Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Dejavu


__ADS_3

"Sebenarnya ada hal diluar logika yang aku alami."


"Serius? apa tuh?" bisik Ila penasaran.


"Nanti aku ceritain."


"Oy Ra! sia tu disampiang kau?" tanya cewek berbaju klasik yang sama dengan Zahra, namun pakaian Zahra lebih kearah anggota kerajaan.


(Ra! siapa itu yang disamping kamu?)


Ila mengulum senyumnya. Waktunya ia yang berbicara saat ini. Ia juga merupakan orang daerah Minangkabau.


"Perkenalkan nama aku Ila,"


"Ooh dari kampung ma?" tanya seorang laki-laki.


"Kampuang wak jauah," jawab Ila dengan lancarnya.


(Kampung aku jauh.)


"Urang blasteran?"


"Ondeh, tantu pulo di ang nan blasteran yo!? dari ma ang dapek kato tu?" ujar Zahra.


(Waw, kamu tau blasteran ya? dari mana kamu dapat kata itu?)


"Kicek kau den ko kuno bana? kek ko bana bantuak den bukan barati den ndak ngarati moderen doh!"


(kamu pikir aku ini kuno? walau begini, aku juga tahu dengan modern!)


"Kok ngegas bat dah? kan dia bicara baik-baik,"


lerai Ila menghentikan perdebatan kecil itu.


"Ea kicek kau?"


(Apa kata kamu?)


Ila menarik napasnya dalam-dalam. Orang kaya gini gimana cara menasehatinya ya? nggak mungkinkan kalau langsung dibogem?


"Maksud den, ndak paralu pulo waang mangicek kasa doh, inyo kan mangecek elok-eloknyo, ang se nan balabiah,"


"Iyo kan? emang batua nak?" tanya Ila lagi pada teman-temannya dan dijawab dengan anggukan oleh mereka.


(Maksud aku, nggak perlulah kamu bicara kasar, dia kan bicaranya baik-baik, kamu aja yang berlebihan.)


(Emang betul kan?)


"Are you Zahra's sisters?" ucap cowok tersebut.


"No, we are just friends,"


"What do you can speak english?"


"Sedikit."


Mereka tengah asik berbicara dengan Ila. Namun, kedatangan seseorang mengganggu pembicaraan tersebut.


"Huh...hah...huh...hah..." nafasnya tersengal-sengal.


"Baa oy? tu bantuak dikaja antu se kau?" kata


(Kenapa? kok seperti dikejar setan aja kamu?)


"I-tu itu si Zahra dipanggil raja ke istana."


"Ooh, woke!"

__ADS_1


"Aku ikut ya Ra?"


"Hmmm."


*****


"Maaf yang mulia paduka raja,"


"Pai main ka lapangan


Mancari udaro panyajuak ati


Apo garangan nan tajadi


Mangko paduko rajo imbau ambo kamari?"


(Pergi main ke lapangan


Mencari udara penyejuk hati


Apa gerangan yang terjadi


Sampai paduka raja panggil hamba ke sini?)


"Ambo nio upiak panggia yang lain untuak manyiapkan istana ko sarancak mungkin! sabab tamu dari kerajaan lain ka tibo salapeh isya."


(Saya ingin kamu panggil para dayang disini untuk menyiapkan istana ini sebagus mungkin! karena tamu dari kerajaan lain akan datang setelah isya.)


"Baik paduka."


Zahra melenggang pergi meninggalkan tempat megah tersebut. Ia melaksanakan titah sang paduka untuk membersihkan istana.


Ia mengumpulkan semua dayang dan pengawal agar hiasan istana kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.


Mereka semua menurutinya dan mulai melakukan pekerjaan sesuai tugas masing-masing yang telah dibagi.


"Nggak."


"Kenapa?"


"Karena posisiku berada diatas dayang-dayang itu dan raja serta ratu menyayangiku."


"Ouh. Eh, sebenarnya apa yang akan kamu katakan tadi?"


"Hmm, itu. Nggak jadi," jawabnya cepat sambil menggeleng.


Tak mungkinkan dia mengatakan hal sebesar itu? bagaimanapun Ila itu orang yang baru dikenalnya. Jadi mana bisa langsung saja percaya padanya.


*****


"Jadi baa lah kironyo iko wahai datuak?" ujar seorang raja dengan pakaian kerajaan yang berbeda.


(Jadi bagaimana dengan hal ini raja?)


"Iyo. Ambo manarimo lamaran ko. Tapi alangkah eloknya lah kalau kito tanyokan dulu ka anak-anak kito!"


(Iya, saya menerima lamaran ini. Tapi alangkah baiknya jika kita tanyakan dulu kepada anak-anak kita!)


Raja-raja tersebut melihat pangeran yang hanya diam dan putri yang menunduk sambil tersenyum. Pertanda kalau ia juga menerima lamaran tersebut.


"Bilo kironyo awak maadokan akaik nikahnyo?


labiah capek labiah ancak," ucap raja Maharaja, ayah dari pangeran Alif.


(Kapan kita adakan akad nikah? lebih cepat akan lebih baik.)


"Mungkin jikok bulan bisuak baa kironyo datuak? lai satuju?"

__ADS_1


(Mungkin jika bulan besok bagaimana raja? apa raja setuju?)


"Jadih, itu malahan rancak bana."


(Oke, itu malahan sangat bagus.)


***


Kaca jendela yang masih terbuka. Tirai indahnya yang masih berada di sisi jendela terlihat indah saat angin malam yang menghembusnya. Sinar rembulan begitu masuk memberikan cahaya pada kegelapan kamar dimalam hari. Bintang-bintang bagaikan prajurit pengawal bulan di malam ini.


Malam yang begitu indah bagi pecinta bintang.


Namun, sayangnya tak seindah suasana hati seorang pangeran yang masih berpakaian gagah di kamar itu. Duduk diatas bangku sambil menatap langit dengan angan-angan yang begitu banyak dan tipis harapan untuk menggapainya.


Ia tak bisa memilih saat ini. Antara sebuah perasaan dan permintaan sang ayah anda yang tercinta. Ingin rasanya menolak, tapi takut melukai perasaan beliau.


Walau awalnya ia tak terlalu peduli kalau dijodohkan dengan putri dari kerajaan sebelah.


Akan tetapi, pertemuan mereka yang secara tak disengaja itu malah mengubah keadaan.


Matanya yang indah, senyumannya nan ramah, wajah yang begitu manis dan bersinar, pandangan yang sama sekali tidak liar, dan kemampuan bela dirinya yang begitu hebat. Membuat mata ini terpesona akan ciptaaan tuhan. Lagi-lagi, mulut ini tak terlepas dari kalimat tasbih yang takjub dengan ciptaan-Nya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? tidak mungkin aku akan mengatakan hal itu. Lagian aku tak mempunyai bukti sama sekali," gumamnya lalu menghela napas dengan kasar.


Sungguh pilihan yang begitu rumit. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Disatu sisi, ia hanya bisa menjalankan pernikahan tersebut. Tapi disisi lain, ia juga harus memperjuangkan cintanya yang masih begitu lemah.


"Sepertinya aku tak bisa menyelesaikan ini semua malam ini. Semoga besok semua masalah menjadi kelar tanpa harus pusing-pusing terlebih dahulu," ucapnya lalu berjalan menuju tempat tidur kerajaan yang begitu megah. Ia tak tau harus bagaimana.


***


"Aduh, kok portalnya menghilang ya? gimana caranya aku pulang? pasti ayah dan bunda udah nunggu dirumah," ujar Ila panik jalan sana-sini mencari bekas tugu tersebut.


Namun nihil. Ia tidak menemukan jejak sama sekali sehingga tak ada pilihan lain selain menginap di pondok Zahra.


Kakinya yang tertutup dengan celana hitam terus berjalan tanpa mengenal takut. Walaupun ia sering melihat penampakan, tapi sepertinya mereka itu adalah dedemit yang hidup seperti manusia.


"Assalamualaikum, Zahra!" panggil Ila agak berteriak supaya terdengar oleh orang rumahnya.


Tapi, setelah berkali-kali dicoba, tetap mendapatkan hasil yang sama, tak ada seorangpun yang berada didalam rumah.


"Hadeh, sepertinya aku harus berjalan nih cara tempat bobo."


Tak sadar, kaki Ila telah melangkah memasuki istana yang besar nan megah.


Gerbangnya saja terbuat dari kaca yang berlapiskan emas. Menambah kesan mewah dan begitu elegan.


Ila berjalan memasuki istana itu dengan hati yang terkagum-kagum. Mungkin kerajaan ini lebih mewah dari rumah yang paling mewah di dunia pada era modern.


Walau tadinya dia ikut dengan Zahra, namun ia tak memasuki halaman istana. Adapun taman tersebut letaknya juga cukup jauh dengan istana. Jadi ia belum melihat kerajaan tersebut.


Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, palingan hanya ilustrasi dalam tv. Kalau ini terlihat langsung oleh mata kepala sendiri tanpa perantara apapun.


Satu langkah lagi Ila akan masuk, terdapat banyaknya prajurit yang berbaris dengan begitu rapi bak kapal pecah yang tak dibereskan. Berpakaian cukup mewah dengan tangan kanan memegang pedang dan kiri memegang tameng pelindung.


"Tunggu dulu, kok rasanya Dejavu?" batin Ila.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!


Judulnya:-Karin the Mafia Girl


-Kisahku di pesantren

__ADS_1


__ADS_2