Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Nia


__ADS_3

"Ya Rabbi," ucap Ila menatap wajahnya yang begitu buruk rupa dan tidak enak untuk dipandang.


"Maaf kak, aku lagi nggak mood main denganmu, lain kali aja," ujar Ila pasrah menundukkan kepalanya dan entah kenapa ia yang tadi berwas-was kini malah seperti putus asa.


Saat kembali menegakkan kepalanya dan menatap mata hitam si hantu, mendadak tubuh Ila bisa saja berada di tempat lain.


****


Di tempat yang Ila kenali, yaitu SMP Academy namun dengan model jadul. Lebih tepatnya sekarang mereka berada di tempat yang sekarangnya adalah lorong yang dilewati Ila.


Ia melihat 3 orang berpakaian SMP. Seorang cewek yang sepertinya hantu dihadapannya saat ini dan 2 orang cowok yang tak ia kenali.


Terlihat cowok-cowok tersebut tengah menyiksa gadis malang itu.


"*Hahaha, orang miskin kok sekolahnya disini? emang sanggup membayar semua uang-uangnya?" tawa seorang laki-laki yang berbadan kekar dan berwajah tampan sambil menyaksikan tubuh seorang gadis cantik diikat dengan tali di kursi.


"Nal, kenapa kamu melakukan semua ini? emang salah aku apa?" isak gadis tersebut menahan rasa sakitnya tubuh yang dicambuk oleh teman sang laki-laki.


"Anda tanya apa salah anda? seharusnya anda sendiri sudah tahu!" bentaknya.


"Apa alasan anda menolak cinta saya?"


"Kurang apa saya coba? uang? ada, tampan? iya, pintar? iya,"


"Apalagi?" tanyanya yang kini berubah agak sendu.


"Oke, kamu yang meminta jadi aku jawab sekarang semua pertanyaan kamu,"


"Saya tidak ingin saya dan anda terjerumus ke dalam dosa, saya tidak ingin kita menambah dosa lagi sementara dosa kita selama ini entah bisa diampuni, jika antum mengatakan cinta pada saya maka kamu hanyalah ingin memuaskan nafsu semata, saya ingin menjadi sebutir mutiara yang indah dimasa depan kelak,"


hentinya sejenak kemudian melanjutkan perkataannya.


"Yang harusnya antum cintai itu adalah Allah, tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dan jika engkau ingin mencintai perempuan maka cintailah dulu ibu yang telah melahirkan dirimu hingga engkau dapat melihat dunia ini yang sudah tentu itu karena izin-Nya."


Hati Ila bergetar mendengarnya. Ia sangat kagum dengan perkataan tersebut.


Nia menyadarkan Rinal yang sudah terlalu buta karena cinta. Mulutnya tiba-tiba bisa dengan lancar mengucapkan ilmu-ilmu agama.


Temannya Rinal, Rayhan muak mendengar ucapan Nia yang lebih ke arah menghindari dengan kata-kata keagamaan.


Sebenarnya Rayhan juga mempunyai rasa pada Nia, tapi setelah tahu kalau ia dan sahabatnya memiliki perasaan yang sama pada satu gadis maka ia hilangkan rasa tersebut demi kawannya.


Kini ia tak lagi menyukai Nia, ia lebih mendukung pertemanannya.


Rayhan mencambuk badan Nia yang sudah membiru sekuat tenaga sehingga tangan yang Nia jadikan pelindung berdarah karena kuatnya cambukan tersebut.


"Astaghfirullaahal'aziim, tiada tuhan yang patut disembah selainmu ya Allah, tuhan semesta alam," ucap Nia menahan rasa sakitnya.


"Hahaha, dasar sok alim padahal munafik. Mana tuhan yang selalu kau katakan itu? bukannya kata kau dia selalu menolong hamba-Nya yang lagi susah." ujar Rayhan entang yang memang berbeda agama dengan Nia dan Rinal.


"Astaghfirullaah, semoga engkau diberi hidayah oleh Allah Rayhan," ucap Nia.

__ADS_1


"Diam! jangan menceramahi diriku," ujarnya lantang dan kembali mencambuk badannya Nia.


"Rayhan cukup! emang aku yang salah! seharusnya aku menjaga pandanganku, seharusnya aku memiliki iman yang kuat di dadaku," lirih Rinal menghentikan tangan Rayhan.


"Rinal! apa yang kau katakan? bukankah kau ingin mendapatkan dirinya?" marah Rayhan kemudian ingin kembali mencambuk Nia.


"Cukup Rayhan!" ucap Rinal yang mencoba menjauhkan tangan Rayhan dari Nia.


Namun, usaha Rinal itu sudah terlambat. Tangan kiri Rayhan yang memegang pisau secara tidak sengaja menebas leher Nia hingga menyemburkan darah yang cukup banyak.


Rinal membulatkan matanya lalu mendekati Nia.


"Nia, katakan padaku kalau kamu baik-baik saja!" pinta Rinal dengan mata berair.


Nia tersenyum, lalu Rinal melihat bola mata Nia yang terus ke atas seperti orang yang sedang kejang.


Dan, kematian pasti mendatangi makhluk yang hidup di dunia fana ini. Itu sudah menjadi ketentuan dan takdirnya sang Khaliq.


Nia menghembuskan nafas terakhirnya dalam kondisi tersebut. Rinal tak dapat menahan tangisnya lalu ia menatap tajam Rayhan, sahabatnya.


"Kenapa kau membunuhnya hah? apa salahnya?" teriak Rinal mencengkeram kerah baju Rayhan dengan menggila.


"Kau gila Nal? bukankah dia yang salah karena sudah menolak dirimu?"


"Tapi aku tidak memintamu untuk membunuhnya Rayhan pembunuh!"


"Sekarang apa bisa kau membuatnya hidup kembali?"


sesat,"


"Apa kamu bilang?" tanya Rinal dengan mata yang memerah karena marah agamanya dihina.


"Kalau kau ingin bermasalah dengan saya boleh, tapi jangan pernah menghina agama saya,"


"Ha, yang kubilang itu kenyataan. Emang dimana tuhan yang selalu kalian sembah itu umat Islam?" hina Rayhan.


Rinal melayangkan pukulannya pada Rayhan.


Tapi dapat dihindarinya dengan baik. Terjadilah aksi serang-menyerang antar dua orang yang sebelumnya adalah sahabat dekat.


Di akhir serangan, Rayhan memakai pisaunya dan mengerahkan mata pisau ke arah Rinal yang akan memukul lagi, dan...


Blllussssshhhh


Rinal melihat dadanya dan memegangnya dengan tangan, ada satu kata, berdarah.


Tubuh Rinal ambruk dan terbaring lemah dilantai. Karena darah terlalu banyak keluar dan tidak segera ditangani, Rinal pun ikut menyusul Nia yang sudah dulu ke alam baka.


Rayhan panik, sudah 2 orang yang ia bunuh dalam waktu singkat. Jadi ia harus bisa menemukan solusi secepatnya sebelum ia tertangkap karena kasus pembunuhan.


cowok tersebut menguburkan jasad-jasad itu.

__ADS_1


Ia menggali tanah lorong sekolah. Emang, dulunya lorong sekolah belum di keramik bahkan disemen sama sekali.


"Aku harus cepat mengubur jasad mereka."


****


Ila kembali lagi ketempat semula. Ia melihat mata gadis yang telah menjadi hantu tersebut menjadi sendu. Tanpa ragu lagi Ila langsung saja memeluk Nia.


Walau Ila tahu yang ia peluk itu adalah jin karinnya Nia, namun ia tetap memeluknya.


"Kamu jangan sedih lagi! insyaaallah arwahnya Nia di terima di sisi Allah SWT."


Jin karin itu berubah menyerupai Nia saat masih hidup dulu lalu ia tersenyum pada Ila dan melambaikan tangannya, kemudian menghilang.


Ila melanjutkan kembali perjalanannya dan menuju perpustakaan.


"Assalamualaikum," salam Ila dalam batin memasuki ruang perpus.


Ila mengisi daftar hadir pengunjung dan membuat tanda tangan disana.


Gadis itu berjalan mendekati rak dan mengambil buku yang cukup tinggi namun bisa ia gapai.


*Satu...dua...tiga...


Bruuukkkkk*


Beberapa buku menimpa kaki seorang cowok yang sedang berdiri membaca buku.


Ila langsung mengambil buku yang tidak sengaja ia jatuhkan dan kembali tegak.


"Sorry, aku nggak sengaja," ujar Ila dan meninggalkannya.


Tanpa disadari, cowok itu menunjukkan smirknya dan berencana ingin mengerjai Ila yang tidak sengaja menimpa kakinya.


Primadona sekolah duduk dibangku dan membaca buku yang ia ambil, sungguh bukunya sangat tebal dan itu tentang hal-hal jaman kuno.


Banyak ilmu yang Ila dapatkan dari buku itu kemudian ia beralih untuk membaca buku yang lainnya.


Tanpa diduga-duga, ada tangan seseorang yang meraih salah satu buku Ila dari arah belakang dengan cara menyelinap.


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!


Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!


Judulnya: Karin the Mafia Girl


Thanks

__ADS_1


__ADS_2