Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Makhluk Kerinci Part 2


__ADS_3

"Mereka penghuni gunung ini. Saya juga belum tau itu makhluk jenis apa. Dikatakan makhluk gaib banyak juga pengunjung yang bisa melihat mereka, dikatakan makhluk kasat mata sudah banyak peneliti dari luar negeri yang mencoba mengungkap identitas tuh bocah, tapi mereka itu masih menjadi misteri karena mereka nggak bisa masuk kamera walau 40 kamera udah siap sedia merekam penampakan," terang Abian dengan serius.


"Ngeri juga tuh bocil," ujar Vincent bergidik ngeri.


"Bentar! tadi lo katain mereka nggak bisa masuk kamera. Mungkin aja uhang pandak


tuh sedang nggak nongol di situ," sela Shaletta berusaha membantah dan berpositif thinking.


"Nggak, makhluk itu udah muncul di hadapan kamera. Tapi setelah diputar ulang, nggak ada apa-apa," tepisnya.


"Udah ah! dari pada ngomongin mereka lebih baik kita pulang. Nih hari udah senja. Kalau gue bertemu lagi sama hantu, lo yang akan gue tumbalin Gib," ucap Vincent seenak jidat yang membuat Gibran melotot ke arahnya.


"Woy! enak aja mulut lo ngomong. Ngapain bawa-bawa nama gue? lo pikir ini pesugihan apa?" Gibran tak terima namanya dibawa-bawa begitu saja.


"Gue kan nggak ada bilang pesugihan goblok! lo aja yang denger pake hidung kayak toba-toba film balveer."


Gibran menarik kerah baju Vincent yang membuat Vincent juga melakukan hal yang sama.


Mereka maju mundur dan tak ada yang mau mengalah.


"Kalian kayak anak kecil! tampang ganteng tapi sifat kayak bocil," ujar Shaletta membuat dua orang yang sedang bertengkar itu melihat ke arahnya.


"Diem aja lo!" ucapan serentak dari mereka berdua membuat Shaletta memutar bola matanya dengan jengah.


"Gue heran deh sama kalian. Kalian bisa ngalahin makhluk halus, tapi kok takut sama nenek pohon bolong, mbak kun, si bocil lagi," lanjut cewek itu.


"Kalau masalah bertarung ama makhluk astral itu nggak masalah, tapi kalau ngelihat penampakan mirip tadi gue nyerah!" ujar Vincent mengangkat bendera putih.


"Udah, kita kembali ke tenda! Nanti mereka pada nyariin," ucap Gerald.


"Siap bos," jawab mereka sambil melakukan gerakan hormat.


"Woy! GUE LUPA JALAN PULANG!" ucapnya sedikit berteriak.


***


"Huhuhuhu! aku sedih harus ninggalin tempat ini," ujar Tari meraung-raung. Sementara Shaletta hanya menatapnya datar.


"Udah kak, lagian kita juga harus pulang. Ngapain lama-lama di sini?"


"Kenapa? di sinikan tempatnya bagus. Adem lagi."


"Lagian di sini bisa sering-sering ketemu Gerald," batin gadis itu.


Shaletta yang mendengarnya merasa tidak suka. Tapi ia tidak terlalu peduli. Itu mah urusan orang, bukan urusan dia.


"Kak! kita harus cepat packing nih barang! aku nggak mau ketinggalan bus," ujar Shaletta mengalihkan pembicaraan.


"Ha iya, tungguin aku Sha!" Tari kalang kabut membereskan barang-barangnya.


"Cepetan kak!"


Setelah 10 menit mengemas barang, dua cewek tersebut keluar dari tenda. Mereka ikut berbaris di dekat pos 2.


"Apa semuanya sudah berkumpul di sini?" tanya sang pembina.


"Sudah pak."


"Oke, karena kemarin cuaca kurang mendukung, maka pengumuman hasil kegiatan lomba 3 hari 3 malam berturut turut tersebut akan kita laksanakan sekarang."


"Untuk malam pertama, pemenang kegiatan lomba pencari bendera adalah tim Gerald!"


Semuanya langsung berteriak menyebut-nyebut nama idola mereka.


"Gerald!"


"Andai aku satu tim sama kamu!"


"Sarangheo Gerald!"


"Aku pindah haluan sama kamu Gerald!"


"Udah! diam semua! pemenang kegiatan Scavenger hunt atau perburuan barang adalah tim masih tim Gerald juga!"


Suasana yang sempat hening kembali riuh mendengar pengumuman itu.


"Haaaaaa!"


"Aku mau satu tim sama kamu!"


Dan masih banyak lagi suara-suara yang cukup memekakkan telinga.


"Dan dimalam ketiga, pemenang lomba memasak adalah timnya.. Indah."


"Selamat bagi para pemenang! yang belum bisa menjadi juara jangan berkecil hati karena masih banyak perlombaan yang menanti.


Silahkan nama-nama yang tersebut tadi maju ke depan!" pinta pembina.


Mereka para juara maju ke depan dengan sorakan dan tepuk tangan dari murid-murid.


Bangga, senang dan deg-degan. Itulah yang dirasakan mereka saat ini.


Shaletta sangat senang, hatinya begitu gembira. Jika tidak ada orang mungkin saat ini juga dia meloncat kegirangan.


Setelah selesai pemberian hadiah dilakukan,


semua peserta berselfie dengan teman-temannya.


"Woy cewek prik! foto kuy!" ajak seorang cowok, siapa lagi kalau bukan Vincent.


"Gue punya nama!" Shaletta tak mau dipanggil dengan sebutan cewek prik.


"Terserah lo! lo ikut nggak?"


"Nggak ah, males," jawab gadis itu.


"Kalau lo pikir hanya berdua aja, lo salah. Yakin nggak mau foto nih? masa satu tim yang menang malah kurang satu anggota."


"Sejak kapan gue mikir gitu? uuuuu! sotoy!" cibir Shaletta dengan sorakannya.


"Hahaha! lo dikatain sotoy sama cewek!" ejek Gibran dengan tawa terpingkal-pingkal.


"Oke, tapi gue ngajak teman gue dulu!"


"Nanti! kita berempat dulu, setelah itu baru ramai-ramai," ujar Gibran.


Shaletta dan para Trio cool mengambil foto bersama. Setelah dirasa puas, cewek itu teringat sesuatu.


"Gue manggil teman dulu," Shaletta langsung pergi dengan langkahnya yang seperti hantu.


"Wadaww! cepat amat tuh anak jalannya,"


gumam Vincent terperangah melihat Shaletta.

__ADS_1


Baru saja mau membuka hp, Gerald telah dikejutkan dengan kehadiran seseorang.


"Nanti aja napa main hp tuh? kita foto dulu! kapan lagi kalau nggak sekarang,"


ujar Shaletta dengan ekspresinya yang selalu badmood kalau bertemu Vincent.


Gerald kembali menyimpan hp nya dan bergabung dengan kumpulan orang-orang prik yang terus beradu mulut.


Mereka mengambil beberapa petik foto. Ya, hasilnya cukup bagus karena kamera yang dipakai bukan kamera abal-abal.


"Tunggu!" ucap Shaletta pada Gerald dan cowok itu berhenti menunggu seseorang yang selalu ribet.


***


Semua pendaki mulai menuruni lereng gunung. Mereka sangat gembira dengan acara-acara yang ada.


Saat ini mereka berada di pos 1, hampir keluar dari hutan tersebut.


"Gib, kok tas carrier gue jadi berat ya?


perasan tadi nggak seberat ini deh," ujar Vincent dengan nafas yang tak beraturan menahan beban di punggungnya.


Shaletta langsung melihat ke belakang dan syok ketika melihat penampakan di depannya.


Ia menunjuk kebelakang Vincent hingga membuat yang ditunjuk menjadi heran.


"Ngapain lo nunjuk-nunjuk gue? jangan buat gue salah paham deh Sha," ucap Vincent. Bulu kuduknya sudah merinding semua.


"Coba lo lihat ke belakang lo Vin!"


Vincent mencoba menoleh ke tasnya. Jantungnya seakan ingin keluar saat ini juga.


"Lo-lo-lo nga-pain?" tanya Vincent menggigil.


"Hihihi, bawa aku turun!" tawa perempuan itu cekikikan dengan ekspresi wajah yang tak bisa ditoleransi.


Tampangnya sangat sadis dan menyeramkan.


Wajahnya dipenuhi darah yang keluar dari luka-luka di sekujur tubuhnya. Kepalanya hampir hancur, kulit tangannya mengelupas memperlihatkan daging.


"Kak, dari pada kakak duduk di atas tas cowok yang nggak ganteng ini lebih baik kakak turun deh," ucap Shaletta membuat Vincent melotot.


"Kalau untuk saat ini gue izinin lo bilang gue nggak ganteng."


"Tolong, bawa aku pergi!"


Hihihihi!


Hantu wanita tersebut masih saja cekikikan tanpa alasan yang jelas.


"Yaelah, kok malah ketawa sih?" tanya Shaletta.


"Lo jangan gerak dulu Vin!"


Entah tau dari mana, seketika Abian muncul dan menarik hantu tersebut hingga tercampak ke tanah.


"Cepat, kalian pergi!"


"Ucapkan kata maaf dan baca surat-surat yang ada dalam Al-Qur'an!"


"Lo gimana?" tanya Shaletta cemas.


"Nggak usah khawatirin saya! cepat pergi!"


"Hu-hah-hu-hah-siapa dia?" tanya Vincent sambil berlari.


"Nanti aja tanya sama Abian."


Akhirnya mereka bisa mengejar para pendaki


dan langsung berjalan seperti biasa.


"Mana dia?" Gerald mencari-cari keberadaan Abian.


Seakan tahu namanya disebut, orang berstatus ambigu itu muncul dengan tiba-tiba.


"Wahai para manusia di sini! saya Abian yang ganteng, cakep, keren, ramah, tidak sombong dan tidak suka menabung ini telah datang," ujarnya dengan PD sekali.


"Eh, si kocak!" ucap Shaletta.


"Garing amat," timpal Gerald yang selalu saja berwajah datar.


"Hahaha!" tawa Abian menggelegar membuat cewek di depannya melotot.


"Ngapain lo ketawa kayak kunti? ketahuan sama peserta lain baru tau rasa!"


"Saya kan nggak bisa dilihat orang biasa, gimana mereka bisa mendengar saya?"


"Ouh iya, gue lupa!" ucap Shaletta malah meniru ekspresi Gerald.


"Lo tau perempuan yang duduk di tas gue tadi?" tanya Vincent penasaran sekaligus bergidik ngeri.


"Dia hantu gendong."


"Hah?" reaksi mereka terkejut.


"Berapa sih jumlah penghuni di sini? nggak ada habis-habisnya ganggu gue. Dari mendaki sampai menurun, ada-ada aja tuh setan yang nongol. Susah banget ya jadi orang ganteng?" Vincent menggerutu.


"Namanya gunung pasti banyak makhluk halus, apalagi ini hutan jarang dijamah manusia."


"Dari mana lo tau?" tanya Gerald.


"Heh, gini-gini saya tuh selalu up-to-date 24 jam, ditambah sinyal saya 4G," ujar Abian dengan bangga.


"No up-to-date tapi update. Sinyal 4G aja bangga, orang tuh sekarang udah makai sinyal 5G. Jadul banget sih lo," cibir cewek bar-bar itu.


"Terserah!"


"Kenapa tuh di sini makhluknya pada ngejar gue?"


"Lo udah ngerjain pantangan di sini."


"Pantangan?" tanya Gerald balik.


"Ini bukannya nggak boleh tapi usahakan untuk jangan camping di shelter 2. Kalian kemaren camping di sana kan?"


Mereka kembali mengangguk.


"Gue juga nggak tahu apa alasannya, tapi yang jelas gue denger dari teman gue usahakan untuk nggak camping di sana."


"Siapa teman lo?" tanya Gibran kali ini.


"Tuh," Abian menunjuk ke arah temannya yang diiringi oleh lirikan mata orang-orang

__ADS_1


di sekitarnya.


"Whatt?" respon Shaletta kaget.


"Yang benar aja! ini teman lo?" tanya Vincent memastikan kembali.


Ada 2 hantu yang mendekati Abian. Yang


pocong berjenis kelamin laki-laki memiliki bentuk menyeramkan. Matanya bersimbah darah dengan wajah berwarna hitam.


Kain kafan putih yang dipakainya telah lusuh.


Ia menghampiri Abian dengan melompat-lompat.


Yang perempuan memiliki wujud yang tak kalah menyeramkan. Matanya yang hitam panda mengeluarkan darah dan rambutnya sepanjang pinggang. Tangan kirinya tidak ada dan tubuhnya melayang-layang di udara.


Kesan yang ada jauh dari kata cantik.


Hantu perempuan itu muncul di dekat Vincent.


"Wah, apaan nih? hai ganteng! ketemu lagi ya,"


ucapnya centil.


"Dih! hantu kok genit?" gumam Shaletta heran yang berada di samping Gerald. Cowok itu mendengar apa yang dikatakan Shaletta dan langsung saja berbisik.


"Kalau gue yang didekatinya gimana?"


"Hah?!" ujar Shaletta dan menengadah melihat Gerald yang tinggi. Ia menatap mata yang indah itu, namun Gerald langsung menyadarkannya.


"Jangan di sini!"


"Hah?!" Shaletta kembali tidak mengerti dengan ucapan Gerald.


"Woy! tampang lo gitu tapi berani banget dekatin manusia," ucap Abian menggeleng-gelengkan kepala yang pusing melihat tingkah teman barunya.


"Ih, sotoy banget lo jadi orang. Gue itu cantik tau! tunggu bentar!" ujar hantu tersebut.


Tiba-tiba hanya dalam hitungan detik, dia sudah berubah ke mode cantik.


"Hai, nama gue Evi!" ujarnya mengulurkan tangan pada Shaletta.


Gadis tersebut ragu untuk menjabat tangan Evi. Ia menoleh ke arah Abian dan cowok itu menganggukkan kepalanya seolah-olah dia mengatakan kalau Evi itu tidak jahat.


"Hai!" sapa Shaletta menjabat tangan Evi.


"Aww!" reflek hantu itu langsung menarik tangannya.


"Panas!"


"Hahaha, rasain!" ejek pocong itu sambil tertawa membuat Evi beralih pandang pada Gerald. Matanya langsung membulat.


"Ya ampun, guuuaaantengg banget sih."


"Hai, nama aku Evi," ujarnya mengulurkan tangannya dengan senyuman manis yang akan membuat orang dengan iman lemah kepincut. Ditambah matanya yang sengaja dikedip-kedipkan.


Gerald menatap hantu itu dengan datar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan topik saat ini.


"Lo ngapain genit amat sama cowok?" tanya Shaletta jutek sambil menatap tajam Evi. Mata Evi tidak sengaja melihat tatapan maut dari Shaletta dan itu membuatnya bergidik ngerti.


"Woy Kunti! lo pikir lo aja yang bisa cantik? gue juga bisa jadi ganteng," ujar pocong itu.


Seperti yang dilakukan temannya, pocong tersebut berubah menjadi seorang cowok tampan seperti Abian.


"Gue Yoga," cowok itu mengulurkan tangan pada Shaletta. Ia memasang senyum yang menawan yang akan membuat orang biasa mungkin akan tergoda karena saking luar biasanya efek senyuman tersebut.


Agar kelihatan cool, ia menyisir rambutnya


ke belakang dengan tangan.


"Lo cocok sama Evi!" ujar Shaletta datar dan melihat orang yang dibicarakannya.


Mereka berdua langsung saling menatap lalu menatap Shaletta.


"Nggak sudi!"


"Ogah!"


Mereka berteriak dengan serentak yang membuat Abian menggoda mereka.


"Kalian ini nggak bisa akur apa? dari kemarin terus aja bertengkar. Ntar jodoh baru tau!"


"Idih!"


"Najis!"


"Ahay! serentak cuy!" goda Abian lagi.


"Uhuyyy!" timpal Shaletta dan Trio cool.


"Apasih? ama dia? nggak akan pernah," ucap Evi dan Yoga yang lagi-lagi serentak. Mereka sama-sama melotot satu sama lain.


"Kan, apa gue bilang? ngomongnya aja kompak terus," Abian malah cekikikan.


"Terserah kalian! yang penting sampai zaman berakhir pun gue gak akan pernah mau sama dia," ucap Evi sombong.


"Eh kuntong! lo pikir gue mau ama lo?" tantang Yoga.


"Berani ya lo ngatain gue kuntong? dasar


kapocong," ejek Evi.


Mereka berdua terus beradu mulut sampai Abian menengahi keduanya.


"Woy! udah siap bertengkar nya?"


"Diam!" jawab mereka berteriak.


"Oh ya, penghuni di sini tuh karena kecelakaan atau memang murni orang sini?"


tanya Gibran tiba-tiba.


"Hmmm berdasarkan info yang gue dapat,


kedua-duanya memang benar. Tapi gue nggak tahu alasannya."


Bersambung...


Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, vote, coment dan kasih bintang 5!


Thanks

__ADS_1


__ADS_2