


"Kan elo yang ngebilang waktu itu."


"Kek gini aja, lo Zal sama si Adam akan mengorek informasi dari Jennifer. Kalian harus deketin dia dulu. Sementara Arya dan Gema cari tahu siapa aja orang yang pernah deket ama Liasha. Dan gue ama si Reno akan memantau dia dari jauh, ini berguna supaya kita bisa lindungin dia kalau ada yang berniat jahat ama dia. Kita akan memulai semua ini besok!" tegas Ryan memberikan perintah walaupun pandangannya tidak luput dari jalan.


***


Disebuah rumah yang cukup mewah terlihat seorang gadis tengah dimarahi oleh ibunya.


"Dasar anak sialan!! kamu tahu kalau kamu udah ngebuat ibu kamu tuh malu didepan orang tua yang lain?!"


"Kalau disuruh orang tua tuh belajar turutin! jangan ngebangkang! inikan jadinya nilai kamu tuh anjlok semua."


"Lihat tuh si Shaletta, udah pintar, cantik,

__ADS_1


sopan lagi, gimana orang tuanya nggak bangga punya anak seperti dia?"


"Pokoknya ibu nggak mau tahu, mulai sekarang hp kamu ibu sita dan kamu harus belajar di kamar setiap hari, minimal 2 jam!"


Sinta yang tidak tahan lagi mendengar omelan ibunya langsung melawan.


"Ibu kenapa sih terus maksa aku untuk melakukan yang ibu mau? kenapa ibu terus membanding-bandingkan aku dengan si Shasa? ibu selalu aja muji-muji dia."


"Siapa sih sebenarnya anak ibu? kenapa ibu lebih sayang sama dia ketimbang anak ibu sendiri? apa aku bukan anak ibu?"


*Plak


T*ak terduga, satu tamparan berhasil berhasil mendarat dengan sempurna di pipi Sinta. Ia terkejut dengan tindakan ibunya yang tiba-tiba. Air matanya mulai berjatuhan.


"Kenapa aku selalu saja salah di mata ibu? untuk apa aku harus melakukan ucapan ibu kalau ternyata ibu nggak akan pernah puas dengan yang aku lakukan!!" teriaknya.


"Aku benci ibu!" bentak Sinta.


Mendengar hal itu ibunya Sinta langsung sadar yang ia lakukan. Ketika Sinta akan pergi, ibunya menahan tangannya.


"Nak, dengerin ibu dulu!" Sinta menepis tangan ibunya lalu langsung berlari keluar rumah dengan deraian air mata.


Saat ini Sinta sedang berlari tak tentu arah, sampai akhirnya ia duduk di sebuah taman. Karena terlalu stres, gadis itu membeli semua makanan yang ada di sana. Dari ice cream, gulali sampai sate pun ia beli.


"Lagi-lagi dia dan selalu aja dia. Kenapa sih dia selalu berhasil merebut perhatian semua orang? pokoknya gue harus bisa nyingkirin dia secepatnya!" Sinta tersenyum sinis.


"Hahahaha, gue akan buat hidup lo kayak neraka, gue ga akan pernah kayak gini jika saja lo ga ngerebut apa yang jadi milik gue. Gue akan buat hidup lo menderita."


Di taman Sinta tidak melihat satupun teman-temannya. Ia menetapkan hatinya untuk pergi ke danau.


Namun disisi lain, Jennifer sedang santai-santainya bermain handphone di kamarnya. Ia lagi bermain game. Melakukan Mabar Free Fire bersama teman-temannya.


"Tembak... tembak..."


"Lo bisa nembak yang benar kan? dari tadi kita terus aja kalah gara-gara elo!" sewot Gery tak terima ia terus saja kalah jika satu team dengan Jennifer.


"You shut up! nggak lihat kalau saya lagi fokus? lagian dari tadi tembakan saya selalu melesat karena kamu ngoceh ga jelas aja," tantang Jennifer tak mau disalahkan.


"Sialan lo, kalau lo ga kayak orang bego gue juga ga akan ngoceh."


"Heh, jaga mulut kamu! kalau saya nggak ada pastinya kamu akan sendirian."


"Dahlah lebih baik gue diam aja dari pada terus debat ama lo!"


***


"Bunda mana sih? apa di telpon aja ya?"


"Tapi nggak ah, mungkin saja bunda sibuk. Tapi gimana caranya beritahu bunda ya?"


"Tapi gini ajalah, kalau jam setengah tujuh bunda belum juga pulang, baru aku telpon,"


ucap Shaletta yang terus bergelut dengan pikirannya sejak tadi.


Ia duduk di meja belajarnya, ia membuka buku namun nihil. Dia tidak bisa fokus karena ada sesuatu yang menganggu pikirannya.


"Kenapa ya, akhir-akhir ini gue terus kepikirin dia? padahalkan bertemu aja ga pernah."


Shaletta tak ambil pusing, ia mengambil hpnya lalu mendengarkan lantunan ayat suci


Al-quran yang selalu membuat hatinya menjadi tenang dan sejuk.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!

__ADS_1


Thanks


__ADS_2