Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Bukan demam?


__ADS_3

Anak emas semata wayang keluarga Mardiansyah telah sampai di garasi. Tampak dari raut wajahnya, bahwa hari ini sangat melelahkan. Bahkan, cara jalannya pun seperti orang anemia yang kekurangan darah.


"Astaghfirullaah, capek banget gue hari ini. Nanti pas udah di kamar gue bakal ganti baju dan langsung tidur!" saking letihnya, Shaletta sudah mengatur acaranya sampai dalam rumah. Ia sudah tau apa hal wajib yang harus dia lakukan.


"Assalamualaikum," gadis itu membuka pintunya dan terheran melihat rumah yang tadi paginya begitu rapi kini seperti kapal pecah.


"Kok sepi? bunda kemana? Ayah juga mana ya? Kok firasat gue jadi nggak enak?"


"Bunda! bunda!" teriaknya, namun tidak ada yang menyahut. Firasat Shaletta semakin buruk, ia memutuskan untuk berlari ke kamar ibunya.


Deg


Ternyata benar. Tubuh Shaletta menjadi lemas tak berdaya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Karena tak kuat lagi, ia bertumpu tegak dengan kedua lututnya.


Di hadapannya kini, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan muda tergolek dengan tubuh yang membiru. Ketika dahi dipegang, panasnya sangat tinggi seperti panasnya air dengan suhu 80°C.


Mata cokelat yang indah itu telah tertutup dengan sempurna. Saat dua jari tangan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan dan leher tidak terdengar sedikitpun suara detakan disana.


Air mata Shaletta mengalir deras. Untung ia belum kehilangan akalnya, jadi masih bisa berpikir jernih. Dengan sigap ia mengambil hp yang terletak di atas meja bundar kecil dekat lampu tidur LED.


Tut...Tut...


"Ayah! tolong cepat kesini! apa yang terjadi dengan bunda??!" ucap cewek tersebut histeris lalu mematikan teleponnya.


"Bunda, bertahanlah! aku akan membawa bunda ke rumah sakit,"


*****


Seorang ayah dan putrinya itu bergegas membawa Verta ke rumah sakit terdekat. Aqansyah menggendong Verta masuk ke dalam mobil kemudian ia duduk di bangku sopir.


"Ayah cepat!" ujar Shaletta yang menahan tubuh bundanya di bangku tengah.


"Iya iya, oke! tenang! kamu yang tenang!"


Aqansyah menancapkan gasnya pada kecepatan tinggi. Bahkan ia juga sering menyelip kendaraan yang berada didepannya karena ingin segera sampai di tempat tujuan.


Namun, entah ini kesialan atau apa, ban mobil ayah Shaletta bocor sehingga memaksa mereka untuk menghentikan perjalanannya sejenak.


"Ada apa yah? kok berhenti?"


"Sepertinya ban mobil ayah bocor," ucap Aqansyah sambil memutar kunci mobilnya.


"Hah?!"


"Kamu tunggu disini! biar ayah cek keluar dulu."


Aqansyah turun dari mobilnya. Ia menekan ban mobil depannya, ternyata memang benar. Ban tersebut bocor.


Ia menjadi pusing, bagaimana caranya untuk bisa mengantarkan istrinya dengan cepat sampai ke RS. Mana jalanan sepi, jarang kendaraan yang lewat.


Di dalam mobil, Shaletta merasa ayahnya terlalu lama. Jadi dengan tidak ada keraguan, ia turun dan menghampiri ayahnya.


"Yah, gimana kita ngantarin bunda?"


"Kok, kamu turun? kan ayah udah nyuruh tetap dimobil aja."


Tiba-tiba, sebuah mobil Mitsubishi Xpander berwarna putih yang elegan berhenti tepat di depan Shaletta. Seorang cowok membuka pintu mobil dari dalam lalu keluar dan berdiri di dekat pintunya.


Mata gadis itu langsung membulat. Ia sangat kenal dengan orang didepannya. Ada secercah harapan yang terlihat.


"Gerald!" panggilnya.


Cowok tersebut membuka kacamata hitamnya. Ia mendekati orang yang telah memanggilnya.


Terlihat wajah Gerald agak kebingungan. Ia merasa kenal dengan orang di depannya tapi tidak tahu pernah bertemu dimana.


"Aduh, jangan kayak orang ogeb deh lo! ini gue woy!" ucapnya setengah kesal membuka maskernya.


"Gue minjam mobil lo, ini mobil gue ban nya malah bocor. Mana kunci lo? darurat bro!"


"Iya iya, emang lo mau kemana?"

__ADS_1


"Bunda gue sakit, nggak tau kenapa."


"Yaudah, lo masuk aja! Biar gue yang bawa mobilnya."


Mendadak Aqansyah sudah berada di samping Shaletta. Ia menatap Gerald.


"Biar om aja yang bawa mobilnya," ucap ayah Shaletta dengan ramah.


"Oke om."


Gerald duduk di sebelah bangku sopir. Ia melihat Shaletta yang menahan tangisan dari kaca spion. Sedang asik menatap wajah cewek tersebut, ternyata yang ditatap juga melihat cermin. Alhasil mata mereka saling bertemu dan Shaletta dengan cepat memutuskannya.


***


"Mana bokap lo?" tanya Gerald.


"Dalam," lirih Shaletta. Hatinya sangat cemas, bahkan lapar pun tidak terasa lagi baginya.


"Udah makan?"


"Lo gila? masa keadaan gini gue masih mikirin makanan? nggak mungkin perut gue yang gue duluin," jawab Shaletta dengan tidak santai.


"Kenapa nggak mungkin? lo tadi nggak ke kantin dan muka lo juga pucat. Lo pasti belum makan," tebak cowok ganteng itu tepat sasaran.


"Lo tunggu di sini! Jangan kemana-mana!"


5 Menit kemudian...


"Ya Allah, hamba mohon selamatkan nyawa ibu hamba, hamba belum bisa kehilangan dirinya, hamba rela jika nyawa hamba taruhannya selagi itu untuk kebahagiaan orang tua hamba,"


Tunggu! Kok rasa ada yang aneh? Apa yang kurang ya? Shaletta berpikir-pikir dengan sesuatu yang hilang dan ternyata adalah...


"Gerald!"


"Ngapain manggil-manggil gue?" suara seseorang itu membuat Shaletta melihat ke belakang.


"Dari mana aja lo?"


Cowok itu memberikan sekantong plastik yang berisi styrofoam dan air mineral pada Shaletta.


"Gue nggak nerima penolakan!"


"Emang dengan lo nahan lapar nggak makan gitu bisa mengubah keadaan hah?!" nada bicara Gerald naik satu oktaf.


Shaletta sedang tidak ada waktu untuk berdebat dengan Gerald. Jadi, untuk kali ini dia akan mengalah. Lagian, ini juga untuk kebaikan dirinya.


"Gue ke dalam dulu. Nanti pas gue keluar nasi ini udah lo makan!" perintahnya lagi yang membuat Shaletta memutar malas bola matanya.


"Ck, pergi aja sana!"


Gerald masuk ke dalam kamar tersebut.


Shaletta yang kini menatap bungkusan itu pun menjadi lapar. Ia membuka bungkusan plastik tersebut lalu mengeluarkan styrofoam itu. Ia membukanya dan ternyata isinya adalah minas goreng bertoppyng bakso dan ayam crispy.


"Yaudah, mumpung ada makanan di depan langsung gas aja. Lagian anak baik itu nggak boleh nolak rezeki."


Setelah beberapa suap mencoba, ia menjadi kecanduan. Ia terus memakan makannya.


"Enak juga, dimana ya Ketsis bego itu belinya?" gumamnya tapi terdengar oleh telinga si empu.


"Siapa yang lo katain bego?" tanyanya dengan kehadiran yang tiba-tiba.


"Mampus!"


"Anak manusia, cucunya nabi Adam yang pasti," jawabnya spontan. Nggak salah kan?


"Dari mana lo dapat kata-kata begituan?"


"Ya duduk dulu gimana? kayak mo nagih hutang aja."


"Udah nih," ujar Gerald yang menuruti perkataan Shaletta.

__ADS_1


"Gue denger dari mbak kunti," ujarnya cuek dan terus menyuapkan minas itu ke mulutnya.


"Hah?!"


"Nggak percaya?" Shaletta menatap Gerald lalu mengalihkan pandangannya ke lain arah.


"Minggu lalu gue di teror ama mbak kunti setelah dari taman belakang. Dia terus ngikutin gue tapi anehnya nggak masuk ke dalam rumah, diluar aja."


"Terus?"


"Berakhir dengan argument."


"Lo kan emang jago adu mulut," ucap Gerald dengan tampang yang tidak bersalah sama sekali. Untung aja ganteng!


"Napa? iri? tirulah!" ujar Shaletta yang kembali tidak santai.


"Ck, ngapain harus iri?"


"Tuh gimana cara lo buat dia pergi?"


"Gue ancam."


"Akhh, kenapa jadinya santai sih? gara-gara elo ya! gue ke dalam dulu," Shaletta menjadi frustasi sendiri.


"Habisin dulu makanan lo!"


"Emang siapa lo yang nyuruh-nyuruh gue?"


"Turutin aja!"


***


"Aku dimana?" tanya seorang gadis cantik dengan wajah yang penuh kebingungan.


"Ngapain kamu di sini putriku?" ucap seorang wanita dengan pakaian serba putih berhijab membuat Shaletta terkejut saat ia menoleh ke belakang. Air matanya berlinang.


"Bunda, bunda cepat sadar ya bund! Asha cemas banget sama bunda," ujarnya seraya mendekap erat ibunya seakan tidak mau terlepas lagi.


Wanita yang dipanggil bunda oleh Shaletta membalas pelukannya sambil tersenyum dan mengusap kepala anaknya yang tertutup jilbab.


"Nak, kalau bunda pergi kamu harus kuat ya, jangan nangis! mungkin ini jalan terbaik untuk bunda."


Air mata Shaletta kembali menetes. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, jangan berkata kayak gitu bund! Asha masih butuh bunda, bunda harus ikut sama Asha!"


Deg


Keringat Shaletta merembes membasahi wajahnya seperti orang siap mandi. Ia melihat sekitar dan matanya tertuju pada orang yang berbaring di ranjang.


"Kamu udah bangun nak?"


"Ayah?"


"Bunda baik-baik saja kan yah? iya kan?" tanyanya bertubi-tubi.


Keraguan untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya timbul dibenak Aqansyah. Tapi mau tidak mau ia harus mengatakan hal ini.


"Nak, sebenarnya ibumu bukan demam," ucap Aqansyah menghembuskan napasnya berat.


"Bukan demam?" beo gadis itu.


"Iya, betul. Ibumu itu tidak demam tapi..."


Bersambung...


Baca terus ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!

__ADS_1


Judulnya: Karin the Mafia Girl


And thanks


__ADS_2