
Shaletta hanya ber"oh"ia menanggapi ucapan bu Rita dan kembali memandangi sekitar aula.
Tak disangka dua pasang mata bertemu yang membuat gadis itu kembali terlena, untung saja yang dipandanginya menyadarkannya dengan memalingkan wajahnya terlebih dahulu.
Sadar dengan yang dilakukannya, ia juga mengalihkan perhatian. Namun, masih memperhatikan dengan ekor matanya.
Ia kembali melihat keadaan sekitar. Akhirnya
matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan yang membuat ia terus menatapnya dengan sangat tajam.
Tiba-tiba seorang kyai datang dengan baju koko putih dan kain sarung yang melekat
di pinggangnya. Ia mengenakan peci hitam dan sorban di lehernya.
"Assalamualaikum."
Semua mata melihat ke arahnya. Terlihat kelegaan pada wajah orang-orang yang masih sadar. Mereka tersenyum karena bantuan akhirnya sampai jua.
"Waalaikumussalam, silahkan masuk pak kyai," sambut guru agama dengan ramah.
"Terima kasih pak," ujarnya kemudian duduk di samping Gibran.
Guru agama tersebut menceritakan kejadian yang telah menimpa murid-muridnya dari pagi tadi hingga kondisi mereka yang tengah kesurupan saat ini.
Kyai tersebut hanya menganggukkan kepala
pertanda ia paham dengan situasi kini. Tapi ia juga tidak lengah mendengarkan suara-suara yang ada.
Shaletta kembali merasakan energi negatif
di ruangan itu. Bukan hanya dia, Trio cool juga merasakan hal yang sama.
Shaletta mendengarkan bisikan demi bisikan dan penampakan demi penampakan. Tapi, ia tetap berusaha menguatkan dirinya. Walaupun hati dan raganya kini sedang bertolak belakang, ia hanya lengah seakan
tidak ada masalah apapun.
Setelah mendengar penuturan sang guru, kyai tersebut memulai ritual agamanya.
Mula-mula dia menyuruh mereka yang kesurupan untuk bersuci, kemudian membersihkan pakaian lalu menutup aurat.
Saat dibacakan ayat suci oleh sang kyai, mereka yang kesurupan langsung teriak kesakitan diiringi suara tangisan serta tawaan. Sampai pada seorang siswi mengucapkan sesuatu yang membuat kyai tersebut terdiam.
"Hahaha! kau harus pergi denganku! aku akan bawa kau menghadap tuan! Hahaha!" ujarnya berteriak dan menunjuk Shaletta yang kebingungan. Setelah beberapa detik, barulah ia mengerti dengan ucapan orang yang menunjuknya.
"Kau harus menyerahkan kekuatan itu!" ucapnya dengan mata yang membelalak.
Shaletta merasa dejavu dengan hal ini. Ia merasa pernah mendengarkan ucapan seperti itu.
"Sepertinya gue udah pernah denger kata-kata itu. Tapi kapan? dan dimana?" gumamnya.
Melihat kondisi semakin parah, sang kyai segera menyelesaikan ritualnya supaya setan yang ada didalam tubuh para murid tidak bertindak di luar batas.
Setelah 3 jam berlalu, akhirnya mereka yang kesurupan kembali sadar. Para guru sangat berterima kasih pada kyai yang telah mengobati siswanya.
***
"Urusan kita belum selesai," Gibran mengejar Shaletta namun ia tidak dihiraukan oleh
si empu.
Gadis itu hanya terus berjalan keluar dari ruangan aula, lagipula dirinya merasa tidak nyaman untuk berlama-lama di sana. Otaknya sedang bergulat di dalam sana.
Para kesatria itu membuntuti Shaletta dari belakang. Mereka berusaha mengejar cewek di depan mereka.
"Sha!" panggil seseorang dengan suara khasnya.
Deg
Langkah gadis itu langsung terhenti. Ia menoleh ke belakang dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Hmmm."
"Lo mau kemana?" tanya Gibran tanpa basa basi lagi.
"Tempat tadi," jawabnya singkat, padat dan jelas.
"Nggak boleh," larang Vincent dengan santai yang membuat Shaletta mendelik kesal ke arahnya.
"Main larang-larang aja," jawabnya jutek.
"Gue tetap ke sana!" ia kembali berjalan.
Gerald menghela napasnya berat melihat Shaletta yang keras kepala. Ia tahu
sangat susah membujuk cewek jika dalam mode badmood.
Gerald ingin mendekatinya, akan tetapi ia kalah cepat. Gibran sudah dulu berdiri
di depan Shaletta yang membuat cewek tersebut menabraknya karena berjalan menundukkan kepala.
Gadis itu mendongakkan kepalanya
ke atas. Ia menjadi kesal.
"Minggir! gue mau lewat," bentak Shaletta.
"Lo keras kepala banget jadi orang."
"Biarin! apa urusan lo?"
Kekesalannya bertambah saat Gibran terus saja meniru langkahnya. Saat ia ke kanan, Gibran yang di depan otomatis akan ke kiri untuk menghalanginya. Dan saat ia ke kiri, Gibran malah melangkah ke kanan.
"Minggir! gue sedang nggak mau bermain!" ancam Shaletta dingin yang malah membuat Vincent bergidik ngeri.
"Gue nggak nyangka, ada cewek sedingin lo Al!"
"Gue sedang nggak mau berurusan dengan lo Gib."
Shaletta pergi dari sana dan kembali menuju kelas X-E.
Tiba di tempat, ia menahan salivanya dengan susah payah. Batinnya kini bercampur aduk antara takut dan ingin tahu.
Baru berdiri di pintu, bulu kuduk Shaletta langsung meremang. Tubuhnya merasa panas dingin.
Instingnya mengatakan hawa di sana sangat dingin bahkan aura negatifnya sangatlah kuat.
Hahahaha!
Hihihihi!
Huuuhuuuuuu!
Berbagai suara yang di dengar Shaletta. Dari yang tertawa sampai yang menangis.
"Assalamualaikum penghuni kelas X-E,"
salam gadis itu yang membuat ia menjadi pusat perhatian semua orang.
Namun orang yang dimaksud di sini bukanlah bangsa manusia. Tapi, bangsa jin alias makhluk halus yang bermacam rupa bentuknya.
Nyalinya seakan menciut, namun ia harus menuntaskan sesuatu yang berada di depan matanya.
"Hihihi! ternyata datang juga anak itu!"
"Gadis yang istimewa!"
Shaletta memutar otaknya. Seketika ia sedikit tertawa. Seharusnya ia yang menatap horor mereka namun kejadian ini berbanding terbalik, para hantu yang menatapnya dirinya dengan horor.
"Wah, kita tidak perlu lagi mencarinya!"
__ADS_1
"Dia sudah berada di depan mata!"
Para hantu menyerang Shaletta serentak.
Tentu ia terkejut, namun hal itu tambah membuatnya ingat untuk membaca doa dan dzikir dalam hati.
Setan tersebut tidak dapat menyentuh Shaletta. Setiap ingin menyentuh Shaletta, mereka malah terpental ke belakang.
Tanpa disangka, Vincent dan duo G berada
di ruangan.
Mereka melihat Shaletta yang sedang kesusahan menghadapi lawan-lawan yang tidak bisa dianggap enteng.
Mereka mengambil posisi masing-masing. Shaletta menghadap ke depan, Gerald ke belakang, Vincent dan Gibran ke kanan dan kiri. Cara mereka berdiri membentuk sebuah persegi.
Pertempuran berjalan dengan sangat hebat. Shaletta dan teman-temannya mengalami sedikit luka lebam.
"Hihihihi! akhirnya kau datang wahai tamu kehormatanku," sapa seseorang yang suaranya berasal dari balik para hantu yang sedang bertarung.
Mereka para bawahan langsung menepi memberikan jalan untuk pemimpinnya kemudian bertekuk lutut.
Hantu wanita itu berjalan dengan lambat seperti perempuan yang sedang ikut fashion-show.
Shaletta sempat ternganga melihat sikap mereka. Kemudian baru ia paham setelah datangnya perempuan tersebut.
"Hihihihi!" gelaknya yang membuat gendang telinga manusia biasa bisa pecah.
"Awww, tuh hantu waras nggak sih? ketawa nggak jelas kayak orang gila aja!" ujar Vincent blak-blakan yang membuat teman-temannya menatap tajam padanya.
Wanita tersebut langsung melotot pertanda marah. Wajahnya cair di bagian kanan seperti pepaya busuk dan luka-luka di bagian kiri. Rambut panjang yang tergerai dipenuhi oleh belatung yang membuat Shaletta serasa ingin muntah.
Pakaian yang dipakainya seperti baju bangsawan namun terlihat sudah sangat lusuh dan pudar. Matanya yang berwarna merah menyala melotot ke arah orang yang menghinanya, membuat bola matanya hampir saja copot karena terlalu marah.
Tidak ada jalan lain lagi, Shaletta dan Trio cool terpaksa membasmi musuhnya dengan sisa tenaga yang ada. Namun di saat yang genting ini siapa sangka ada kejadian yang luar biasa.
Shaletta terus berdoa di dalam hati meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa. Tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan sinar yang membuat semua yang ada di sana menutup mata.
Shaletta membacakan semua ayat pengusir setan sehingga membuat para hantu tadi tidak berdaya karena kepanasan sehingga tubuh mereka makin lama makin menjadi abu.
"Kau harus pergi denganku!" teriak wanita tersebut sebelum menghilang seperti pasukannya tadi.
"Alhamdulillah," Shaletta bersyukur, namun tak lama kemudian, ia juga ikut pingsan.
***
"Akh! dimana gue?" gumam seorang gadis yang berusaha membuka matanya.
Samar-samar ia melihat wajah Gerald yang duduk 2 meter darinya. Sebelum pingsan ia juga sempat melihat wajah seseorang yang terlihat kabur.
Setelah matanya cukup terbuka, Shaletta berteriak yang membuat Gerald cukup terkejut. Cewek itu langsung duduk bersandar.
"Astaghfirullaah, ngapain lo di sini?"
Gendra menatap gadis itu sweatdrop.
"Nampak?"
Shaletta malah tambah melotot. Ia malah berpikir yang tidak-tidak tentang Gerald.
"Hentikan pikiran konyol lo itu! gue bukan cowok brengsek yang mau nyakitin perempuan," ujar Gerald yang selalu saja berwajah datar.
Bersambung...
Baca terus ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, beri vote dan coment serta kasih bintang 5!
Thanks
__ADS_1