Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Meninggalkan di hutan?


__ADS_3

"Sudahlah Bu! kalau ibu cari pun sudah tak ada gunanya. Riri udah ga ada Bu!" ucap Rose yang juga mengeluarkan air matanya.


Ini adalah hari keempat setelah insiden tersebut. Diona yang wajahnya itu terbiasa senyum kini malah terus murung dan bermenung. Sepertinya ia tak terima dengan keadaan.


"Ibu mau sampai kapan seperti ini Bu? sudah beberapa hari ini ibu tidak mau makan," ujar Rose sambil membawa nampang berisi makanan untuk dihidangkan pada permaisuri. Hatinya jadi merasa bersalah pula telah meninggalkan Arilla di hutan.


Sebenarnya Rose kembali ke hutan tempat yang mereka kunjungi setelah satu hari Arilla hilang. Ia memanggil-manggil namanya tapi tidak ada. Hutan itu sudah ia keliling namun tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Arilla berada disana. Akhirnya ia berputus asa mencari dengan sedikit rasa kegelisahan. Bagaimana pun ini adalah salahnya juga. Ia sama saja telah menghilangkan satu nyawa gadis kecil yang tak tahu apa-apa tapi dengan tega ia habisi.


Sebulan setelah insiden, putri mahkota tak juga ditemukan. Raja telah banyak mengutus para prajurit untuk mencari putri kesayangannya namun tidak satupun yang pulang membawa hasil.


Setelah adanya kesepakatan terlebih dahulu, raja kerajaan Shappira mengumumkan bahwa mulai hari itu Rose yang noteban teman dekatnya Arilla sekaligus dianggap anak angkat oleh raja dan permaisuri Shappira diangkat menjadi seorang putri mahkota kerajaan Shappira. Tentu saja Rose merasa senang. Menjadi seorang putri adalah impiannya sejak kecil.


Flashback off


"I-ibu?" gumam Arilla dengan air mata yang tak terbendung. Ia sangat merindukan panggilan itu. Sudah lama sekali nama itu tidak lagi terdengar di telinganya.


Putri Rose malah tambah takut. Ketakutannya bertambah besar saat Arilla berada di tempat tersebut. Bagaimana kalau Arilla menceritakan masa kecilnya?


Ia berusaha keras memutar otaknya untuk lari dari keadaan itu. Namun sayang tak ada satu celahpun yang bisa ia lalui. Semuanya tertutup dengan rapat.


Permaisuri Shappira bergegas menemui Arilla yang tengah menundukkan kepalanya. Ia menegakkan dagu gadis itu lalu bertambahlah keyakinannya bahwa pendekar wanita yang berada didepannya ini memanglah anaknya yang dulu hilang. Yang terus ia cari namun tak berhasil ditemukan.


Tatapan mata Arilla sangat dikenali permaisuri Diona. Bagaimana tidak? mau bagaimanapun Arilla itu adalah darah dagingnya sendiri. Kurang lebih sembilan bulan Arilla tersimpan didalam rahimnya. Lalu bagaimana pula ia tidak mengenali bagian dari dirinya sendiri?


Tanpa ba-bi-bu lagi, permaisuri memeluk anaknya dengan sangat erat seakan tak mau lagi ada kata perpisahan dengan anaknya.


Sedangkan semua pemirsa bertanya-tanya dengan apa yang terjadi sekaligus terharu melihat pelepasan rindu antara ibu dan anak.


"Kamu kemana aja nak? ibu su-dah cari kamu ta-pi tidak ketemu," ucap Diona tersedu-sedu tak kuat untuk mengatakan hal itu.


Pertanyaan permaisuri membuat hati Arilla terasa sakit. Ia teringat betul apa yang yang terjadi pada masa kecilnya. Dari ia berada di kerajaan sampai berada di ruangan kerajaan ini.

__ADS_1


"Apa ibu tidak pernah bertanya pada Rose?" ujar Arilla malah bertanya pada ibunya. Tidak lupa dengan mata sinis kini memandang perempuan yang menjadi putri mahkota.


Raja yang dari tadi menahan rasa sedih kini juga ikutan memeluk Arilla, putri kesayangan yang begitu dirindukannya.


Tentu dengan senang Arilla menyambut pelukan hangat dari dua orang tua yang ia sayangi itu. Telah lama sekali dekapan keluarga harmonis tak ia rasakan setelah


20 tahun.


"Apa kau tak ikut memelukku kakak?" ucapan sinis dari sang adik membuat keringat dingin mengalir ditubuh putri Rose. Ia tak berani menatap mata Arilla.


Pandangan raja dan permaisuri pun juga beralih pada Rose yang memucat. Tatapan tiga orang besar itu begitu menakutkan. Belum lagi tatapan dari pangeran Alfa dan pangeran Euthoria yang memandangnya dengan jijik.


Tak ada pilihan lain lagi, putri Rose mengambil ancang-ancang untuk lari. Ia mengangkat roknya dan bersiap untuk melangkahkan kaki secepat angin. Tapi, dnegan mudah Ila malah menahan tangan putri Rose sehingga ia tak bisa kemana-mana dan harus menyelesaikan masalahnya dulu.


Arilla mendekati putri Rose dan cara memandangnya sama seperti tadi, tidak juga berubah.


"Hai, apa kabar putri mahkota Shappira? apa kau merindukanku, kakak?!" Arilla menekankan kata kakak pertanda ia muak dengan Rose.


"DIAM SAJA KAU PEREBUT!" hardik putri Rose dan membuat ia mendapatkan tawaan dari Arilla.


Hari ini Arilla bukanlah seperti sosok pendekar yang kita kenal. Dia seperti orang yang berbeda. Sifatnya tak sama seperti Arilla biasanya.


"Apakah itu tidak terbalik? bukankah kau yang merebut posisiku? rasanya aku ingin saja menampar wajah menyebalkanmu itu tapi aku tidak mau mengotori tanganku sendiri dengan menyentuh dirimu."


"JAGA MULUTMU ITU!" dan kembali putri Rose menghardik Arilla yang membuat orang yang dihardiknya jadi geram.


"Jangan pernah mengeras kan suaramu itu dihadapan ku. Sewaktu-waktu aku bisa saja membuatmu mendekam dipenjara," ancam Arilla berbisik.


Sungguh tak adapun yang mengerti dengan masalah anggota keluarga kerajaan Shappira. Tak ada seorangpun yang mau ikut campur karena takut dengan ancaman.


Sekuat tenaga Rose memberontak namun tak juga bisa lepas. Kuncian Ila begitu kuat bak pendekar hingga tak sembarangan orang yang bisa melepasnya.

__ADS_1


"Kasihan sekali ya, kamu seperti maling yang kena tangkap."


"Jangan mendekat an****" kata-kata kotor yang keluar dari mulut Rose membuat semua orang terkejut. Mereka tak menyangka seorang tuan putri bisa mengeluarkan kata-kata emas yang begitu tabu untuk diucapkan.


"Hei mulutmu itu makin hari makin kotor saja ya," Arilla terus saja memancing Rose yang tengah emosi. Ia ingin melihat, sejauh mana energi negatif yang ada dalam diri Rose.


"LEPASKAN SAYA PEREMPUAN AN*****!" umpat kasar Rose membuat Ila mengunci tangannya dengan keras dan kaki yang diinjak oleh Ila.


"Awww! sakit!"


"Jawab saya Rose! apa kamu sama sekali tidak merasa bersalah setelah kamu tinggalkan saya ditengah hutan seorang diri tanpa siapapun disaat hari sudah mulai gelap?"


"Saya menanyakan hati kamu bukan sebagai seorang berpangkat tapi dimana hati kamu sebagai seorang manusia yang dengan teganya membawa seorang anak kecil berumur lima tahun lalu begitu saja meninggalkannya disana?" tanya Arilla memanglah sangat menusuk apalagi didukung dengan nada sinis yang membuat kata-kata itu lebih terdengar menyakitkan tapi tidak bagi Rose.


"KAMU JANGAN MENGADA-NGADA RIRI!"


Mata Arilla melotot pertanda marah mendengar Rose mengatakan dirinya membuat-buat cerita padahal yang terjadi sebenarnya malah sebaliknya.


"Kamu itu yang mengada-ngada Rose! jika kamu memang tidak bersalah sama saya, kenapa kamu langsung ketakutan seperti itu saat melihat saya? berarti kamu yang salahkan?" kata-kata Arilla sama seperti Ila tadi. Apa mereka itu sepemikiran ya?


"Bagaimana tuan putri? Kemana lagi kamu mau lari? semua arah sudah ada penjaganya. Sayang kamu ga ada pilihan lain selain nyerah ya," ujar Ila.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel baru aku yang judulnya TRAGEDI.


Dukung aku terus ya!

__ADS_1


Thanks


__ADS_2