
Ila berteriak setelah melihat gadis didepannya seperti kerasukan. Walau sebelumnya tak terlalu takut, namun seseorang atau lebih tepatnya lagi makhluk yang keluar dari tubuh gadis itu berdiri disampingnya.
"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!" ancam Ila berjalan mundur.
"Kalung!" ucapnya seraya menunjuk benda bersinar yang dipakai Ila di lehernya.
Makhluk itu makin lama makin mendekat, tapi mendadak ia terpental kebelakang akibat dari serangan sesuatu.
"Shitt!" umpatnya kesal lalu menghilang begitu saja.
Ila mengedarkan pandangannya ke segala arah, tapi sial ia tidak menemukan siapa yang telah menolongnya.
"Dari pada bengong, aku harus menolong dia."
Badan kecil Ila berusaha memapah orang yang ditolongnya. Namun baginya itu bukanlah hal yang terlalu sulit.
"Nanti akan aku cari tahu!"
"Mana aja? susah gue nyariin elo, dah kaya hantu aja! bentar muncul bentar ngilang!"
"Nggak penting! sekarang bantu gue bawa cewek ini!" ujar Ila yang tak mempedulikan ucapan Rendra.
"Ucapan gue aja nggak digubris ama tuh anak, enak-enak aja dia nyuruh-nyuruh gue."
"Bawa kemana?"
"Ke neraka!"
"Ya ke UKS lah! itu masih nanya."
"Nggak usah ngengas dong!"
Dalam perjalanan mereka tidak ada yang bersuara. Gadis tadi sudah diantar oleh siswi lain ke UKS.
Sepertinya mereka sedang sibuk dengan pikiran dan masalah masing-masing.
"Oh ya, hari Senin ujian kan?" tanya Akbar membuka suara.
"Iya, mana ujiannya susah-susah lagi. Lo tahu? pala gue aja udah pusing untuk ngehafal ulangan 1 bab. Dan sekarang, apa kabar dengan ujian?" respon Erik pada pertanyaan Akbar.
"Bukan ujiannya yang susah, emang lo itu yang nggak paham ama materi."
"Lo pandai bilangin gue aja, emang lo ngerti?" ujar Erik ngegas.
"Ngerti lah. Rasain tuh ke WC mulu tiap jam pelajaran!"
"Lo berdua bisa diam nggak?"
"Berisik banget jadi cowok," sindir Rendra yang akhirnya membuat mereka terdiam.
*****
"Ekskul dimulai 1 jam lagi, apa aku pulang ya?"
gumam Ila merapikan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam tas.
"Tunggu! buku aku dimana?" tanya Ila kemudian menepuk jidatnya.
"Ouh ya, perpus!"
Ila teringat kejadian tadi. Dengan susah payah ia menahan air salivanya dan pergi ke perpustakaan.
"Mana lagi ruangannya sepi, sialan!" umpatnya.
Kaki Ila terus berjalan dan...
"Akhirnya, ketemu kau!"
Mendadak suasana berubah menjadi seram. Waktu seolah-olah terhenti. Sialnya, Ila merasakan hawa dingin yang menusuk.
Ia yakin pasti akan ada yang muncul.
"Kalau aku teriak, paling yang bakal denger hantu. Baik aku tutup mulut aja dah!"
Gadis tersebut melangkah dengan hati-hati bak seorang ninja yang misterius.
__ADS_1
Bruuukkkkk
Keringat dingin mengucur di dahi Ila. Ia menggigil menoleh kebelakang. Ternyata sebuah buku jatuh dari tempatnya.
Entah kenapa, kaki Ila berjalan sendiri ke tempat buku tersebut tanpa perintah darinya. Ibarat seperti tengah dikendalikan.
Ia mengambil buku itu kemudian meletakkannya di atas.
Sssrrrrtttt
Rak tersebut berputar 90° tanpa aba-aba. Memperlihatkan bagian dalam yang gelap tanpa adanya cahaya yang menerangi.
Kian lama kian mendekat, masuk kedalam ruangan tua yang tak terjelajahi oleh siapapun.
Alangkah kagetnya Ila. Bagaimana bisa?
Siapa yang akan menyangkal jika ada bilik bagaikan istana di ruangan perpus yang sepi? bahkan ia sendiri tidak pernah berpikir akan ada hal semacam ini.
Ruangan yang didesain elegan dengan paduan sedikit emas dan cat berwarna putih. Sofa bagaikan kursi seorang raja. Pokoknya, isi bilik tersebut akan membuat semua orang terpana akan keindahan, kemewahan dan keeleganan yang ditunjukkan.
Akan tetapi, ada satu hal yang janggal disana.
Sebuah bangunan menyerupai tugu kecil setinggi 1,2 meter. Bagian atas seperti persegi dengan lubang kunci di tengahnya.
Kalung yang dipakai Ila mendadak bersinar dan menarik tuannya agar lebih dekat ke tugu itu.
Benda tersebut terlepas sendiri dan terletak dengan baik di telapak tangan Ila.
"Apa maksudnya aku diminta untuk meletakkan kalung itu disana?"
"Hah apa pula ini? kok tiba-tiba kalung itu jadi kunci?"
"Aku harus mencobanya!"
Tekad Ila tak bisa dihilangkan lagi. Ia semakin yakin untuk lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ia meletakkan kunci tersebut lalu memutarnya.
"Eureka! eureka!"
Bruuuuukkk
"Akkhhh, dasar portal sialan! nggak mikir apa aku bakal celaka kalau dia main hisap aku kedalam," kesalnya.
Karena terlalu kesal akibat jatuh, Ila tak memperhatikan jalannya sehingga kakinya tersandung batu dan berdarah.
"Shitt!" ucapnya.
"Batu nggak guna!"
"Bentar! ada yang hilang rasanya, tapi apa?"
Ila kembali ketempat ia jatuh lalu mencabut kunci tersebut yang berubah kembali menjadi sebuah kalung.
"Hai?" suara seorang gadis yang sama sebaya dengan Ila. Hanya saja ia menggunakan pakaian baju kurung dengan sebuah kain yang terletak dilehernya. Kalau sekarang dinamakan jilbab pashmina.
"O-oh ha-ai?!" sapa Ila kembali namun gagap.
Gadis tersebut senyum. Wajahnya yang khas dengan paras arab dan Melayu. Hidung yang tak terlalu pesek atau mancung. Bibir sedang.
Kulit kuning langsat.
"Kamu siapa? sepertinya bukan orang daerah sini," ujarnya dan diangguki oleh Ila.
"Mari kita kerumahku!" ucapnya dengan penuh semangat.
***
"Assalamualaikum,"
"Mak!"
"Waalaikumussalam, eh sia tu nak? ndak pernah amak caliak kawan kau tu doh."
(Waalaikumussalam, eh siapa itu nak? nggak pernah ibu melihat teman kamu itu.)
__ADS_1
"Iko awak basuonyo tadi di lapangan mak. Buliahlah kironyo kalau awak ajaknyo main mancaliak daerah siko yo mak?"
(tadi aku bertemu dia di lapangan bu. Apa boleh aku ajak dia jalan-jalan bu?)
"Buliah, jago diri elok-elok! sabalun mugarik kau
harus tibo!"
(Boleh, jaga diri baik-baik! sebelum mahgrib kamu harus pulang!)
"Iyo jadih mak,"
"Awak barangkek dulu yo mak!? assalamualaikum,"
(iya, baik Bu)
(Aku berangkat dulu ya Bu, assalamualaikum,)
"Waalaikumussalam."
"Kami pergi tante, eh tek." pamit Ila yang agak salah-salah menyebutnya.
"Iyo, elok-elok!"
(Iya, hati-hati!)
Mereka berdua asik bercerita di sepanjang perjalanan. Bahkan, secara tak sadar mereka sudah tiba di lapangan bermain anak-anak.
"Jadi kamu biasanya berguru jam berapa Zahra?"
"Biasanya sih habis mahgrib langsung mahgrib mengaji, lepas itu shalat terus denger ceramah.
Kalau udah siap bagi kaum laki-laki biasanya tidur di surau."
"Waw, fantastis!" batin Ila.
"Kalau kamu dimana sekolahnya?" tanya Zahra dengan wajah polos.
"Hmmm, i-tu di sekolah tingkat menengah."
"Waw, emang dimana kamu tinggal? sepertinya tempat tinggalmu itu disana udah canggih ya?"
"Hehehe, i- iya," jawab Ila menggarut tengkuknya yang tidak gatal.
Datang seorang cowok yang seumuran dengan mereka memakai pakaian klasik. Wajahnya tersebut khas.
"Eh, sia tu Ra? ndak pernah den mancaliaknyo doh. Urang ma tuh?"
(Eh, siapa itu Ra? nggak pernah aku ngeliat dia.
Orang mana dia?)
"Iko kawan den. Ma yang lain? surang se ang disiko?"
(Ini teman aku. Mana yang lain? kamu sendiri aja?)
"Yo ndaklah. Tuh hah anak-anak tu!" ucapnya sambil menunjuk segerombolan anak remaja.
(Nggak. Itu mereka!)
"Ra, dia siapa?" tanya Ila berbisik pada Zahra.
"Dia teman ngaji aku."
"Kamu lancar bahasa Indonesia ya Ra!?" ucap Ila masih berbisik.
Bersambung...
Terus baca ceritanya dan tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk tekan tombol like, beri vote and coment serta kasih bintang 5 ya!
Ouh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel dan chat story aku yang lain!
Judulnya:-Karin the Mafia Girl
__ADS_1
-Kisahku di pesantren