
"Dari mana kamu tahu kalau itu warung jin?" tanya Ardilla yang masih kaget dengan kejadian barusan.
"Awalnya aku juga udah curiga, tapi karena kamu mengajak aku kesini, yaudah." Jawab Ila seadanya pula.
*****
"Pernikahan akan terjadi Minggu depan, tapi bagaimana caranya aku akan menjalani rumah tangga jika tidak ada rasa cinta di dalamnya? walaupun itu bisa ditumbuhkan tapi bagaimana perasaanku yang tidak bisa hilang pada gadis itu?" batin si pangeran yang kini sedang plin-plan.
"Alfa sayang." Panggil seorang wanita dengan lembut yang membuat pangeran Alfa menoleh ke arah pintu.
Permaisuri mendekati anaknya yang terlihat sedang termenung, seperti banyak masalah yang dipendamnya sendiri.
"Kamu kenapa nak? harusnya kamu bahagia loh. Minggu depan itu pernikahanmu. Tapi, kenapa malah sedih? apa ada yang kamu sembunyikan dari ibumu ini nak?"
Pangeran Alfa hanya menggeleng dengan senyum terpaksa. Ia tak mau membuat ibunya terbebani hanya karena ia tak mau menjalankan perintah ayah andanya.
Namun, bagaimanapun usahanya untuk menutupi semua itu, tidak akan pernah menipu perasaan batin sang ibu. Ikatan batin antara ibu dan anak adalah ikatan batin terkuat yang tidak bisa dipisahkan.
Walaupun seorang ibu tidak melihat mata anaknya untuk mencari kebohongan yang tersembunyi disana, tapi ia juga tetap tahu hanya dengan ikatan hati itu.
"Ibu tau kamu itu berbohong nak, katakan apa yang kamu sembunyikan?" ujar permaisuri.
"Nggak ada bu, ini badanku hanya capek aja. Mungkin kelelahan."
Walaupun ibunya tahu kalau itu bukanlah perkara yang sebenarnya, namun ia tak terlalu memaksa. Mungkin saja, anaknya itu belum siap untuk mengatakannya.
"Baiklah, ibu keluar dulu ya."
Kini pangeran Alfa kembali sendirian di kamar.
Hatinya berkecamuk dan pikirannya benar-benar kalut. Apalagi akhir-akhir ini ia sering teringat wajah gadis tersebut.
"Hanya satu yang bisa kulakukan saat ini. Jika kau memanglah jodohku pasti Allah akan mempertemukan kita kembali dan pertemuan kita yang kedua itu adalah sebagai yang halal satu sama lain."
*****
"Kak, dari mana kamu belajar ilmu bela diri yang hebat itu? dan kamu sepertinya setiap hari melihat makhluk gaib seperti itu." Celetuk Ila yang kembali menggali informasi.
"Aku itu belajar dari guruku dan juga menjadikan alam takambang jadi guru."
"Dan apa ini? kenapa aku baru merasakan kalau Ardilla mempunyai banyak khodam jin pendamping. Mana bentuknya bermacam rupa lagi. Tapi, apa kehadiran mereka tidak mengganggunya? aku aja yang melihat makhluk halus dari jauh merasa terganggu. Apalagi itu setiap hari dan setiap waktu ditemani."
"Apakah semua pendekar itu punya ilmu tenaga dalam?atau khodam pendamping semacamnya?" tanya Ila hati-hati agar tidak terjadi kesalahan dalam mengucapkannya. Ia takut nantinya Ardilla malah tersinggung.
Tanpa aba-aba, Ardilla melontarkan tendangan yang bertenaga pada Ila. Untung saja, Ila reflek menangkisnya sehingga ia tidak terkena serangan tersebut.
__ADS_1
"Apa-apaan ini kak?" tanya Ila terdesak karena Ardilla terus saja menyerangnya membabi buta sehingga ia jadi tersudut.
Namun Ardilla tidak menggubrisnya sama sekali. Ia tak mengacuhkan Ila dan malah menambah tenaga pada semua serangannya seperti sedang melawan seorang musuh yang sudah menganggu ketenangannya.
Ardilla menggunakan tendangan maut yang lebih keras dari sebelumnya. Dan itu mengenai perut Ila sehingga ia terpelanting cukup jauh ke belakang.
Ila begitu kaget dan memegang perutnya. Merasakan sakit yang begitu pedih karena tendangan itu tidak main-main.
Sheet
Bunyi pisau yang dilayangkan pada Ila, memutar di udara. Pisau itu adalah senjata yang digunakan Ardilla saat menggertak
si kunti mulut lebar di pohon saat itu.
Beruntung serangan ini bukan pertama kalinya yang Ila lihat. Ia sudah melihat sebelumnya.
Ila menunduk lalu melompat setinggi mungkin untuk menghindari pisau itu.
Kini ia mencoba mengerahkan tenaganya agar senjata itu tidak melukainya. Tak butuh waktu yang lama, Ila berhasil mengontrol benda tersebut dan membalikkannya pada orang yang telah menyerangnya terlebih dahulu.
Huuusssh
Ardilla menghindar dan pisau itu menancap ke tanah. Ia tidak mengerti mengapa Ila bisa menguasai senjatanya yang hanya patuh kepada tuannya saja.
Secepat kilat, Ila mengunci tubuh Ardilla dengan memelintir tangan kanannya ke leher dan tangan kirinya ke belakang. Tak hanya itu saja, ia juga melumpuhkan kaki lawannya dengan menekan belakang tempurung lutut sehingga Ardilla menjadi tegak dengan lututnya.
Ia tidak pernah berpikir untuk bisa mempelajari ilmu-ilmu ajian seperti itu. Tapi yang jelas sebelumnya ia merasa pernah melihat kuncian itu.
Yap, seperti sistem saja, tubuh Ila mengeluarkan kuncian itu tanpa adanya perintah dari otak. Ibarat sebuah sistem operasi melakukan semua pekerjaannya sampai kelar.
"Aauuuuuu!" pekik Ardilla kesakitan dengan tindakan Ila.
"Kenapa kau melakukan itu kak? sebenarnya siapa dirimu itu?" tanya Ila yang tetap tidak mau melepaskan tangannya.
Huuuupp
Mendadak Ardilla lepas dari kuncian Ila dan kini ia berada di samping Ila.
Ila menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sepertinya saat ini ia sedang berada dibawah kesadarannya.
Buukk
Ila terjatuh pingsan ke tanah sepertinya karena kekuatan yang ia keluarkan itu terlalu berat baginya. Sebelumnya ia juga belum pernah melatih kekuatan tersebut sebab ia sendiri tak pernah tahu ia memilikinya.
Kepalanya terasa sakit sekali. Samar-samar Ila melihat wajah Ardilla sebelum ia benar-benar menutup matanya.
__ADS_1
*****
Ila membuka matanya perlahan. Ia melihat sekeliling dan ia tidak tahu dimana sekarang ia berada.
"Dimana ini?" batin Ila dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya.
"Tenang, sekarang kau sedang berada di rumah saudaraku. Sekarang ini, berisitirahatlah terlebih dahulu." Ujar wanita yang membantu Ila.
Setelah rasanya penglihatannya itu benar-benar pulih, Ila membulatkan kedua matanya saat melihat wanita didepannya ini.
"Apa yang terjadi kak?"
"Fisikmu itu tidak sebanding dengan tenaga yang kau erahkan." Jawabnya santai saja.
"Akhhhh." Erang Ila menyentuh kepalanya.
Sekilas ia teringat kejadian beberapa jam yang lalu.
Ila kembali tersentak. Bayangan pertarungan tadi muncul di pikirannya. Ia kemudian berwaspada dengan Ardilla.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ila bersikeras duduk dan Ardilla malah menahannya.
"Mengenai pertanyaanmu tadi, ternyata aku emang pantas untuk menjawabnya." Ujarnya yang tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Ila menaikkan alisnya. Ia tak mengerti dengan yang diucapkan Ardilla, namun setelah itu ia baru paham kemana arah pembicaraan mereka saat ini.
"Apa kau tadi itu hanya berniat mengujiku saja? apakah aku pantas/tidak pantas untuk mendengar jawaban dari pertanyaanku. Dalam artian, jawabanku itu bagaikan sebuah rahasia yang tidak sembarang orang bisa mengetahuinya?"
"Tepat sekali. Kau emang pintar. Terkadang suatu ilmu banyak disalah gunakan oleh orang-orang yang sebenarnya ilmu itu bisa digunakan untuk hal-hal yang baik. Namun, dikarenakan oleh iman yang lemah dan mementingkan duniawi mereka malah terlena,
tidak peduli lagi dengan bagaimana nasibnya di akhirat kelak."
"Dan setelah aku melihat kau tadi, ku rasa kau pantas untuk tahu tentang hal ini. Ku lihat kau juga orang baik-baik." Ucap Ardilla membuat Ila langsung tertegun.
Sekarang ia mengerti, ternyata cara mendapatkan semua ilmu yang ingin ia ketahui itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan terkadang kebaikan batin dan kedekatan dengan Yang maha kuasa juga diuji.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!
Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!
Judulnya:-Karin the Mafia Girl
__ADS_1
-Kisahku di pesantren
Thank you so much