Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Siapa Kalian Sebenarnya?


__ADS_3

"Woy, kalian ngapain?" ucap Vincent tiba-tiba. Namun, pertanyaannya itu tidak dihiraukan oleh para sahabatnya.


Ia melihat kalau kedua temannya itu sedang melihat seorang gadis.


"O, jadi kalian lagi lihat dia?"


"Hmmm," jawab duo G itu secara bersamaan.


......................


Sudah dua Minggu sikap Shaletta menjadi lebih dingin. Dia yang dulunya lumayan ceria, semangat kini menjadi seseorang yang pendiam dan dingin.


Ia lebih suka menyendiri dibandingkan bersama orang lain.


Menurut prinsipnya untuk apa lagi percaya dengan orang lain jika nantinya dia akan menusukmu dari belakang.


"Jujur ya, gue mau kenal tuh ama cewek," ucap Gibran yang dijawab dengan semangatnya Vincent.


"Gas kuy!" Vincent menerima ajakan Gibran dengan semangat.


Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk mendekati Shaletta yang sedang membaca buku.


"Kami numpang duduk di sini," ucap Gibran yang menandakan ia meminta izin. Shaletta menoleh sedikit. Ahayy, cuci mata bro!


"Hmmm,"


"Jutek amat nih cewek, beda banget sama yang lain. Tapi gue suka!" batin Vincent.


Shaletta kembali menoleh, ia merasa familiar dengan wajah Gerald.


"*Itukan orang yang pernah gue lihat di mimpi gue!"


"Akkhhhh, rasanya gue pernah kenal sama mereka*."


Gibran melakukan telepati dengan Gerald.


"Al, lo ada ngerasa aura yang sangat kuat nggak?"


"*Iya, lo Vin?"


"Gue juga sama*."


"Hmmm, kalau boleh tahu nama lo siapa?"


"Shaletta," jawabnya padat, singkat dan jelas.


"Lo ingat gue?" tanya Gibran dan Shaletta pun


mengangguk.


"Yang nolong gue kemarin itu kan?"


"Iya."


Vincent yang melihat itu hanya cenga-cengo tak menentu.


"Jadi, kalian udah saling kenal? tega lo nggak pernah kasih tau gue tentang ini Gib," Vincent kembali mendramastis.


"Untuk apa gue ngasih tau lo? nggak ada untungnya jugakan bagi gue," ucap temannya dengan sangat santai.


"Hmmm, pasti lo gak ingin gue tahu supaya lo bisa lebih dekat sama dia kan?"


"Terserah apa yang lo bilang, gue nggak peduli.".


Shaletta meletakkan bukunya dan menatap mereka bertiga bergantian.


"Hmmm, maaf gue mau nanya. Kalian kelas Xl?" tanya Shaletta


Mereka bertiga mengangguk.


"Maaf kalau menyinggung kalian. Tapi, gue penasaran siapa kalian sebenarnya?"

__ADS_1


Tri cool duduk mematung mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut cewek


di hadapan mereka. Mereka tidak bisa menjawab.


"Maafkan gue lancang bertanya."


"Kenapa lo bertanya kayak gitu?" tanya Gibran menatap Shaletta.


"Gue bilang nggak ya?


"Tapi nggak mungkinkan kalau gue ngatain kalau mereka itu seperti familiar bagi gue. Mereka kan baru gue kenal."


"Kami juga merasa sama seperti yang lo rasain," jawab Gerald yang membuat Shaletta melongo. Ia kemudian berdiri.


"Siapa kalian? sepertinya kalian itu bukan orang biasa."


"Sans aja! mungkin perasaan lo kalik!" Vincent menutupi kenyataan tersebut dengan mengatakan kebohongan. Shaletta menunduk.


"Gue tau kok kalian bukan manusia biasa. Kalian punya kekuatan spiritual dan biasa bersinggungan sama dunia mistik," tebak cewek tersebut tepat pada sasarannya.


Para trio cool berkeringat dingin.Apa yang barusan dikatakan oleh Shaletta itu memang benar.


"Lupain aja! btw, siapa nama lo?" Shaletta yang semula berdiri duduk kembali.


Ia melihat Gerald.


"Gerald," jawabnya datar dan dengan pandangan yang datar juga.


"Kalau lo?" kali ini ia melirik Vincent. Yang ditanya pun merasa senang. Ia sangat antusias menjawab pertanyaan Shaletta.


"Kalau nama gue tuh Vincent. Orang paling ganteng yang gantengnya melebihi Gibran dan Gerald," ucapnya dengan percaya diri yang begitu tinggi.


"Oh ya, nggak usah dekat-dekat sama mereka! mereka itu ga normal!" bisik Vincent yang membuat Gerald dan Gibran menatapnya tajam.


"Sialan lo Vincent!"


Namun, Vincent hanya bersikap seolah-olah dia tidak mengerti maksud tatapan dari teman-temannya itu.


Shaletta langsung pergi. Sebenarnya pergi


ke kelas itu hanyalah sebuah modus agar para tiga cowok di hadapannya tidak terlalu curiga.


"*Huft, untung aja gue nggak bersama mereka."


"Dasar menjijikkan fans-fans mereka. Bisa-bisa gue mati dibunuh sama mereka."


"Tapi siapa mereka sebenarnya*?"


Shaletta pergi ke kelas untuk meletakkan buku yang ia pegang lalu keluar kembali.


"Gib, lo ngerasain nggak kalau Shaletta curiga ama kita?" tanya Vincent sambil berpikir.


"Gue rasa identitas kita nggak lama lagi akan terbongkar. Tapi gue yakin kalau dia nggak akan kasih tahu siapapun."


"Sebaiknya kita terus mengawasinya walaupun dari jauh," ujar Gerald.


"Gue punya ide, gimana kalau kita awasi dia ganti-gantian?" tanya Vincent mengeluarkan ide anehnya.


"Maksud lo?" tanya Gibran.


"Gue pas pagi, lo Al pas istirahat dan lo Gib pas pulang. Ingat! tujuan kita hanya mengawasi, jangan modus!"


"Nggak salah lo bilang kita gitu?"


"Ya nggak lah, lo berdua kan suka modus," ucap Vincent seenak jidat.


"Dasar pembalik fakta!"


"Sepertinya kita penasaran sama dia karena dia nggak sama seperti cewek-cewek lain," ujar Gerald.


"Kita lagi ngebahas tentang kekuatan Al, bukan kepribadiannya yang berbeda itu."

__ADS_1


Gibran langsung mengetuk kepala Vincent.


"Sialan lo Gib! sini lo!"


Terjadilah perestiwa lari-larian antara Vincent dan Gibran.


Gerald tidak terlalu menghiraukan mereka. Ia sekarang ini lebih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Pokoknya gue harus cari tahu identitas cewek itu!" ujar Gerald bertekad dalam hati.


"Lo *itu siapa sebenarnya sehingga lo berhasil menarik perhatian kita bertiga?"


"Dan kenapa ada aura yang sangat kuat saat kita ada di dekat lo tadi?"


"Gue yakin lo bukan orang sembarangan*."


Gerald mengikuti dua temannya menuju kelas. Sebenarnya dia malas berada di dalam kelas. Namun, karena melihat Shaletta berjalan menuju perpustakaan, dia mengurungkan niatnya.


Cowok itu menuruti kata hatinya. Gerald berbalik mengikuti Shaletta ke dalam perpus.


"*Kesempatan bagus. Gue harus cari tahu informasi tentang dia."


"Semakin cepat gue tahu akan semakin bagus*."


Teet teet teeeeeet!


Bel masuk telah berbunyi.


"Akh,sial! oke, besok gue mulai!"


Shaletta yang mendengar suara bel, bergegas menuju kelas.


"Siapa kalian itu?"


"Terlebih kalian, Gerald dan Gibran."


Mendadak Terlintas dipikiran gadis itu sesuatu.


"*Hmmm, apa kalian dulu pernah berhubungan dengan gue?"


"Tapi, akkhh nggak mungkin. Apa yang gue pikirin?"


"Tapi, wajahnya itu! gue yakin gue pernah mengenal mereka dengan baik."


"Huft, dari pada mikirin mereka lebih baik gue mikirin pelajaran nanti. Bisa berpengaruh sama otak gue nanti kalau terus mikirin


hal yang nggak berguna*."


***


Gerald sedang berada di kamar yang sangat luas yang terdapat di lantai dua.


Rumahnya itu merupakan rumah mewah yang sangat besar. Semua fasilitas lengkap


di dalam sana.


Ia kini duduk di tepi jendela sambil membalik-balikkan album yang berada


di tangannya.


Dalam salah satu album tersebut, terlihat foto dua orang cowok dengan seorang gadis yang sangat pemberani dan begitu ceria.


Hal itu membuat ingatan Gerald seakan berputar. Ia teringat masa kecilnya dulu.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment serta kasih bintang 5!


Thanks

__ADS_1


__ADS_2