Misteri Buku Tua

Misteri Buku Tua
Nungguin


__ADS_3

"Aelah, malah nempel di kaca lagi," ujar Shaletta.


"Eh, mbak kun! gue peringatin sama lo ya! Jangan pernah ganggu gue dan keluarga gue! kalau lo nggak mau nyawa lo yang berharga itu melayang di tangan gue!" ancamnya sambil membesarkan matanya dan menatap tajam kuntilanak tersebut.


"Lah, lebih ngeri dari pada setan sungguhan,"


Kini malah kuntilanak tersebut yang menatap Shaletta ngeri.


"Apa lo liat-liat? mau gue congkel mata lo hah?!" bentak cewek itu.


"Ihh, ini gadis psikopat. Kupikir dia hanya cewek cupu, culun dengan iman yang lemah,"


"Lo ngatain gue? Oke sekarang juga gue bacain surat-surat dalam Al-Qur'an biar lo nggak akan pernah nongol lagi di muka bumi ini."


"Gue aja yang setan nggak sekejam elo," teriaknya dengan suara melengking.


"Kalau lo nggak juga mau pergi, gue bacain ayat kursi," ancam Shaletta lagi dengan suara yang lebih tinggi.


"Dari pada cari mati lebih baik pergi. Ternyata ada juga ya manusia kaya dia, gue serasa teringat kisah tentang Umar bin Khattab deh,"


"Hoy, kalau nggak juga pergi dalam hitungan ketiga, musnah lo," ujar Shaletta dengan menekankan setiap katanya.


Jlebb


Hantu tersebut pun menghilang. Shaletta dapat bernapas lega, ia terpaksa melawan ketakutannya demi mengusir setan yang menyeramkan tersebut.


...**********...


"Astaghfirullaahal'aziim, napa sih dari kemarin gue terus kesal tingkat akut? Mana si Ketos sialan itu belum juga datang lagi, kalau nggak gara-gara masalah harga diri, gue nggak bakal mau tuh nunggu anak yang sok ganteng itu," gerutu cewek bar-bar itu yang berbicara dengan dirinya sendiri.


"Gaya lo ngebicarain gue iya, padahal hati lo senangkan?" tanya seseorang dengan suara yang sangat Shaletta kenal.


Ia menoleh dengan kilat dan menjadi tambah kesal.


"Senang pala lo! Udah sepuluh menit gue


di sini duduk kayak orang bego," ucapnya ngegas.


"Heh, palingan hati lo senang bangetkan bisa nungguin seorang famous sekolah yang sangat cool dan juga ganteng?" goda Gerald yang membuat mata Shaletta membulat.


"Hey Ketos yang sangat disegani se SMA Galaxy ini, gue itu nggak kayak fans fanatik lo yang lebaynya kebingitan ya!"


"Lagian siapa bilang kalau gue senang? Lo nggak lihat muka gue hah? denger suara lo aja nambah beban pikiran gue," ucap Shaletta menggebu-gebu.


"Entah mengapa gue ngerasa yang lo ucapin nggak sama dengan tindakan lo," pancing Gerald yang ingin melihat cewek itu marah.


"Apa harus gue tinju pala lo biar lo ngerti yang gue ucapin?"


"Nggak usah gegas bro! Santai dong! Nih hari masih pagi, masa aktivitas dihari ini diawali dengan berantem hanya karena hal sepele?" responnya dengan santai.


"Sekarang terserah lo bilang apa! gue nggak peduli," ujar Shaletta kemudian melenggang turun dari motor lalu pergi.


"Eittt, mau kemana?"


"Ke rumah sakit jiwa," jawabnya ketus.


"Nggak papa, gue dukung. Nanti biayanya biar gue yang nanggung! gue rela kok buat lo jadi sehat balik."


"Hey! lo bilang gue gila hah?" ucap Shaletta yang membalikkan badannya dan kembali menghadap most wanted sekolah tersebut.


"Kan, lo sendiri yang bilang kalau ingin


ke rumah sakit jiwa, ya berarti lo ingin berobatlah," tampang Gerald begitu bersih tanpa dosa.


"Gue rasa lo itu punya kepribadian ganda ya? sekarang dihadapan gue lo tengil banget sampai-sampai gue harus urut dada untuk bersabar, coba kalau udah diluar pasti gaya lo itu sok cool, sok pendiam, heran gue dah. Emang napa sih lo terus aja cari masalah ama gue? Mo caper? Ooo, mana bisa. Kalau lo mau caper juga..."


"Heh, lo akan terus mengomel sampai bel bunyi?" tanya Gerald yang sudah berjalan duluan.


"Hoy, enak aja lo ninggalin gue!"


"Udah capek nungguin malah ditinggalin, nggak ngotax tuh anak,"


"Ger, tunggu!"


Tanpa sepengetahuan Shaletta, cowok itu menarik bibirnya sehingga terbentuk sebuah senyuman.


Para fans cewek yang telah menunggu kedatangannya klepek-klepek sampai ada yang pingsan.

__ADS_1


"Bang Gerald maukah kau jadi pacarku?"


"Bang, sungguh ganteng dirimu dengan senyuman yang menawan itu, akhhh,"


"Gerald, ini aku udah buatin kue coklat untukmu."


"Gerald, biar aku antar kamu ke kelas!"


"Gerald, kau adalah milikku!"


"Milikku!"


"Milikku!"


Begitulah jeritan para kaum hawa seantero. Mereka berebutan untuk bicara bahkan mereka sampai bertengkar sesama mereka.


Sementara, saat sampai di lorong, Shaletta tidak menemukan jejak Gerald lagi.


"Aduh, mana lorong sepi lagi, nanti kalau ada hantu beneran gue tendang tuh mereka."


Shaletta melihat seseorang disudut lorong dengan bentuk yang mengganaskan. Baju seragam yang sobek, rambut yang botak karena dicepak, tubuh yang membiru dan tentu saja dengan wajah yang sangat jelek.


Dan yang lebih mengerikan, makhluk itu menatap dirinya yang sedang berjalan.


"Aduh kak, aku hanya lewat aja! nggak ngapa-ngapain kok, kakaknya duduk manis aja disitu ntar badan sakit-sakit loh udah duduk lama langsung aja berdiri," ucap gadis itu yang ketakutan.


Gadis dengan mulut merah itu menganga lebar, ia menelengkan kepalanya sampai terdengar bunyi retakan tulang.


"Waduh, pasti sakit ya kak! itu makanya jangan dipaksain! kan udah aku bilang,"


"Mendingan kakaknya duduk nyante aja disitu! Lebih adem dan yang pasti nggak akan ada yang gangguin," ujar Shaletta yang terus menjauh.


Husssh


Tiba-tiba seseorang berlari dengan kecepatan kilat, ia memegang tangan Shaletta kemudian membawanya kabur.


Tak terasa, cewek tersebut sudah berada di depan kelasnya. Ia mendongak keatas dan terlihat Gerald dengan wajahnya yang sangat cool. Apalagi saat ini ia menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangan. Dan efeknya itu aduhai bagi cewek yang melihatnya.


Shaletta berjalan masuk ke dalam kelas.


"Iye, thanks," Shalat malah berterimakasih yang jelas tidak ikhlas.


"Udah diselamatin orang nggak berterima kasih pula, nyadar kek."


Shaletta kembali keluar dan sekarang wajahnya kembali kesal.


"Apa? lo bilang gue badgirl hah Ketsis fakeboy?" Shaletta kembali badmood.


Gerald tersenyum, ia mempunyai ide aneh di kepalanya. Ia memegang kepala Shaletta yang tertutup hijab itu kemudian tertawa dengan wajah tengil.


Jelas saja mata gadis itu melotot. Ia paling anti disentuh laki-laki yang bukan keluarganya. Apalagi ini musuhnya, seenak jidat memegang kepala berharganya yang bagaikan berlian itu.


"Gerald! bangsat lo!"


Ia ingin membalasnya namun nihil, cowok tersebut sudah lebih dahulu berlari.


"Ikhhh, awas aja lo Ketsis! Gue nggak bakal tinggal diam! Liat aja pembalasan dendam gue!" gumamnya kemudian menyunggingkan senyum smirknya.


Entah apalah yang dipikirkan Shaletta, hanya ia dan tuhannya saja yang tahu.


"Tapi lumayanlah impas! Gue udah nungguin cowok tengik itu, dia udah nyelamatin gue."


"Owww, siapa tuh? pake dia-dia segala?" ujar seseorang dengan nada nakal.


Shaletta langsung menoleh, ia lalu meneriaki sesuatu didepan wajah orang tersebut.


"Uuu, Kepo!"


Rizal membuang mukanya, ia mendengus kesal.


"Ya, nggak usah pake teriak kalik!"


"Salah lo! ngapain kepo?"


Shaletta melenggang pergi meninggalkan Rizal yang tengah kesal karena ulah dirinya sendiri.


*****

__ADS_1


Hari ini cuaca tidak terlalu cerah. Awan yang berkumpul membuat langit menjadi mendung. Tapi suasana tersebut tidak menghalangi para siswa untuk melakukan kegiatan pagi saat berbaris.


Shaletta kini sedang fokus berdiri di barisan terdepan. Itu ia lakukan agar bisa mendengar informasi yang diberikan oleh guru dengan jelas.


Sang pembina tengah berbicara didepan, beliau memberitahu info penting kepada murid.


Hari ini mata Shaletta tidak dapat diajak untuk berkompromi. Ditambah lagi ia bosan mendengar penjelasan guru yang panjang tersebut.


Ia memandang Gibran dari jauh. Namun sialnya, Zaki yang sedang berbicara dengan Gibran, malah mengkedoknya.


"Gib, liat tuh! kayaknya dia ngelihat elo," bisik Zaki.


"Hah?"


Zaki menunjuk Shaletta yang masih setia memandang Gibran.


2 cowok tersebut melihat dengan jelas Shaletta tengah memandang mereka.


"Astaghfirullaah, dasar Zaki ember," batin Shaletta kesal. Ia membuang wajahnya ke arah lain, untuk menghindari cowok-cowok ganteng tersebut.


Kira-kira mereka sudah tidak melihat lagi, Shaletta kembali memandangi Gibran, namun hal ini lain pula.


Sedari tadi, Gibran terus memandang Shaletta. Bibirnya tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Ia menatap Shaletta dengan tenang tapi dengan makna yang berbeda.


"Ya tuhan, kok gue jadi salting?" ucapnya dalam hati yang wajahnya sudah memerah padam karena malu telah tepergok menatap Gibran secara tidak wajar.


Yang berulahpun tersenyum, ia puas melihat Shaletta yang jadi salting.


"Dasar buaya! kemarin dia sekarang temannya!" umpat cewek tersebut.


Lagi-lagi Shaletta kembali menatap Gibran. Seakan tahu, ia langsung menyambut tatapan gadis itu. Mereka melakukan eyes contact 5 detik, kemudian entah siapa yang mengajar, Gibran menaik-naikkan alisnya yang membuat wajah Shaletta seketika jadi julid.


"Napa mandang gue? ganteng? gue tau kok,"


ucap Gibran dengan narsisnya.


Wajah yang tadinya julid diganti dengan mata yang melotot. Walau apa yang dikatakan oleh Gibran itu benar.


"Ih, narsis lo! tuh 8 barisan di samping lo ada tuh si Dara yang lagi ngobrol ama gengnya."


"Biarin aja! I don't care."


"Heleh, lo ingin balikan ama si Dara?"


"Sekarang kita nggak lagi bahas cewek itu, nggak usah ngalihin pembicaraan!"


"Musim kemarau belum berakhir dan musim hujan juga belum datang, napa lo tiba-tiba mandang gue nggak jelas gitu?"


"Lo ganteng," puji Shaletta langsung.


Kini, Gibranlah yang menjadi salting karena pujian yang dilontarkannya.


"Baru tau lo?"


"Iya, lo itu ganteng alias gadang tengak. Hahahaha!"


Cemooh Shaletta membuat Gibranmenghela napasnya gusar.


"Untung lo cewek Sha! Kalau lu cowok udah gue ajak berantem tuh," ucapnya dengan berusaha menyabarkan dirinya sendiri.


"Inting li ciwik Shi! Kiliw li ciwik idih giwi ijik birintim tih."


"Ngobrol nggak ajak-ajak, wah ada apa nih?" mendadak tamu yang tak diundang malah datang.


"Selamat datang kembali bang!"


"Dasar adek lucnut lo, Vincent lo panggil abang, gue lo sebut nama aja."


...Bersambung......


...Baca terus ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!...


...Jangan lupa tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!...


...Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel aku yang lain!...


...Judulnya: Karin the Mafia Girl...

__ADS_1


__ADS_2